Posted by: butet | Mei 17, 2008

KOLOM CELATHU: KEBANGKRUTAN NASIONAL

(dimuat SUARA MERDEKA, MInggu, 18 Mei 2008, halaman 1)

Kebangkrutan Nasional

Butet Kartaredjasa

sophan.jpg sophan-1.jpg

“Wuaduh, ini benar-benar Kebangkrutan Nasional. Maunya memperingati Seabad Kebangkitan Nasional dengan menempuh Jalur Merah Putih sepanjang 1908 kilometer, lha kok malah jadi korban dari buruknya kondisi jalan raya,” gerutu Mas Celathu setelah mendengar kabar duka gugurnya Sophan Sopian, seorang nasionalis sejati yang berpredikat aktor, dalam kecelakaan tunggal di atas moge, motor gede.

Mas Celathu terperangah. Seperti tak percaya menghadapi tragedi ini. Suami aktris Widyawati yang menjadi simbol dan keteladanan keluarga artis nan rukun itu, harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Hanya lantaran menghindari lubang yang menganga di jalan raya di desa Widodaren, antara Ngawi-Sragen, Jawa Tengah.

Rasanya masih terngiang di kuping Mas Celathu ketika 18 Maret lalu, dalam sebuah talkshow di Mulia Hotel Jakarta, Mbak Widyawati rerasanan dengan Mas Celathu saat menunggu giliran bicara di panggung,”Oooalah Mas,….. sekarang bojoku benar-benar frustasi. Dulu dia berharap bisa ikut mendadani bangsa dan negara ini dengan jadi politikus. Makanya dia mau jadi wakil rakyat. Jadi orang partai. Tapi ternyata bosok kabeh. Kapoklah dia.”

Lalu perempuan yang tetap indah di usia lebih setengah abad itu menceritakan, betapa sekarang suaminya lebih enjoy di dunia lawas-nya: dunia kesenimanan yang menjadikannya beken dan terhormat sebagai seorang aktor. Sophan seperti menemui jalan buntu di jagad politik. Padahal semestinya di situ dia bekemungkinan berjuang dari dalam. Selalu begitu alasan artis atau aktivis LSM yang terjun ke kancah politik.

“Berjuang dari dalam” laksana mantra yang bisa memuluskan ambisi kejuangan seseorang. Seakan-akan medan politik hanya dihuni oleh mereka yang berhati resik, memihak wong cilik, pantang korupsi, peduli lingkungan, dan benar-benar tulus ingin menyelamatkan masa depan bangsanya. Jika memang demikian adanya, kenapa Bung Sophan Sopian “frustasi” dan mengkompensasikan frustasinya dengan menunggang moge? Ada apakah gerangan yang terjadi di jagad politik Indonesia?

Bagi manusia macam Sophan yang tulus dan bersungguh-sungguh ingin menumpahkan bakti bagi bangsaya, pasti tak betah berada di antara gemuruh para kurawa yang cecakilan main siasat dan akal-akalan. Dan sejarah pun mencatat, Sophan mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai anggota parlemen. Sebuah sikap dan pilihan langka, karena lazimnya orang pengin berlama-lama nongkrong di kursi empuk Senayan. Bukankah sudah menjadi rahasia umum, di sana kerap terdengar bagaimana para rakuswan dan rakuswati (maksudnya: para manusia rakus) sibuk memperjualbelikan pasal undang-undang?

“Sekarang sampeyan saya ingatkan. Kalau nanti frustasi, kecewa karena apa saja, jangan sekali-kali naik motor gede,” kata Mbakyu Celathu ketika menyaksikan suaminya lenger-lenger lantaran kaget mendengar berita duka itu.

“Moge? Wuuuaaaalah,…. mbok kamu itu jangan ngece. Memangnya kita gablek duwit apa, kok berani-beraninya membayangkan aku naik moge,” jawab Mas Celathu yang memang berdompet cekak. Lagian, kata Mas Celathu lagi, andaikan pun pundi-pundinya memungkinkan dia beli moge, dia tak akan melakukan hal itu.

“Kesannya, gimana gitu. Moge itu kan tunggangan orang yang turah duwit,” ujarnya beralasan.

Menaiki kendaraan import yang harganya ratusan juta, bahkan milyaran rupiah itu, menurut Mas Celathu – tentu bukanlah memfungsikan hakekat alat transportasi yang sebenarnya. Bukan sebagai sarana untuk mobilitas kerja, berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara cepat. Tapi lebih dimaksudkan untuk mengundang decak kekaguman, betapa penunggangnya adalah orang perkasa dari kaum berpunya. Dan adi kuasa. Bukankah di jalanan, terkadang moge selalu minta diistimewakan. Bahkan diijinkan melanggar undang-undang lalu lintas dengan pengawalan polisi, seperti sering terjadi rombongan moge menerabas jalan tol di Ibukota. Gimana itu? Melanggar undang-undang kok malah dapat pengawalan dari yang berwenang?

“Apalagi sekarang ini. Lha wong sementara rakyat masih deg-degan dengan rencana kenaikkan harga BBM, kok malah pamer pemborosan BBM dengan numpak moge kemana-mana. Kalau ketemu demo mahasiswa kan bisa dikerjain,” dalih Mas Celathu.

“Tapi sampeyan jangan sinis gitu dong. Orang kan bebas berekspresi. Kalau mereka merasa afdol mengekspresikan dirinya dengan moge, kan tidak dilarang? Memangnya salah?” Mbakyu Celathu menyergah sok bijaksana.

“Ya tidak salah. Cuma saya ngak selera, selain memang ndak gablek. Kan tidak dilarang ta. Memangnya salah?”

Memang tidak ada yang salah. Andaikan nantinya Mas Celathu ingin mengekspresikan frustasinya dengan menggenjot sepeda onthel keliling Pulau Jawa, ya boleh-boleh saja. Malah menyehatkan, bisa membakar jutaan kalori. Begitu pun politisi sekaligus aktor Sophan Sopian naik moge, juga bukan kesalahan. Masing-masing tindakan itu sah dan dijamin undang-undang.

Yang jelas-jelas salah, kenapa jalanan raya kita selalu bopeng dan menyisakan lubang di mana-mana? Mas Celathu menggugat dalam hati. Setiap melihat lubang menganga di jalan raya, yang terbayang dalam benak Mas Celathu adalah barisan para pemborong dan kontraktor sedang antri menyetor upeti ke para pimpinan proyek. Penyunatan anggaran dan wajah bopeng jalan raya kita, adalah dwi tunggal yang tidak terpisahkan.

Namun, Propinsi Jawa Tengah tak perlu minder atawa rendah hati. Perkara jalan raya pating jeglong bak kubangan kerbau, bukan hanya monopolinya Mantingan, Sragen dan jalur utama Pantura, pantai utara Jawa Tengah. Jalan-jalan protokol di Ibukota pun setali tiga uang.

Percayalah, jalan berlobang menganga adalah bagian dari jati diri bangsa. Tak ada jalanan raya di sekujur persada Indonesia, terbebas dari kejahatan penyunatan anggaran. Bahkan semakin berlubang semakin produktif megurangi jumlah penduduk lantaran korban tewas pada berjatuhan.

Nah, jika para pemimpin ingin mempertahankan “jati diri” ini dengan membiarkan kubangan-kubangan di jalanan itu memanen korban, tanggal 20 Mei ini segeralah ubah peringatan Seabad Kebangkitan Nasional menjadi Kebangkrutan Nasional. Merdeka!!!***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags: , ,

Responses -

disamping nyerobot nguasain jalan, denger-denger para moge itu sempet menutup pom bensin dari umum untuk mereka gunakan mengisi moge-moge mereka. dan yang sangat membuat miris adalah mereka mengisi moge mereka dengan premium semua ( bbm bersubsidi! ), bukan pertamax.

tapi ya mungkin semua ini ada hikmahnya, turut berduka untuk keluarga pak sophan sopian yang ditinggalkan.

Oalah… Lha Wong Mereka Lewat Di Daerah Ungaran make di kawal Motor Buser nya Patwal 2 biji mana ngambil jalan yang ngelawan arus bikin orang orang yang juwalan pisang sama krecek melongo itu penggede penggede lagi touring ya…. duh duh memang hoby penggede ini wajib bawa korban … sempet tadi tak sepatani njungkelo eh Lha Dhalahhhh Njungkel Tenan rek…. Yo Amin wis makan itu ke Aroganan sampai ke akhirat…. Untuk Semua nya … Lha wong BBM aja pada susah beli eh ini… orang orang yang wajibnya ngamal malah Ngider Gak Jelas

Selamat Jalan Sophan Sopian..

Semangatmu, Nasionalismemu, Idealismu, semoga ada yang nerusin..

Amin!

* Berharap Pak Celathu yang nerusin.. hehe..

nderek lelayu kagem bapak Sophan, mugi amal lan tumindak ipun di pun kersani Allah, lan keluargi diparingi kekiyatan. Amin.

eniwei pakdhe butet, nderek asmanipun wonten blog kulo njih, mugi mboten kaweratan.

sugeng tetepangan pakdhe butet :D ;)

Masalah jalan yg berlobang… ini menandakan bahwa pejabat dan para oknum PU memang menyukai “lobang” bahkan upeti yg diberikan oleh kontarktor pembuat jalan digunakan untuk mencari “lobang” juga…

istilahnya dari lobang untuk lobang…
dan masalah per-lobang-an ini pulalah yg membuat para pejabat kemaruk utk korup..rup..rup.. - nggak percaya..???

Minggu kemaren di detikHot mbak inul bilang bahwa mas adam bisa KO dalam 3 ronde… saya yg ngebayangin seandainya diborr oleh mbak inul seperti itu pasti cuman kuat 2 ronde he he he.. nah utk bor-bor-an seperti ini mana ada yg tahaaan untuk nggak korup!

Mas Butet, rasanya jalnn berlubang dimana-mana itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari rakyat indonesia penggguna jalan & pembayar pajak. Kalo sudah kejadian begini mungkin pemerintah baru sadar bahwa jalan berlubang bisa menghilangkan nyawa seseorang. Kali SBY & JK enggak pernah ngerasain jalan berlubang karena setiap kali pergi selalu dipilihkan jalan yang mulus oleh pengawalnya sehingga enggak perlu merasa berkepentingan untuk memperbaiki jalan yang sudah ada sumurnya dimana-mana. Selama saya hidup di Republik Ini, masa pemerintahan saat ini saya merasakan jalan yang paling hancur lebur……..terus rakyat bayar pajak duit-nya buat apa ya…..? Koq memperbaiki jalan saja pemerintah kita enggak gablek…….apa Republik ini sudah mau bangkrut….!!!!!!?????????

salam kenal dari bandung
saya suka membaca artikelnya, jangan tanya kenapa

begitu ada kejadian ini, PU jatim langsung nembel dalan bocor. Coba nek sing tewas bukan seorang Sophan, apa masih mau?

[...] “Pengecer Cangkem” banyak menuliskan kritikan-kritikan sosial seperti Nguntal Negara, Kebangkrutan Nasional, Mantan Nasi dan lain sebagainya, beliau juga menuliskan catatan pribadi di blog beliau seperti [...]

lah…mau ngomong apa ya…. ada sejuta duka ada pula omelan,semua buat kita berkaca, kesederhanaan …mulai dengan kesederhanaan.

lubang? mana ada jalanan yang lubang. yang ada malahan sungai kering digunakan buat lewat kendaraan terus ada beberapa bagian yang halus heheh….

Ironis…
Seperti gak nyambung tapi nyambung, mungkin kita harus bertanya pada…..rumput yang bergoyang. Mengobarkan semangat nasionalisme apa harus dengan mengobarkan moge?

Nderek belo sungkowo kagem mba Widyawati, semoga tabah dan ikhlas.

Percayalah, jalan berlobang menganga adalah bagian dari jati diri bangsa. Tak ada jalanan raya di sekujur persada Indonesia, terbebas dari kejahatan penyunatan anggaran. Bahkan semakin berlubang semakin produktif megurangi jumlah penduduk lantaran korban tewas pada berjatuhan.

Untuk menekan kepadatan penduduk, cara seperti ini keliatannya lebih halus pak. Daripada kekerasan dengan penggusuran kan tidak berperikemanusiaan, he he he ;)

Kematian itu cinta Tuhan kepada hambanya. Jalan berlubang itu hanyalah salah satu cara menunjukkannya. Tapi kenapa pas pameran kekayaan?Itulah salah kita memaknainya duacinta.blogspot.com)

pengendara moge bisa celaka juga ya? hehehheheh…

Semoga harkitnas tahun 2008 benar-benar dapat menjadi “turning point” bangsa ini dalam memperbaiki dirinya sendiri.

Selamat jalan bung Sophan…
Selamat jalan bung Ali Sadikin…

Ayo, kita bangkit dari keterpurukan!!!

Yg pergi takkan kembali. Bagi saya setiap orang ada rezekinya, kaya dan miskin masing2 punya godaan. Kalau ada duit pada seseorang itu adalah haknya utk menggunakannya selama itu tidak nyerobot hak orang lain.
Tentang jalan, ada sebuah jalan di sebelah jalan rumah saya di medan. Nama jalannya jalan NEGARA. Benar2 mencerminkan kondisi NEGARA kita tercinta ini. Jalan yg luas di tengah dan badan jalan kiri kanan yg sebesar jalan itu sendiri. Baru2 ini di aspal kembali, dan sudah mulai ada lubang yg mendalam satu dua. Air hujan selalu menggenangi sebagian ujung jalan. Sebelum di aspal, melewati jalan NEGARA ini dengan mobil misalnya bisa terasa seperti naik kapal di laut berombak. Jalan yang lurus tapi kalau naik sepeda motor atau sepeda, perlu ketrampilan dan kehati-hatian untuk menghindari genangan air dan jebakan berbagai ukuran lubang. Kendaran yang dari kiri bisa berkelok ke kanan demikian sebaliknya.
Selamat hari kebangkitan nasional, semoga para pemimpin negeri ini bisa memuluskan jalan. bukan saja di kota-kota tapi juga sampai ke desa-desa terutama desa-desa yang masyarakatnya hidup dari menjual hasil kebun mereka. Setiap kali hujan, di Medan akan mengalami kesulitan pisang kepok dan pisang raja, pedagang gorengan pisang yang paling kesulitan. Jalur transportasi yang rusak bukan membunuh seketika, tetapi membunuh perlahan ribuan orang. Kendaran rusak menaikkan biaya pemeliharaan dan tentu saja semakin boros buang minyak.
Selain mengalami kebangkrutan, bangsa kita juga menjadi dikenal sebagai bangsa penggerutu. Mudah2an gerutuan para intelektual dan budayawan di negeri ini tidaklah menjadi sumpahan yang menunggu untuk terwujud. Gerutuan itu lebih terdengar seperti koor kutukan bersama daripada kritik sosial. =)

ada lubang yang dihindari,, tapi ada juga lubang yang dicari..

hhmm..
yah kita2 ini yang cuman punya motor butut (motut) sekedar buat nganter kesana kemari makin susah saja.. apa nantinya kudu dijual itu motur buat beli sepeda..??? biar ngga perlu beli bengsin lagi yah..

:lol:

Ikut meramaikan. Ayo, yang tua, muda, besar, kecil, pejabat, pemulung. semuanya. Mari kita bangkit dari keterpurukan.

He..he.. baru tau ya. Kalo mental pejabat kita gak di daerah ga di pusat sama2 bobrok. Mereka selalu memanfaatkan lubang untuk lubang mulut dan lubang2 yang lainnya dengan uang rakyat.. Cape deh.

hari KEBANGKRUTAN MORAL NASIONAL. Penguasa tidak pernah puas “memakan” rakyatnya sendiri. sementara meminjam istilah Cak Nun, rakyat hanya dapat makan “bismillah”. :)

Ikut nimbrung aahh..
Saat saya ngangon sapi majikanku di trinil, rombongan sapiku pontang panting saking kagetnya melihat rombongan MOGE menuju ke arah Sragen, sampe bingung saya ngejar sapi2ku yg ketakutan itu.
Saya mbatin, sapi kok kaya liat setan wae to, kuweden koyo ngono, gak taunya memang benar sapi2 yg aku gembala kaget bener ngeliat rombongan SETAN pemboros premium, setan pelanggar lalulintas, setan si raja jalanan, sedang lari numpak Moge!
10 menit kemudian ada teriakan sopir angkot kalo setan jalanan ada yang nyungsep kejeblos lobang di mantingan!
Sapi yg aku gembalakan mandeg kabeh, LEGO !!!

bener juga… ironis emang tepatnya…

Nah, mas-mas, sampeyan ini bagaimana. Wong orang dapat musibah, bisa-bisanya dibikin tulisan. Di paragraf pertama lagi Tapi salut deh. Emang ini untuk moolog ya?

Wakakakkaka….mas lare angon sadis banget….

ikuthan om.
hahha.
ia juja.
kok gtu baned si.idup jadi orang indonesia susah.apalagi pelajar NEMnya mesti naik tiap taun.bikinn pusing ae.!
hmm
kalo menurutku.ngerayain 100 th kebangkitan bangsa g perlu pake moge mogean ah.
ber empati don pada yang ga punya moge
nyanya

lebih indah lagi kalo yang punya moge suru ngontel speda kayk yang om bilang.
nyanya nyaaa.

tapi ya uda kehendak yang diatas.

smga amalannya ditrima .amin

Atiku sueneng nik moco tulisane Pakde Butet iki, seperti nontok banyolan nang tipi-tipi..lho koq?

lare_angon@ Mestinya sapi sampeyan dicat merah terus melu konvoi moge….dadi one moge nganggo bensin suket mas……..

Ayo do ngonthel wae kang, ora perlu tuku bensin, nak kejeglong paling banter tombok pelk

urun rembug mas..
simple aja.
tambah bangkrut bangsa ini dan rasa nasionalis kita karna berita lebih meng-ekspose berita Bapak Sophan Sophian (yg juga saia akui sebagai aktor HUEBATT tenan!)..
dibanding berita ny Bapak dan Ibu nasionalis kita, Ali Sadhikin dan S.K. Trimurti.
tepatnya kebangkrutan atau kebobrokan nasional, Mas?

hihihi merdeka juga !!!
bener2 ironis laris manis

Leave a response -

Your response:


Categories