Posted by: butet | Juli 27, 2008

KOLOM CELATHU: PRESIDEN KULINER

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 27 Juli 2008, hal 1. NASIONAL

prabowo.jpgsoetrisno-bachir.jpgwiranto.jpgbotol-kecap.jpgbotol-kecap.jpgbotol-kecap.jpg

Presiden Kuliner

Butet Kartaredjasa


Gara-gara iseng bikin liputan kuliner di koran nasional, Mas Celathu menyandang predikat baru: “ahli kuliner”. Padahal, aslinya, dia tidak tergolong jagoan masak-memasak. Bahkan nama-nama bumbu dapur pun ia tak bisa mengingat luar kepala. Juga nama-nama menu kreasi chief internasional yang adanya hanya di hotel bintang lima. Untuk mengeja saja dia tergagap-gagap. Apalagi memahami perkara resep-resep tata boga, misalnya bagaimana memadukan khasiat sayur mayur tertentu dengan bahan-bahan hewani. Bisa dibilang, Mas Celathu enol besar.

Untuk urusan mengolah masakan jagonya ya Mbakyu Celathu. Dia sudah teruji bikin baceman kambing, sambal petai, paru goreng masak ketumbar, dan bikin sop buntut. Mas Celathu sih bisanya ya cuma nguntal. Memangsa makanan enak. Kalau toh ada keunggulan darinya, paling banter hanyalah hafal dimana lokasi kedai atau warung tradisional tempat aneka makanan lezat dijajakan. Cuma itu.

Karena itulah ketika urusan icip-icip dan menguji kecerdasan lidah tiba-tiba dipercayakan kepadanya, Mas Celathu jadi geli sendiri. Dia semangkin menahan geli ketika suatu kali panitia sebuah seminar hendak mengundangnya berbicara soal kuliner.

Bayangkan saja. Mas Celathu diminta melakukan analisis akademik, dengan topik utama “Tongseng Kambing dalam perubahan politik, ditinjau dari perspektif demokrasi dan budaya”. Sementara panitia lain mengajukan tema: “Kreasi mangut lele di tengah dinamika parpol pasca reformasi”. Modiiiiaaaarr!!!

“Makanya nggak usah neka-neka bikin tulisan yang aneh-aneh. Sekarang disalahpahami sebagai ahli kuliner. Dulu nulis soal desain kemasan rokok murahan, terus disangka sebagai pengamat industri rokok kretek. Kemarin nulis soal mayat, bisa-bisa besok dikirain ahli forensik,” ujar Mbakyu Celathu bernada himbauan.

“Ya lebih mentereng ta kalau dikira ahli forensik. La kalau disangka tukang mandiin mayat, gimana?” jawab Mas Celathu berseloroh seraya meneruskan,”Saya bener-bener heran. Orang kok bolehnya main gampang kasih predikat dan memberi kategori. Lha saya cuma cerita soal warung, kok dibilang ahli kuliner. Piye ta kuwi?”

Lebih memprihatinkan lagi jika yang bertabiat seperti ini orang-orang kampus. Mahasiswa atau dosen. Semestinya priyagung kampus perguruan tinggi lebih berhati-hati tatkala kasih label dan predikat orang. Jika sembarangan, efeknya bisa berbahaya bagi masyarakat yang cenderung membeo apa yang dinyatakan para akademisi.

Celathu Awards

Betapa berbahayanya jika, misalnya, ada montir otomotif yang mengaku bisa mengubah air menjadi energi pengganti BBM, dipredikati fisikawan. Dan dijuluki “Einstein from Java”. Sudah dipredikati dengan julukan gagah, eh nggak tahunya cuma petualang tipa-tipu, dan kini terpaksa berbaring secara ngenes di sel Polda DIY. Jika yang begituan dibiarkan, salah-salah kelak ada preman alias tukang palak diberi gelar DHC, doktor honoriscausa. Lalu ada koruptor tulen digelari pakar hukum, wartawan pemangsa amplop dipredikati jurnalis sejati. Piye jal?

Untungnya Mas Celathu kerap mengkritisi dirinya sendiri. Dia tak ingin terperangkap ke dalam mitos gelar-gelar, predikat maupun julukan. Jika memang tidak klop dengan yang realitas dirinya, dengan tegas dia akan bilang tidak.

Ketika dua hari lalu, ada panitia Lomba Akting minta ijin menggunakan namanya untuk sebuah kompetisi, CELATHU AWARDS, — dengan tegas dia menolak,”Husss, memangnya aku ini siapa? Masih banyak nama lain yang lebih pantas diagungkan sebagai lambang kejuaraan. Jangan coba-coba mengkultuskan aku ya. Suk wae, kalau aku sudah modar, sesukamulah aku mau diapakan saja. Toh aku nggak bakalan tahu!”

Mencoba apa adanya dan bersahaja, sudah jadi sikapnya sejak dulu. Umpamanya dalam hal kuliner itu. Kendati pun petualangan lidahnya bisa dibilang di atas rata-rata, Mas Celathu ogah dipersamakan dengan maestro William Wongso atau Bondan Winarno. Nggak level-lah. Belum apa-apanya dibandingkan dua nama kondang itu.

Bahaya Racun

Soal kuliner, Mas Celathu hanya bisa mengapresiasi makanan yang tidak instan. Yaitu makanan yang diproses secara manual, setahap demi setahap, menggunakan bumbu-bumbu alamiah dari bumi sendiri, dan dikerjakan oleh ahlinya dengan penuh kecintaan. Kelezatan makanan yang diolah dengan modus seperti ini, niscaya akan melahirkan kepercayaan masyarakat. Bakal laris manis. Tanpa iklan. Tanpa gembar-gembor promosi. Ribuan orang dari mana pun akan berbondong-bondong memburu di mana makanan lezat itu berada.

Ada pun makanan instan yang diproses dalam sekejap, digeber promosinya melalui iklan, disajikan dalam keindahan interior dan kemolekan arsitektur restorannya, - biasanya justru membikin Mas Celathu jadi jengah. Jangan-jangan kelezatannya tak sebanding dengan yang dijanjikan promosinya? Mas Celathu khawatir hanya menemukan yang serba semu di situ. Atau malah bakal ketemu racun, karena biasanya proses penciptaan yang serba instan selalu disertai unsur-unsur kimia yang membahayakan kesehatan tubuh. Ada zat pewarna, penyedap rasa dan bahan pengawet.

“Saya lebih percaya jika kelezatan itu telah teruji oleh waktu. Jika sejak awalnya lezat, di tempat sederhana pun ya akan tetap lezat. Kelezatan tidak akan lahir dari bimsalabim,” ujar Mas Celathu sambil mengingatkan,”Makanya kalau besok milih presiden harus hati-hati. Kalau ada calon presiden main instan untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat dengan mengobral iklan, kita harus waspada. Biasanya ada bahaya racun seperti makanan instan.”

“Huss, sampeyan mbok jangan ngelantur. Ngomongin makanan kok bablas ngrasani calon presiden?” sergah Mbakyu Celathu.

Ditegur begitu Mas Celathu cuma nyengenges, lalu mulutnya manyun. Dan dengan ekspersi tanpa dosa, dia ngudarasa,”Lha kalau mau jadi presiden buang-buang duit ratusan milyar untuk beriklan, gimana tuh kalau nanti bener-bener terpilih? Pasti akan berpikir bagaimana caranya balik modal dong. Emang gaji presiden cukup untuk balik modal? Coba dari mana tuh duitnya nanti?”

Pertanyaan itu dibiarkan mengambang. Mas Celathu tak ingin menjawabnya sendiri, karena dia yakin siapa pun sudah tahu jawabannya. Dia lalu ngeloyor pergi meninggalkan bininya yang masih bengong tak tahu musti menjawab apa. ***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags: , ,

Responses -

Coblos kumisnya Coblos kumisnya Coblos kumisnya sekarang juga!!

Coblos daging (kambing)nya Coblos daging (kambing)nya, jadikan sate sekarang juga!!

hehehehe….

saya juga bingung mau ngomong apa.. hmm..

wkwkwkwk.. :lol:

mantebss….

Walah-walah mas celathu, koq gambar calon presiden di pajang bersama botol kecap. Apa ada persamaannya botol kecap dan calon presiden ? apa karena sama-sama mengandung unsur manis.

Hanya kecap yang selalu bilang dirinya :”nomor satu”. Jadi apa bedanya dong bedanya calon presiden dengan sebotol kecap, he he he

ya kayak kamus pak… semuanya bilang “kamus lengkap” sampek2 kamus yg sebesar saku pun bilangnya kamus lengkap. trus yg lengkap mana? *la kok ngomongin kamus*
ngaciiiir….

mas butet.. kalo di undang Talk show sama KOmunitas Blogger Brawijaya.. saya ngundangnya lewat mana nih>> Kontaknya Mas Butet Dunk…

ini nih kontak saya… hazairin… 08523090425
email muh_hazairin@hotmail.com

ditunggu balessanya ya mas butete

eh Nomernya Kurang satu angka mas.. 085233090425

oke mas…

ditunggu balesssannya

Negara ini sudah kebanyakan penjual kecap mas..
Salam buat mas Jaduk.. mobil mertuane tak rawat baik baik pasti tambah kinyis-kinyis.

persamaan kecap dan presiden: sama-sama bagus bungkusnya tok…dalemnya ireng thung theng… ngeblur ga pernah jelas ngeliat masalah…

mas..mas….ada ada saja, terus berkreasi, semangat. salama kenal.
regards
http://playcarracing.net

Celethu ngak salah menafsirkan, kenyataan memang demikian….wkwkwkwkwkw…politisi pratis kalau ada maunya pasti ramah…ya…tebar pesona…..

Kecap2an ini mirip sama gayane iwak piaraanku nang omah … Iwak betutu yang pinter merubah warna dan bertampang kalem seakan gak berbahaya … ati2 sama calon presiden ganteng dan baik hati … hehehe http://zumux.blogdrive.com/archive/199.html

Kecap ya tetap kecap mau dibilang ‘nomor satu satu’ atau ‘nomor sejagad’. Mba tukiyem pengen kecapnya tak encer lagi.

Kecap-kecap ini tidak memiliki jaminan “kalau jelek uang kembali…” :)

kecaap…githu loh…..

setelah sekian lama bertapa …akhirnya aku menemukan jawabnya …

kecap ” sangat setia kepada rakyat kecil dan miskin , kecap tampak dominan , di temani krupuk , tempe, nasi , dsj ”

sedangkan ,tidak semua diantara mereka yang berhati miskin, padahal kami mencari pemimpin yang berhati ” kecap ” alias berhati miskin , berhati meng hamba….

Mereka bila promosi bahkan memuja muja rakyat, sampai masuk pasar , kolong jembatan, mereka mengatakan saya dekat dengan saudara sekalian..
tapi apa setelah terwujud …..”mereka tetap di temani kecap yang setia……”

temanmu

man

Lhah..yang tak baca artikeL ini oM..
hehehe..
siiipppp…pKoknya..
mak nYuuusss…
walahh..
kecap khan rasane ada asin manisnya juga..
jadine ya calon presiden harus ngerasain asin manisnya kehidupan warga negaranya doonk..
ga cuman ngerasain manisnya doank,

Semua merasa No.1 ya dik, pengkecapanisasi nya bener2 luar biasa. Tidak ada yg mau jadi No.2, No.3….

Jadi, klo boleh, share dong kriteria presiden yg layak kita pilih versi CELATHU.

Kulo tunggu nggih…

 guawijaya.wordpress.com
(bloge wong edan)

[...] KOLOM CELATHU: PRESIDEN KULINER » [...]

Leave a response -

Your response:


Categories