• 27

    Apr

    MATINYA TOEKANG KRITIK

    MATINYA TOEKANG KRITIK – Sebuah Teater Monolog – Karya Agus Noor Terdengar detak nafas waktu Sebelum pertunjukan sebelum dunia diciptakan denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak. Seperti merembes dari balik dinding. Seperti muncul dan mengalir menyebar di antara kursi-kursi yang (masih) kosong Ketika para penonton mulai masuk ruang pertunjukan, mereka mendengar waktu yang terus berdedak berdenyut itu. Mereka mendengar suara detik jam yang terus berputar. Suara ddetak-detik waktu yang bagai mengepungnya dari mana-mana.[1] Sementara pada satu bagian panggung, mereka menyaksikan kursi goyang yang terus bergerak pelan seakan mengingatkan pada ayunan bandul jam. Bergoyang-goyang. Kursi itu
  • 22

    Apr

    MAYAT TERHORMAT

    Monolog MAYAT TERHORMAT Agus Noor dan Indra Tranggono Dimainkan Butet Kartaredjasa Pemandu Pengolah Gagasan: Adi Wicaksono Supervisi Penyutradaraan: Jujuk Prabowo Penata Musik: Djaduk Ferianto Pemusik: Djaduk, Indra Gunawan, Jono, Koco, Margiyono, Vievien Dimainkan pertama kali di Graha Bakti Budaya, TIM, 27 s/29 Maret 2000, dan di Purna Budaya Yogyakarta, 7 & 8 April 2000. PROLOG: Selamat malam,bla,bla,bla..(improvisasi) Sebelum pertunjukan ini dimulai, marilah ada baiknya kita membangun kesepakatan, yaitu hendaknya pertunjukan kita malam ini tidak diganggu bunyi tu-la-lit-tu-la-lit ponsel anda atau pager. Bunyi-bunyi ilegal untuk sementara diharamkan. Maka saya memberi kesempatan kepada anda untuk mengeksplorasi naluri-naluri purba anda: segeralah anda menjadi pembunuh. Bunuhlah
  • 22

    Apr

    LIDAH PINGSAN

    LIDAH PINGSAN S e b u a h M o n o l o g (revisi - untuk pentas Yogya, 25-26 Nov 1997) karya Agus Noor & Indra Tranggono dimainkan Butet Kartaredjasa dengan penata musik Djaduk Ferianto SEORANG wartawan mencoba memberikan kesaksiannya, tentang Pak Mardiko yang pepe di Balai Desa Menangan. Sudah hampir 30 tahun Pak Mardiko, seorang buruh tani, pepe seperti itu, digerus hujan dan debu. Pak Mardiko pepe menuntut kejelasan nasib anaknya yang dituduh mengerakkan kerusuhan, dan hilang tak tentu rimbanya. Kegigihan Pak Mardiko, membuat Pak Lurah merasa terganggu. Ia merasa itu sebagai ancaman atas jabatannya. Bermacam usaha ia lakukan. Membujuk secara halus, sampai mengirim petugas keamanan untuk menggertak dan menghentikan pepe Pak Mardiko. Tetapi Pak Mardiko bergeming. Ia terus menuntu
-

Author

Follow Me