KOLOM CELATHU: PENYELEWENGAN SEPATU

21 Dec 2008

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 21 Desember 2008, hal 1, NASIONAL

sepatu-bush.jpg

Penyelewengan Sepatu

Butet Kartaredjasa

Hayoooosampeyan mulai nyeleweng ya?

Jika betul-betul terdengar hardikan seperti ini, bisa jadi Mas Celathu akan langsung mengkeret. Tidak cengengesan lagi. Apalagi jika yang membunyikan kalimat itu Mbakyu Celathu, dengan oktaf rada melengking ditambah pandangan penuh selidik. Tak terbayang bagaimana wagu-nya ekspresi raut wajah Mas Celathu. Mungkin mimik-nya akan lungset kayak handuk yang sudah nglumbruk jadi gombal.

Tapi, untungnya, hardikan seperti itu tidak pernah terdengar. Atau belum. Amit-amit, janganlah sampai terjadi. Soalnya sebagai lelaki yang bercita-cita menjadi seorang suami setia , Mas Celathu paling tidak siap dicurigai seperti itu. Kalau toh prasangka itu muncul, pertama-tama pasti Mas Celathu akan menyelidiki dulu. Jangan-jangan ini sekadar gojekan kawan-kawannya yang sengaja membakar emosi Mbakyu Celathu. Guyonan nyerempet bahaya sudah jadi kebiasaan dalam pertemanan komunitasnya. Ada yang hobinya iseng menabur isu penyelewengan, sekadar untuk bisa ngakak kolektif jika yang dijadikan obyek betul-betul kobongan terbakar api cemburu.

Ora kodal,..nggak bakal mempan deh. Kamu ini wadul kok skenario-nya nggak meyakinkan. Sana belajar ndobos dulu, biar kalau ngerjain tidak konangan. Mbel, mbel,rasah cerigis! begitu selalu sergah Mbakyu Celathu seumpama ada teman suaminya sengaja mau bikin obong-obongan. Bisa dibilang dia sudah imun. Kebal gosip. Maklum saja, di antara anggota dharma wanita komunitasnya, Mbakyu Celathu bisa dikategorikan klas pathak warak alias senior. Sudah 27 tahun berumahtangga. Sudah hafal banget bagaimana mereka membudidayakan model canda begituan. Bayangkan saja. Sementara yang lain masih pening soal harga susu bayi yang semangkin mahal, Mas dan Mbakyu Celathu sudah ancang-ancang mau hajatan mantu.

Pengalaman berumahtangga sekian lama dengan prestasi aman-aman saja terkadang membuat Mas dan Mas Celathu dijadikan jujugan jika terjadi gonjang-ganjing soal bebrayan. Mereka akan pada curhat, menumpahkan uneg-uneg atau minta nasehat. Dari soal belitan ekonomi, mengatasi anak-anak yang bandel, perselingkuhan, karier yang ngadat, jamu pembangkit syahwat, sampai urusan senam pinggul sebagai ikhtiar menjinakkan suami di atas ranjang. Seolah-olah keluarga Celathu adalah keluarga teladan yang layak diidolakan. Padahal, aslinya ya tidak. Tetap ada remuk-remuknya dikit. Sebagai masyarakat normal di dunia ketiga dengan pola hidup full spekulatif, keluarga Celathu juga kerap mengalami sandungan-sandungan kecil.

Siasat Kreatif

Tapi, keluarga sampeyan itu kelihatannya rukun-rukun aja. Kayaknya nggak pernah bertengkar. Yang saya lihat cuma guyon thok. Anak-anak ya pada nggenah gitu lho.., puji temannya suatu kali.

Wualahrumangsamu keluarga kami ini siapa? Tak bilangi ya, urip kuwi wang-sinawang. Kebun tetangga akan selalu terlihat lebih indah. Padahal yang terjadi sebenarnya, ya tidak seindah yang dibayangkan, elak Mas Celathu menanggapi pujian yang over estimate.

Di keluarga sampeyan, apa juga sering terjadi penyelewengan?

Sering! tiba-tiba Mbakyu Celathu menyambar cepat, membuat Mas Celathu njenggirat kaget. Wuaduh, apa lagi ini? batin Mas Celathu. Begitu pun temannya, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Maksudnya?

Ya kayak Mas Celathu itu. Sekolahnya seni rupa, kok malah nyeleweng jadi tukang tonil. Tuh lihat, lesung yang seharusnya untuk menumbuk padi diselewengkan jadi pigura untuk cermin. Lumpang kayu dipaksa menyeleweng fungsinya, dijadikan anak tangga? jawab Mbakyu Celathu sambil mengulum senyum. Sungguh jawaban yang terduga.

Mendengar jawaban ini Mas Celathu menarik nafas lega. Ternyata bininya sedang memamerkan kecerdasannya memainkan retorika. Ternyata, bagi keluarga Celathu wacana penyelewengan tak harus bertalian dengan perkara pengkhianatan seorang kekasih. Tapi dipahami sebagai siasat kreatif melakukan daur ulang. Dalam keterbatasan dan keterpepetan yang kerap menghajar hidupnya, sering memunculkan akal cerdik menyelewengkan benda-benda. Yang semula sudah apkir sebagai sampah, bisa menjelma sebagai sesuatu yang anyar dengan fungsi yang barangkali mengingkari kodrat awalnya.

Misalnya, keranjang anyaman bambu yang biasanya bertugas di dapur, malah jadi wadah cucian pakaian kotor di kamar. Bak cuci dari bongkaran pabrik tekstil, menjadi pot panjang yang anggun. Tikar pandan yang seharusnya untuk sarana klesotan, malah mentereng sebagai kap lampu.

Siasat menyelewengkan fungsi benda-benda itu mungkin dinilai sebagai ulah kreatif. Tapi bisa jadi juga dikarenakan kejengkelan lantaran kemana-mana ketemunya hanya jalan buntu. Tak sanggup beli yang indah dan mahal, ya cari akal bikin kejutan. Sama persis yang dilakukan para demonstran. Karena jengkel tak didengar aspirasinya, mereka menyelewengkan fungsi buah tomat. Bukan untuk pelengkap sedapnya masakan, tapi justru untuk menimpuk koruptor yang sudah ketangkap masih juga cengengesan. Sementara polisi di Makasar cukup menyelewengkan fungsi helm. Bukan melindungi kepala, tapi justru jadi alat pemukul kepala mahasiswa yang perilakunya kelewat anarkis.

Di sini yang belum menyeleweng cuma sepatu. Nanti kalau Mas Celathu benar-benar nyeleweng, saat itulah sepatu akan menyeleweng dari fungsinya. Bukan untuk melindungi telapak kaki. Tapi untuk dilemparkan ke wajah Mas Celathu. Biar mampus kayak George Bush, ujar Mbakyu Celathu sambil melirik suaminya. Wuuuaduhhh!!!***


TAGS penyelewengan sepatu george bush


-

Author

Follow Me