Posted by: butet | Februari 8, 2009

KOLOM CELATHU: BUTUH BONCENGAN

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 8 Februari 2009, hal 1

Butuh Boncengan

Butet Kartaredjasa

Bagi petualang yang karena suatu sebab terpaksa menyusuri jalanan sepi, apalagi jika langkahnya terseok-seok karena kecapekan, harapan yang diimpikan sangatlah sederhana. Dia hanya menginginkan ada kendaraan yang melintas. Lalu diijinkan nunut. Sekadar menumpang biar lekas mencapai tujuan. Kalau ada mobil ya syukur. Sepeda motor ya oke. Bahkan andaikan yang melintas hanya kereta angin yang power-nya tergantung genjotan kaki, juga tetap disyukuri. Mendapat boncengan sepeda onthel, meski jauh dari kenyamanan dan terkadang bikin bokong terasa njarem, sudah merupakan berkah tersendiri.

Karena itulah jangan sekali-kali menyepelekan boncengan. Tempat duduk sederhana di belakang pengemudi, sepeda motor atau sepeda kayuh, itu, — agaknya memang didesain untuk mewujudkan solidaritas antarsesama. Bisa untuk mengekspresikan semangat gotong royong, menolong saat orang cari nunutan. Selain itu juga bisa berfungsi menambah jumlah muatan. Kalau yang mengemudikan pedagang sayur, bisa jadi “bagasi” tempat kronjot berisi barang dagangan bercokol. Jika yang menyetir tukang ojek, bisa untuk mewadahi bokong costumer yang butuh dihantar ke tujuan secara kilat. Dan seumpama yang pegang stang kemudi lelaki yang sedang kasmaran, boncengan jelas bermanfaat untuk merekatkan hubungan dada dan punggung.

“Dulu, kalau sudah berhasil memboncengkan ibumu, wuah punggungku serasa dekok. Mendadak cekung. Kena tekanan benda menyembul dari dada yang membonceng…hua ha ha,” kenang Mas Celathu, mengisahkan masa romantisnya saat berpacaran kepada Jeng Genit.

“Gituan kok diceritakan. Saru….,” cegah Mbakyu Celathu.

“Eh..ini fakta sejarah je. Jangan dimanipulasi. Baik dan buruk boleh juga diceritakan. Biar nantinya orang memilah sendiri, mana yang pantas ditauladani dan mana yang sebaiknya nggak ditiru. Lagian, dulu kan kamu juga seneng kalau aku nge-rem mendadak. Ya ta?”

“Husss,..mbok jangan mbukak wadi. Ngisin-isini.”

“Setiap di-rem, rasanya bener-bener mak-nyuuuusss. Waktu itu kupikir, dari seluruh organ tubuh yang nasibnya paling baik ya cuma punggung,..hua ha ha.”

Terkesan Egoistis

Mengingat pentingnya boncengan bagi kehidupan, Mas Celathu merasa kurang sreg dengan sepeda sport. Ketika sejumlah seniman menjadikan nggenjot sepeda-gunung sebagai sarana membakar kalori sekaligus mengekspresikan gaya hidup, Mas Celathu tidak terseret arus. Kurang minat. Soalnya, terkesan egoistis. Hanya untuk memanjakan diri sendiri. Kenapa demikian, tentu ini tak lepas dari pengalaman masa lalu Mas Celathu tatkala masih duduk di bangku SMTA. Dia kerap ditolong oleh kaum bersepeda yang penuh keikhlasan memberikan nunutan di boncengan.

Ketika itu, jalan menuju rumahnya belum dijangkau kendaraan umum. Meski cuma lima kilometer dari pusat kota, desa tempat tinggalnya terasa jauuuuuh sekali. Sepi lagi. Hanya satu-dua kendaraan yang melintas. Sementara Mas Celathu saat itu tidak gableg sepeda motor. Untuk mencapai jalan raya yang dilewati kendaraan umum, musti hiking beberapa kilometer. Begitu pun saat pulang, yang biasanya setelah hari gelap. Bayangkan, tengah malam berjalan sendirian di jalanan sepi tanpa listrik? Wuiiiih, horor banget. Jika sudah begitu, doa Mas Celathu cuma sederhana,”Tuhan, sesatkanlah pengendara sepeda motor ke jalanan gelap ini, biar saya bisa dapat nunutan boncengan.”

Tapi, jika sekarang ini banyak orang butuh “boncengan” untuk mempercepat mencapai tujuan, perkaranya sangatlah beda dengan yang selalu diharapkan Mas Celathu.

“Ya jelas beda. Sekarang kan gampang mengajukan kredit sepeda motor. Tanpa agunan pun bisa. Lagian pelayanan transportasi sudah mulai membaik. Sampai jauh di pelosok pun banyak kendaraan umum,” kilah Mbakyu Celathu.

“Ini bukan soal transportasi kok. Tapi soal boncengan. Lihat aja tuh. Mau jadi wakil rakyat kok nggak percaya diri. Masih butuh boncengan untuk mengatrol namanya.”

Hiburan Demokrasi

Mas Celathu yang selalu berupaya menemukan aneka kelucuan di Pesta Pemilu, lalu memperlihatkan selebaran promosi para caleg. Terutama yang memuat kata-kata dan slogan jenaka. Ada selebaran caleg Gorontalo yang demi memperoleh boncengan popularitas, terpaksa pamer diri dengan teks begini: “Papanya Cynthia Lamusu”. Batin Mas Celathu, kenapa nggak sekalian ditulis,”Mertuanya Surya Saputra”. Siapa tahu dengan membonceng popularitas nama selebriti beken itu, bisa segera mengorbit dimangsa liputan infotaimen.

Lalu ada selebaran lain yang tak kalah konyolnya. Begini tagline-nya: “Cucunya Jendral Sudirman”. Wualah piye tak iki? Lha wong sekadar menantu cucunya Jendral Besar, kok merasa seakan-akan ada genetika yang terwariskan. Dikiranya sebagai menantu cucu tokoh besar, secara otomatis akan kecipratan wibawa dan kharisma pahlawan bangsa itu. Jika kemudian orang mempercayai slogan yang beginian, dan membikin orang benar-benar terpengaruh untuk mencontreng namanya, mungkin inilah hiburan demokrasi yang full-ironi.

Yang terbayangkan kemudian, adalah kekhawatiran seumpama kebiasaan cari boncengan untuk mengerek popularitas ini jadi trend. Para caleg akan sibuk jadi Tarzan yang membutuhkan tali gandulan. Pasti akan lucu-lucu. Misalnya: “Si Polan, suaminya tetangga keluarga Bung Hatta” atau “Si Badu, pernah salaman sama Kiai Mustofa Bisri” atau “Si Waru – temannya keponakan Bung Karno”. Pendeknya, aneka klaim dengan nebeng nama beken dan nama besar itu, justru akan semakin membuktikan betapa sebenarnya para caleg itu kehilangan kepercayaan diri.

“Lha wong kepada dirinya sendiri aja nggak percaya, kok minta rakyat mempercayai. Piye jal?” kata Mas Celathu yang mengaku akan bangga jika ada caleg yang ingin membonceng dirinya. Bahkan dia sudah menyiapkan slogannya: “Aku Pemuja Mas Celathu, Dijamin Saru dan Tak Bermutu.”

Bisa diduga, pasti hanya caleg gegar otak yang bakal menerima tawaran Mas Celathu.***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

benar-banar akan menjadi Koreksi kita semua :(

Lha iya, memang aneh koq orang-orang itu ya. Ndak pe-de koq ya pada nyaleg. Nama saya ditambah dalam kurung nama selebritis saya …. lucu poooooolllllll

Wah sejak saya kenalan sama Mas Butet di acara Kabaret, jadi ketularan gaya celathu-nya Mas Butet [monggo dipun aturi mirsani tulisan terakhir saya di blog yang Mbutet banget hehehe] … tapi nyenengke koq, blog saya jadi banyak yang ngomeni hahahaha

Terimakasih Mas Butet buat ilmunya :)

Salam hangat
Masagoeng

http://benagewe.blogdetik.com
http://benedikawidyatmoko.wordpress.com

hhehehe..
bukannya para selebriti yang diajak masuk parpol itu adalah mesin boncengan politik yang bagus..???
buktinya beberapa seleb terpilih jadi wakil rakyat..

wow.. :shock:

Lutju tur wagu

Semoga semakin Kretif.
Sehingga dapat mempersatukan bangsa dan negara ini.

Salam

http://bonagres.blogdetik.com
http://wisata2day.blogspot.com

naas banget bangsaku …….

semoga kita bisa ambil hikmah dan pelajaranya - thx mas

*haha* bener-bener lucu!!

sekaligus ngasih pesan
bagi para pembaca semuaa..

Iki bener2 lucu,..

nek arep urip dewek yo pendemo dewek awake seseuk mati…..nggih to den?

pesan moral tersampaikan dengan baik,,
huehuehuehuee,,,

mampir ke blog ku juga ya mas butet..
klo ada event seni di jogja kasi tau di web ku ya,,
hehehe.. :D

Engkaulah sang Elang. Terbang, njoget di langit. Di tengah matahari gemes mendung, Elang malu mengatupkan sayap. Senyatanya, hari-harimu mengelabui lelah. Haus. Lapar. Sepi. Ada yang ibah. Mata berbinar merah. Selalu, gak onok sing wani. Ada yang pernah terbirit. Sekejab, mendongak ke langit. Tangismu sesenggukan, segera engkau usap dengan sayap. Melirik sekeliling sepi, dia merunduk. Pernah, lain hari, mendongak ke pucuk Monas. Menjerit, ‘Jancuuuk..’, merajuk persis banci. Licik, sombong menghujat burung gagak nerkam garam.
Suatu dini hari. Senyap. Elang sulit terpejam. Lunglai. Air mata meleleh. Sampai tak kuasa menghentikan. Mirip Tukul hobi onani dengan sisa bau-bau wangi. Nafas kadang sesak, tedesak doa-doa kalah. Sekelebat muncul keinginan jadi Cendrawasih, yang sejatinya dia benci. Sekejab terlelap. Rentang waktu adalah pilihan! Misteri hidup, jujur, engkau tahu. Jangan lagi meraba, pura-pura. Elang merindukan dekapan sayap sendiri. Dini hari dihasut pekikan tarqim. Dia kembali menangis cegeng, ragu menerka mana asli dan palsu. Isakmu menyayat bagai pedang berkarat. Emm…, ternyata mencari hati susah dari menggadaikan ‘istri-istri’. Merdeka!

dasar pekok..

ngakakk aku bacanya..
wahai para selebritis yang ingin jadi caleg, pahamilah tugas2 caleg yg akan kalian hadapi, jangan skedar jd caleg menang tenar aja..

jangankan CaLeg, lha wong Capres ada juga yang mbonceng. Piye Jal???
*sambil nangis ga bisa liat metrotipi di malang*

Tambahan PakDhe. Kok angger aku dolan mrene, sih tetep cekakakan moco subtitel-e blog iki
*gunakan cangkem secara baik dan benar, jangan cipokan sembarangan *
he..he..ha..ha..hi..hi..hu…hu… wetengku senep PakDhe, kakean ngguyu

numpang promosi>> slam nla dari Blog Budaya,Seni,Pariwisata,Sastra,Pendidikan,Tokoh,Kuliner,Kabupaten Kuantan Singingi (kab. kuansing)

Urip mung mampir ngguyu???

Ngguyu…ning yo…ojo seru-seru..
Ning tanggane isih akeh sing nangis !!!!

Sarimin
(Isih nangis mergo ora dijak tanggapan maneh..)

Njur apike piye? nek ra mbonceng kan lama nyampainya. Malah bisa kemalaman di jalan.

Tapi memang bener kok….

“Honda… benar2 mengerti saya” (sambil mengelus dengan lembut boncengan motor barunya)

menyenangkan bgt baca punya, Bapak!
bener banget, Pak sekarang memang banyak yang nyari boncengan naikin pamor!
salam kenal, dari saya.

yang lebih hebat ada Obama juga ikutan….ditempel di salah satu spanduk caleg….

hehehhe…aneh ya
seharusnya orang-orang yang mau jadi caleg harus mikir lagi, apa sebenarnya dasar dia mau ikutan caleg, mau ikut-ikutan aja? mau dapat duit banyak? mau hambur-hamburin duitnya yang banyak? atau mau memajukan tanah kita tercinta ini?

:D

salam kenal mas butet

http://rafaeltrisno.wordpress.com

hahaha…. jaman sekarang ternyata masih banyak aji mumpung ya mas Butet….

lucu sih http://rustand1.blogdetik.com

memang enak kalau di bonceng, apalagi kalau lagi bonceng cewek :) - thx mas butet

kasihan bener bangsaku ini, tapi yo mau gimana lagi. lha wong rakyat juga kalau denger. wah…itu anaknya pak karno. pilih ah…sopo ngerti pinter koyo bapak’e. iku anake bung hatta. pilih juga ah…sopo ngerti se cerdas dan se teguh bapaknya.
padahal dah pada tau lho kalau keceedasan, kepintaran, akhalk itu tidah bisa didapat hanya modal warisan thok….
salah kaprah tenan negeri ini.

Sapa yang mau mbonceng aku, mumpung ada motor? Dijamin nyungsep, lha wong aku belum canggih ngangkangi motor. hua…ha…ha…

Sepede-pedenya caleg, masih lebih pede “punyaan” mbak Jupe.

Setelah membaca daripada buku mas Celathu, saya merasa terhibur.
Akan tetapi, sebagai penduduk Jakarta, agak sulit untuk menikmati kolom2 mas Celathu. Sewaktu mendiang ayah saya masih ada, sangat mudah mendapatken berbagai jenis koran2 dg gratis, jadi bisa membonceng fasilitas almarhum.
Untungnya saya menemukan website daripada mas Butet ini, sehinga dg demikian saya akan tetep dapat menikmati buah pikiran mas Celathu dan dapat memenuhi daripada kelangenan saya ini.

Sekian kata pengantar saya sebagai salam perkenalan, semoga kolom / blog ini terus berjalan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua, tanpa harus membonceng daripada siapa pun.

Wkwkwkw…lucu!

jangan salah…liat di bagian timur indo, disini, di kampungku utamanya…sepeda ontel masih laris…kisah spt di atas msh terjadi..

Leave a response -

Your response:


Categories