Posted by: butet | Juli 19, 2008

KOLOM CELATHU: PANEN MAYAT

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 20 Juli 2007, NASIONAL, hal 1

hukuman-mati1.jpg

Panen Mayat

Butet Kartaredjasa

Bulan ini Indonesia panen mayat. Setidaknya begitulah yang mencuat dalam sejumlah pemberitaan di berbagai media massa. Ada mayat normal, maksudnya meninggal secara wajar sebagaimana jamaknya manusia yang – jika Tuhan menghendaki — memang harus tidur abadi. Ada pula mayat abnormal. Matinya tidak konvesional. Maksudnya, berubah status menjadi “mantan manusia” karena kecelakaan atau dicelakai. Misalnya dicelakai perampok yang sangat bengis. Atau dirajang-rajang jadi korban mutilasi oleh partner homoseks.

Diluar itu semua, ada manusia Indonesia yang terpaksa jadi mayat atas kehendak negara. Yaitu mereka yang dimasa lalu pernah menunaikan kejahatan dengan memanjakan kebengisannya sehingga diganjar hukuman mati. Dan sialnya, baru belakangan ini mereka dieksekusi, setelah mereka menjalani hukuman penjara bertahun-tahun. Dalam istilah Bu Sumiarsih dan Sugeng, terpidana mati yang juga barusan menyetorkan nyawanya di hadapan regu tembak,”Kami kena hukuman ganda. Dipenjara dan kemudian dihukum mati.”

Mendengar semua ini Mas Celathu iba. Sedih hatinya. Ingin sekali rasanya ia me-nyetip pasal-pasal galak yang mengambilalih tugas Tuhan itu. Bukankah nyawa manusia itu monopolinya Tuhan, dan hanya Tuhan pula yang punya hak prerogratif untuk mengambilnya kembali? Yang boleh menghentikan hidup hanyalah Yang Mencipta Kehidupan. Bukan mereka yang dihidupi atau yang sekadar numpang hidup.

“Huuuhh, sampeyan itu sok humanis. Orang jahat kok dibela? Coba, mbok diingat bagaimana kejamnya mereka dulu. Ditagih utangnya kok nesu, terus mateni. Berani hutang ya harus berani melunasi tagihan. Bukannya malah ngamuk. Bayangkan tuh perasaan keluarga korban. Bagi mereka, mungkin hukuman mati pun masih nggak sebanding,” kata Mbakyu Celathu bagai berondongan mercon menanggapi gerundelan Mas Celathu.

Ada benarnya. Mas Celathu nggak berani ngeyel. Dia menyadari, soal hukuman mati memang masih jadi kontroversi. Ada yang setuju. Ada yang menolak. Tapi jika memang itu bagian dari sistem hukum yang digunakan negeri ini, ya mau apa? Paling pol Mas Celathu hanya berani menggerundel saja. Meminta supaya pasal hukuman mati di-amandemen, barangkali membutuhkan proses waktu yang panjaaaaang. Entah kapan pasal itu bakal sirna, lalu diganti pasal yang lebih manusiawi. Bukan pasal dendam: hutang nyawa dibayar nyawa.

Mati Bicara

Mas Celathu benar-benar masgul. Jika setiap vonis hukuman mati diandaikan untuk melahirkan efek jera, nyatanya pasal itu tidak mujarab untuk mencegah lahirnya pembunuh-pembunuh berikutnya. Sudah ratusan terpidana mati dieksekusi, masih juga orang mengulang kejahatan yang sama: membunuh dan membunuh. Membunuh secara langsung dengan main tikam, carok, tusuk, dan jerat leher. Atau membunuh secara pengecut sebagaimana mahluk yang mengotaki pembunuhan pejuang HAM Munir, atau seperti yang dilakukan para “teroris” yang hobinya menyulut bom.

Malah ada lho, orang membunuh sambil mengoleksi deposito. Siapa? Tuh para koruptor! Tindakan mereka menjarah harta bangsa dan negara bisa dikategorikan pembunuhan berencana, karena jelas-jelas dengan sistematik dan terencana bakal mematikan kehidupan rakyat.

“Jadi sampeyan tetap akan membela para pembunuh itu?” ujar Mbakyu Celathu ketus.

“Bukan membela. Cuma lagi mikir, apa nggak ada cara lain menghukum pembunuh keji itu selain dengan mencabut nyawa?” jawab Mas Celathu berhati-hati. Nada suaranya lirih, tidak seperti biasanya. Suasananya jadinya hening. Yang bergemuruh adalah isi kepalanya. Pikiran positif dan negatifnya sedang bertempur. Mas Celathu mengernyitkan kening dan membatin,”Jika hakekat hukuman mati adalah hilangnya hak untuk hidup, - mungkinkah hak hidup ditiadakan tanpa harus disertai hilangnya nyawa?

Pasangan suami isteri itu terdiam. Masing-masing bengong mati angin. Sontak mendakak suasana sepi terpecahkan jeritan Mas Celathu.

“Eureka, eureka…!!!” sorak Mas Celathu tiba-tiba yang artinya,”Sudah kutemukan!”. Dia melompat kegirangan seperti Archimedes saat menemukan dalil fisikanya. Untung saja Mas Celathu tidak gondal-gandul telanjang sambil berlari-lari seperti filsuf dan fisikawan Yunani yang termahsyur itu. Melihat kejadian ini, Mbakyu Celathu njenggirat hampir nggeblak. Dia terkaget-kaget melihat ulah suaminya yang lunjak-lunjak kegirangan.

“Ini benar-benar ide brilian sebagai pengganti hukuman mati. Sangat “berbudaya”, tapi tidak mematikan. Terpidana akan tetap hidup meskipun sesungguhnya mati. Mati dalam hidup,” ujar Mas Celathu masih terengah-engah saking girangnya.

“Lha iya, apa itu?”

Lalu Mas Celathu nyerocos menjelaskan idenya. Terpidana mati cukup dipenjara seumur hidup dan diberi bonus hukuman berupa sakit sariawan sepanjang hidupnya. Biarlah ceruk-ceruk sariawan itu ngendon permanen di lidah, bibir dan langit-langit mulutnya. Jika sariawannya mau sembuh, maka sipir penjara harus lekas-lekas kasih olesan hasil eksperimen apoteker yang justru menyuburkan munculnya sariawan-sariawan baru. Pokoknya dari hari ke hari sang terpidana akan merasakan pahitnya hidup: susah bicara, sulit mengunyah, dan senut-senut merasakan perihnya sariawan yang tak mungkin sembuh. Sepanjang hidup si terpidana hanya akan sibuk dengan sariawannya, tak sempat lagi membangun martabat dan kehormatannya sebagai seorang manusia. Inilah hukuman final yang paling ampuh. Lebih “manusiawi” katimbang menembak mati.

Dengan begitu, menurut Celathu, kita tak perlu berdosa dengan menjadi Yamadipati sang pencabut nyawa. Terpidana mati dibiarkan bernyawa, padahal sebenarnya terpidana telah dimatikan secara “sopan”. Mati bicara. Mati rasa. ***


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags: , , ,

Responses -

duh mas butet, aku jadi ngilu ngebayangin rasanya sariawan seumur idup. aku baru aja sembuh sariawan. aku ngerasain sariawan 2 minggu aja tobat, nah ini hukumannya kok sariawan. sadis bener!!!

apa itu ga malah menyiksa mas, malah bikin org menderita. mungkin dia akan minta langsung ditembak modar daripada tersiksa dlm hidupnya…

wah, itu namanya euthanasia pelan-pelan :D
mas, ngasih sariawan itu bukannya tugas Tuhan juga?
sebenarnya ndak ada itu yang namanya Tuhan menghukum. manusia menuai akibat perbuatannya sendiri, trus menyalahkan Tuhan. bahkan mungkin abis judi trus bankrut lantas bilang Tuhan tidak adil. gimana tuh?

TIDAK SETUJU DENGAN HUKUMAN MATI.

lebih tidak manusiawi lagi hukuman mati di rajam alias di lempar batu sampai mati.

!#&*^#”>..=%)(@=……

man

preman pasar,

sudah kadung…….. kita berdoa untuk mereka,semoga mereka sudah tobat, sehingga tidak terhukum lebih lama lagi di neraka….

iiiih… medeni ah, mas!

masyaallah… memang panen mayat kita…
selain yg dihukum mati ada juga yg dimutilasi psikopat-gay.

trus mayat hidup ugi wonten.
“mati rasa” tapi tasih saged mlampah2 wonten senayan lan kejaksaan….

prihatin, mas…
tambah akeh wong gemblung…

Saya pernah baca tentang tiga otak manusia, yaitu otak reptil, otak mamalia, dan otak besar. Kemungkinan karena adanya otak reptil ini yang mengakibatkan insting untuk membunuh tetap ada. Membuat otak kita berada di tingkatan yang lebih tinggi adalah tugas kita semua. mari saling mencerdaskan dan menyehatkan akal sehat

Hmm… Menarik sekali mas penjabaran dan solusi kreatifnya!!! akan tetapi masalah hukuman mati masih sangat perlu dalam hal kejahatan yang memang dianggap sangat berat seperti pembunuhan massal atau berantai… terlebih adalah pengedar narkoba!!!! no apologise dah !!!

Salam kreatif mas!!! Papan

hahahaha..bener2 penyiksaan sadis. sekalian aja polisi dilengkapi senjata anti demonstran dan hiuru-hara dengan senapan penyebar sakit sariawan..biar pada ga bisa bicara.

jaman soyo tuwo wong - wonganne do soyo gemblung

sepakat, hapuskan hukuman mati, suruh saja terpidana mati itu kerja bakti

ngayalin mo ngukum wong jahat ae kok susah2 mikire mas. mbok wis ben, pancene wong jahat mateni wong, yo ben dibales jedooor….adil to?

fotonya aku unduh jg yach mass.. tak tambain di postinganku hehe

jogja imogiri masuk.. masuk.. mati hidup ada tujuannya..

mas Butet makin tua makin bijak deh, aku selalu jadi penggemar sampeyan mas

terakhir kita ketemuan sudah lama banget ya?

kalau gak salah waktu pementasan teater gandrik di surabaya, saat istriku mencari “njenengan” dan aku mencari mas Nemo

sukses selalu mas

salam

eshape 3T

mas aku pesen obat sariawanmu kuwi… telu… pira regane?

Terima kasih untuk semua komentar yang sangat inspiratif. Tanpa adanya tanggapan anda sekalian, saya merasa gak berarti apa. Anda telah membikin saya tambah percaya diri, he he he. makasih banget.

memang macam macam di dunia ini , masalah panen bukan padi aja yang bisa panen tetapi mayatpun ada panean juga rupanya ..ha….ha….ha…..

mas butet yang sama sekali bukan batak,

aku juga berpikir sama lho sama sampeyan, gak setuju sama hukuman mati, karena hukuman mati itu membawa derajat pelaksananya (negara) menjadi serendah martabat penjahat tersebut di atas.. dan menghinakan Tuhan pencipta segenap alam dengan menganggapNya tidak mampu mengendalikan sebuah ciptaanNya yang membunuh dengan semena-mena..

lalu di siang hari yang cerah dan panas, seorang kawan ku yang baik melemparkan pertanyaan filosofis ini ke muka ku :

bagaimana kalau anakmu atau istrimu atau bapakmu atau saudaramu yang jadi korban dari penjahat tersebut di atas ? apa kamu masih mau menentang hukuman mati ?

itu pertanyaan menjadikan bibirku sariawan pagi siang dan malam..

terbayang dendam kesumat yang timbul jika (amit-amit) orang yang aku sayangi jadi korban keganasan penjahat tersebut di atas

lha sekarang pertanyaannya, apakah kita akan bisa bertahan menentang hukuman mati jika kemalangan itu yang menimpa keluarga kita ?

aku sih pengennya masih menentang, tapi hhh.. gimana ya mas..

Bertahan pada sebuah SIKAP, memang pahit. Andaikan pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawaban saya tetap sama: MATI adalah urusan Tuhan, DIA yang punya hak prerogratif untuk hal ini, sebagaimana TUHAN mengatur kelahiran manusia memberi rejeki dll. Manusia SAMA SEKALI tidak punya hak menggantikan tugas Tuhan.

dimengerti..

berarti juga manusia tidak boleh bersikap semena-mena pada sesama mu manusia tho..

termasuk juga tidak bersikap semena-mena dengan membela Tuhan yang tidak perlu dibela mati-matian sampai orang lain mati-matian atau mati beneran tho..

dimengerti dengan baik..

yang saya tidak mengerti adalah, kenapa masih ada orang yang membela Tuhan nya dengan merusak milik Tuhan nya..

demi kebenaran katanya..

kebenaran.. apa itu kebenaran ?

tapi itu bahan untuk posting yang lain mungkin..

wah seru artinya kalo panen mayat, sebap semakin banyak mayat yang tertanam maka anak cucu kita kelak bisa menikmati BBM dengan harga murah, sbap minyak buminya didapet dari hasil panen yang ditanam nenek moyangnya pada tahun 2000-an

[...] « KOLOM CELATHU: PANEN MAYAT [...]

Leave a response -

Your response:


Categories