Posted by: butet | Juli 12, 2008

KOLOM CELATHU: MENTERI PENGGELAPAN

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 13 Juli 2008, halaman 1, NASIONAL

harmoko1.jpg

MENTERI PENGGELAPAN

Butet Kartaredjasa

Menyambut hari-hari penggelapan massal dimana PLN akan mematikan listrik secara bergiliran, tibalah saatnya kita memlesetkan judul kitab legendaris karya RA Kartini menjadi: “Habis Terang Terbitlah Gelap”. Bahkan PLN yang aslinya Perusahaan Listrik Negara boleh juga diplesetkan menjadi PLM alias Penjamin Listrik Modar.

“Sampeyan kok sinis banget ta sama PLN. Ntar rumah kita nggak dikasih listrik, malah kita yang modar,” Mbakyu Celathu mengingatkan suaminya.

“Ini bukan sinis. Tapi gemeeees. Ya beginilah kalau bisnis tanpa saingan. Monopoli. Giliran kita telat bayar tagihan, eh kena denda. Tapi kalau PLN nggak bisa memenuhi kewajibannya, apa dendanya?”

Mbakyu Celathu tak minat meneruskan perdebatan ini. Jika dilanjutkan salah-salah jadi berantem beneran. Akan jadi debat kusir, karena posisinya sama-sama korban. Dan sama-sama bego, tak akan bisa kasih solusi terbaik. Mestinya, kalau mau eyel-eyelan ya sama PLN yang memang bertanggungjawab perkara distribusi listrik.

“Saya akan usul, kerugian konsumen listrik yang kena pemadaman, harus dikompensasikan pengurangan tagihan di bulan berikutnya. Itu baru fair,” cetus Mbakyu Celathu.

“Weleeeh,… itu sih seneng di PLN, senep di sini. Kalau usulannya seperti itu ya belum adil. Mbok coba dihitung, berapa kerugian dunia usaha akibat pemadaman itu? Pabrik-pabrik berhenti berproduksi. Hotel-hotel terpaksa menyalakan genset, dan harus beli solar atau bensin harga industri. Komputer pada mati. Yang dikejar deadline pasti pontang-panting. Kalau apes bisa kena pinalti. Semua harus bayar kerugian. Mereka kehilangan peluang keuntungan milyaran rupiah lho. Mosok, kok cuma mau diganti harga sewa listrik bulanan,” Mas Celathu nyerocos panjang lebar, seakan-akan dia advokat-nya para industriawan.

Selagi pasangan suami istri ini udur-uduran masalah yang memang tidak mereka kuasai, tiba-tiba ada yang ikut nimbrung. Jeng Genit, bungsunya Mas Celathu yang tahun ini naik kelas 3 SMTP langsung ikut njeplak, “Coba kalau dulu presiden Gus Dur tidak membubarkan Departemen Penerangan, Indonesia akan terus terang benderang. Listrik nggak bakalan mati. Huuuhh…. sebel deh. Byar-pet melulu. Chating dan browsing kan jadi terganggu.”

Mendengar sambaran Jeng Genit yang tak kalah ngawurnya ini, Mas Celathu dan istrinya menahan geli. Mas Celathu jadi tambah gemeeees.

Oallahhhh nduk….. kowe ra ngerti. Menteri Penerangan dulu itu malah bikin semuanya jadi gelap gulita,” ujar Mas Celathu. Rupanya, dalam benak ABG — anak baru gede, yang memang tidak pernah ikutan mencicipi gayeng-nya era Orde Baru, disangkanya Menteri Penerangan adalah pejabat tinggi yang mengurusi listrik. Tugasnya menerangi tempat-tempat yang gelap. Pikirnya, direktur PLN itu ya sekaligus menjabat Menteri Penerangan

Pikiran Usil

Perdebatan soal listrik terpaksa rehat sejenak. Supaya ragilnya jadi ngeh, Mas Celathu ngoceh duluan soal Menteri Penerangan di masa lalu. Kata Mas Celathu,”Tak kasih tahu ya nduk, dulu itu Pak Menteri Penerangan hobinya menyeragamkan pikiran dan suara. Informasi selalu dibikin gelap.”

Sambil menyedot kretek filternya, dia meneruskan,” Di zaman Orde Baru, pers yang jujur dan menyuarakan kebenaran malah dibreidel. Tahu nggak, dulu televisi-nya cuma satu, dan beritanya cuma itu-itu aja. Semua dikendalikan Pak Menteri. Termasuk kasih ijin boleh tidaknya koran dan majalah yang ingin terbit. Setor dulu sogokan berupa saham, lampu hijau perijinan baru bias dinyalakan. Pokoknya semua yang berurusan dengan berita, bahkan informasi hiburan, harus manut apa jarene Pak Menteri. Dan wajib hidup dengan semangat mempropagandakan pesan-pesan penguasa. Yang ngeyel pasti celaka.”

“Oooo gitu ya? Jadi Menteri Penerangan itu bukan pemimpinnya orang-orang yang kerjaannya menyalakan lampu di jalan raya?” kata Jeng Genit dengan mulut ngowoh.

Mas Celathu dan bininya tak bisa lagi menahan tawanya, dan langsung jebol,”Hua ha ha….” Tapi, belum lagi tawanya reda, kesadaran kritis Mas Celathu muncul. Jika dipikir-pikir ada benarnya juga cara berpikir anak kemarin sore ini. Ditilik dari makna katanya, “terang” memang berurusan dengan cahaya. Dan “penerangan” memang berarti kata kerja yang berurusan dengan aktivitas menghadirkan cahaya itu.

Nah, pikiran usil Mas Celathu langsung menyembul. Kalau begitu, departemen yang bertanggungjawab soal listrik yang nyatanya justru menyelenggarakan kegelapan, mestinya dipimpin oleh Menteri Penggelapan dong. Wuah ide bagus ini.

“Nanti kalau ketemu Pak SBY saya kan usul, departemen yang bikin Indonesia gelap gulita alias tidak becus mengurus energi untuk bangsa ini, sebaiknya dipimpin Menteri Penggelapan,” ujar Mas Celatu mantap.

Maka, segeralah Mas Celathu bikin konsep usulan tentang Departemen Penggelapan. Cakupan tugasnya bukan hanya mengurus perkara energi dan sumber daya mineral. Tapi diperluas ke wilayah hukum karena di wilayah penegakan hukum dan keadilan ini, kegelapan dan penggelapan terus berlangsung secara laten. Selalu terjadi hubungan gelap antara jaksa-terdakwa maupun antara hakim dan terdakwa, sebagaimana pekan lalu terungkap dengan telanjang di meja peradilan jaksa Urip yang doyan sogokan.

Kalau saja usulan ini kelak diterima, sempurnalah kegelapan lahir batin bangsa ini. Gelap nasibnya. Gelap hari depannya. Bersama kita memang bisa! Bisa gelap-gelapan!***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags: , ,

Responses -

xixixixi..

asik nih gelap2an..

xixixixixii..

mati lampu….
adu asiknya…..

(ndangdut mode ON)

gw idupin senter dulu ah…..
wahhhh ada yang pacaran nih! lumayan objekan.

Tramtib operasi nih…….bawa ke pak Rt nikahin aja….

Asik..iso dodolan senthir kie..sekalian lampu teplok karo petromak..

gelap itu asyik loh mas ….

mas kok dadi peteng ono opo to iki :shock:

piye mas kabare?,koq ngajarang muncul di Baru bisa mimp lagi,mas kabaret yang dimetro tv apa masyarakat banyak yang mengerti terlalu berat mas untuk dicerna massa awam ada nga mas format yang lebih ringan yang kira2 masyarakat bisa menikmati dan bisa memberi pendidikan politik juga.thank’s ya..sukses buat anda

waduh… kalau terus gelap-gelapan nggak bakalan tidur-tidur kan mumpung gelap huehehe…. :D

program televisi dirasakan “berat” atau “ringan” sesungguhnya tergantung niat awal pembuatnya. Tergantung bagaimana si kreator dan pihak stasiun punya keinginan untuk melayani konsumennya. Pada awalnya mungkin dirasakan “berat”,…eh lama-lama setelah terbiasa dengan sajian itu, rasanya juga menjadi biasa dan “ringan”. Dulunya acara Kick Andy juga diasumsikan “berat”, nyatanya lama-lama ya bisa diterima dan menjadi salah satu program yang ditunggu banyak orang. Moga-moga, KABARET pun nantinya bisa bernasib sama. Disenangi banyak orang dan ditunggu.

setuju dibutuhkan menteri penggelapan. karena semua orang dasarnya suka yang gelap gelap, cotohnya tidur enakan gelap gelap.

mati kita bergelap gelap ria. bayangkan aja 10tahun lagi, indonesia pake lampu minyak.

terus terang PLN gelap terus prospeknya kalau kayak gini terus.

auuh auhh auugg ahhh gelap nih…

Saya sependapat dengan kang Butet…

weleh2 kok manteb temen sambutane den butet

laaaaaa ini…berhubung lagi banyak mati lampu, kalo mau maidu (nyalahkan) PLN memang gampang.tapi pernah ga sampeyan berfikir kalo harga listrik itu murah banget lo kalo dibandingin dgn tarif2 yg lain (telpon misalnya).
maksudnya cobalah anda berfikir dari sisi PLN.harga minyak yg dipake buat menghasilkan listrik terus naik sementara harga tarif dasar listrik ga naik.la trus gimana PLN ga rugi hayoooooo.
udah gitu kalo PLN banyak ruginya, mana ada investor yg mau investasi bangun pembangkit di Indonesia.padahal tiap tahun permintaan listrik meningkat lo sementara tidak ada pembangkit yg dibangun sama PLN.wajar kan kalo defisit pasokan listrik.
hmmm…

Sebenarnya gelap juga tidak terlalu buruk. karena dalam kegelapan kita bisa mengetahui betapa pentingnya ‘penerangan’… Tapi kalau kegelapan sudah menjadi kebiasaan, ya.. memang membuat dongkol…

Oh ya kang Butet sudah muncul lagi di metrotv? Aku terlambat tahu dong… Setelah Republik Mimpi berubah menjadi mimpi beneran aku memang sudah jarang nonton tv (lebih suka nonton film, biar fiksi tapi asyik)

Sukses selalu…

salut…salut dengan ceritanya..
tapi knapa musti pake diadakan menteri kegelapan ya…knapa pemikirannya kok terus2an pesimis,trus knapa yg kyk gini justru lebih ramai diperbincangkan… knapa ga di akhir cerita anaknya minta dibuatin kincir gitu ato apalah yang bisa ngbuat listrik mandiri….huhuuhu….just my opinion….

om butet kenapa gambar di headernya kok disamarindisamarin…??
motto PLN “Listrik untuk kehidupan yang lebih baik”
kalau L dan k (listrik) dihapus itu jadi motto saya, hehehehe

Aduh Dik Butet, bener2 mbeling banget deh….

الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور والذين كفروا أوليآؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات أولئك أصحاب النار هم فيها خالدون

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Qs. 2:257)

Hehehe.. GusPiit ini bisa saja.. ngomongin sapa tho Gus?

[...] « KOLOM CELATHU: MENTERI PENGGELAPAN [...]

Leave a response -

Your response:


Categories