Posted by: butet | Maret 29, 2009

KOLOM CELATHU: GEROMBOLAN HWENG

Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 29 Maret 2009, hal 1

Gerombolan ‘Hweng’

Butet Kartaredjasa

Rupanya makna setiap kata sedang mengalami distorsi. Inilah yang bikin Mas Celathu rada bingung. Dia nggak bisa lagi secara lugu mengartikan setiap kata secara sederhana. Yang paling mutakhir, misalnya dia diminta untuk memberikan ‘doa restu’ sebagaimana permintaan  poster-poster para caleg  – itu bukan berarti Mas Celathu harus menjumpai sang caleg lalu umak-umik memberikan doa dan kasih restu.  Permohonan ‘doa restu’ dalam wacana politik Indonesia kontemporer berarti contrenglah aku!

Begitu pun makna visual gambar pundi-pundi. Dulu mungkin ikon itu bermakna tabungan, karena pada masanya orang memang menabung dengan menyelipkan koin atau lembaran uang di celah sebuah pundi gerabah. Tapi sekarang? Di era digital,  kultur menabung tak lagi menyetor uang tunai. Tak ada koin dicemplungkan ke dalam celengan. Semua berlangsung secara maya. Karena itulah, jika dijumpai ikon pundi-pundi dalam sebuah undangan pernikahan, jelas bukan himbauan supaya anda rajin menabung. Melainkan, datanglah ke hajatan dan jangan beri kado berupa barang. Kasih uang aja.

Inilah beberapa contoh kecil perubahan kebudayaan. Ada perlawanan terhadap tabu. Yang dulu dianggap tak pantas, sekarang jadi wajar-wajar saja. Ukuran kesopanan jadi longgar. Sangat permisif. Karena itulah siapa pun, termasuk Mas Celathu, tak bisa mengelak dari keniscayaan perubahan itu. Jika pada awalnya orang bingung dan tergagap-gagap menghadapi semuanya, akhirnya harus ikhlas menerimanya. Bahkan, mau tak mau musti ikut dalam gelombang perubahan, supaya tak ketinggalan zaman. Mungkin karena itulah, Mas Celathu jadi lebih rileks menerima setiap perubahan, termasuk seumpama menemui ungkapan atau kata-kata baru. Apalagi jika idiom itu dirasakan lebih gaul.

Menyunggi Beban

Misalnya  ungkapan: ‘hweng’. Ini kosa kata baru. Cuma satu suku kata. Enak diucapkan, gampang diingat. “E” diucapkan seperti bilang ‘pecel’: huueng! Artinya kurang lebih setara dengan kenthir, gendheng, edan, njeglek, setrip, tak waras, miring, dan sebangsanya. Tak jelas sejak kapan istilah ini populer sebagai padanan kata untuk menyebut seseorang yang digoyang gangguan kejiwaan. Tiba-tiba saja ‘hweng’ hadir di tengah lautan kata, dan mewarnai medan pergaulannya. “Hweng” terasa akrab di bibir dan telinga.

“Wuaaahh, wah, wah… kecerdasan masyarakat itu selalu tak terduga. Ahli bahasa mungkin kerepotan mencari dan bikin  istilah baru, eh tiba-tiba njedhul ungkapan yang pas,” puji  Mas Celathu yang mengaku sangat terpesona dengan kata itu. Ringkas. Cespleng. Langsung menggambarkan situasi kejiwaan yang limbung, tak terkendali. Mungkin, inilah kreativitas masyarakat yang jenius. Tanpa ada yang mengomando mereka membangun kesepakatan bikin bahasa sandi. “Hweng” terasa lebih santun, katimbang menyebut gila atau edan.

“Sampeyan tempo hari juga hampir ‘hweng’ lho.  Lha wong sudah ngomyang, omongannya meracau tak bisa terkendali. Perawat yang sopan, malah sampeyan maki-maki,” ujar Mbakyu Celathu mengingatkan suaminya. Konon, cerita Mbakyu, pas demam suaminya membumbung sampai 40 derajat Celcius, tukang tonil yang ambruk lantaran demam berdarah ini, berceloteh ngawur. Omongannya ngalor-ngidul tanpa ada sangkut pautnya. Malah terkadang mengulang-ulang kalimat yang sama dengan nada sok serius. Dokter bilang, ini gejala normal tatkala suhu badan melejit. Antara yang dipikirkan dan tindakan sering tidak klop.

Untungnya tidak kebablasan. Mas Celathu segera pulih ke situasi normal. Kembali ke tabiat cengengesan. Berada dalam posisi waras, di mana salah satu cirinya adalah bisa menertawakan kekonyolan dirinya sendiri. Semakin ia bisa mengarikaturkan perilakunya yang jumawa alias sok merasa jagoan, justru semakin menunjukkan betapa dirinya tergolong belum ‘hweng’. Alias masih sehat jiwanya.

Yang terjadi sekarang, Mas Celathu malah diliputi kekhawatiran. Dia melihat betapa potensi ‘hweng’ yang masih serumpun dengan skizofrenia, — di mana orang hidup dalam halusinasi — sedang terjadi secara gegap gempita. Disebut sebagai potensi, karena memang belum terjadi. Tapi, dimungkinkan akan terjadi. Betapa tidak? Ada berapa ratus ribu orang yang kini sedang bertaruh untuk naik tahta sebagai wakil rakyat, — di tingkat Pusat, propinsi dan daerah tingkat II – dan nantinya hanya berapa gelintir yang berkemungkinan nangkring di kursi kekuasaan? Yang gagal akan jauh lebih banyak. Dan itu berarti, betapa mereka yang gagal itu akan menyunggi beban yang luar biasa beratnya. Beban materi dan beban psikis.

Penyebar Sinisme

Beban materi itu mungkin berupa hutang yang tiba-tiba menggunung. Atau hilangnya kekayaan, karena terlanjur digunakan untuk mengongkosi cetak baliho dan kampanye yang menyedot rupiah dalam jumlah berjibun. Bagi kaum berpunya, mungkin itu bukan persoalan. Tapi beban psikis? Siapa yang bisa menghindar dari sindiran atau cemooh lawan politik? Siapa yang bisa menjamin anggota keluarganya, anak-isteri-suami-keponakan-mertua, tidak ikutan terbebani posisinya sebagai pecundang?

Betapa mereka yang gagal itu akan sibuk menyembunyikan rasa malu. Atau sibuk mencari pembenaran atas kekalahannya dengan memproduksi kambing hitam sebanyak-banyaknya. Mereka akan terus-terusan menyebar kilah, sampai akhirnya kelelahan menyangga kegagalannya.

Pada saat itulah perilaku ‘hweng’ akan mewarnai perilaku para caleg gagal. Mereka yang sebelumnya gagah berdasi dengan senyum mengembang di papan baliho, mungkin akan dijumpai berlenggang pakai cawat di alun-alun seperti nasib calon bupati yang gagal memenangkan Pilkada. Ngoceh berpidato di trotoar jalan. Main gitar bertelanjang dada di teras rumah dari waktu ke waktu. Atau terdaftar dalam antrian panjang RSJ yang tiba-tiba panen pasien. Penyebab utama mendadak ‘hweng’ ini, bisa diduga lantaran uang yang semakin cekak tak bisa menutup ongkos njago yang lebih besar pasak daripada tiang.

Mas Celathu menyadari, kekhawatiran yang berlebihan ini bisa membuatnya  dituduh penyebar sinisme dan sarkasme. “Yah, moga-moga aja saya yang hweng. Hidup dalam halusinasi,” ujarnya dengan sok serius sambil meneruskan,”Selagi masih waras ada baiknya antisipasi dilakukan sebaik-baiknya. Pesan kamar atau ambil nomer urut periksa ke psikiater. Atau segera bikin asosiasinya biar kelak mudah koordinasinya: Gerombolan Para Hweng!”***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

ya hweng itu bisa terjadi, karena para caleg itu terlalu PD. ra mikir klo rakyat sekarang dah mulai pinter (angel di bohongi)…

:) Hweng!

Want to earn thousands of dollars from the comfort of your own home? Find out how @ Make Real Cash Online Tutorial!

leres saestu ngendikanipun Mas Celathu, kulo sengkuyung…….

Betulll. Dan sekarang para praktisi, akademisi, hingga konsultan psikologi sedang berancang-ancang untuk menelurkan segala macam teori dan analisisnya kenapa para caleg tersebut menjadi hweng.

Jadilah mereka turut ketiban rezeki dan popularitas. Duh!

bener2 hweng

Leave a response -

Your response:


Categories