Posted by: butet | Mei 3, 2008

KOLOM “CELATHU”: TIGA SHIO

(dimuat Suara Merdeka, Minggu, 4 Mei 2008, halaman 1)

sampek-engtay-koma.JPG

Tiga Shio

Butet Kartaredjasa

Ketika suatu kali dolan ke negeri jiran, Mas Celathu pernah tersengat guyonan berbau rasialis yang – demi Tuhan – dia tak ingin mendengarnya lagi. Kisahnya, saat itu dia lagi berbelanja di sebuah kompleks pertokoan. Ada seorang ibu berkebaya dan mengenakan kain batik Jawa, menggendong bayinya sambil menadahkan tangan kepada siapa pun yang lewat. Dia mengemis dalam bahasa Melayu dioplos bahasa Jawa,”Pak Cik nyuwun paring-paring, Pak Cik. Dah seminggu awak tak dapet makan nih…”

Begitu mantra ganjil yang selalu dirintihkan. Diucapkan dengan mendayu-dayu bak artis sinetron lagi belajar main drama. Seakan-akan semakin melodius rintihannya, akan mempertinggi omset recehan ringgit yang diterimanya. Awalnya, geli juga Mas Celathu melihat modus “kreatif” manusia Jawa ini. Tapi cuma sesaat. Rasa gelinya tiba-tiba membuat dirinya gusar, setelah mendengar celoteh canda sekelompok lelaki berkulit kuning langsat dan bermata sipit yang ada di situ. Jika diindonesiakan, guyonan itu kira-kira bunyinya begini.

“Kasihan anak itu ya,” kata salah seorang sambil menunjuk bayi yang ada di gendongan ibu pengemis.

“Emang kenapa? Dia kan tampak sehat,” jawab temannya.

“Bukan begitu”.

“Terus kenapa? Karena masih bayi diajak mengemis?”

“Juga bukan”.

“Trus, kenapa emangnya?”

“Kasihan banget dia tuh. Kecil-kecil sudah jadi orang Jawa”.

“Hua ha ha…ha ha ha…,” tawa mereka meledak. Orang-orang Melayu yang mendengar tanpa sengaja pun, juga ikut cekakakan. Tapi Mas Celathu tidak. Yang meledak dalam dirinya adalah keterhinaan dirinya sebagai orang Jawa. Dalam canda ini ras Jawa bagai telah dinajiskan. Benar-benar terhina, direndahkan lebih rendah dari kaum paria. Tadinya sih Mas Celathu ingin meledakkan amarahnya saat itu juga. Tapi setelah melirik kiri kanan ditatapnya puluhan lelaki kekar yang pada tertawa, langsung saja ngeper-nya yang keluar. Dasar jirih. Dia telan lagi amarahnya. Lalu segera kabur sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ternyata memang nggak enak jika ras diri kita dijadikan ejekan atau dihina. Apalagi jika kemudian — gara-gara warna kulit, bentuk mata, bahasa, cara berpakaian, warna rambut, nama khas dan agama – kita lalu mendapat perlakuan berbeda. Mas Celathu sudah merasakan pahitnya itu. Baru setelah ke-jawa-annya tersengat, dia bisa merasakan nggak enak di-diskriminasi. Padahal biasanya, di negerinya, manusia sejenis Celathu yang selalu ge-er merasa “paling pribumi”, tak pernah kapok bikin olok-olok yang berbau rasis. Termasuk guyonan seperti yang didengar di Tanah Melayu itu, kerap juga muncul di sini. Cuma objek-nya yang berganti. Bukan Jawa, tapi Cina.

“Mesakke tenan lho bocah kuwi. Isih cilik kok wis dadi Cina”. Seakan-akan nasib ras Cina tak ubahnya ras Jawa di negeri jiran. Rendah dan hina derajatnya. Yang lebih menggemaskan, Indonesia yang telah mereformasi dirinya sebagai negara demokrasi, nyatanya hingga hari ini masih “merawat” semangat diskriminatif itu. Jika sebuah “Indonesia” adalah sosok abstrak alias sebuah imaji yang dibayangkan, sebuah kekuatan dan kesatuan yang tersusun oleh aneka ras dari berbagai keturunan (Arab, Jawa , Melayu, Batak, Dayak, Papua, Aceh, Bugis, Ambon, Madura, Bali, dll), — kenapa ras Cina di negeri kita masih juga didiskriminasi dengan sebutan “keturunan”? Apa yang membedakan dengan Mas Celathu yang “keturunan” Jawa?

Teman-teman Mas Celathu seperti Hauw Ming, Oei Hong Djien, Fung Way Ming, Kwik Kian Gie dan yang lainnya, juga sama seperti mereka yang digolongkan “pribumi”. Lahir, hidup, bersekolah, bekerja, berumahtangga, beranakpinak dan jika kelak mati, juga di Indonesia. Kenapa dalam berbagai sektor kehidupan, mereka harus mengalami perlakuan yang berbeda? Jadi, apa sebenarnya yang membedakan?

Karena kerap terdiskriminasi, mereka ini punya anekdot getir. Katanya, di Indonesia shio untuk ras Cina tinggal tiga aja: Kelinci, Sapi dan Kambing. Maksudnya, selalu dijadikan “kelinci percobaan”, dipalak sebagai “sapi perah” dan dipojokkan sebagai “kambing hitam”.

“Aneh, kenapa semua ini bisa terjadi? La,… katanya negara demokrasi, kok dalam memberikan pelayanan kepada warga negaranya, masih ‘emban cinde emban siladan’. Yang satu dan yang lainnya, masih dibeda-bedakan. Kenapa?

Gugatan dan pertanyaan seperti inilah yang selalu mengusik Mas Celathu setiap memasuki bulan Mei. Baginya, bulan Mei bukan hanya perkara nasib buruh, kualitas pendidikan dan heroisme kebangkitan nasional, sebagaimana hari-hari peringatan yang terkumpul di bulan kelima: hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Tetapi, bulan Mei selalu mengingatkan Mas Celathu atas tragedi Mei yang membuahkan perubahan politik luar biasa di negeri ini, yang populer disebut Gerakan Reformasi.

Betapa pada Mei sepuluh tahun lalu, selain sejumlah nyawa mahasiswa menjadi tumbal sebuah perubahan. Sejarah juga mencatat praktek rasialis yang brutal. Orang Indonesia ras Cina dijadikan bulan-bulanan dan dikerjain oleh sebuah kekuatan jahat, yang kualitas kejahatannya diluar batas akal sehatnya manusia waras. Hanya sayangnya, jika itu kejahatan sistemik, kenapa sampai hari ini jagoan-jagoan di bidang hukum belum juga berhasil membongkarnya?

Sambil terus dan terus menunggu terungkapnya kejahatan itu, Mas Celathu yang selalu memimpikan Indonesia Rukun Sentosa, ingin mengajak saudara sebangsanya untuk mengakhiri tabiat dan cara berpikir yang diskriminatif begituan. Stop pikiran dan kebijakan rasialis!!!***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

hmm..
OKNUM tuh.!!

wah..wah…sebagai orang jawa saya juga tersinggung..tapi kok mereka tahu ya pengemis itu dari jawa? apa gara2 batik yg dipakainya? tapi katanya orang2 malingsia ngaku2 klo batik itu dari budaya sana…lha kepiye ki…

Aya-aya wae…saya orang Jawa lho Alhamdulillah…hehhhehe

Hhhhhmmmm,,,,ternyata,,,,,

Hidup jawaa……..

lhoo…. kok jadi…..

makasih komentarnya. Tapi kok dua kometar terakhir nggak jelas maunya gimana? Abstrak banget, dan multi tafsir. Kalau mau ngritik, sebenarnya lebih enak kalau blak-blakan aja. Gak usah ragu. Tukang kritik juga wajib dikritik kok.. he he he. Bahkan, andaikan misalnya kita berbeda pendapat, juga diizinkan. Beda pendapat tanpa mengurangi indahnya persahabatan, kan asyik tuh…

aku bangga kok dadi uwong jowo..
lha piye toh..kitab-kitab wong jowo malah akeh digolekki londho kok.
nek neng kene entuk misuh gak mas daB??
(mangkel kaaro omongane wong malesia)

Guyon-guyon pak :D
Kalo melihat nature manusia emang suka mengkotak-kotakkan, mengkategori… itu juga bisa jadi kelebihan…
cuman kalo kelebihan dibuat yang ndak-ndak.. ya itu tadi… jadi bisa rasis… masih mending narsis.. meskipun sedikit najis

sebetulnya jangan nyalahin orang yang becanda. kenapa terjadi candaan seperti itu, munkin akibat mayoritas jawa yang ada disana cuma bisa jadi pengemis…makanya wong jawa kl cuma mau ngemis gak usah ke luar jawa deh..di negri sendiri aja..ngemis kok lintas negara hehehhe

Weh, sakit juga ya hehe. Tapi kapan lagi dunia bisa damai klo gak ada orang yang banyak berlapang dada.

Saya masih percaya, Doa Orang Teraniaya Sangat Mustajab. Mudah-mudahan Kita semua slamet dunia wal Akhirat. AMin

Slamet Nang Dunyo Rung Mesti Slamet Nang Akhirot..!

Peace..! Kang Mas, Mbak Yu, Dap, Rek,…! :D

lucu…lucu…
tapi ulasanipun menarik.
betuuul, masih banyak terjadinya rasialisme di sehari-hari.
saya sebagai orang jawa, bangga jdi org jawa, tpi ya syukur masih nda rasialis.

Wah, yang sama jangan dibedakan dan yang sudah beda jangan disamakan..

prihatin….prihatin….tulisanmu sih dalem banget artinya. Kasihan deh, saya masih dalam kategori keturunan cina…..padahal, jiwanya udah indonesia banget nih, suami udah dari Maluku….hehheheh….

Yah, setuju…

Perlu adil terhadap diri sendiri dan orang lain.

Setuju banget. Kita memang nggak mungkin membuat yang sama jadi beda, dan yang beda jadi sama. Tapi yang terpenting, meskipun berbeda, semua manusia hendaknya diperlakukan sama.

setuju banget, mas. Gak keren, hari gini masih rasialis & diskriminatif. Cuma masalahnya, sodara2 cina kita itu kadang nepotismenya jg rada rasialis gitu je.. (gak di kantor ataupun di bisnis). Lha trus piya jal??

jujur wae mas, memang kadang sakit nek’ “sebangsa” kita dijadikan bahan olok-olok oleh orang lain.. tpi jangan lupa juga, mungkin itu adalah akibat dari oknum “sebangsa” kita yang mungkin telah meninggalkan semacam kesan jelek di mata orang2 tadi..

mungkin orang2 di atas yg ngejek2 pengemis tu punya satu kesan jelek terhadap orang2 jawa yang ada di sana.. imbasnya, dia jadi men-jeneralisir semua orang jawa.. mas celathu yang ndenger kan orang jawa yang baik2 tho?

demikian juga di sini… orang2 cina yang ada di Republik ini.. oknum-oknum orang cina tertentulah lah yang telah meninggalkan kesan jelek di hati orang-orang pribumi (sori, ekstrim..) sehingga orang2 ini melakukan “pukul rata” terhadap semua orang cina..
sudah jadi rahasia umum lah, di masa lalu banyak konglo2 cina, yang menjadi besar di republik ini, melakukan sejumlah tindakan yang tidak terpuji. melarikan uang orang lah, korupsi lah, semena-mena terhadap buruh lah dan masih banyak lagi…

berat memang mas buat ngerubah cara pandang orang2 yang terlanjur memberi cap jelek terhadap sesuatu..
pribahasanya “karena nila setitik, rusak susu sebelahnya” eh “..sebelanga”

salam

Saya jg pernah, mengalami hal yang serupa.. Ceritanya begini.
Saya ikut kursus bahasa mandarin, dimana siswanya rata-rata dari ras china dan laoshinya juga ras china. Alhasil jadilah saya sosok paling gelap dan bermata lebar di kelas (tanpa ada maksud rasialis). hehe.. namun saya tidak minder, pede aja lagiii.. sama-sama bayar, saya yakin saya punya hak yang sama. Namun, suatu hari sewaktu kita lagi praktek conversation, saya bercerita kalau saya punya adik lelaki yg sudah menikah. Entah karena ada yg salah dengan kalimat saya, atau ada yang salah dalam grammar saya, tiba-tiba ada 1 murid yang mentertawakan saya. Anehnya lagi laoshinya jg ikut tertawa. Waktu saya tanya kenapa? apa ada yg salah?, si laoshi hanya bilang tidak ada.. Laoshinya tertawa karena melihat ada 1 murid tertawa. Saya jd tidak habis pikir.. Dan ketika saya tanya murid yg lainnya, mereka bilang tidak tahu, tapi sambil menahan tawa.. Dan mungkin seperti itu rasanya di diskriminasi di suatu lingkungan… Dan akhirnya saya pun hanya ikut tertawa… ketika Laoshi saya bertanya, kenapa saya ikut tertawa, saya hanya bisa menjawab, saya mentertawakan kalian. titik.

Sebagai seorang warga negara “keturunan” saya dididik oleh seorang dekan yang sangat nasionalis, mengerti tentang budaya (sangat dalam dan menginspirasi). Ajarannya membentuk saya menjadi seorang Indonesia yang mencintai ibu pertiwi dan mengerti ajaran dibalik Surayana.
Begitu banyak hal mengagumkan pada tentang Indonesia yang tidak perna tercatat di buku sejarah. Andai kita bisa kembali ke jaman dahulu lagi.

Orang Cina dari jaman dulu telah banyak berbaur dengan warga asli Indonesia. Pada saat berjayanya kerajaan-kerajaan Indonesia sampai perjuangan kemerdekaan, kami telah mengakui nasionalis kami sebagai orang Indonesia. Dan juga banyak tokoh-tokoh yang katanya warga “keturunan” berpengaruh dalam pembentukan reformasi bangsa kita.

Mungkin untuk menghilangkan diskriminasi SARA, kita harus menyadari bahwa manusia memiliki kualitas yang berbeda-beda. Dan perbedaan itulah yang membentuk dunia ini.

Jujur saja, setiap dari kita juga pasti pernah diperlakukan berbeda.Baik arena bentuk fisik kita yang berbeda di sebuah komunitas, inteligensia kita maupun gaya bahasa kita.

Yang dapat saya lakukan saat ini, menerima perlakuaan tersebut, memaafkan dan tidak membalasnya.

Salam Damai!

Abdi urang sunda Mas, tapi jadi turut prihatin juga dengar goyonan seperti itu,
meskipun orang sunda juga tak sedikit mendapatkan tanggapan miring dari saudara2 satu negeri. bahkan ada guyonan teman saya yang dari batak; dia bilang :
“kalo orang Aceh jago menipu”
“orang batak jago nyopet”
“Orang padang jago dalam perdagangan”
kalao orang sunda jago apa??????,,,

jawabnya ;
“orang sunda itu yang di tipu, yang di copet dan yang dijual”,,
hik,,hik,,hik,, sedih ga tuh mas di gituin,,,

yg diatas mah guyonan aja mas,,
komentar tulisan mas mah,, kalau saja kita mau menerima perbedaan dengan lapang dada, saling menghargai, saling memahami bahwa setiap individu pada dasarnya berbeda sifat dan kepribadiannya, berbeda dalam hal cara dia menjalani hidup, cara bicara, cara bercanda ,, mau itu orang indonesia asli atau keturunan cina atau orang dari negeri jiran,, atau negeri-negeri laennya sepertinya guyonan-goyunan seperti itu nggak akan pernah ada,, tapi ga seru juga kali ya,, kita jadi ga bisa tertawa..

wah asyik web nya mas butet sukses ya.. semoga tetep asyik…
sekali lagi Asyik

Ya… kita tetap satu… orang Indonesia..
Lahir di Indonesia… Makan dari tanah Indonesia..
Menghirup udara Indonesia…
Seperti apapun Indonesia..
Seperti apapun wujud fisik kita…
Seperti apapun kepribadian kita..
Seperti apapun perlakuan yang kita terima..
kita tetap satu… Bangsa Indonesia…
Anak2 Indonesia… Warga negara Indonesia…
Indonesian… :)

nyesss….., sing penting harus legowoooOOOOO…

Hidup Indonesia marilah kita menerima perbedaan tanpa ada tekanan dan himpitan dari pihak manapun

silahkan disimpulkan menurut kemampuan.

saya pernah bertanya pada seorang cewek cina WARGA NEGARA malaysia ( orangnya cantik lo ),begini:

“Eh ,…mengapa sih orang indonesia sama malaysia kok sering berselisih?”

dan jawabannya adoh karo sing tak karepke,begini :

” I don’t know, I’m Chinese…..”
“Ra reti aku,aku kan china…….”

LOOOOOOHH……

man

Leave a response -

Your response:


Categories