KOLOM CELATHU: PERTARUHAN BAWAHAN

14 Dec 2008

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 14 Desember 2008, hal 1, nasional

Pertaruhan Bawahan

Butet Kartaredjasa

Meskipun punya pikiran mlethik, seorang bawahan yang baik dan benar harus tetap bisa menyembunyikan kecerdasannya. Juga daya kritisnya. Syukurlah seumpama bisa berpura-pura bego dan miskin inisiatif. Pasti aman. Tidak mengganggu stabilitas kedudukan atasannya. Dengan menjaga performance yang tak lebih pinter dari pemilik jabatan di atasnya, ia akan terbebas dari tudingan: sok tahu, cari muka, minteri, menggurui, ambisius, dan sebangsanya. Agaknya, inilah sisa-sisa feodalisme yang masih terawat dengan baik. Dalam kepemimpinan yang feodal, yang berada di atas harus selalu benar. Dan bawahan adalah keranjang sampah kesalahan.

Yah, itulah repotnya jadi pegawai rendahan. Biarpun sudah merampungkan S3 dan bergelar doktor, kudu gelem ngalah sama pemimpin yang juga merampungkan S3, maksudnya SD-SMP-SMA,he he he, seloroh Dimas Soponyono, seorang pegawai negeri anyaran di sebuah propinsi di Indonesia, bernada sambat. Dia lalu berkisah, lebih baik membunuh daya kritis dan inisiatif, katimbang kariernya kelak menghunjam bumi.

Gara-gara menyetop pidato Pak Pemimpin saya kena sanksi administratif. Tuduhannya gawat. Dianggap melakukan pembangkangan dan mempermalukan pimpinan, gerutunya.

Kamu ini kok ya berani-beraninya nyetop pidato pemimpinmu. Memangnya beliau ngoceh apa?

Bukan isi pidatonya. Tapi karena pidatonya kelamaan, dan beliau tidak menyadari jadi bahan tertawaan. Saya kan nggak tega melihat atasan dibegitukan. Terpaksalah saya nekad kasih peringatan. Eh,malah saya yang celaka.

Kisahnya, di sebuah siang yang terik dalam sebuah perhelatan peresmian stadion olah raga. Stadion itu sejak pagi telah dipadati ribuan orang, entah dikerahkan dari mana mereka. Seperti lazim acara pemerintah, seremonialnya bertele-tele dan membosankan. Ketika matahari semakin meninggi, datanglah giliran Pak Pemimpin berpidato. Dia mengawali pidatonya dengan penuh simpati.

Saudara-saudara, saya tidak akan pidato berlama-lama. Singkat saja. Karena terus terang saya tidak tega melihat saudara-saudara kepanasan dibakar matahari, kata Pak Pemimpin sambil menunjuk ribuan manusia di tribun terbuka, dan langsung menerima aplaus tepuk tangan. Kesan pertama yang mempesona. Seakan-akan ia bisa membaca aspirasi rakyatnya.

Sepuluh menit terlewati, pidato belum berhenti. Semua masih sabar. Dengan sound sistem yang bagus dan juru keplok rajin menghamburkan tepuk tangan, membikin Pak Pemimpin semangkin enjoy. Dia terus ngoceh. Teks resmi sudah dilipat dan masuk kantung. Tamu undangan siap bertepuk tangan, menyangka pidato telah rampung. Eh,tetap saja beliau meneruskan pidatonya. Malah semakin berapi-api. Bicara apa saja. Seperti tak kehabisan tema. Perkara ranjang semasa pacaran, pengalaman masa kecil, kebiasaan makan, hobby belanja istrinya, bahkan soal peliharaan burung di rumah juga diomongkan. Pendeknya hal-hal yang tidak selayaknya dipidatokan pun berhamburan dari mulutnya.

Ketika para undangan lega mendengar ucapan,Akhir kata saya ingin mengatakan sebuah pertanda bakal berakhirnya pidato,eh tetap saja meneruskan ocehannya. Malah semakin panjang. Bener-bener gila.

Empat puluh menit telah terlewati. Ribuan penonton mulai belingsatan. Secara naluriah ribuan manusia di tribun terbuka mulai menepi. Cari tempat teduh, takut dehidrasi. Bahkan sampai tribun itu melompong hanya berisi beberapa gelintir manusia, tetap saja tak menghentikan pidato yang semangkin ngelantur kemana-mana itu.

Nah saat itulah, sebagai bawahan yang baik dan benar Dimas Soponyono memberanikan diri menyetop pidato atasannya. Sama sekali dia tak menyangka, momentum yang memperlihatkan keberanian seorang bawahan itu, berani mengingatkan seorang pemimpin yang ndlewer kebablasan, justru bikin nasibnya tersandung-sandung di kemudian hari.

Kebijakan Full Pemborosan

Mas Celathu mendengar keluhan ini dengan seksama. Hanya itu yang bisa dilakukan. Habis mau gimana lagi? Lha wong dia cuma orang swasta yang bisanya hanya bengak-bengok sebagai orang tonil. Kalau toh ada tindakan, paling banter sekadar mengelus dada membayangkan betapa ngenes-nya nasib kawan yang bergelar Phd itu.

Bukan sekali ini Mas Celathu menampung keluhan serupa. Kayaknya hal beginian telah menjadi identitas sebuah perkantoran yang pemimpinnya drop-dropan dari partai anu lantaran konsesi politik. Bukan rahasia lagi, sekarang ini banyak kantor-kantor resmi, misalnya BUMN atau BUMD ditongkrongi para alumni tim sukses yang memenangi sebuah pesta demokrasi, tingkat lokal maupun nasional. Siapa mereka, tak jelas juntrungannya. Seperti turun dari langit. Tiba-tiba jabatan tertinggi terisi priyayi dari Pusat. Memang, tidak semua pimpinan drop-dropan itu buruk kinerjanya. Ada juga yang klop sesuai bidangnya, kendati tak sedikit yang jauh dari kemampuan dan kualitas. Bisanya betul-betul hanya duduk, ngantuk, ngamuk dan njaluk. Maksudnya njaluk jatah setoran dengan mengabaikan prinsip akuntabilitas yang baik dan benar.

Kamu juga betah hidup dalam kepalsuan begituan? Nggak protes? tanya Mas Celathu.

Wuaaalah,memangnya pengin dimutasi jadi sopir atau pesuruh kantor.

Memang tragis jika kekhawatiran Dimas Soponyono benar-benar terjadi. Atau jangan-jangan memang tengah terjadi? Di kantor gubernuran atau bisa jadi di kantor kabupaten?

Manusia-manusia ala Soponyono harus selalu mengalah dan tersungkur nasibnya. Tidak memperoleh kesempatan berkompetisi dan mengamalkan ilmu yang dikuasai. Dalam iklim demokrasi yang menghalalkan kompetisi dan persaingan, seharusnya menjadi medan pertarungan bagi siapa saja. Di sana kemampuan orang per orang diuji dan dinilai. Yang memenangi persaingan semestinya mereka yang berhasil memecahkan persoalan secara tepat, cepat dan cerdas. Bukannya mereka yang lidahnya lecet karena terlalu rajin menjilat atasan dan mempraktekkan kebijakan full pemborosan.

Bahkan untuk sekadar punya nyali mengingatkan atasan, seorang bawahan harus mempertaruhkan nasibnya. Entah sampai kapan.***


TAGS bawahan feodal


-

Author

Follow Me