Sepasang suami-isteri berbarengan naik pesawat udara yang sama, ternyata memang tidak diasarankan. Sebaiknya jangan. Begitu nasehat beberapa teman yang terbiasa blebar-bleber. Dulu saya sih nggak peduli. Sebodo. “Perkara mati itu perkaranya Gusti Allah,” begitu aku selalu ngeyel.
Tapi sekarang? Apa boleh buat,…. kulaksanakan nasehat itu. Perjalanan ke Jakarta minggu ini bersama Ruli, ibunya anak-anakku, membuat kami tidak bersanding kursi. Pesawatnya berbeda. Aku akan berangkat lebih awal, dan 60 menit kemudian isteriku akan mabur dengan peawat yang lain.
Ya maklum aja. Seperti sering jadi guyonan sinis teman-teman:”Tiket murah itu bonusnya delay atau kecelakaan”. Bahkan, Garuda yang dulu dipersepsikan “lebih aman” dan selalu on time, nyatanya setali tiga uang. Nggak ada yang bisa menjamin keselamatan kita. Pendeknya, naik pesawat udara — apalagi di Indonesia — sama saja dengan menggadaikan nyawa kita. Begitu masuk ke kabin, kita seperti menyerahkan seluruh hidup dan nasib kita kepada pilot, kabel-kabel, sekrup-sekrup di mesin dan body pesawat, knop-knop di panel ruang cokpit, roda, bahan bakar minyak, cuaca, dll. Maut seperti mengintip. Kita cuma bisa pasrah. Sekali saja pilotnya teledor, hidup kita langsung ambyar. Andaikan saja ada sebutir sekrup kendor atau kabel terlepas dari kaitannya atau ban gembos,….
Nah, berhubung kami nggak mungkin terbang naik mega dan bergelantungan di awan, kami tetap berangkat naik pesawat. Hanya saja, sekarang kami musti terbang dengan pesawat berbeda. Kalau dihantam nasib buruk, biarlah seorang saja yang kena. Kubilang sambil cengengesan,”kalau ada apa-apa, yang modar cukup satu aja ha ha ha”.
Kebayang nggak sih, gara-gara naik pesawat, kami lalu sirna begitu saja? Trus, bagaimana nasib anak-anak kami? Nasib pekerjaan kami yang kemudian akan terbengkelai? Perjalanan hidup belum selesai, janganlah perusahaan penerbangan yang menghentikan. Biarlah Tuhan yang menyetop perjalanan kita.
Categories: