Posted by: butet | April 27, 2008

KOLOM CELATHU: Nguntal Negara

(dimuat Suara Merdeka, Minggu, 27 April 2008. Bedanya:di koran tanpa illustrasi foto lukisan kaca. Di sini Anda bisa menikmati lukisan yang digunjingkan itu)

Nguntal Negara

Butet Kartaredjasa

aja-nguntal-negoro.JPG

Di teras rumah Mas Celathu tergantung lukisan kaca made in Muntilan. Gambarnya punakawan lagi bercengkerama. Petruk mengenakan busana Adipati, beskap warna hitam berornamen bordir emas, komplit dengan kuluk yang juga hitam seperti sering dipakai temanten pria Jawa. Dia duduk di tanganan kursi berwarna merah. Tangannya mendekap bola dunia bergambar peta Indonesia. Mulut Petruk menganga laksana akan nguntal jagat. Sementara di kiri kanannya tampak Semar, Gareng dan Bagong yang berusaha mencegah. Sepertinya, mereka ingin bilang,”Eeeee jangan dimakan. Nanti kualat.”

Setiap tamu yang datang ke rumah Mas Celathu pasti dicegat gambar itu. Biasanya mereka hanya mengulum senyum, lalu manggut-manggut. Apalagi setelah membaca teks yang menyertai gambar itu,”Aja Nguntal Negara”.

Ini ungkapan baru. Lazimnya lukisan-lukisan tradisional Gareng-Petruk yang digores di sebalik kaca bening itu, berisi petuah-petuah standart. Misalnya: Sapa Durung Sholat, Rukun Agawe Sentosa, Aja Dumeh, Melik Nggendong Lali, Sugeng Rawuh dan sebangsanya. Lha kok ini bunyinya,”Aja Nguntal Negara”? Dipasang diteras lagi. Kan lebih cocok memajang “Sugeng Rawuh” dengan gambar punakawan ngapu rancang mempersilakan tamu datang?

“Lho ini peringatan dini. Kalau yang bertamu ke rumahku koruptor, pasti nggak tahan duduk. Mau cepet pergi karena sindiran punakawan itu. Tapi kalau yang datang kandidat koruptor alias priyayi berpangkat yang bercita-cita makan duit rakyat, begitu lihat gambar itu pasti akan malu. Dan, insyaallah, membatalkan niatnya,” tutur Mas Celathu sambil nyengenges memamerkan giginya yang dibalut kuningnya nikotin.

Rupanya, lukisan kaca itu memang pesanan khusus. Dia sendiri yang meminta Maryono, pelukis from Muntilan itu, memvisualkan teks yang dipersiapkannya. Konon, ini lantaran saking gregetan-nya melihat ulah para petinggi negeri yang doyan banget korupsi. Yang unik adalah bagaimana sang pelukis menafsirkan “negara” secara harafiah berupa bola dunia. Negara seakan-akan hanya seged bola voli dengan sebentang peta. Padahal yang dimaksudkan, negara adalah sebuah kesatuan tempat sebuah bangsa mengatur dan mengelola seluruh kekayaanya. Kekayaan untuk bersama, janganlah dimangsa dewekan.

“Supaya orang tidak nguntal kekayaan negara, makanya tamu saya musti mencermati lukisan yang ini,” lanjut Mas Celathu sambil menuding lukisan kaca yang tergantung di bawah “Aja Nguntal Negara”. Sepertinya dua lukisan itu sengaja ditata berpasangan. Gambarnya Gareng memakai baju safari, sedang pidato di atas panggung dengan latar belakang garuda Pancasila. Sementara di sisi kiri tampak Semar, Bagong, Petruk, Togog dan Mbilung, sedang takzim mendengarkan ocehan Gareng.

Tafsirnya bisa macam-macam. Mungkin Gareng sedang memberi wejangan kepada sedulur-sedulurnya. Atau sedang berkampanye demi memburu kursi bagi dirinya. Apapun tafsirannya, yang jelas tulisan di gambar ini sangatlah telak: Ajining Diri Seka Lathi. Artinya kehormatan itu bermula dari lidah. Yang dibutuhkan masyarakat adalah konsistensi pernyataan sang lidah. Tidak mencla-mencle, esuk dele sore tempe. Kalau lidah hanya menyuarakan dusta yang “tong kosong berbunyi nyaring”, bisa diduga si pemilik lidah akan segera nguntal negara alias secara sengaja mengalihfungsikan duit negara.

ajining-diri-seka-lathi.JPG

“Jadi kalau bertamu di rumah saya jangan suka ndobos. Jangan berbohong. Di teras sini omongan harus bener,” kata Mas Celathu.

Memang, lukisan-lukisan kaca berpetuah itu, dengan bijak selalu mengingatkan orang. Pesan-pesan budi pekerti bertaburan. Ungkapan atau kata-kata mutiaranya selalu cespleng. Lugas. Gambarnya naïf. Sangat bersahaja. Tak ubahnya lukisan kontemporer yang sekarang membuat pelukisnya panen dollar lantaran harganya yang melambung. Berbeda dengan pelukis kontemporer, nasib pelukis kaca semakin terpinggirkan. Konsumennya sudah ganti selera.

Jika dulu mayoritas dinding rumah-rumah di Jawa Tengah dihias petuah bergambar, sekarang yang dipajang artis sinetron yang doyan kawin cerai. Wuah, wah wah, zaman memang sudah berganti. Mas Celathu tidak tahu, apakah berubahnya perilaku masyarakat juga dipengaruhi hal ini. Yang dia tahu, terhadap nasehat dan petuah bijak – diucapkan atau yang dtuliskan – generasi baru cenderung menjawab singkat,”Prek! Emang gua pikirin?”

Memajang lukisan kaca tradisional dengan petuah begituan, bagi Mas Celathu, merupakan ikhtiar mengingatkan masyarakat. Dia ingin mempopulerkan lagi kebiasaan ini. Selain bermanfaat menolong para perajinnya yang rejekinya kembang-kempis, paling tidak bisa menjadi warning para pejabat yang tabiatnya (ingin) slebor. Jika diguyur rejeki, Mas Celathu ingin sekali memesan ratusan lukisan kaca “Aja Nguntal Negara”, lalu disumbangkan untuk menghias dinding-dinding kamar kerja para wakil rakyat di Senayan.

“Biar mereka tidak membarter RUU dengan perempuan plus milyaran rupiah,” ujarnya sinis.

“La, yang tulisan Ajining Diri Seka Lathi, juga dipesan nggak, Mas? Apa juga untuk wakil rakyat?”

“Ooo iya. Saya akan pesan 10 lukisan. Tapi bukan untuk wakil rakyat.”

“Terus untuk siapa?”

“Akan saya serahkan kepada lima pasang kandidat pemimpin Jawa Tengah”.

Mas Celathu membayangkan lukisan kaca “Ajining Diri Seka Lathi” nantinya menggantung di ruang kerja Bambang-Adnan, Sukawi-Sudharto, Bibit-Rustri, Tamzil-Bozaq dan Agus-Kholiq.

“Biar mereka selalu ingat bahwa kehormatan datangnya dari lidah mereka sendiri. Jika hari ini berjanji, janganlah kelak mengingkari,” ucap Mas Celathu, kali ini tanpa cengengesan. ***

Responses -

ini butet beneran ga sih ? salut dah. ternyata anda familiar dengan Wordpress dan blogg

wah keren..masih ada manusia seperti Mas Celathu di kolong jagat Indonesia Raya ini. Tulisan yang bagus ‘Pak Presiden’. Hanya sedikit orang yang seperti anda. Memiliki kepekaan nasional tinggi

Kalo dapat rejeki banyak, jangan lupa sumbangin lukisan “Ojo Nguntal Negoro” dan “Ajining Diri Soko Lathi” buat saya mas Celathu. Saya juga tidak nolak, Supaya nanti kalo saya jadi pejabat (siapa tahu itu benar ;) ) tidak “nguntal Negoro”.

jangan lupa ya mas Celathu, saya juga mau :)

Sayangnya kita gak bisa masang lukisan ini gede-gede ya mas.. Coba bisa kita pasang di monas, pasti “temen-temennya” Petruk yang di deket monas malu buat ngeliatnya..

[...] Tulisan diatas adalah balasan yang saya dapatkan dari pak Butet Kartaredjasa, seorang budayawan asal Yogyakarta yang ekarang menjabat presiden di Republik Mimpi. Saya menanggapi tulisan beliau yang dimuat di Suara Merdeka, Minggu (27/4) yang diposting diblognya tentang “Nguntal Negara“. [...]

Tapi sekarang emang zamannya orang doyan nguntal negoro sih…!, ayo coba skarang sebutkan siapa pejabat yg sama sekali gak nguntal negoroooo…? brani gak nyebutinnya…?

Di kelurahaan, dikecamatan, dikabupaten & kotamadya, apalagi di tingkat propinsi….wuah pasti ada para “nguntaler” termasuk di sssstttt… SENUAYAAAAAAN…. - ada yg bilang membrantas para “nguntaler” sama susahnya dengan menanggulangi lumpur LAPINDO he..he..he..

Terima kasih untuk semua komnetarnya. Apa pun bunyinya akan saya renungkan…..Salam hangat

Salam kenal mas Butet. Saya selalu salut pada kiprah mas Butet, baik di media cetak ataupun media elektronik. Tolong terus pertahankan sikap mas Butet yang selalu kritis. Semoga menjadi amal mas Butet demi bangsa dan negara ini.
Oya, mas Butet … kebetulan rumah saya di Muntilan tetanggaan dengan Bp. Maryono (pelukis kaca yang karya-karyanya dicantumkan di blog ini). Mungkin akan lebih bijaksana kalo mas Butet berkenan untuk menuliskan identitas pelukis kaca tersebut yang karya-karyanya cukup berbobot. Mungkin hal ini akan merupakan kebahagian tersebdiri bagi beliau (Bp. Maryono) yang sekarang ini hidup sendirian dan dalam kondisi setengah sepuh.
Saya juga ikut senang jika mas Butet jadi memesan lukisan lagi ke beliau (kan jadi rejekinya beliau).
Mas Butet, saya mohon ijin untuk men-SAVE dan mencetak seluruh tulisan pada kolom berjudul NGUNTAL NEGORO ini untuk saya berikan ke Bp. Maryono. Semoga beliau bahagia mengetahui karyanya dapat dinikmati oleh orang banyak dan bermanfaat. Terima Kasih.

[...] yang berjudul “Pengecer Cangkem” banyak menuliskan kritikan-kritikan sosial seperti Nguntal Negara, Kebangkrutan Nasional, Mantan Nasi dan lain sebagainya, beliau juga menuliskan catatan pribadi di [...]

sakderenge salam knal nggih pakdhe..

mboten nopo@ khan kulo celuk pakdhe(nggo boso jowo meneh)

kulo seneng sekali membaca tulisan pakdhe,coba setiap pejabat di negeri ini kaya pakdhe (apa mungkin ya..??) pasti ga ada yang korup…

Mas Butet, kalo jaman Or-Ba dulu pantese gambar Petruk mau nguntal negoro itu dipasang di rumah Eyang Kakung Jl.Cendana Menteng Jakarta..sono, tapi kalo jaman reformasi sebaiknya ada gambar bola dunia yang lagi dikrikiti tikus…..dipasang di Senayan..terus diputerin lagunya Slank

@Bedjo
Betul banget untuk lagunya bisa diputerin punyaknya iwan fals atau malah di puter dua-duanya lebih enak biar yang merasa kupingnya biar tambah panas

pak Butet memang manusia sejati…

man

Wuiihh.. dahsyat tenan mas Clathu.
Mathuk mas…

Leave a response -

Your response:

Categories