KOLOM CELATHU: DERAJAT PENYAKIT

6 Dec 2008

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 7 Desember 2008, hal 1, Nasional

Derajat Penyakit

Butet Kartaredjasa

Mas Celathu kena batunya. Lelaki yang sering nggak peduli dengan urusan kesehatan dirinya, pekan lalu terpaksa mencicipi risikonya. Staminanya rontok. Wuahrasanya lemes. Mau ngapa-ngapain bawaannya maleeeeess melulu,keluhnya sambil mengelus perut buncitnya yang sudah dua hari tidak bersusut beratnya lantaran selalu gagal buang air besar.

Obat pencahar sudah diuntal, tetap saja dia harus gigih berjuang untuk sekadar melepas ampas. Nongkrong di WC bisa puluhan menit. Bahkan sudah mengejan sampai peluh membanjir, hasilnya tetap nihil. Padahal, untuk urusan begituan biasanya Mas Celathu tak pernah punya problem. Malah knalpotnya tergolong produktif memproduksi gas, dikit-dikit bersenandung duuut-duuut-duuut, - sinyal isyarat untuk segera goodbye dengan isi perutnya.

Wuaduuuh, waduh,duh, duh, duh, Mas Celathu mengerang. Bukan karena sakit. Tapi gemas dan jengkel. Perutnya mbeseseg, seperti ada ganjalan segede bola voli. Dipaksa keluar tetap bandel. Ngeyel banget. Ampas makanan itu maunya ngendon terus-terusan di lambung. Akibatnya, setiap dia narik nafas jadi megap-megap kayak ikan kehabisan oksigen.

Yang membuatnya semakin jengkel, dia kesulitan menjelaskan apa sebenarnya nama penyakitnya itu. Mosok mau berterusterang, sakit gagal be-ol? Kan malu-maluin. Kalau nama penyakit pakai istilah Latin atau jenis gangguan organ penting, kan jadi rada mentereng. Diabetes mellitus kan kesannya lebih gimana gitu. Atau gagal ginjal, vertigo, jantung, hepatitis, sinus, atau sifilis. Jika diucapkan, nama penyakit itu terasa lebih prestisius dibanding misalnya mencret, kurap, kudis dan sembelit.

Sampeyan itu ya kebangetan. Cuma nama penyakit aja kok ya diurus. Sakit ya sakit. Nggak ada derajatnya, nggak ada status sosialnya, sergah Mbakyu Celathu. Orang makmur yang duitnya berjibun ya bisa kena kudis dan kurap yang selalu diidentikkan penyakitnya orang miskin. Sebaliknya, yang melarat pun juga bisa kena serangan jantung atau penyakit apapun yang namanya sulit diucapkan itu. Berbeda dengan perkara hukum yang masih feodalistik, perkara kesehatan memang paling egaliter. Tidak ada kelas. Tidak ada diskriminasi. Dan tidak bisa dikompromikan. Jika memang sudah nasibnya, penyakit akan singgah ke tubuh siapa saja tanpa tebang pilih.

Kupikir-pikir, sampeyan memang sebaiknya sakit kok, ujar Mbakyu Celathu tiba-tiba.

Huaaahh??? Kamu pengin aku cepet modar ya?

Bukan begitu, Mas. Kalau sampeyan sakit, kan jadi bisa merasakan artinya sehat. Jadi tidak sembrono lagi dengan tubuhnya. Harus mikir istirahat.

Menemukan Pengalaman Baru

Wuah, wuahmbakyu Celathu memang isteri yang bijak. Omongannya cespleng banget. Mas Celathu langsung kempes sewotnya. Diam-diam dia bisa membenarkan tesis itu. Yang semula dianggap biasa, ternyata terasa luar biasa justru ketika ia sudah tidak ada. Kesehatan jadi terasa berharga, tatkala orang terkapar kesakitan.

Begitu pun uang. Ketika orang digelontor rejeki dan uang miliknya bagai tak ada serinya, tabiat hidup boros selalu mewarnainya. Apalagi uang yang datangnya tanpa tetesan keringat. Uang preman, uang colongan, uang komisi, uang catutan atau uang suap. Dengan uang bergudang-gudang mereka melepas lembaran rupiah seringan buang ludah. Cah-cu-cah-cuh uang lalu berhamburan. Suruhan beli rokok yang harganya tak lebih sepuluh ribu perak, ngasih tip-nya bisa sembilan kali lipat. Uang seratus ribu, nggak usah minta kembalian. Menenggak sebotol bir bayarnya sejuta rupiah. Cari muka di hadapan ciblek dengan mudah segepok ratusan ribu diulurkan.

Orang semacam ini sebaiknya memang perlu miskin. Supaya bisa merasakan bagaimana rasanya jadi orang kaya, Mas Celathu membatin, terinspirasi tesis bininya.

Mbakyu Celathu bener-bener girang lantaran nasehatnya tak di-eyel lagi. Gara-gara tesis sebaiknya sakit suaminya jadi kelihatan bungah. Inilah saat yang tepat mengingatkan suaminya soal rencana liburan akhir tahun. Memang sudah lama keluarga Celathu tidak dolan bareng. Bercengkerama lagi secara rekreatif, demi merekatkan kembali hubungan emosi yang selama ini agak renggang karena Mas Celathu kelewat mabuk kerja.

Mas, anak-anak maunya liburan kali ini perginya pakai passport. Nggak usah jauh-jauh. Hongkong juga nggak apa, jurus rayuan awal mulai dilontarkan.

Hongkoooong?

Mbakyu Celathu mengangguk. Tapi leher Mas Celathu terasa berat bikin anggukan, Malah perutnya terasa tambah mual. Batinnya, Wuualah rumangsamu kowe ki sapa? Juragan gede pa piye? Bilang Hongkong kok kayak wong ngentut?

Sambil berlagak sok bijaksana Mas Celathu menjawab isterinya,Liburan itu kan hakekatnya untuk mendapatkan pengalaman baru. Jadi kita perginya ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi, dan di sana kita bisa merasakan sesuatu yang baru, yang tidak kita dapatkan di sini.

Jadi, mau ke Hongkong apa ke Singapore? sambut Mbakyu Celathu sumringah.

Ke Porong Sidoarjo! jawab Mas Celathu datar.

Huaaahh,..mbok jangan guyon, ah

Lho, ini serius!

Mas Celathu lalu mengingatkan bininya, bukankah dulu ketika anak-anaknya masih kecil kerap berlibur ke pedesaan terpencil yang belum terjangkau listrik. Supaya anak-anak sekali waktu bisa merasakan bagaimana repotnya hidupnya tanpa listrik. Barang satu dua hari tidak ketemu kulkas, televisi, koran, radio dan semua yang serba listrik.

Ada kalanya kita perlu kehilangan listrik, supaya tahu arti pentingnya listrik. Nah liburan kali ini, saatnya kita kehilangan kenikmatan. Mencicipi hidup di daerah bencana supaya kita bisa merasakan enaknya hidup tanpa bencana. Di sana kita juga akan menemukan pengalaman baru, persis sebagaimana kalau kita ke Hongkong.

Mendengar ini awalnya Mbakyu Celathu terperangah. Tapi, mengingat model liburan begini nantinya bakal mengasah kepekaaan sosial dan mempertajam kepedulian kemanusiaan anak-anaknya, Mbakyu Celathu tersenyum bahagia.***


TAGS LIBURAN PORONG SIDOARJO


-

Author

Follow Me