Posted by: butet | Desember 28, 2008

VEVEN MERESENSI “PRESIDEN GUYONAN”

 cover-presiden-guyonan-blog.JPG

Resensi buku “PRESIDEN GUYONAN” oleh Veven sp Wardhana ini telah dimuat di koran Media Indonesia 6 Desember 2008. Ini adalah versi aslinya sebelum diedit redaksi. Silakan baca!

Mas Celathu, Enak di Pojok dan Seru!

 Veven Sp. Wardhana

 Judul buku: Presiden Guyonan; Penulis: Butet Kartaredjasa; Penyunting: Agus Noor; Pengantar: Mohamad Sobary; Catatan akhir: Goenawan Mohamad; Gambar: Dwi Koen; Penerbit: Kitab Sarimin, Yogya, November 2008; Tebal: xxiv + 286 halaman

TAK ada yang mengharamkan warganegara (Indonesia) untuk dicalonkan atau mencalonkan dirinya sendiri sebagai politisi; sebagai anggota legislatif, atau berposisi sebagai petinggi eksekutif negeri. Termasuk yang punya hak adalah juga selebritas alias pesohor yang kerap merujukkan diri pada bintang Hollywood Ronald Reagan yang menjadi Presiden Amerika Serikat, atau Arnold Schwarzenegger yang menjadi Gubernur California.

Sebuah kilah yang cenderung klise karena mereka melupakan bahwa sense of politic selebritas negeri manca tidaklah ahistoris, sehingga mereka enteng saja melempar pernyataan politik dalam acara penganugerahan festival film atau dalam iklan layanan masyarakat yang benar-benar demi rakyat, sementara selebritas Indonesia-raya cenderung penuh kicau beo pada penguasa bahkan dalam beragam kesempatan. Karena kilah – yang serba-justifikal – munculnya lebih mudah, jadi terasa istimewa saat ada seseorang yang menolak pencalonan atas dirinya sebagai petinggi politik negeri ini. Termasuk dalam sosok langka itu adalah Mas Celathu, yang menolak ditawari menjadi petinggi negeri. Alasannya, kira-kira: Mas Celathu gagap untuk menjadi petinggi yang keputusan dan kebijaksanaannya seperti main-main, selain perilakunya juga mirip drama-dramaan. Karena itu, Mas Celathu lebih memilih “secara resmi mengangkat diri sendiri menjadi Presiden Guyonan. Biar menghibur. Syukur-syukur bisa kasih pencerahan.”

Memang, Mas Celathu semata sosok fiktif dalam kolom-seri yang muncul saban Minggu dalam suratkabar Suara Merdeka (Semarang), yang dimuat sejak September 2007, dan kini dibukukan dalam tajuk Presiden Guyonan. Penulisnya: Butet Kartaredjasa, pemeran presiden sebuah negeri (fiktif) yang lokasinya tak jauh dari republik (faktual) Indonesia dalam tayangan televisi komersial Indonesia.

Saya katakan Mas Celathu merupakan sosok benar-benar fiktif lantaran seseorang dengan nama tersebut tak akan tertemukan dalam buku register di kantor pencatatan sipil, juga di kantor kecamatan atau dinas kependudukan yang menerbitkan KTP; namun pelbagai peristiwa yang digambarkan dalam berderet kolom itu gamblang bukanlah kisah fiktif alias faktual jua adanya, antara lain: puluhan nyawa amblas karena berdesakan dalam antrean pembagian sedekah di Pasuruan; Roy Marten yang (lagi-lagi) ketangkap aparat karena menggembol narkoba; wafatnya bekas presiden yang berkuasa puluhan tahun; Jusuf Kalla yang berujar “kesejahteraan dan kebahagiaan adalah tujuan, yang untuk mencapainya sah saja dengan bermacam cara”; dan berderet lainnya, termasuk bekas Gubernur DKI Sutiyoso yang membangun citra diri demi pencalonan diri sebagai kandidat presiden yang bakal bertarung dalam pemilu 2009.

Sesungguhnya, yang terpenting bukan perkara sosok dan peristiwa dalam kolom-kolom tersebut fiktif ataukah faktual, melainkan apa persepsi Mas Celathu dan bagaimana Mas Celathu mempersepsi pelbagai peristiwa konkret itu. Kalaulah diperbandingkan, cara mempersepsi banyak hal itu mirip-mirip dengan komentar-celetukan rubrik “pojok” di suratkabar-suratkabar – yang lebih ringan sekaligus lebih melecut dibandingkan tulisan editorial atau model-model tajuk rencana.

Saat menghadiri anak sulungnya diwisuda usai sukses menamatkan kuliahnya, selain rasa bungah hati Mas Celathu sebagai orangtua, pikirannya pun menerawang bahwa keberadaan berderet mantan wisudawan sama artinya dengan berderet kandidat pengangguran, yang sesungguhnya sudah berderet jumlahnya. Atau saat seorang tiran sakit dan kemudian meninggal dunia, tiga kolom lahir dalam tiga perspektif pula. Salah satunya: Mas Celathu terteror batinnya oleh siaran televisi dan radio yang saban waktu memutar penuh khidmat lagu “Gugur Satu Tumbuh Seribu”. Dalam persepsi Mas Celathu: media telah memelintir dengan menyatakan bahwa tiran yang meninggal itu adalah seorang pahlawan, padahal status hukumnya masih diambangkan.

Mbakyu Celathu, istrinya, yang mencoba mengingatkan bahwa suaminya sesungguh teruntungkan karena dapat rezeki gara-gara memparodikan suara tokoh yang meninggal itu, Mas Celathu balik berujar, bahwa dirinya bersedia membayar royalti pada sosok yang diparodikan. “Akan saya bayar royaltinya, setelah tokoh itu membayar royalti kepada keluarga jutaan korban yang telah disengsarakannya.”

Sengak. Khas celetukan dalam rubrik “pojok” atau yang semacamnya.

Tak sebatas itu; Mas Celathu masih melanjutkan: jika yang satu itu dianggap gugur bak pahlawan, kini memang benar-benar sudah tumbuh seribu pseudo-pahlawan lainnya yang senada dan seirama. Getir dan menggetarkan. Nyelekit tapi jauh dari niat bikin sakit (hati), jenaka, juga sekali-sekala tak terduga.

Berkait peristiwa jatuhnya korban akibat antre pembagian sedekah tadi, muncul wacana bahwa pembagi sedekah itu bisa didakwa pidana melalui pasal hukum yang  menyatakan telah jatuh korban nyawa akibat kelalaian pembagi sedekah. Mas Celathu nyeletuk: pemilik rumah berpagar bisa dijerat “pasal lalai” yang sama lantaran ada truk yang menerjang orang-orang yang kongko minum kopi di sebuah warung. Dasar pijaknya: kalau tak ada pagar, truk itu akana langsung melanggar rumah dan tak membelok ke warung.

Mas Celathu tak sebatas memberi catatan kaki pada pasal lentur dalam KUHP itu, melainkan lebih menitikberatkan kritiknya pada hamba hukum yang begitu lihai memain-mainkan bahasa hukum justru untuk menangguk keuntungan dari warga yang awam hukum.

Terkadang Mas Celathu juga mengeksplorasi ke”tirani”an dirinya sendiri, dengan cara: menganggap rumahnya sebagai sebuah negeri, rumahtangganya sebagai sebuah manajemen pemerintahan, dan dirinya memaklumatkan diri sebagai presiden, bahkan presiden seumur hidup. “Tahu-tahu menduduki tahta tertinggi. Tak ada kampanye alias jual kecap, tak ada pelantikan, juga tanpa fit and proper test. Kekuasaan langsung dipangku. Apa pun yang disabdakan seperti fatwa yang musti didengar dan dilaksanakan. Tak akan tersentuh hukum andaikan suatu kali melakukan kesalahan.” (h. 75-76). Disambun: “Jadi pemimpin rumahtangga murah ongkosnya, karena tak perlu kampanye. Tanpa intrik, tanpa fitnah, tanpa dusta.” (h. 79). Artinya, Mas Celathu hendak menegaskan: dunia politik itu penuh fitnah, kecap, akal-akalan, siasat, juga dusta.

***

SELAIN Mas Celathu, nama Mbakyu Celathu (istrinya), benar-benar tak ada dalam buku register dan data kantor dinas kependudukan. Namun, tak semata peristiwa yang terjadi di sekeliling Mas Celathu yang benar-benar faktual; bahkan peristiwa dalam keluarga Mas Celathu sendiri saya ragukan itu sebagai semata fiktif. Mas Celathu yang aktor dan pemeran presiden guyonan adalah identifikasi Butet Kartaredjasa yang dijuluki Raja Monolog, yang juga pemeran Presiden SBY (Si Butet Yogya) dalam tayangan pusparagam parodi di layar televisi. Lalu, Mbakyu Celathu yang digambarkan sebagai seorang hajjah, sejauh yang saya kenal, istri Butet adalah pula seorang hajjah – yang dalam salah satu kolomnya dijadikan bukti konkret betapa pluralisme dan multikulturalisme itu benar-benar dipraktikkan keluarga Mas Celathu; tak sebatas dalam kecap orasi para pesohor politik.

Kemudian, anak-anak Mas-Mbakyu Celathu yang terdiri tiga orang, urut-urutannya pun persis-pleg dengan realitas faktual keluarga Butet: Mas Ndut (sulung-lelaki), Mbak Tomboy (perempuan), dan Jeng Genit (bungsu-perempuan). Saat ada gambaran bahwa muka Mbak Tomboy bengap-babak-belur ditonjok seorang lelaki gara-gara Mbak Tomboy hendak membebaskan sahabatnya yang disekap lelaki yang tak lain kekasih sahabatnya, kian nyatalah bahwa ini merupakan peristiwa nyata dalam keluarga Butet Kartaredjasa.

Maknanya, Mas Celathu adalah alter-ego Butet. Keberadaan sosok utama dalam kolom sebagai semacam alter-ego penulisnya, memang mengingatkan pada kolom-kolom almarhum Umar Kayam dengan alter-ego Pak Ageng – juga dimuat suratkabat setempat, Yogya, yang lantas dibukukan dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, Satrio Piningit ing Pingit, dan lainnya. Dalam hal ini, Jennifer Lindsay, pemerhati budaya dan penulis buku antara lain Javanese Gamelan, tidak salah. Namun, begitu saja menyama-nyamakan kolom-kolom Mas Celathu dengan kolom-kolom Pak Ageng – sebagaimana dikesankan dalam pengantar Mohamad Sobary, catatan akhir Goenawan Mohamad, dan catatan lipatan sampul Ayu Utami – saya rasa itu sebagai semacam simplifikasi. Dalam kolom-kolom Kayam, simpulan mengejutkan atau perenungan muncul dalam paragraf-paragraf pamungkas kolom – yang bisa berupa dialog, bisa pula narasi – sementara perenungan dalam kolom-kolom Butet bahkan sudah dimulai pada sepertiga awal kolom, atau celetukan itu bisa muncul dalam banyak paragraf dalam satu kolom.

Memang, ada beberapa hal yang mengganggu pembacaan saya. Mudahnya menemukan ejaan yang meleset: mbayu (harusnya: mbakyu), Maduksimo (mestinya: Madukismo), Triyanto Tiwikromo (kudunya: Triyanto Triwikromo), dan lain-lain. Juga salah satu di antara 30 gambar lucu bikinan Dwi Koen di halaman 71, yang menggambarkan Bos Mburi, yang sedang mencuci lembaran uang di papan penggilasan, sebagai sosok perempuan, sementara yang saya tahu adalah berjenis kelamin lelaki.

Saya juga agak mengernyitkan jidat saat Butet menulis patung berpikir sebagai patung Lenin, sementara yang lebih dikenal dalam pustaka senirupa dunia sebagai patung berpikir adalah hasil tatahan François-Augusté Rodin (12 November 1840–17 November 1917), yang dikenal dalam judul The Thinker atawa (dalam aslinya:) Le Pensiur. Bisa jadi Butet memiliki koleksi sendiri yang berbeda dari yang dikenal banyak khalayak.

Untuk yang kurang paham bahasa Jawa, buku ini menyediakan kamus mini di halaman belakang. Kalaulah masih terganggu pembacaannya – karena harus membolak-balik halaman mencocok-cocokkan kata-kata bahasa lokal – ada baiknya kolom-kolom ini dilisankan, tak sebatas dibaca, melainkan dibacakan. Pasti seru…. ***

§ Veven Sp. Wardhana,

Calon anggota FPG: Front Pemuja Guyonan

Tags: , ,

Responses -

Wah bacana nanti harus pake kamus ya, kamus jawa lagi

hehehhee

Hore…! Aku nggak perlu kamus…!

Wah… kalau di “petani” terus apapun itu ya pasti ada saja salahnya. Yang jelas Butet ialah sosok tegar yang terus menyarakan kebenaran, yang konsisten berpikir dan bersuara sesuai hati nurani di semua era…

Owwh…!!

artikel yang bisa jadi cerminan

btw, butet lebih ekspresif dan cocok di ‘kabaret’ metro tv ketimbang saat di ‘republik mimpi’.

Aku bar tumbas bukune, kertase apik … aluuuusss tenan jeeee :)
Belum tak baca, lagi prakata-nya … tapi saya udah ancang-ancang ngguyu hehehheehe

Sukses terus dengan karya-karyanya Mas Butet

Salam
Ben / Masagoenk

kulonuwun… badhe tanglet
nek ajeng ndaktarke dados Calon anggota FPG: Front Pemuja Guyonan pripun nggih? trus nek ajeng tumbas kaos presiden guyonan pripun nggih? matur sembah nuwun

Leave a response -

Your response:

Categories