Semakin jelas sekarang, peluang semakin nyata di hari depan. Kelak ketika uzur tiba, aku tak bakal nganggur. Nggak bakal kesepian karena bakal banyak teman. Minimal orang bakal datang mengisi sepi-sepiku, sekadar ngobrol atau mendiskusikan nama apa yang cocok untuk anaknya. Ha ha ha… soalnya kemarin tiba-tiba aku bisa dipercaya sebagai pembuat nama. Bukan nama kucing. Nama orang. Dahsyat ta!!!
Dua hari lalu, lewat sms, seseorang yang tidak kukenal kasih sandek, pesan pendek,”Pak tolong buatkan nama untuk anak lelaki saya”. Welladalahhh… Kupikir ini sms iseng, seperti kebiasaan teman2 di Yogya yang doyan ngerjain. Tapi setelah dicek, diselidiki dengan berbagai teknik, ini sms serius. Ternyata, seseorang itu dapat nomer hp-ku dari ponsel bekas yang barusan dibelinya. Gak tahu punya siapa sebelumnya. Menurut pengakuannya, di ponsel itu tertera namaku dan dia spekulasi sms.
Pasangan yang lagi berbahagia dapat momongan itu: Dwi Uji Siswanto dan Asni Furaida. Tinggalnya di desa Poncowarno, Kebumen, Jawa Tengah. Ibu yang lagi berbahagia ini selamat melakukan persalinan pada Jumat Legi, 18 April 2008, pukul 02.30, di Klinik Bidan Sri H.
Jadi nama apa yang musti kuberikan? Kenal dengan orangtua-nya pun kagak. Apalagi melihat bayinya. Dan sebenarnya, apa susahnya mereka bikin nama sendiri? Jika memilih nama adalah semacam menanam harapan kepada si bayi, masak sih mereka nggak punya harapan? Kan tinggal memungut kata dari mana saja, disusun sedemikian rupa, lalu jadi kesatuan yang indah dan enak didengar. Bukan susunan ngawur yang nggak enak didengar — seperti misalnya Hendro Peler-et, yang jika salah ucap jadi terasa ngeres (atau jangan-jangan pemilik nama ini memang mau cari tawa lewat “nama”nya pada derajat yang paling rendah, main asosiasi jorok?).
Aku berpikir positif saja. Mungkin sepasang pembuat bayi alias orang tua bayi ini pengin memetik kemanfaatkan cangkem-ku, meskipun aku nggak terlalu yakin apa yang muncul dari mulutku akan berguna atau tidak. Atau mungkin ini semacam amanat dari kekuatan tersembunyi nan agung yang menjodohkan aku dengan mereka. Sudah digariskan dari sono? Digariskan? Emang Tuhan selalu bawa penggaris?
Ya udah, perkara gampang dibikin gampang aja. Langsung aja secara spontan, kubalas sms memenuhi permintaan nama: GESIT JEJAGA BUMI. Wueleh, weleh, weleh…. aku sendiri juga heran, kok bisa bikin nama begituan. Ketika dapat balasan,”Apa artinya nama itu?” — baru aku kebingungan memaknai. Tapi, untungnya cangkemku masih tergolong lunyu (licin), jadi tak terlalu sulit cari pembenaran dan bikin argumen. Kubilang saja:”Anak itu hendaknya jadi orang yang lincah dalam menjaga dan merawat bumi.”
Mungkin, bawah sadarku sedang berprihatin atas nasib bumi yang dari hari ke hari semakin rusak oleh tindakan manusia… Yah, itulah harapan yang bisa kutanaman kepada orok yang kelak bakal menjadi generasi baru Indonesia. Setidaknya, aku boleh ge-er begitu. Tapi bisa jadi, nama yang kuberikan itu dianggap nggak normal, dan langsung dicampakkan dan diganti nama lain yang lebih mentereng: Begjo, Tommy, Untung, Yudhoyono Rizki dan sebangsanya. Aku nggak tahu lagi…
Categories:
