KOLOM CELATHU

SUARA MERDEKA, Minggu, 02 September 2007 NASIONAL

Namanya Mas Celathu

Butet Kartaredjasa

PENAMPILANNYA bersahaja: baju berbahan katun dengan model ”itu-itu saja”. Ukurannya selalu lebih longgar dari tubuhnya yang subur, sehingga angin bisa leluasa menyapa bulu keteknya. Matanya dilapis kaca ukuran minus setebal wingko babat, dengan model belor sebulat-bulatnya telor ceplok. Dan lihatlah kakinya! Sepatu sandal bikinan Yogya dari kulit sapi lokal selalu membungkus kaki, dan mengingatkan kita kepada biarawan dan guru-guru Taman Siswa. Dalam penampilan seperti itu, semestinya dia lebih pantas berpredikat rohaniawan atau guru. Setidaknya, tutur katanya akan familiar dengan adat kesopanan yang terkadang lamis dan canggih menyajikan kepalsuan. Tapi ternyata tidak.

Begitu kita melihat wajahnya yang berbibir seperti iwak empal alias rada tebal, dan tabiatnya yang rajin menyambar omongan orang sesuka dan sekenanya -untuk tidak menyebut waton njeplak- maka gugurlah semua imajinasi yang stereotipe itu. Saya malah jadi semakin mempercayai pemeo yang menyebutkan bahwa ”nama membawa tuah”. Sesuai namanya, Mas Celathu memang suka melontarkan celathu. Jika diindonesiakan celathu berarti ”berujar” atau ”menyergah”. Peristiwa apa pun dikomentari.

Mending kalau komentarnya itu merdu menyejukkan hati. Yang kerap terjadi celetukannya sering bikin orang sewot kebakaran bulu jenggot. Terutama jika apa yang meluncur dari mulutnya itu menyodok langsung para feodal yang antikritik, atau pihak-pihak yang bakal terancam nasibnya gara-gara omongannya. Meski begitu, tidak sedikit orang yang justru bertempik sorak kegembiraan karena celathu-nya. Malah kebanyakan orang kangen pada omongannya yang seperti sekenanya dan seakan-akan tanpa diolah oleh otak itu. Apa yang dicetuskannya terkadang seperti ventilasi yang bisa mengalirkan angin segar. Atau seperti katup pelepas kesumpegan. Begitu Mas Celathu ber-celathu, ibaratnya seperti perut kembung yang mengembuskan angin buritan, duuuuttt. Lega rasanya.

Begitulah kesaksian saya terhadap tokoh anyar yang bakal nongol saban minggu ini. Dan karena minggu ini masih belum jauh banget dari suasana Agustusan, dengan penuh semangat saya samperin dia dengan gelora nasionalisme yang meluap-luap seperti gelontoran air yang meluap dari got-got kota Semarang.

”Merdeka, Bung!” seru saya sambil meninju langit.

Mas Celathu cuma mrenges, memperlihatkan giginya yang di sana sini gosong akibat nikotin. Seraya meniupkan asap kretek filter kesukaannya, dia lalu menjawab, ”Yang benar aja. Emang sudah merdeka beneran?”

Sebagai nasionalis yang berbangga kepada para pahlawan bangsa, tentu saja saya merasa dilecehkan. Ini orang memang rada kenthir. Lha wong jelas kita sudah punya Proklamasi, setiap 17 Agustus semua orang memperingatinya, bikin renungan, lomba balap karung dan panjat pinang, ziarah ke makam pahlawan, dan pak Presiden bikin pidato kenegaraan, -lha kok orang ini masih meragukan kemerdekaan kita.

”Jadi Sampean menganggap kita belum merdeka? Dasar anasionalis. Hati-hati kalau bicara. Ngomong begitu pada zaman Orde Baru, Sampean bisa langsung dikarungin,” saya mencoba mengingatkan, ”Lagipula kan Agustusan sudah lewat…”

”Ya, memang sudah lewat, tetapi saya justru ingin ngajak Sampean latihan menjadi merdeka pada saat kita tak lagi efiria memperingati kemerdekaan.”

”Lho kok latihan. Kan sudah 62 tahun umur kemerdekaan?”

”Lha iya, selama 62 tahun kita latihan terus. Hanya ancang-ancang. Belum tahu kapan pementasan kemerdekaan yang sebenarnya dilaksanakan.”

Saya tidak mudheng apa yang diomongkan. Merdeka ya merdeka. Begitu saja. Nggak usah pakai latihan segala. Dan nyatanya sebagai sebuah bangsa kita sudah lolos dari penjajahan kolonial. Rasanya saya ingin menggampar Mas Celathu yang tiba-tiba bersijingkat menuju tiang bendera, dan menurunkan sang saka menjadi setengah tiang.

”Hei, jangan edan kamu. Tak tempeleng lho kamu,” saya mulai geram habis kesabaran.

Mas Celathu malah nggleges. Lalu mrenges dan ngedumel, ”Lha wong masih punya hobi menempeleng bangsanya sendiri kok ngaku sudah merdeka.”

Saya seperti tertohok. Jawaban Mas Celathu yang diucapkan tanpa emosi itu membikin saya tertahan. Rasa geram saya mengendor.

Iya ya? Kalau tadi saya benar-benar melayangkan kepalan tinju hanya gara-gara beda pendapat, tentu sangat memalukan. Itu tak ubahnya para petinggi negeri yang dititipi nasib rakyat yang nekat gontok-gontokan, otot-ototan, bahkan saling bikin pengaduan ke polisi, untuk perkara-perkara remeh-temeh yang tidak menyelamatkan kehidupan bangsanya. Saya jadi ingat wejangan Bung Karno yang selalu mengedepankan kerukunan, dan meredam sekuat-kuatnya kemungkinan perang saudara, meskipun untuk itu ia rela dipereteli kekuasaanya dan diasingkan dari dunia ramai.

”Baiklah, kalau sekarang belum dianggap merdeka, lalu apa arti 17 Agustus?” pancing saya, kali ini saya mencoba memamerkan kesabaran.

Sambil masih terus meniupkan asap rokok, Mas Celathu Cuma bilang, ”Setiap pitulasan, saya bersyukur karena masih ada orang merayakan dengan lomba makan kerupuk dan panjat pinang. Hanya itu yang bisa membuat saya terhibur, sekalipun nyatanya kita belum merdeka dalam arti sebenarnya.”

Jika sudah bicara sok serius begini, biasanya agak gawat. Biasanya saya yang akan melongo disengat oleh kebenaran-kebenaran omongannya. Mas Celathu lalu nyerocos, ”Lomba Makan Kerupuk dan Panjat Pinang itu kan sindirian rakyat terhadap cita-cita kemerdekaan.” Maksudnya? Itu kan ejekan kepada para pemimpin, bahwa untuk sepotong krupuk pun rakyat masih harus berjuang keras untuk bisa mengunyahnya. Itu artinya para pemimpin yang dipercaya menjadi nakhoda bangsa ini masih konsisten menyelenggarakan kemiskinan rakyatnya.

”Lha soal panjat pinang,” sergah saya. ”Lihatlah orang-orang yang menyangga di bawah yang menjadi tumpuan orang yang memanjat ke atas. Yang di bawah meringis kesakitan menyangga beban, sementara yang di atas tertawa kegirangan karena berhasil memetik hadiah.”

Bagi Mas Celathu, kemerdekaan hari ini maknanya masih seperti tradisi Panjat Pinang itu. Mereka yang dibawah masih diminta menjadi tumbal bagi kemakmuran sekelompok kecil manusia yang bertengger nun jauh di atas. Entah siapa yang ada di sana. Mungkin mereka adalah bupati, gubernur, orang-orang partai, wakil rakyat, dirjen, menteri, para pengelola negara, pengusaha yang kongkalikong, dan sebangsanya.

Karena itulah, dengan penuh sinisme Mas Celathu menepuk-nepuk bahu saya, ”Jadi, teruslah berlatih untuk benar-benar merdeka.”

Ya kan,…akhirnya saya cuma bisa melongo.***

—————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 09 September 2007 NASIONAL

Menyumbat Kekerasan

Butet Kartaredjasa

Sekarang bukan lagi zaman kekerasan. Bahasa kekerasan sudah usang. Karena itulah, jika hare gene masih ada orang tua yang doyan memainkan cemeti memecut anak kandungnya hanya lantaran anak itu rewel, bisa dipastikan mereka bukan sedang mendidik anaknya. Melainkan sedang membudidayakan kekerasan. Tanpa disadari, diam-diam keluarga itu sedang menyiapkan “strategi kebudayaan” bagi hari depan keluarganya, yaitu keluarga berbudaya kekerasan. Mungkin itu meneruskan tradisi masa lalunya. Dulu aku kerap digebuki ayahku, maka sekarang – mumpung aku berkuasa sebagai orang tua – kuwariskan dendam itu kepada anakku.

Tapi Mas Celathu yang di masa lalu pernah mencicipi sakitnya cubitan dan jeweran, berjanji akan menyumbat jalannya warisan yang sesungguhnya mengekspresikan naluri primitif itu. Stop kekerasan. Soalnya, apa pun bentuk kekerasan itu, ia hanya akan melahirkan kekerasan baru. Ia ingin mengubah dendam masa lalunya, menjadi sebentuk kearifan. Dan ternyata, itu bukan hanya monopoli Mas Celathu. Kini ia berbahagia melihat begitu banyak keluarga-keluarga muda yang rukun sentosa menemani pertumbuhan buah-buah kesayangannya tanpa kekerasan.

“Jadi, mas benar-benar anti kekerasan,” sergah istrinya.

Mas Celathu kaget. Andaikan yang bertanya orang lain, pastilah ia akan mengangguk. Tapi ini yang bertanya pasangan kelon-nya. Istrinya sudah kenal betul tabiat Mas Celathu yang memang mengidap diabetes. Mas Celathu jadi tersipu malu.

Sambil nyengenges, Mas Celathu menyergah,”Lha ya tidak ta. Demi kamu pernyataan “anti kekerasan” boleh dibatalkan. Percaya deh, saya setuju “kekerasan”. Bahkan saya siap bekerja keras biar terjadi kekerasan. Ya ta, soalnya bagaimana bisa “bekerja” kalau belum keras, ha ha ha.”

Sebagai ganti bentuk kekerasan fisik di keluarganya, Mas Celathu memang harus cerdik mengkreasi bentuk-bentuk pembelajaran. Hukuman atas kenakalan anak-anak bukan lagi berupa hajaran yang disokong kekuatan otot, tetapi hukuman yang didasari kekuatan akal. Hukuman yang bernilai produktif, misalnya anak disekap dalam sebuah kamar dan di”hukum” membaca sebuah buku, dan nanti setelah keluar dari “penjara” itu, ia harus mampu menceritakan apa saja yang baru saja dibacanya. Atau, untuk beberapa hari anak dipaksa bertapa, menjauhkan diri dari televisi dan handphone, karena kedua benda ini kerap mengkhianati fungsinya dan berubah menjadi media “kejahatan”.

Karena itulah sebandel dan senakal apa pun anak-anaknya, Mas Celathu akan mengutamakan dialog untuk mengurai setiap persoalan. Jangan ada lagi keplak, jotos, cambuk, di keluarganya. Mas Celathu yang kini berstatus ayah tiga anak sudah membuktikan, selama dua puluh enam tahun berkarier sebagai “ayah” dia sangat pelit mengobral slenthikan, cubitan dan jeweran. Apalagi jotosan.

Mas Celathu cuma memimpikan, seandainya setiap keluarga di negeri ini tidak mengajari kekerasan terhadap anak-anaknya, tidak mendidik dengan “sedikit-sedikit gebuk”, — pastilah kelak akan lahir satu generasi yang mengutamakan dialog. Yang menghormati dan menjunjung hukum. Yang menggunakan otak secara bijaksana. Dan nanti, jika tiba saatnya negeri ini dipimpin generasi kinyis-kinyis macam ini, kita boleh berbangga karena nantinya lembaga-lembaga, instansi-instansi, departemen-departemen akan selalu melahirkan kebijaksanaan yang memuliakan manusia. Sebab yang namanya “kekerasan” acapkali hadir dalam aneka bentuk: penggusuran, mutasi, fitnah, gossip, dan berbagai usaha penyumbatan nasib orang. Bahkan terkadang, “kekerasan” itu dikemas dalam bungkus religiositas, sehingga seolah-olah Tuhan mengijinkan adanya pembantaian dan sweeping.

Tapi, sialnya, kemarin Mas Celathu ketiban awu anget. Meski ia tak pernah mencubit puterinya, eh anaknya yang nomer dua tiba-tiba mengadu lewa SMS, “Pak, sekarang saya sedang di rumah sakit. Aku barusan dihajar orang.” Pesannya singkat, tapi membawa efek berkepanjangan. Mas Celathu lemas. Sambil terus mengendalikan emosinya yang meletup-letup, ia segera ke rumah sakit mencari tahu kenapa hal itu terjadi.

“Kenapa matamu jadi lebam seperti itu?” Mas Celathu benar-benar terperangah. Dilihat wajah putrinya yang memang tomboy itu, tak ubahnya bintang criminal di acara “BUSER” - mata kirinya sipit dadakan, berwarna ungu lantaran benturan benda keras. Oh nasib, nasib. Seumur-umur menolak kekerasan, eh kali ini Mas Celathu menyaksikan efek sebuah penganiayaan di depan batang hidungnya. Dan itu terjadi pada puteri yang disayanginya. Bagaimana mungkin seorang perempuan, dihajar seorang lelaki tanpa basa basi?

“Saya berusaha membebaskan sahabat saya, karena dia disekap pacarnya. Dia minta pertolongan saya, maka saya harus datang menjemput dia,” ujar mbak Tomboy, sambil meringis menahan sakit dan mengelus matanya yang lebam.

Darah Mas Celathu mendidih. Hampir saja ia kalap. Nafsu pembalasan sudah melambai-lambai menyapanya. Andaikan saat itu hanya setan yang bertahta dalam dirinya, pasti Mas Celathu akan mengijinkan serbuan balas dendam dari sejumlah orang yang bersimpati padanya. Tapi tidak. Sebuah kekerasan tidak boleh melahirkan kekerasan baru. Mas Celathu segera memompa kesabaran, supaya bisa memenangkan peperangan dengan setan dalam hatinya. Dan ia ternyata menang.

“Saya memilih hukum dan keadilan ditegakkan. Saya masih punya sisa kepercayaan kepada polisi, jaksa dan hakim.” Mas Celathu mengambil keputusan.

Tapi, berhubung di negeri ini terkadang hukum masih bisa dikompromikan, Mas Celathu jadi khawatir. Pastilah berbagai tawaran penyelesaian secara kekeluargaan akan berseliweran. Mas Celathu berikrar akan menampiknya. Begitu usaha penegakan hukum diselewengkan dengan mengatasnamakan “semangat kekeluargaan”, yang terjadi sesungguhnya adalah pengkhianatan terhadap sistem hukum. Keluarga pelaku penganiayaan memang boleh datang dan meminta maaf atas peristiwa getir itu. Malah wajib hukumnya. Tapi itu hanyalah perkara tata karma, dan ikhtiar merampungkan secara sosial. Selesai secara sosial, tentu bukan selesai secara hukum.

Sekarang, yang membayang-bayangi Mas Celathu tinggal kecemasan dan perasaan dag-dig-dug. Akankah impian memperoleh keadilan atas puterinya bisa terwujud? Apakah nantinya para aparat hukum kita tidak silau dan akan tetap kukuh integritasnya, seumpama keluarga pelaku penganiayaan bersiasat belanja pasal-pasal hukuman di kantor polisi, di kejaksaan, bahkan di gedung peradilan?

Hari-hari mendatang adalah hari-hari menunggu kepastian. Mas Celathu masih akan terus menunggu. Dan kita pun ikutan menunggu.***

—————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 16 September 2007 NASIONAL

Setan Bertoleransi
Butet Kartaredjasa

Jika yang diimpikan tak bisa diwujudkan di wilayah setingkat kabupaten, propinsi, dan apalagi setingkat negara, maka jelmakanlah impian itu di tingkat yang paling mungkin: keluarga! Ini satu modus terapi untuk mengurangi rasa sewot. Karena itulah seumpama anda ngebet jadi bupati, gubernur atawa presiden, — dan ternyata anda masih konsisten memanen kegagalan – maka nikmati dan syukurilah kekuasaan kecil yang kini mungkin sudah ada di pangkuan anda.

Cara bijaksana inilah yang dikembangkan Mas Celathu untuk menghindari stress dan dongkol. Impian apa pun yang tidak mungkin terjadi di ranah publik, oleh Mas Celathu akan segera dimungkinkan terjadi di keluarganya. Dengan begitu, kehidupan keluarganya menjadi seperti laboratorium, medan pengujian eksperimen-eksperimen tentang hal-hal yang diidealkannya. Mungkin berupa idealisasi kehidupan yang toleran, terbuka, dan sangat menjunjung nilai-nilai kemajemukan. Di tingkat negara soal beginian hanya sukses di wacana, tapi memble dalam realitas. Buktinya masih kerap terjadi konflik horizontal yang bersumber adanya perbedaan. Masih ada berbagai ketertutupan “kebijaksanaan” yang penuh siasat, dan merugikan keuangan negara, dan sebangsanya.

Karenanya, tatkala ia gemas menyaksikan kemacetan komunikasi pemimpin dengan rakyatnya. Maka, tanpa ba-bi-bu, Mas Celathu segera membuka dialog di ruang tengah, tempat biasanya keluarga ini memanjakan lidah. Meja makan berubah menjadi meja sidang. Mas Celathu duduk di ujung meja, sedangkan Mbakyu Celathu dan ketiga anaknya duduk sederajat, di sisi kiri dan kanan. Sebenarnya, Mas Celathu yang masih tergolong berdarah biru, bisa mempraktekkan aristokrasi feodalistik-nya. Tempat duduknya bisa lebih tinggi. Kayak main ketoprak. Bertahta di singgasana, sementara anak-anak dan bininya melantai alias ngglengsor di lantai. Tapi tidak. Sengaja dibuat tanpa jenjang, tanpa hirarki, tanpa ada atas dan bawah.

Bisa begitu karena Mas Celathu meyakini, orang tua itu hanyalah menang satu tahap: lahir duluan. Lebih berumur, dan karena itulah setiap orang tua pasti lebih berpengalaman. Padahal, hak dan kewajibannya sama. Sederajat. Semua kelebihan itu tidak lantas diartikan bahwa orang tua selalu lebih pinter dan lebih jagoan dari anak-anaknya. Ada kalanya, kebo bisa netek punting gudel. Memang, kali ini Mas Celathu sedang mempraktekkan prinsip kesetaraan yang selama ini diimpikannya. Yaitu, bahwa yang namanya orang tua itu tidak harus memonopoli kebenaran. Jadi, sebagai seorang ayah, ia selalu siap memetik “kemaluan” (baca: rasa malu). Boleh “goblok-goblok dikit” seumpama dalam mempraktekkan tugas-tugasnya sebagai kepala keluarga disertai alpa, khilaf atau bego.

“Nah, jadi jangan lagi kalian keluyuran malam tanpa alasan. Bisa-bisa malah jadi korban jotosan orang kalap kayak mbak Tomboy kemarin,” Mas Celathu mulai nyerocos, bikin rambu-rambu baru, dan menghamburkan nasehat. “Juga jangan sekali-kali njajal narkoba. Jangan sampe salah gaul. Hati-hati milih teman. Tugasku dan ibumu adalah memfasilitasi pertumbuhan kalian dengan memberikan pendidikan yang terbaik, dan kewajiban kalian melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya. Janganlah sekali-kali kalian khianati niat baik kami.”

Mbakyu Celathu menyimak celoteh suaminya, sambil sesekali menyambar dialog memberi tekanan. Persis penabuh gong, nge-gong-i. Sementara ketiga anaknya, dua berstatus mahasiswa dan satu lagi siswi SMTP, berusaha menjadi pendengar yang baik. Yang sulung, lelaki dengan perut kayak perempuan bunting karena timbunan lemak, terlihat ingin sekali serius. Mungkin ia menyimpan beban psikis, karena kelak musti bertanggungjawab penuh, mengingat statusnya sebagai pembarep, anak sulung, itu. Dialah pewaris utama yang nantinya menjadi nahkoda seumpama Mas Celathu musti kembali Rumah Abadinya lebih mruput. Mbak Tomboy, seperti biasa mendengarkan sambil cengar-cengir dan kepala bergoyang-goyang kayak rapper, dan tanpa henti terus meniupkan asap kretek filternya. Sedang yang paling bongsor, Jeng Genit, teenager 12 tahun yang memang centil dan faeshonable, kadang-kadang tidak mudheng mendengarkan percakapan malam itu. Tapi ia selalu bertanya, ingin memuaskan rasa ingin tahunya. Bahkan tanpa sungkan, ia menyergah,”Lha bapak itu, kalau malam ya jangan dolan terus.”

“We lha, itu kan karena ada urusan. Mungkin kerja, mungkin janjian sama tamu dari luar kota. Mungkin rapat dadakan” Mas Celathu berusaha mencari pembenaran.

“Wualah, dikit-dikit tamu. Dikit-dikit kerja. Dikit-dikit rapat. Nanti kalau masuk angin, kami semua jadi repot. Minta dibeliin bakmi godog lah. Minta kerokan lah. Kalau bapak nggak bisa kerja, kan kami yang rugiiii. Nggak kecipratan rupiah lagi, he he he.”

Lalu semua pada cekakakan. Ruang persidangan tiba-tiba seperti berwarna merah jambu, riang penuh kegembiraan. Keluarga itu memang selalu cerdik mengubah perkara-perkara serius menjadi penuh kejenakaan. Apalagi ketika tiba-tiba, Jeng Genit menyahut lagi,”Lha bapak itu, kalau jalan-jalan di mall, matanya jangan plirak-plirik kalau ketemu cewek ayu tur bening.”

“We lha dallah…jangan ngawur kamu,” Mas Celathu terpengarah, nggak menyangka bakal kena sodokan telak itu.

“Pokoknya awas, aku nggak mau kalau bapak poligami. Aku wegah duwe ibu tiri,” bicara begitu Jeng Genit sambil midal-midul melempar poninya, sehingga tampak keningnya yang bertabur jerawat.

Kesediaan menerima warning dan kritik dari anak ke bapak, atau sebaliknya, selalu berujung dengan tawa kegembiraan. Di keluarga itu, setiap masalah tidak dibikin ruwet. Lha wong hidup itu sudah berat, ya janganlah malah dibuat semakin berat. Setiap perkara, segawat apa pun perkara itu, sebisanya di-oncek-i bareng-bareng. Dalam kedudukan yang sederajat tanpa syakwasangka dan kecurigaan, disertai kesediaan menebar ketulusan, — memang menjadikan setiap dialog terasa indah dan penuh kegembiraan. Model perbincangan seperti inilah yang selalu dibayangkan Mas Celathu setiap kali ia melintasi gedung Wakil Rakyat di Senayan, Jakarta.

Begitu pun perkara toleransi yang terkadang masih sekadar impian. Di luar sana, membangun tempat ibadah orang memang masih sering kesulitan. Tapi, di keluarga Mas Celathu yang memang tidak seagama, dirasakan adanya atmosfer toleransi yang bisa berlangsung secara rileks. Dan tetap dalam semangat geguyonan. Di bulan suci Ramadhan sekarang, seluruh prosesi ritual warga Muslim di “Negara Celathu” yaitu anak-ibu dan para abdinya, berlangsung sebagai keniscayaan sebuah ibadah. Apalagi Mbakyu Celathu telah diongkosi suaminya yang Kristen abangan untuk menyempurnakan keislamannya ke Tanah Suci, sehingga berhak menyandang gelar hajjah. Semua saling menghargai, lantaran semua berhasil meyakinkan dirinya, bahwa setiap agama yang dipeluk, masing-masing memiliki kebenarannya.

Paling banter, saat perut Jeng Genit keroncongan jam 3 siang karena lupa makan sahur, Mas Celathu akan segera memerankan diri sebagai “setan” yang baik dan benar. Ia segera menyeruput segelas kelapa muda warna pink, dan menyebarkan kesejukannya.”Wuah segeeeer tenan.” Kalau sudah begitu, Jeng Genit pasti segera mengejar Mas Celathu dan dengan gemas memukul-mukul pundak ayahnya. “Oooalah Bapak iki pancen setan tenan, setan…”.

Sambil terbirit-birit main uber-uberan, Mas Celathu bilang,”Mosok puasa kok maunya ditunggui malaikat melulu. Kalau nggak ada setan, nanti nggak ada yang menguji keteguhan puasamu ta, he he he….” Di situ, di keluarga Mas Celathu, toleransi dalam sebuah perbedaan telah menjelma menjadi kebahagiaan. Juga kejenakaan.***

———————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 16 September 2007 NASIONAL

ZAMAN GANJIL
Butet Kartaredjasa

Zaman memang sudah terbalik. Kacau berantakan. Inilah zaman di mana yang dulu dianggap baik, sekarang malah dinilai buruk. Yang dulu memalukan sekarang justru membanggakan. Yang dulu dianggap biasa, sekarang malah jadi luar biasa. Yang dulu pintar, kini malah terlihat bego. Mas Celathu pusing seratus keliling, karena mau tak mau ia harus turut dalam pusaran sinting ini. Maunya sih dia berjarak dengan keganjilan zaman seperti itu. Tapi ia belum mendapatkan resep mujarab untuk lolos menyelamatkan diri dari gilasan zaman edan itu.

Misalnya, soal heboh tanaman “gelombang cinta” yang konon harganya bisa melejit ke bilangan angka ratusan juta rupiah. Ini kan perkara biasa yang tiba-tiba menjelma jadi luar biasa, sebagaimana dulu pernah dihebohkan oleh ikan louhan yang harganya bisa mengangkasa tingginya. Lha wong cuma godhong kok bisa menjadi sihir, dan membuat orang mabuk kepayang ingin mengkoleksi. Selayaknya hukum ekonomi, sebuah barang bernilai dan sedikit persediaan, padahal sangat banyak permintaan, — maka pastilah kesuksesan “gelombang cinta” segera disusul dengan berbagai akal-akalan dan siasat beraroma kriminal. Tak mengherankan, jika belakangan frekwensi colong-menyolong tanduran itu semakin meningkat.

Lha wong godhong aja, kok ya dicolong,” gerutu Mas Celathu terheran-heran. Dia lebih bingung lagi, ketika suatu hari temannya yang masih konsisten miskinnya, bersikap alot melepaskan “gelombang cinta”nya yang telah ditawar puluhan juta rupiah. Temannya itu masih berharap ada penawaran yang lebih tinggi.

“Kamu ini piye ta? Untuk makan saja sulit, kok mbagusi. Duit segitu kan sudah bisa mengubah nasibmu. Bisa beli motor baru, nglunasi utang, mbayar sekolah anak-anak,” Mas Celathu nyerocos mengobral nasehat. Tapi telinga yang dinasehati bagai disumbat batu. Mas Celathu membatin, kalau nanti boom “gelombang cinta” berakhir seperti halnya boom-boom lainnya, betapa akan menyesalnya kawan itu. Ia hanya akan termangu menatap lembaran godhong. Syukur-syukur jika tidak sambil ngomong sendirian. Kawan ini mungkin kurang mengerti makna bersyukur. Lha wong keuntungannya ya sudah bejibun, kok ya masih merasa kurang. Untung digantung, malah nantinya kepenthung. Modar kowe.

Mas Celathu membatin, jangan-jangan orang memang tidak pernah tahu bahwa di balik heboh “gelombang cinta” itu, telah disiapkan rekayasa para pemodal yang berperan ganda sebagai bandar yang siap menangguk keuntungan segede-gedenya. Jika memang begitu kenyataannya, dan nantinya bandar-bandar akan kabur sambil mengubur bisnis tanduran itu, niscaya akan kita akan melihat ribuan orang termangu memandangi godhong. “Mbok ya sudah, kalau memang dah dapat untung ya disyukuri. Emang tanduran itu pusaka yang tak boleh diperjualbelikan,” sergah Mas Celathu tatkala kawannya tetap ngotot tak mau melego “gelombang cinta”nya.

Keganjilan zaman ini juga ditemui Mas Celathu ketika suatu kali ia membaca berita tentang ribuan orang terpelajar kena kibul bisnis investasi. Aneh ta? Wong pinter kok bisa kapusan. Semestinya, posisi korban adalah posisinya wong bodho. Tapi rupanya pinter dan rakus itu tipis batasnya, sehingga dengan mudah orang-orang pinter terperosok jadi keledai. Begitu pun dalam penyikapan orang terhadap rasa malu dipenjara.

Coba ta, betapa ganjilnya pemahaman orang tentang penjara sekarang ini. Oleh leluhurnya, Mas Celathu diwanti-wanti supaya jangan sekali-kali berperkara di pengadilan, karena jika tergelincir akan nyemplung ke dalam bui. Jika seseorang akhirnya harus terpuruk dalam sel penjara, itu ibarat kiamat kecil dalam sebuah dinasti. Kehormatan keluarga jatuh di titik nadir. Sangat memalukan. Bukan saja keluarga inti yang tercoreng, tetapi juga lingkaran paseduluran lain: korps, organisasi, kelompok arisan, tempat di mana yang bersangkutan berada.

Tapi kini faktanya lain. Oleh sementara orang, agaknya penjara seperti menjadi simbol status baru. Membuat orang bangga menjadi selebritis dadakan,. Fotonya dimuat di koran-koran nasional dan nongol di televisi seraya cengengesan. Kesannya, hidup dalam kerangkeng bertahun-tahun itu sangatlah nikmat. Tidak membuat orang merasa jera dan kapok. Kalau perlu bikin perkara lagi, misalnya bercinta dengan narkoba atau korupsi lagi, sehingga bisa jadi objek liputan koran dan tivi lagi. Edan tenan.

Pastilah, kita bisa menderetkan nama-nama tokoh publik dari berbagai kalangan: pengusaha, politisi, birokrat, aktivis LSM, pelawak, artis, bahkan polisi dan jaksa. Orang-orang ganjil ini, sekeluar dari penjara tetap saja tampil penuh percaya diri di hadapan publik, seakan-akan keterpurukan yang barusan dilewati bukan keterhinaan dan anjlok-nya sebuah martabat. Bahkan konon, sekarang ini sudah tersedia event-orgenizer yang siap mendesain upacara penyambutan bagi siapa pun yang ingin menjadi “hero” pada saat bebas dari kungkungan jeruji bui.

“Kamu boleh masuk penjara, jika itu disebabkan karena kamu membela dan menyuarakan kebenaran. Jika lantaran mempertahankan sikap dan pemikiran kamu harus masuk bui, itu kehormatan yang pantas dibanggakan. Tapi, jika disebabkan nyolong, membunuh, korupsi, narkoba,…wuah amit-amit. Itu seperti menyiram tinja ke wajah leluhurmu.”. Begitu wasiat dan nasehat turun temurun yang pernah didengar Mas Celathu, dan sampai sekarang ia tetap mengusungnya.

Jika penjara tidak lagi membawa efek kapok, tidak mampu lagi mempermalukan orang, lalu aturan hukum harus dibagaimanakan lagi? Apakah perlu setiap pipi pelaku kriminal yang telah dipenjara distempel tato permanen dengan sengatan listrik, biar luka bekas sengatan itu menjadi penanda yang mempermalukan dirinya sepanjang masa? Tentu ini ide tolol. Hanya akan dikutuk pejuang HAM. Bagaimana pun, mantan napi kan juga manusia, dan martabatnya bisa dan harus dimuliakan.

Mas Celathu tak tahu bagaimana cara menularkan pemahamannya tentang martabat dan kehormatan. Ia hanya bisa gemas dan prihatin. Tapi ia berjanji dalam hati, tidak ingin terseret ke dalam kesintingan zaman yang sudah terbolak-balik itu. Dalam hal menjaga dan membela kehormatan, ia ingin tetap menjadi manusia kuno saja. Yaitu, manusia yang merawat ketakutannya terhadap penjara. Apa pun dan bagaimana pun, penjara tetap mewadahi sebuah keterhinaan seorang manusia.***

——————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 23 September 2007 NASIONAL

Ilmu Kosokbalen
Butet Kartaredjasa

Mas Celathu terlanjur percaya bahwa setiap profesi di dunia ini adalah tugas luhur. Sekecil dan sesederhana apapun profesi itu selalu disertai kemuliaan. Bisa dipastikan ada kandungan idealismenya. Dan idealisme itu pastilah berpihak pada ikhtiar untuk memuliakan kehidupan. Karena itulah, setiap profesi yang telah teruji zaman dan menjadi bagian dari sejarah manusia, senantiasa dijadikan impian. Diidam-idamkan siapa saja. Tak heran jika orang tua selalu mendambakan putera-puterinya kelak jadi apa, dan si anak boleh bekerja keras di jalur pendidikan untuk menggapai profesi yang diangankan.

Dan karena itu pulalah, Mas Celathu merasa perlu punya cita-cita. Ia ingin punya profesi yang mulia, seperti misalnya jadi dokter yang kesana kemari jas-jus nyuntiki orang, — maksudnya benar-benar menyuntik orang yang butuh pertolongan, bukan “nyuntik” janda-janda kesepian. Bahwa akhirnya nasib hanya menghantarkannya menjadi pengecer cangkem, kesana kemari cuma “ndobos” sebagai tukang tonil, Mas Celathu ya tetap nrima saja. Dia mupus. Jalan hidup agaknya memang sudah ada yang menggariskan. Tinggal bagaimana orang itu secara kreatif memaknai jalannya nasib, yaitu memberi nilai lebih dari setiap keterampilan yang dimilikinya.

Sebuah gunting di tangan seorang pengrajin bisa menjadi alat menciptakan keunikan dan keindahan, di tangan penjahit bisa untuk memotong kain demi terciptanya gaun yang fashionable, di tangan tukang kebon untuk merapikan rumput, di tangan tukung cukur pastilah bermanfaat untuk mengolah keindahan rambut. Tapi sebuah gunting di tangan preman terminal, bisa berubah menjadi sarana terciptanya tragedi: untuk menikam atau menodong.

Tapi, sekarang ini Mas Celathu sering menjumpai kenyataan pahit. Impiannya terhadap dunia profesi itu gampang buyar. Penyebabnya, apa yang diangankan sering meleset dari harapan. Selalu saja ada kosokbalen-nya. Yang terjadi justru sering kebalikannya. Misalnya, ahli agama yang dibayangkan senantiasa menyalakan suluh di hati umat dan memandu kehidupan yang suci, ternyata diketahui menjadi otak penculikan. Bahkan tak sedikit dari profesi yang gemar menyitir dan fasih membunyikan ayat-ayat suci itu, diberitakan tak tahan menyumbat libidonya, sehingga predikatnya pun “meningkat” menjadi tersangka kasus pemerkosaan.

Tak hanya itu. Masih banyak dijumpainya aneka profesi di muka bumi ini, yang – secara sembunyi atau terang-terangan — mengkhianati hakekat kemuliaan tugasnya. Dokter yang semestinya memfasilitasi kesembuhan, terkadang justru menciptakan kesengsaraan baru dengan “memeras” pasien melalui tebusan resep obat yang harganya selangit. Bukan rahasia lagi bahwa semangkin tinggi nilai resep, semangkin gede pula peluang komisinya. Tentara yang seharusnya menjadi tauladan dalam penyelenggaraan bela negara, eh justru menyelenggarakan kerusuhan dengan main tembak-tembakan melawan aparat keamanan lainnya, seperti baru-baru ini dar-der-dor di Ternate, Maluku. Polisi yang seharusnya memberantas narkoba, terkadang malah kepergok turut menikmati atau memperdagangkan barang haram itu. Malah kerap terdengar ada oknum polisi yang berperan ganda: memberantas pencurian tapi sekaligus jadi tukang tadahnya.

Tabiat dan tindakan kosokbalen seperti itu terus saja mengepung hidup Mas Celathu. Setiap baca koran atau nonton berita tivi, Mas Celathu selalu deg-degan. Cemas dan khawatir, jangan-jangan ia mendapatkan surprise baru yang bisa membuat dirinya njondhil seperti tersengat listrik. Dan pekan lalu, Mas Celathu benar-benar njondhil tatkala mengetahui seorang anggota Komisi Yudisial yang seharusnya jijik dan alergi menerima komisi, eh malah terperangkap masuk wuwu-nya KPK gara-gara memburu komisi.

Betapa tidak mengejutkan, lha wong priyayi luhur itu telah dilegitimasikan sebagai “orang baik”, — lolos seleksi fit and proper test di DPR, diuji kondisi psikologisnya, dicermati track record-nya,– lha kok masih juga memamerkan ambrolnya moralitas dan kredibilitas. Jika di Komisi Yudisial, tempat dimana masyarakat menyandarkan kepercayaannya, terkotori oleh tabiat-tabiat kotor, lalu kemana lagi khalayak bisa menitipkan kepercayaannya? Bukankah jabatan dan profesi menjadi aparat hukum – menjadi anggota Komisi Yudisial, jaksa agung, ketua mahkamah agung, polisi, jaksa, hakim, pengacara, panitera, — tugas utamanya adalah menegakkan hukum untuk terciptanya keadilan?

Melihat fenomena kosokbalen yang hampir membuatnya putus asa ini, Mas Celathu punya jurus ampuh untuk berkelit. Yaitu menganjurkan wacana baru: kosokbalen harus dibalas kosokbalen. Marilah bermunafik secara baik dan benar. Jika selama ini kemunafikan selalu diartikan berbuah tindakan yang memalukan, maka hendaknya orang bisa bermunafik untuk lahirnya tindakan yang diidealkan.

Maka, jika setiap profesi yang kodratnya mengandung cita-cita luhur ujung-ujungnya hanya melahirkan tabiat amburadul, maka mulai sekarang bercita-citalah yang sebaliknya. Bermimpilah untuk menjadi koruptor, maling atau perampok! Sebab begitu nantinya profesi itu dijalani dengan profesional, anda akan segera bermunafik mengkhianati profesi itu dan ujung-ujungnya malah jadi polisi, jaksa, hakim atau menjadi anggota Komisi Yudisial.

Mas Celathu meyakini, tesis ini pasti akan diminati banyak orang. Apalagi sudah banyak kisah sukses yang berangkat dari wacana ini. Bukankah sekarang ini, tak sedikit para peneguh iman berpredikat juru dakwah, begitu bangga dengan masa lalunya yang kelam. Merampok dulu, berdakwah kemudian. Jadi koruptor sekarang, memberantas korupsi belakangan.

Dan seumpama anda benar-benar mempercayai tesis ini, jangan ragu-ragu: segeralah memeriksakan kesehatan jiwa anda.***

—————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 30 September 2007 NASIONAL

PENSIUNAN AKTOR
Butet Kartaredjasa

Mental pegawai (negeri) yang tidak kreatif dan sempit medan pergaulannya, sering gemetaran menghadapi masa pensiun. Mereka seperti dihujani problem psikis. Jadi nglokro, kehilangan semangat. Merasa diri sebagai mahluk terbuang. Itulah akibatnya jika selama mengabdi jadi pegawai cuma rajin main catur, meramal togel dan ngrasani kesuksesan teman. Begitu terjun ke ranah publik dan musti bertarung di medan kehidupan yang lebih ganas, nyalinya langsung mengkeret. Tidak siap berkompetisi, lantaran semasa aktif berdinas kelewat sering diladeni dan rajin membuang tanggungjawab kepada bawahannya.

Karena itulah, untuk memanipulasi problem kroco jiwa itu, biasanya segera dihinggapi penyakit laten pensiunan: post power syndrome. Selalu mengusung kejayaan masa lalu, ngobral nasehat kemana-mana, dan – ini yang paling menjengkelkan – merasa diri paling benar. Meskipun cara berpikirnya sudah kadaluwarsa, tak cocok dengan semangat kontemporer, mahluk beginian bisanya cuma ngeyel tak mau kalah. Kalau sudah berdebat, otot lehernya akan menggelembung seperti selang, dan terkadang diimbuhi pelototan mata yang seperti mau melompat dari kelopaknya.

“Kalian ini cuma cah wingi sore, kok mbagusi. Aku ini kan sudah kenyang pengalaman. Dulu, sewaktu aku mimpin departemen, masalah seperti itu bisa rampung dalam sekejap. Sudahlah, pokoknya manut nasehatku, semua pasti beres.” Modar. Sekarang malah main “pokoknya”.

Jawaban model begituan-lah yang selalu didengar Mas Celathu, setiap tukar pikiran dengan priyayi-priyayi sepuh. Selalu ge-er dan memonopoli kebenaran. Percakapan jadi buntu, dan memaksa Mas Celathu jadi penonton monolog. Di benak priyayi sepuh itu, seakan-akan generasi baru tak bakal mampu memunculkan pemikiran segar.

Mas Celathu tak ingin mendebat. Itu hanya akan buang energi. Ia hanya melongo saja, menikmati bagaimana penyakit kejiwaan pensiunan itu menjelma melalui tutur kata, gesture, gaya bicara, dan akting yang meyakinkan. Tapi, bukan Mas Celathu jika tak bisa mengubah musibah jadi berkah. Mas Celathu yang memang tukang tonil alias aktor itu, malah memperoleh riset gratisan. Bisa mempelajari karakter bangkotan uzur, yang siapa tahu kelak bisa dijadikan model saat berakting di atas panggung.

Menghadapi kemungkinan pensiun di hari tua kelak, Mas Celathu sudah mengatur strategi. Yang pasti ia tak ingin terjebak pada problem kejiwaan yang mungkin hanya jadi bahan tertawaan anak-anak muda itu. Ia sudah menggagas membuat sejumlah “perahu karet” demi lahirnya kesibukan produktif. Prinsipnya, jangan sampai nganggur. Harus tetap gaul. Dia memang pantang kesepian. Syukur-syukur, sambil gaul bisa bikin dapur tambah mengepul. Pernah terlintas keinginan, nantinya bercocoktanam dan membibit tanaman hias. Apalagi sekarang ini banyak tanduran dengan rekayasa genetika bernilai ekonomis sangat tinggi. Tapi, ia gugurkan sendiri keinginan itu, karena Mas Celathu menyadari tangannya terlalu panas untuk nguthak-atik bibit dan pupuk. Sering gagalnya, katimbang berhasil.

Pernah juga terpikir kelak bikin rumah makan bernuansa hiburan. Tempat orang mengendorkan syaraf dan menemukan kesegaran baru. Tentu bisa untuk mengekspresikan kekayaan kuliner kita, sekaligus ajang pergaulan. Pikirnya, dari situ Mas Celathu bisa mengembangkan relasi, tambah kenalan baru, ngobrol ngalor ngidul nge-gosip politik atau isu apa saja.

“Saya nggak setuju kalau nanti bikin tempat hiburan. Salah-salah nanti bisa kepleset jadi panti pijat,” sergah Mbakyu Celathu yang telah berpredikat hajjah. Lamunan Mas Celathu langsung ambyar.

“Ini kan cuma ikhtiar ta Bu. Baru rencana. Dan boleh dibatalkan,” celathu Mas Celathu dengan wajah sok innocent. “Tapi, ya apa ta salahnya panti pijat? Kok jadi sewot.”

Mbayu Celathu langsung meradang. Sepasang suami isteri itu langsung nyemplung dalam perdebatan wacana panti pijat. Dengan gayanya yang sok intelektualistik, Mas Celathu langsung nyerocos mengkaitkan fenomena panti pijat dengan daya juang wong cilik melawan penindasan kapitalisme global dan kemiskinan yang terstruktur. Bahkan ia mengkait-kaitannya dengan implikasi politik lokal, industri wisata budaya, dan kemandirian ekonomi mikro. Tapi Mbakyu Celathu cuma mencibir dan menjawab pendek,”Prek!”

Di benak Bu Hajjah hanya ada fantasi sederhana, yaitu sepasang lelaki-perempuan dalam sebuah ruangan, yang satu memijat yang lain, dan pastilah hanya sepotong bagian tubuh yang bakal dipijat-pijat. Imajinasi sempit ini memang tidak bisa dipersalahkan. Baginya, pijat memijat itu tak ada urusannya dengan politik, kebudayaan, ekonomi, kecuali bersentuhan dengan tubuh. Maka, katimbang pertengkaran tambah mendidih, Mas Celathu pilih mengakhiri percakapan seru itu dengan ber-celathu,”Ya wis aku nggak mau pensiun. Tetap main tonil sampai modar.”

“Naaahhh, gitu kan lebih baik. Kalau tidak bisa lagi main tonil di atas panggung, kan tetap bisa manggung di rumah,” Mbakyu Celathu bicara lembut, emosinya mengendor. Dengan lagak motivator klas kakap, diterangkannya bahwa pensiunan aktor itu paling cocok jumeneng dukun. Menjadi konsultan spiritual, atau setidaknya meng-klaim dirinya sebagai “orang pintar”.

Mbakyu Celathu mengusulkan, salah satu bilik di rumahnya, kelak ditata dengan set dekor yang menghadirkan atmosfer sakral dan suasana magis. Aroma dupa ditebarkan. Di sana sini tinggal dipasang sejumlah properti yang mengisyaratkan kedigdayaan seperti keris, tombak, cermin dengan bingkai berukir, cemeti, dan sebangsanya. Dibayangkannya, Mas Celathu mengenakan ikat kepala kain poleng dengan busana ganjil yang dihias berbagai asesoris di leher dan pergelangan tangannya. Tentulah Mas Celathu akan memamerkan jurus-jurus akting yang paling elementer, dengan cara bertutur yang diangker-angkerkan. Sok berwibawa. Sok memancarkan aura.

“Wuuuah nanti pasti akan banyak costumer yang datang. Siapa tahu jendral dari Myanmar yang selalu minta saran dukun itu, juga akan sowan ke sini. Apalagi, bukankah para petinggi negeri kita, masih doyan nasehat dari “orang pintar”. Jelas Pak, ini peluang yang musti dikembangkan.”

Mas Celathu cuma bengong mendengar ide bininya yang absurd itu. Tidak terbayangkan jika nantinya ia harus menyalahgunakan keterampilan bermain tonil, meski nyatanya memang tak sedikit aktor wurung, gagal menjadi aktor, yang terjun ke kawasan klenik yang secara fulus memang menggiurkan. Terlebih, di zaman “politik citra” sekarang ini, memang banyak manusia yang ingin menggosok citranya melalui berbagai siasat. Yang penting bisa mengukuhkan citra kehadiran yang luhur luar dalam, termasuk musti sowan ke penjaga gunung berapi hanya lantaran ingin njago jadi presiden.

“Sudahlah Mas. Pensiunnya dipercepat saja, dan segera jumeneng dukun. Siapa tahu nanti Pak Sutiyoso mengetuk rumah kita,” sergah Mbakyu Celathu sambil mencubiti dan menggoyang-goyang pipi Mas Celathu yang tetap saja menerawang kosong.***

———————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 7 Oktober 2007 NASIONAL

Pantang Gelap
Butet Kartaredjasa

Mas Celathu yang suka terang-terangan, tentu saja sangat membenci yang serba gelap. Sebab di dalam gelap dia tak bisa melihat apa pun. Kita hanya bisa meraba-raba udara. Begitu pun jika mendengar omongan yang gelap alias kasak-kusuk yang tidak akan pernah teruji kebenarannya, dan sulit dikonfirmasi. Karena itulah, pers yang sehat selalu mengungkap fakta yang benderang. Peristiwa dan faktanya gamblang, dengan nara sumber yang jelas identitasnya. Bukan hanya berdasarkan asumsi alias jarene. Nara sumbernya juga bukan hanya “seseorang” atau “siapa itu”. Itu sebabnya pemberitaan yang sekadar “konon” – pantasnya disebut selebaran gelap. Jurnalisme begituan hanya akan menjelma jadi sumber fitnah. Mas Celathu juga pantang mempercayai omongan gelap.

Setali tiga uang dengan aneka tindakan serba gelap seperti korupsi dan ancaman teror. Pastilah hanya akan berujung pada kejahatan, kecurangan dan muslihat akal-akalan. Memang, yang serba gelap itu selalu bernuansa kepahitan. Serba nggak enak. Teman-teman Mas Celathu yang usahawan profesional selalu bilang,”Auuuh,…gelap deh” — tatkala rencana bisnisnya ambyar lantaran kalah tender.

Para sarjana anyar yang gagal menembus lowongan kerja dan siap-siap berpredikat pengangguran, juga ber-celathu,”Wualah-walah, presidennya sudah ganti enam kali, cari kerja kok seperti nyari jarum di dalam kegelapan”. Bahkan, RA Kartini pun mengistilahkan zaman pahit dengan melahirkan jargon yang sangat terkenal, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sedangkan para penegak hukum cukup mengimbuh awalan “pe” dan akhiran “an” untuk mengistilahkan perilaku kotor yang layak bui: penggelapan.

Dan orang pun seperti sepakat untuk menggunakan kata “gelap” sebagai perumpamaan untuk berbagai kegiatan yang berkonotasi buruk. Untuk perkecualian hanya diberlakukan kepada PLN. Meskipun pemonopoli bisnis listrik ini terang-terangan melakukan penggelapan rumah-rumah, yaitu bikin listrik byar-pet dan berakhir dengan gelap gulita, istilahnya terasa lebih santun:”PLN sedang menyelenggarakan giliran pemadaman listrik”. Begitu pula andaikan ada oknum polisi menggelapkan barang bukti kejahatan, yang terdengar sebagai kilah adalah,”Petugas sedang ‘meminjam’ barang bukti untuk mengembangkan penyelidikan. He, he, he…”meminjam” kok sampai barangnya hilang lagi!

Rupanya masih ada diskriminasi dalam penggunaan kata “gelap”. Karena itulah, meskipun Mas Celathu kerap berceloteh anti-gelap, diam-diam dia juga gemar menyelenggarakan “penggelapan”. Misalnya, pas libido dirinya membumbung, bisa dipastikan ia akan cepat-cepat menjadi “duta energi”: mematikan lampu di kamarnya. Pet. Lalu gelap gulita. “Inilah kegelapan yang selalu kunantikan. Di dalam gelap, ketemukan cinta,” batin Mas Celathu sok berpuisi. Adapun penggelapan lain yang masih tetap konsisten dilakukannya, adalah memakai kacamata gelap di bawah teriknya matahari dan menggunakan baju gombor berwarna gelap. “Biar tidak gampang kotor. Tiga hari dipakai, debunya nggak nongol,” sergah Mas Celathu tatkala temannya yang masih berstatus pengangguran mengingatkan inkonsistensi-nya.

“Jadi gimana nih, kita masih boleh main gelap-gelapan nggak?”

“Pokoknya, kalau gelapnya bikin enak, kuijinkan. Malah kuharuskan,” celathu Mas Celathu mau memangnya sendiri. Baginya, gelap atau terang itu tergantung situasinya. Tergantung kepentingannya. Persis saat harus melakukan penilaian baik dan buruknya seseorang. Seseorang menjadi baik atau buruk, tergantung bagaimana orang itu akan membawa kemanfaatan atau tidak. Kalau kepentingan terpenuhi, yang semula loyang akan terlihat sebagai emas. Penilaiannya pasti hanya berisi puja puji melulu. Dan seumpama dirinya tersingkir dan lantaran suatu sebab ia tidak akan diuntungkan lagi, maka yang tersisa hanyalah kutukan dan makian. Rupanya, cara berpikir Mas Celathu sudah terkontaminasi cara pikir politisi yang seringnya hanya berdasarkan kepentingan-kepentingan sesaat.

Mas Celathu lalu ngoceh ngalor ngidul soal filsafat gelap, seakan-akan dirinya seorang filsuf kampiun. Padahal semua yang diomongkan cuma kulakan dari buku-buku atau nguping orang lain.

“Nah, berhubung kamu masih jadi penganggur, kusarankan kamu jangan bersembunyi di dalam kegelapan,” ujarnya berlagak begawan ngudhar sabda.

“Kan saya malu jadi orang lontang-lantung.”

We lha, bocah iki dikandhani kok ngeyel. Di dalam kegelapan, kamu tidak akan ketemu siapa-siapa. Bahkan bayanganmu yang seharusnya selalu setia mengikutimu pun, tidak akan kelihatan. Jadi, supaya kamu berhenti jadi pengangguran, pergilah ke tempat terang,” ujar Mas Celathu dengan gemas.

“Maksudnya?”

“Ya harus gaul. Semakin kamu ndekem di kandang yang peteng, semakin cepat kamu mati ngenes.”

Bukannya tak mau patuh. Kawannya yang pengangguran itu nyatanya sudah berkeliaran di tempat terang, tapi rupanya nasib baik belum berpihak kepadanya. Wejangan untuk minggat dari kegelapan seperti dinasehatkan Mas Celathu, mungkin ada benarnya. Dia pun sudah mencobanya. Tapi luasnya pergaulan tidak akan berarti apa-apa, jika pabrik-pabrik pada njingkrung dan perusahaan-perusahaan pada kukut. Lowongan kerja kosong melompong.

“Jadi saya musti gimana lagi? Kaki sudah sengkleh, muter-muter keluyuran di tempat terang, tapi nasib ya tetep gini aja?”

Dikejar pertanyaan begitu, Mas Celathu yang barusan jadi begawan langsung mengkeret kehabisan nasehat. Lalu seenaknya saja dia melempar tanggungjawab,”Ya sana, tanya aja sama Pak SBY dan Pak JK. Kamu kan belum lupa. Dulu mereka kan janji “Bersama Kita Bisa”. Sana, tagih aja janjinya ke sana.”

Kalau akhirnya cuma dikasih jawaban begitu, semestinya sang pengganggur itu tak perlu sowan Mas Celathu. Sejak kemarin-kemarin dia pun sudah tahu, bahwa bersama para pemimpin, kita memang selalu bisa. Bisa menganggur, maksudnya. Amien.***

—————————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 14 Oktober 2007 NASIONAL

Raja Godhong
Butet Kartaredjasa

Lantaran piawai mengoceh dan bahkan kerap memetik rejeki karena keterampilannya mengolah suara, Mas Celathu suatu kali pernah mendapat gelar “Raja Ngoceh”. Yang memberi gelar adalah temannya, seorang pejuang sosial yang kebetulan rohaniawan. Ketika kemudian teman-teman lainnya pada ikutan mengukuhkan gelar itu, dengan selalu menyapa dan menyebutnya sebagai Raja Ngoceh, Mas Celathu jadi risih. Dia selalu berkilah dengan bercanda,”Ah, itu kan “fitnah” yang kelewatan. Aku lebih suka jadi “raja singa”. Bisa punya anak buah bebek, beo, kancil, bunglon dan sebangsanya. Apalagi para bunglon kan gampang dapat kursi empuk. Berarti aku akan punya anak buah bupati, gubernur, ketua partai, dirjen, komisaris, ha ha ha.”

Senyatanya, dia memang tak ingin larut dalam tahayul predikat (yang cenderung) semu itu. Bagi Mas Celathu, predikat begituan tak lebih sebagai geguyonan. Paling banter itu hanya sekadar penghargaan spontan karena rasa keterpincutan. Itu pun cuma sesaat. Bukan sesuatu yang pantas diusung sebagai kebanggaan dan menyebabkan kepala menggelembung sebagai ge-er permanen. Jika salah penghayatan, Mas Celathu pasti cepat kenthir karena kemana-mana akan merasa dirinya sebagai raja yang selalu menagih pelayanan.

Perumpamaan dengan me-raja-kan atau me-ratu-kan seseorang, sebenarnya bermula ketika orang lain kesengsem oleh tingkah perilaku yang menjadi ciri wancinya. Seseorang yang setiap kehadirannya hanya mengumbar kesinisan, mungkin akan dijuluki “Raja Sinis”. Ada lagi yang punya sebutan “Raja Tega” karena selalu bikin kebijakan yang menyengsarakan banyak orang, atau minimal super tega menyantap yang bukan haknya. Begitu pun tatkala ada perempuan tertangkap dengan ribuan butir ekstasi, segera ia dinaikkan derajatnya sebagai “Ratu Ekstasi”. Maka, berbagai raja dan ratu pun bertebaran dalam khasanah pergaulan kita. Ada Raja dan Ratu Ndangdut, Raja Gosip, Ratu Mesum, Raja Poligami, Raja Koran, Ratu Goyang, Raja Judi, Raja Kayu, dan sebangsanya.

Namun, tak semua orang punya sikap serupa Mas Celathu. Itulah keindahan dunia. Tak ada pikiran dan selera yang seragam. Nyatanya, memang tak sedikit yang justru membutuhan gelar atau julukan Raja dan Ratu itu. Bahkan kalau perlu, membuat rekayasa supaya gelar begituan bisa disandangnya. Dengan julukan yang mengisyaratkan sebuah pencapaian puncak tertinggi itu, mungkin orang akan dengan mudah melipatgandakan rejeki. Jika hari ini seseorang dinobatkan sebagai “Raja Tender”, bisa dipastikan orang itu akan segera diuber para pemburu proyek, — karena pastilah si raja ini jagoan memenangkan tender. Maksudnya, dia sudah hafal lika liku permainan dan siasat cerdik memenanginya, dan – terutama – bagaimana ia musti membagi fulus secara aman dan damai ke para pemilik proyek.

Tapi, berhubung sekarang yang sedang mumbul jadi pergunjingan adalah jual beli tanaman hias, maka tak sedikit orang yang ngebet dapat predikat “Raja Godhong”. Dengan gelar ini, seseorang bisa jadi sumber acuan untuk mengatur siasat bisnis godhong. Apalagi faktanya, di tengah keterbatasan informasi soal rekayasa genetika tetumbuhan hias, tersedia peluang longgar untuk main akal-akalan. Ruang bisnis tanaman hias semacam “gelombang cinta” itu, ibarat padang liar dimana siapa pun bisa turut berlaga di dalamnya. Tak peduli memang ahli botani atau sekadar makelar yang memanfaatkan kesempatan. Dari seniman perupa, juragan barang antik, dokter, wartawan, polisi, tentara, maling, pegawai negeri, hakim, tukang becak, petani, dan bahkan ciblek Simpang Lima, — semuanya bisa tumplek bleg menggunjingkan anthurium, hookery, jemmani purba, sweet merapi lemon, madame suroyo dan pink lady.

Selembar godhong telah berhasil mengubah perilaku, dan melahirkan tradisi baru. Juga salah kaprah baru, termasuk keinginan berbangga sebagai “Raja Godhong” itu. Orang sepertinya tak peduli lagi bahwa julukan “Raja Godhong” mulanya adalah predikat untuk melecehkan sebuah kekuasaan yang semu, sebagaimana orang mengistilah keberanian semu dengan menyebut “Macan Kertas”. “Raja Godhong” bisa berarti kartu As dengan gambar daun waru, tapi sekaligus menjadi amsal tentang kekuasaan yang ringkih. Daun yang berukuran gede dan semestinya menjadi pelindung, ternyata sangat ringkih. Ditiup angin saja bisa melayang, dan hilanglah fungsinya sebagai sang pelindung. Itulah makna raja godhong.

Dunia ini memang aneh. Sementara banyak orang bernafsu menjadi raja semu alias raja imitasi, eh malah ada raja beneran ingin turun derajatnya dengan – misalnya – menjadi presiden. Memang ironis. Raja sebagai pemimpin budaya yang mempunyai derajat kedudukan lebih agung dibanding jabatan politik, ternyata masih silau dengan kursi yang cuma punya usia lima tahun. Itu pun kursinya penuh ketonggeng, bangsat, tikus, lipan dan sebangsanya.

Namun, mau turun derajatnya atau kagak, mau raja salah kaprah atau raja beneran, — bagi mereka yang gandrung dan telah berhasil memanen keuntungan dari daun-daun ajaib itu, cuma ada jawaban pendek: Preeek dengan salah kaprah itu! “Biar salah, tapi julukan “Raja Godhong” itu tetap penting,” begitu kilah mantan preman berbadan kekar yang kesana kemari menjinjing pot mungil berisi tetumbuhan imut warna merah jambu.

Terkadang Mas Celathu geli melihat fenomena ini. Namun kegelian itu suatu kali jadi tragedi, ketika dari dunia godhong suatu kali terbetik berita, ada “kambing memangsa sapi”. Lho kok bisa? Kisahnya, ada orang rela menjual sapi hanya untuk membeli satu pot “gelombang cinta” segede tampah. Dan setiba di rumah, disembunyikanlah “gelombang cinta” di halaman belakang rumahnya agar tak termonitor bininya. Tapi ternyata, hijaunya daun mahal itu justru merangsang liur sang kambing. Langsung dikunyah, dan “seekor sapi” diam-diam telah berpindah ke perut kambing.

Hari ini atau besok, mungkin kita masih akan mendengar ironi-ironi dari dunia godhong. Biarpun pahit, terkadang juga jenaka. Tapi bisa jadi, kita pun akan mendengar bagaimana selembar godhong berhasil membalik nasib dan kehidupan banyak orang. Jadi, selamat datang “Raja Godhong”.***

——————————————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 28 Oktober 2007 NASIONAL

Aliran Tidak Sesat
Butet kartaredjasa

Jika kuasa yang bicara, maka orang gampang main paksa. Pemilik kuasa dipastikan pengidap ge-er syndrome, menyangka dirinya pemilik tunggal kebenaran. Semua harus tunduk kepada kemauan si pemonopoli kebenaran itu. Yang tidak tunduk mengikuti maunya, ngeyel melulu, bisa dikategorikan musuh. Dan karena statusnya musuh, maka ia harus ditaklukkan. Kalau tetap bandel, maka satu-satunya cara ya dipaksa. Dipaksa mengakui sebuah “kebenaran”, meski bagi para ndableg-er yang menempuh jalannya sendiri itu, “kebenaran” yang dimaksud belum tentu kebenaran yang sejati.

Menyadari bahwa “kebenaran” itu bersifat relatif, maka Mas Celathu yang memiliki kuasa mutlak sebagai orang tua, tidak ingin memaksakan kehendak di wilayah kekuasaannya yang bernama rumah tangga itu. Ia hanya ingin belajar menjadi orang tua yang bijaksana. Yang bisa menghargai perbedaan dan menerima aneka kecenderungan anak-anaknya. Termasuk menerima kemungkinan seandainya anak-anaknya punya kecenderungan yang bertolak belakang dengan dirinya.

Mas Celathu sudah siap lahir batin untuk itu. Yang bisa dan berani dilakukan hanya memberi nasehat. Memberikan sejumlah pilihan. Itu pun baru disampaikan jika memang dibutuhkan. Ia percaya setiap anak punya akal. Dia lebih suka membiarkan inisiatif bermunculan lebih dulu. Bisa begitu, lantaran sebagai orang tua ia hanya menang satu langkah: lahir duluan. Dan karena itulah ia merasa lebih punya pengalaman. Bahwa terkadang nasehatnya pun bakal di-cuek-in, Mas Celathu pun sudah mengikhlaskan sejak awal.

Terus terang, Mas Celathu punya trauma terhadap kebijaksanaan paksa-memaksa sebagaimana dulu pernah sukses dipamerkan Orde Baru. Siapa yang tak ikut dalam barisan “kebenaran”nya, pasti digebug atau diasingkan ke sebuah pulau terpencil. Atau dikarungin dan dicemplungkan ke laut. Minimal di-subversi-kan dan diberi label “tidak bersih diri” atawa “tidak bersih lingkungan”.

Begitulah. Mas Celathu yakin, setiap zaman akan melahirkan generasi yang berbeda dalam segala hal: beda selera, beda cita rasa, beda metode, beda siasat, beda dinamika, beda orientasi, beda visi, bahkan termasuk kemungkinan beda keyakinannya. Karena itulah, suatu kali Mas Celathu pernah berfatwa kepada anak bininya,”Ukuran yang kita pakai dalam bekerjasama mengisi indahnya rumah tangga kita, adalah keselarasan. Kita harus anti anarki. Sama sekali pantang merusak karunia yang ada. Mungkin ini namanya harmoni. Umpamakan kelak kalian tidak sejalan lagi, sebaiknya kita memang saling menghormati dan tidak saling mengganggu. Karena saya tahu, banyak jalan untuk menuju kebahagiaanmu.”

“Kalau ternyata impian saya berbeda, dan karena itu saya harus tidak sejalan dengan babe, gimana?” tanya anak sulungnya.

“Ya silakan aja. Kan udah kubilang, setiap pilihan dan jalan yang kau yakini, pasti ada risikonya. Ada hambatan dan sekaligus ada peluangnya. Asalkan kau tidak mempersalahkan orang lain dan tidak menghancurkan dirimu sendiri, kamu sudah berhasil membangun harmoni,” jawab Mas Celathu sok bijak.

“Bener nih? Kalau begitu boleh dong saya mencicipi narkoba sebagai jalan menuju kebahagiaanku?”

Mas Celathu agak terperangah. Edan juga anak ini. Mungkin ia sedang iseng menguji kearifan ayahnya. Tapi bukan Mas Celathu jika tak bisa menyergah. Lalu ia ber-celathu dengan tangkas,”Itu tergolong anarki, karena dengan narkoba kamu merusak sebuah karunia. Kamu dilahirkan dengan badan yang utuh dan sehat, mosok kamu ingin membuat dirimu cacat permanen, syarafmu kacau dan fisikmu amburadul?”

Memang, sekarang bukan zamannya lagi main mutlak-mutlakan. Apa pun bisa ditawar. Daya kritis masyarakat, juga anak, harus memperoleh ruang. Meski terkadang melelahkan, bahkan menjengkelkan, orang tak boleh mematikan daya kritis yang sesungguhnya modal penting bagi terbangunnya kehidupan yang lebih baik di hari depan nanti. Orang tua di hare gene tentu saja tidak bisa mempraktekkan kekerasan ala orang tua tempo doeloe. Termasuk tak bisa meminta anak meng-copy perjalanan hidupnya begitu saja. Lha wong dalam perjalanan yang bersamaan pun, perjalanan sebuah rombongan misalnya, terkadang ada yang sengaja berbelok, meski nantinya akan tiba di tujuan yang sama.

Jika diibaratkan sungai, perjalanan hidup setiap orang itu tak ubahnya aliran air dari hulu ke muara. Di hulu dilahirkan, di muara dikuburkan. Perjalanan air, juga perjalanan orang tua seperti Mas Celathu, bisa dipastikan penuh lika-liku. Kadang bergelombang, mengucur deras menjadi grojogan, melata di tanah berbatu, mengalun lambat di kedung yang tenang atau menciprat di sebuah pusaran. Bahkan, bisa jadi air itu ada yang tersesat memasuki kanal-kanal alamiah di sepanjang tepian sungai. Biarpun Tapi ujung-ujungnya air itu tetap akan menuju muara.

Menyadari perjalanan air itu sebagai keniscayaan dari sebuah perjalanan kehidupan menuju muara yang bernama kebaikan dan kebahagiaan, maka andaikan misalnya anak-anaknya khilaf atau sengaja menikung menembus jalan lain, oleh Mas Celathu pastilah akan dipahami sebagai dinamika sebuah perjalanan. Apa salahnya begitu, toh nanti akan bertemu juga di muara. Mas Celathu tak mengutuk bahwa anaknya masuk ke aliran yang menyesatkan. Apalagi menyeret, memukuli, dan memaksa si anak untuk bersama-sama menapak ke jalan yang sama.

Bagi Mas Celathu, semua memang serba relatif. Semua boleh dilakukan sejauh tidak mengkhianati keselarasan. Tetap mengutamakan harmoni. Dan tidak anarkis. Tapi gara-gara itu, Mas Celathu kena batunya. Setelah beberapa hari pergi keluar kota, tatkala ia kembali tiba di rumahnya, ia disambut dengan kejadian yang benar-benar mengejutkan. Apa pun yang selama ini dibenci dan tidak disukai Mas celathu, sengaja diekspresikan secara kolosal oleh anak biniya. Rupanya mereka sedang kompak menguji kearifan sang kepala keluarga.

Misalnya, Jeng Genit yang masih remaja imut sengaja mengecat kamarnya dengan warna pink dan sengaja mondar-mandir di ruang tamu pakai sepatu jinjit ala tante-tante. Abang sulungnya menghias rumah dengan dekorasi norak ala sinetron dengan bola lampu yang cahayanya saling berkejaran. Dan Mbak Tomboy memainkan gedombrang musik ngak-ngik-ngok yang memekakkan telinga. Sementara Mbakyu Celathu berdandan menor dengan busana seksi nan ganjil ala penyanyi pemula yang tidak pe-de dengan keindahan suaranya. Semua yang super norak, yang selama ini jadi pantangannya, sekarang justru terhidang di depan matanya.

Mas Celathu terpana. Awalnya, secara naluriah ia ingin naik p;itam. Tapi ia segera tersenyum bahagia, karena ternyata ia berhasil mengendalikan diri untuk tidak mengutuk anak-bininya sebagai penganut aliran sesat. Dia yakin, semua itu hanyalah sebuah canda, ikhtiar membangun kebahagiaan dengan cara yang berbeda.***

——————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 4 November 2007 NASIONAL

Pahlawan Tongseng
Butet Kartaredjasa

Setelah 1998 terjadi perubahan politik dan masyarakat sipil kembali menjadi nahkoda yang menentukan arah perjalanan perahu bernama Indonesia, mestinya kekuatan sipil lebih berbicara. Lebih kreatif mengambil peran dalam perubahan, termasuk memaknai hal-hal yang dimasa lalu tabu diutak-utik. Tapi, sampai hari ini kok belum tampak usaha serius menfasir kembali arti pahlawan dan kepahlawan ya?

Sekarang sih rada lumayanlah. Masyarakat sedikit punya nyali. Biarpun oleh guru bangsa Gus Dur masih digolongkan berdemokrasi setingkat Taman Kanak Kanak, kita boleh bersyukur karena keberanian khalayak mengkritisi kebijakan publik seperti disiram pupuk organik. Tumbuh subur. Kini kerap disaksikan bagaimana para pamong-resmi kuwalahan menghadapi gugatan dan kritik khalayak. Betapa pun terkadang masih ada yang sekedar waton sulaya, waton ngamuk lantaran kepentingannya terganggu. Haruslah semua itu diartikan sebagai tabungan untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan. Lebih baik berkembang dengan sedikit belepotan, katimbang sama sekali macet menjadi bonsai. Tambah usia, tapi tetap cebol dalam berdemokrasi.

Nah, berhubung kemarin Hari Pahlawan, Mas Celathu yang selalu ge-er sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil, rada bingung mengartikan “pahlawan”. “Rupanya pahlawan itu harus tega membunuh sesamanya ya?” gugatnya dalam hati. Soalnya, selama ini yang diketahui dari dongeng-dongeng masa lalu, yang namanya pahlawan itu adalah hanya mereka yang berbaring di pusara Taman Makam Pahlawan. Di luar itu bukan “pahlawan”. Artinya, hanya mereka yang pernah angkat senjata dan mungkin pernah secara heroik membunuh lawan, yang bisa dipredikati pahlawan. Setiap acara pitulasan dan atau peringatan Peristiwa 10 November di Surabaya, pastilah digambarkan dar-der-dor para pejuang fisik yang bertempur di medan laga.

Ada letusan senjata, ada api menyala, ada sehelai merah putih melingkar di jidat, ada pidato berkobar-kobar. Pendeknya segala hal yang beraroma peperangan akan meyebabkan lahirnya seorang pahlawan. Dan itu, tentu saja, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mengandalkan kekuatan fisik. Maka, siapa lagi kalau bukan tentara dan preman yang berhak menyandang gelar itu? Soalnya sampai hari ini hanya merekalah yang diijinkan bersemayam di Taman Makam Pahlawan, atau diluhurkan menjadi nama-nama jalan. Sementara mereka yang berjuang dengan kecerdasan otak atau dengan ketulusan pengabdian mendandani dan menyelamatkan kehidupan, belum bisa dinobatkan sebagai pahlawan.

Karena itulah, keluarga Mas Celathu rada pusing saat harus memperingati Hari Pahlawan. Mengibarkan bendera putih okelah. Tapi kalau harus membenarkan adanya pembunuhan terhadap manusia lain sebagai keluhuran sebuah tindakan yang musti dipahlawankan, ya nanti dulu. Apakah itu bisa diterima akal sehat, kendati pun pembunuhan itu mengatasnamakan bela negara? Bukankah ajaran agama apa pun melarang keras terjadinya pembinasaan manusia?

Maka pagi itu, keluarga Celathu terpaksa bikin rapat dadakan untuk menentukan dengan cara apa mereka memperingati Hari Pahlawan. Mbakyu Celathu mengusulkan bikin tumpeng. Ini cara tradisional untuk menyatakan syukur.

“Saya setuju bikin tumpeng, asalkan lauk pendampingnya tongseng kambing,” kata Mas Celathu sambil menghembuskan asap rokok kesekian ratus kalinya.

“Ya nggak cocok. Paling klop kalau dengan sambal goreng dan sayur gudangan,” kilah isterinya, yang kemudian ditimpali Jeng Genit yang sok peduli kesehatan ayahnya,”Bapak ki ngeyel, lha wong kolesterolnya dhuwur kok yang maunya tongseng aja.”

“Wah kalian nggak tahu ya? Tongseng juga ada hubungannya dengan kepahlawanan. Tongseng dan sate kambing kan mitosnya bisa meningkatkan vitalitas kejantanan. Jadi ya cocok untuk para pahlawan yang biasanya memang macho,” Mas Celathu berargumen sekenanya.

“Huusss…ngawur. Emang pahlawan cuma pria. Sorry ya, perempuan juga bisa jadi pahlawan,” Mbakyu Celathu langsung sewot, menolak keras kaumnya didiskriminasi. Ia langsung nyerocos,”Begitulah lelaki, selalu ingin memonopoli. Mau menangnya sendiri. Seakan-akan yang punya peran dan mampu berjuang hanya kaumnya.”

Belum lagi perdebatan usai, Dik Tomboy, anak perempuan Mas Celathu yang selalu pakai jeans metel-metel memamerkan pipi bokongnya, unjuk usul. Dia pengin menghormati pahlawan dengan genjrang-genjreng musik rock. Alasannya, musik itu sangat dinamis dan membakar gairah. Biar pahlawan yang sudah bobok di kuburan tahu kalau kedinamisan para pahlawan masih menyertai anak-anak muda.

Begitulah, keluarga Celathu pada suka-suka hati melakukan penafsiran. Rupanya sekarang ini memang sangat longgar ruang tafsir itu. Sampai-sampai untuk memperingati pahlawan saja, mereka musti bertengkar dulu. Padahal, semestinya ada cara gampang untuk mengenang. Berdoa. Gampang, gratis lagi. Lagi pula, kata ahli agama, Tuhan sangat suka dimintai apapun lewat doa. Tapi, persoalannya memang bukan bagaimana cara memperingatinya, melainkan bagaimana kepahlawan harus diartikan. Apakah manusianya, atau nilai-nilai yang diperjuangkan manusia? Jika kita bersepakat bahwa nilai-nilai dan semangat kepahlawan lebih penting, berarti kepahlawan jangan hanya dimonopoli tentara, preman atau mereka yang cuma mengandalkan kekuatan badaniah.

Jika pemaknaan begituan tidak segera dikoreksi, Mas Celathu khawatir nantinya orang bisa terus-terusan salah kaprah mengartikan pahlawan. Mereka yang bermimpi jadi pahlawan akan selalu merindukan datangnya perang, padahal menyelesaikan persoalan dengan menyelenggarakan peperangan sudah jadi mode yang kaduluwarsa. Sudah usang. Nggak jamannya lagi. Itu hanya lahir dari kumpulan mahluk yang menjunjung budaya kekerasan. Mana ada sih masyarakat sipil yang memuliakan kekerasan kecuali kecu, gali, preman, bromocorah, gentho dan sebangsanya?

Mungkin karena itulah, tempo hari beberapa anak muda Bandung masih merasa perlu mem-baiat warga genk-nya dengan cara gebuk-gebukan. Kekerasan dijadikan cara berbahasa dan keharusan yang musti dilewati. Sekolah tinggi pamong praja yang mendidik calon camat juga setali tiga uang. Mendidik dengan tendangan dan jotosan. Kita seakan-akan lupa bahwa masyarakat sipil sudah berhasil mencatatkan prestasinya, yaitu menciptakan perdamaian di Aceh. Dengan kelembutan sebuah persoalan gawat bisa terselesaikan dengan apik. Justru melalui dialog, melalui ketulusan yang bersumber dari keikhlasan hati nurani, Aceh yang sebelumnya hanya diwarnai dar-der-dor berhasil menyelamatkan diri tetap sebagai bagian dari NKRI.

Jika nilai kepahlawanan boleh dimaknai sebagai ikhtiar memuliakan kehidupan dengan kesediaan diri menjadi tumbalnya, maka siapa saja kelak boleh mendapatkan kapling di pusaranya para pahlawan. Bukan hanya para pembunuh yang terampil menggunakan bedil.

Guru, seniman, pengusaha, tukang becak, tukang pijat, wakil rakyat, bakul jamu, insinyur, tukang ojek, pelawak, dokter, penyair, dosen, wartawan, aparat hukum dan profesi apapun – kalian juga punya potensi jadi pahlawan.

“Khusus untuk aparat hukum, kalian akan jadi pahlawan, asalkan mulai hari ini kalian benar-benar kapok memperdagangkan pasal-pasal hukum,” sergah Mas Celathu buru-buru tanpa bermaksud bercanda.***

——————————————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 11 November 2007 NASIONAL

Batas Kesenimanan
Butet Kartaredjasa

Beberapa minggu lalu Mas Celathu pernah ngrasani di kolom ini, bahwa penjara bukan lagi tempat angker yang bikin kapok para pelanggar hukum. Minggu ini, demi mendengar berita terperosoknya Roy Marten untuk kedua kalinya di lubang yang sama, Mas Celathu semakin kenceng geleng-geleng kepalanya. Semakin sulit dipahami, karena ternyata penjara memang bukan pembuat jera. Malah jadi sekolah “terbaik” untuk segala macam pelanggaran hukum. Bukan hanya perkara nyolong-jupuk. Tapi juga termasuk bisa menyempurnakan ketololan dalam penyalahgunaan narkoba. Bahkan, ini yang sangat memprihatinkan, penjara justru jadi pusat peredaran narkoba. Bagaimana mungkin, kawasan yang terkunci rapat dengan tembok tebal berlapis-lapis dan diawasi selama 24 jam sehari, bisa menjadi sentral pengendali transaksi barang haram?

Sungguh ganjil. Sulit diterima akal normal. Mas Celathu yang tergolong pemuja harmoni, tentunya tidak ingin menuduh adanya permainan alias kongkalikong antara yang menjaga dan yang dijaga. Kalau menuduh, salah-salah bisa dianggap memfintah. Bisa kena somasi. Mas Celathu hanya mempersilakan siapa saja untuk mengembangkan fantasi dan imajinasinya.

Silakan setiap benak manusia Indonesia membayangkan apa yang kira-kira sedang terjadi di dalam bui pada hari ini? Mas Celathu menjamin, jika imajinasi dilaksanakan secara baik dan benar, niscaya akan terbayangkan betapa joroknya sistem hukum kita. Dikategorikan jorok lantaran hal-hal yang paling menjijikkan pun bisa berlangsung di depan mata secara terang-terangan.

Dulu, pemeo menyebutkan, seakan-akan hanya keledai yang bisa kecemplung di lubang yang sama. Tapi, berkat naiknya pamor penjara, seorang pesohor beken yang di tahun 70an sangat dikagumi khalayak, bisa benar-benar jadi “keledai”. Penjara lagi-lagi disalahpahami sebagai terminal untuk mempertinggi popularitas yang paling bergengsi.

Mas Celathu semakin dalam mengelus dada. Baginya, peristiwa itu tak hanya memamerkan apesnya nasib sang bintang. Melainkan, juga memperlihatkan bagaimana sebuah kemunafikan bisa terselenggara dengan baik, mengingat sehari sebelumnya Roy Marten jadi jurkam gerakan antinarkoba. Tidak tanggung-tanggung, dia datang ke Surabaya bersama Direktur BNN, Badan Narkotika Nasional, sebuah lembaga yang paling bertanggungjawab mencegah dan memberantas narkoba. Dengan fasih ia memperingatkan supaya orang tidak terjerumus mengikuti jejak dan sejarah buruknya.

Tapi nasi telah menjadi bubur. Hujan telah menjadi banjir. Busway telah menjadi kemacetan. Dan semua orang kecewa karenanya. Mas Celathu juga. Apalagi keluarganya, mbak Anna Maria yang begitu sabar dan mencintai suaminya, juga anak-anaknya. Abangnya, adik-adiknya. Para fansnya. Juga mereka yang menanam harapan dan telah memaafkan kesalahannya di masa lalu. Sulit rasanya memulihkan kepercayaan dan harapan.

“Makanya, bapak itu mbok cari kerja yang lain. Nggak usah terus-terusan jadi tukang akting. Kalau apes, nanti bisa kayak Roy Marten,” jeng Genit, bungsunya Mas Celathu yang sangat doyan nonton infotaiment, langsung melancarkan gugatan ke ayahnya. “Jadi guru atau apa gitu. Oom Roy nyabu kan biar aktingnya bagus,” serbuan Jeng Genit masih dilanjutkan. Wualaaah. Modaaar. Mas Celathu yang juga sama-sama pengecer jasa akting, jadi ikut kena getahnya. Korpsnya ikut ke-slomot.

“Lho, akting dan narkoba itu nggak ada hubungannya dik,” kilah Mas Celathu.

“Nggak ada gimana? Lha wong Oom Roy bilang, pake narkoba karena sudah tua dan biar kuat kerja. Kuat shoting, kuat aktingnya. Dia ngakunya begitu, kok.”

Apa boleh buat. Pemahaman Jeng Genit tidak bisa dipersalahkan. Mungkin masyarakat pun juga berpandangan sama. Bahwa jagat seni peran dan dunia kerja yang bersinggungan dengan kesenian, selalu dipersepsikan seakan-akan sangat dekat dengan perkara haram itu. Terlebih fakta yang digelembungkan industri media massa memang begitu. Apalagi sebelumnya, nama-nama lain dari sektor dunia hiburan seperti penyanyi, pesinetron, pemusik dan pelawak, lebih dahulu mempertegas keyakinan publik tentang salah kaprah pemanfaatan narkoba itu. Mas Celathu seperti kehabisan kata-kata. Setiap dia berusaha menjelaskan, langsung terbantahkan. Jeng Genit hanya menjawabnya dengan sinis.

Mas Celathu tak bisa lagi bercelathu. Mulutnya laksana terkunci. Begitulah repotnya jika kesenian, juga dunia profesi apa pun, dijadikan kedok untuk mendapatkan pembenaran dari sebuah penyimpangan. Dalam perkara begituan, Mas Celathu selalu ngotot melawannya. Ia seperti ingin mengubah persepsi keliru, seakan-akan seniman selalu bebas nilai. Mahluk yang selalu suka-suka hati. Sak karepe dhewe. Mas Celathu yang ge-er punya prestasi di jagat seni berulangkali bilang, seniman itu hanyalah orang biasa. Begitupun kesenimanannya. Membebaskan diri dari ukuran dan nilai sosial, hanya boleh terjadi di ruang privatnya. Hanya di studio kreatifnya. Yaitu pada saat sang seniman mengolah kreasinya.

Pada saat seperti itulah, ego kesenimanan boleh dimanjakan dengan militan. Pelukis boleh bebas hanya di depan kanvasnya. Teaterawan di panggungnya. Sastrawan di saat mengedit naskahnya. Pemusik ketika mengaransemen komposisinya. Penari saat membikin koreografinya. Namun, begitu dia keluar dari medan kreatifnya, seniman ya harus tahu diri. Harus kembali jadi mahluk sosial biasa yang jika menebus obat di apotik ya harus bayar. Menyekolahkan anak ya pakai ongkos. Makan di restoran yang musti merogoh kocek dan merelakan rupiahnya berpindah tangan. Dengan begitu, mengkonsumsi narkoba tidak bisa dijadikan pembenaran kesenimanan seseorang, karena itu sama sekali tak ada hubungannya dengan kreativitas seni. Jadi, kesenimanan pun tetap ada batas-batasnya.

Mas Celathu sebenarnya hanya ingin menjelaskan hal ini. Pelanggaran hukum maupun pengkhianatan sosial, itu tak ada urusannya dengan dunia profesi seseorang. Tapi lebih disebabkan kualitas moral manusianya. Kuat godaan atau kagak. Cuma itu. Sebab yang namanya kesempatan selalu mengikuti setiap prestasi dan keberhasilan sebuah pencapaian. Seseorang duduk di kursi yang tinggi, langsung dihadapkan pada kesempatan dan peluang korupsi. Karena itulah, orang yang semula disangka bersih seperti profesor, aktvis LSM, ulama, rohaniawan, guru sembahyang, pendidik, bisa juga tergelincir ke jalan sesat. Begitu pun seseorang yang memetik ketenaran, akan langsung dipertemukan ancaman berupa kemungkinan penyimpangan: perselingkuhan, narkoba dan sebangsanya. Ambruknya sebuah moralitas, — entah itu berupa penyalahgunaan narkoba, korupsi, pencurian, pembunuhan, atau pelecehan seksual — bisa terjadi karena manusianya. Bukan profesinya.

Tapi, memang bukan perkara mudah mengubah persepsi. Termasuk kepada Jeng Genit. Monolognya pagi ini di kolom ini, batin Mas Celathu, moga-moga bisa membantu meluruskan pemahaman orang tentang seniman dan kesenimanan. Dan membantu pemahaman Jeng Genit atas profesi ayahnya yang selalu mengecerkan seni akting ***

—————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 18 November 2007 NASIONAL

MBAKYU LIBERAL
Butet Kartaredjasa

Mas Celathu ingin sowan kepada pemerintah dan mengusulkan supaya Departemen Perhubungan diganti menjadi Departemen Transportasi. Supaya lebih fokus, dan benar-benar mengurusi problem transportasi yang dari hari ke hari tambah ruwet, dan selalu saja panen korban: di laut, darat, apalagi udara. Seakan-akan urusan transportasi negeri ini menjadi kepanjangan tangan tugas BKKBN. “Sebaiknya BKKBN nggak usah repot-repot menahan laju jumlah penduduk, karena soal transportasi cukup efisien untuk mengurangi jumlah penduduk,” kata Mas Celathu sinis.

Ini memang sinisme yang sarkastik. Bermula dari kejengkelan. Seolah-olah para cerdik pandai yang dipercaya memimpin negeri ini buntu pikirannya, selalu gagal mengurai carut marut problem transportasi. Coba, sudah berapa ribu korban yang harus mengakhiri nafasnya alias “mati secara instan” gara-gara menunggang alat transportasi Indonesia.

Di udara, bukan hanya pesawat bertiket murah yang bisa memberi bonus kecelakaan atau kematian, tetapi perusahaan penerbangan nasional yang dipersepsikan “lebih aman” pun, setali tiga uang. Bisa menciptakan peristiwa ngeri sebagaimana terjadi di bandara Adisucipto Yogya, dengan lakon “Manusia Obong”. Catatan tragedi transport udara masih bisa diperpanjang dengan kasus hilangnya Adam Air, yang ternyata nyungsep di puluhan kilometer bawah laut; pesawat tergelincir, gagal terbang dan mendarat, terbang salah alamat, dan lain lain.

Sementara di darat, sudah puluhan kali transportasi kereta api nasional membuktikan kebobrokan manajemennya dengan membuat kereta api menjadi benar-benar berapi karena gerbong penumpangnya terbakar. Juga tergulingnya sejumlah gerbong dan tabrakan sesama kereta karena petugasnya keliru menarik sinyal.

Begitu pun di laut. Tentu kita belum melupakan bagaimana ratusan manusia harus bertarung melawan ganasnya ombak, lantaran kapal dan ferry yang dinaiki tenggelam gara-gara kelebihan beban penumpang. Dan lihatlah data-data kecelakaan di jalan raya dan jalan tol. Selalu saja memperlihatkan grafik yang meningkat. Kerugian bukan saja pada hilangnya sejumlah nyawa, tapi juga efek ekonomi akibat sistem transportasi yang amburadul.

Kemacetan di ruas-ruas jalanan ibukota, juga tertahannya ratusan truk di pelabuhan penyeberangan antarpulau, ujung-ujungnya juga akan mematikan peluang ekonomi dengan nilai triliyunan rupiah. Coba berapa ton buah-buah, sayuran, ikan segar dan daging membusuk gara-gara pengangkutnya tertahan berhari-hari di pelabuhan! Bayangkan, suatu hari kemacetan di Jakarta bisa mengekor sampai sejauh 20 kilometer! Jarak tempuh yang biasanya cukup 20 menit, di hari apes itu harus dilakoni 5 jam! Gila!

Mas Celathu benar-benar senewen. Apalagi jika imajinasinya mulai ngelantur membayangkan efek domino dari berbagai kecelakaan itu. Misalnya, lalu bagaimana nasib keluarga korban setelah orang-orang yang dicintai mati dengan tragis, terlebih jika yang gugur itu adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Pastilah keluarga itu secara ekonomi dan sosial akan ikutan ambruk. Belum lagi adanya korban-korban yang cacat permanen dan karenanya jadi kehilangan mata pencarian. Mas Celathu membatin,”Kenapa semua itu bisa terjadi? Dimana letak kesalahannya?” Apakah negara harus ikut bertanggungjawab?”

“Iya harus dong. Kan negara yang memberikan ijin beroperasinya armada transportasi itu. Lagian negara juga memetik pajak dari semua itu. Coba, kalau pemberi ijin itu tidak doyan sogok, pasti tidak akan sembarangan kasih ijin,” katanya sewot.

“Lho, kok jadi nuduh kalau ada sogok-menyogok. Jangan ngawur lho,” sergah Mbakyu Celathu mengingatkan suaminya,”Ati-ati kalau njeplak. Nanti bisa kena somasi.”

“Disomasi juga nggak takut. Saya yakin pasti ada kongkalikong-nya. Mana mungkin peraturan negara membiarkan rakyatnya celaka. Peraturannya sudah bener, tapi pelaksana peraturan itu yang keblinger. Kalau pesawat dan kapal bobrok diijinkan mengangkut manusia, itu namanya “pembunuhan berencana”. Bisa kena pasal KUHP,” ujar Mas Celathu lantang sambil berkacak pinggang. Nada bicaranya meninggi. Apalagi ngomongnya sambil tudang-tuding seakan-akan ada musuh di hadapannya. Jika sudah begitu nyali Mbakyu Celathu langsung mengkerut.

Mas Celathu jadi kayak pemain monolog. Suaranya bergetar naik turun. Anak-anaknya yang sedari tadi nggak peduli, beringsut menyingkir dari arena. Wuaaah, bapakku kayak pemain jathilan ndadi, kangslupan dhemit, begitu Jeng Genit membatin.

“Coba lihat, kemarin orang-orang di Tangerang pada ketiban besi baja dari pesawat Batavia. Untung cuma jatuh di ladang dan kebun. Kalau jatuhnya nancep di kepala orang, gimana? Lha wong montor mabur kok bisanya pada mrotholi di udara. Apa itu namanya kalau bukan pesawat bobrok? Kok dibiarkan terbang? Hayo bilang, kalau nggak ada sogok-sogokan!” tantang Mas Celathu, kali ini nafasnya megap-megap kayak ikan koi menyedot udara.

Mbakyu Celathu langsung menyorongkan segelas air putih,”Sudahlah Mas, sabar, sabar. Orang sabar nggak gampang modar. Nanti saya temani deh sowan pemerintah.” Sambil mengelus-elus dada Mas Celathu yang masih tersengal-sengal, Mbakyu Celathu bilang,”Nanti saya juga akan mengusulkan kepada pemerintah, supaya Departemen Perhubungan digabung saja dengan Departemen Agama. Lebih cocok.”

Mas Celathu yang masih lenger-lenger terperangah,”Apa? Kok aneh? Apa hubungan dengan Departemen Agama?”

“Lha ya jelas ta. Departemen Perhubungan terbukti sukses membangun hubungan vertikal setiap manusia pemakai jasa transportasi. Begitu naik montor mabur, numpak sepur, berlayar nunggang kapal maupun berkendara di mana pun di Indonesia, orang-orang langsung teringat Tuhan. Doanya jadi lebih khusuk. Jadi tugas rama pastor, pendeta, biksu dan ulama yang selalu menganjurkan doa dan ingat Tuhan, sudah tergantikan oleh Departemen Perhubungan,” ujar Mbakyu Celathu kalem.

Mendengar ide brilian sang isteri, Mas Celathu njenggirat bangkit. Ia tambah kagum kepada bininya. “Wuah, istriku yang hajjah, benar-benar mbakyu liberal,” puji Mas Celathu dalam hati. Jika kelak gagasan ini disetujui, pastilah Departemen Agama hanya akan ngurusi brosur-brosur doa bagi calon penumpang, membangun tempat ibadah di terminal, bandara dan pelabuhan. Asyiiikk. Tentunya nanti urusan agama tidak lagi diatur oleh negara, tetapi dikembalikan ke wilayah privat seperti halnya mandi, gosok gigi, makan, tidur dan mengatur aurat.

Departemen Agama pastilah tak akan punya waktu lagi mengobok-obok iman dan kepercayaan yang memang seharusnya menjadi urusan pribadi setiap orang.***

—————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 25 November 2007 NASIONAL

Cuci Piring
Butet Kartaredjasa

Kegiatan cuci mencuci sebenarnya perkara baik-baik aja. Yang jorok sebangsa daki, lumut, debu, bakal sirna karena aktivitas pembersihan itu. Apalagi jika mencucinya pakai sabun. Mau makan wajib cuci tangan. Biar para kuman minggat. Dan supaya pakaian tidak beraroma seng-breeeng, sekarang sudah ada sabun sekaligus pewangi yang bisa mengubah pakaian kotor menjadi bersih dan wangi. Kata iklan, malah bisa membuat yang sudah putih menjadi lebih putih. Lebih cling.

Tak ada yang meragukan bahwa kegiatan mencuci merupakan tugas yang mulia. Semua agama mengajarkan, kita harus senantiasa bersih lahir dan batin. Sebelum sembahyang, umat muslim musti ambil air wudlu. Bukankah mengusir kekotoran – kotor jiwa maupun badan – dan menjadikannya lebih bersih, adalah sebuah kemuliaan? Tapi Bos Mburi, begitu panggilan abdi kinasih Mas Celathu yang memberesi urusan belakang, termasuk urusan cuci mencuci, jadi masgul ketika tempo hari mendengar heboh soal cuci-piringnya Presiden SBY.

“Ini aneh lho. Lha wong cuma ada orang mengaku sedang mencuci piring, kok orang lain sewot? Saya itu saban hari asah-asah, juga nggak ada masalah,” ujar Bos Mburi yang memang jagoan membikin kinclong piring di dapur.

Di keluarga Mas Celathu, Bos Mburi ini memang dikenal perfeksionis dalam urusan kebersihan. Apa pun yang dibersihkannya selalu berakhir licin mengkilap. Dengan tangkas dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, dia bisa mengubah tumpukan piring kotor menjadi cling berkilau. Untuk membersihkan lantai, dia pantang menggunakan sapu, melainkan sulak bulu ayam alias kemoceng. Sehingga Bos Mburi kerap dijumpai sedang ngesot, bahkan terkadang tiarap, saat membersihkan debu-debu di kolong lemari. “Kalau lalat belum kepleset, berarti lantainya belum bersih,” ujarnya mengibaratkan kualitas sapuannya.

Menurut Bos Mburi yang kini usianya lebih setengah abad, tidak sepantasnya orang mengeluh hanya lantaran mencuci. Bahkan, seharusnya malah bersyukur. Membuat segala hal menjadi bersih, merupakan tugas mulia dan berpahala.

“Seharusnya Pak SBY jangan mengeluh. Kalau memang capek, kan bisa suruhan Paspampres yang galak-galak itu mbantu asah-asah. Lagian kalau beliau mau, kan bisa memerintahkan anggota partainya cuci piring rame-rame. Seru itu. Bisa didaftar ke MURI, sejuta orang cuci piring. Barang gampang kok dibikin angel,” gugat Bos Mburi.

Mas Celathu yang sedari tadi mencoba menjadi pendengar yang baik dan benar, hanya senyam-senyum mendengar logika abdi yang sekaligus sahabatnya itu. Agaknya pemahaman simbolik terhadap kata kiasan yang bermakna ganda, belum benar-benar melekat dalam cara pikir Bos Mburi.

“Bos, yang dimaksudkan Pak SBY itu bukan cuci piring beneran. Itu cuma perumpamaan. Ibaratnya, koruptor pada berpesta mencuri harta negara, melakukan illegal loging, sementara pemerintah cuma kebagian membersihkan piring kotor. Gitu lho maksudnya,” terang Mas Celathu.

“Oooo gitu ta? Tiwas saya gumun. Lha wong sudah punya pangkat presiden, kok ya masih kober-kobernya asah-asah,” Bos Mburi manggut-manggut.

Sekarang ia mulai paham soal kiasan. Ternyata setiap kata bisa punya dua arti. Makanya, dia merasa musti berhati-hati bertutur kata, supaya tidak membuat dirinya disalahpahami. Pikirnya, semakin seseorang berpendidikan, semakin ngaco omongannya. Selalu saja ada ganjil. Sekarang soal cuci piring ia keliru menafsir. Padahal dalam urusan cuci mencuci, masih banyak kiasan dengan kata cuci bertebaran: cuci mata, cuci tangan, cuci mulut, cuci gudang, cuci hati, cuci jiwa, cuci pikiran, dan sebangsanya.

“Saya dengar berita di tivi, lha kok ada pejabat pada mencuci uang. Apa ya nggak eman-eman ya, mosok uang kok dicuci? Apa ya nanti masih laku?” tanyanya tanpa bermaksud melucu.

Niku nggih termasuk kiasan, Bos. Maksudnya, itu biasanya uang hasil korupsi yang diputer-puter dulu, dititipkan orang lain, dimasukkan bank terus ditarik kembali, dipinjamkan untuk usaha, dan seterusnya. Pokoknya, uang itu dijalankan kemana-mana sampai akhirnya seakan-akan uang itu jadi bersih, tidak terlacak lagi asal muasalnya. Itu namanya money laundry alias cuci uang,” dengan sabar Mas Celathu kasih penjelasan.

“Lha kalau cuci mata, apa ya supaya tidak ketahuan dari mana asalnya mata?”

“Yaaa tidak. Itu maksudnya iseng melihat-lihat pemandangan di tempat umum. Kalau sampeyan seharian capek membersihkan rumah, boleh cuci mata dolan ke mall. Gitu bos,” Mas Celathu menerangkan lagi tanpa bosan.

Sebelum ditanya lebih jauh, Mas Celathu langsung nyerocos seperti guru bahasa. Mengartikan kiasan lain, cuci pikiran dan cuci gudang. Sambil menyandarkan badan di kursi mangkok di teras rumahnya yang asri, Mas Celathu bilang,” Kalau cuci pikiran itu maksudnya seseorang itu dibersihkan dari cara berpikirnya masa lalu. Setelah pikiran kosong, biasanya otak diisi dengan cara berpikir yang baru, biasanya pikiran yang berbeda dengan cara berpikir sebelumnya.”

“Cuci gudang artinya juga supaya kosong?”

“Persis. Itu artinya mengosongkan gudang. Biasanya mengobral barang di gudang dengan harga bantingan.”

Bos Mburi yang semula agak mudheng, sekarang jadi rada puyeng. Orang sekolahan itu memang susah di-gugu. Tadi katanya kiasan soal cuci mencuci berarti bersih-bersih. Tapi rupanya bisa juga berarti, ‘supaya tidak terlacak’ - ‘dolan ke mall’ - ‘pengosongan otak’ – dan ‘jual obral’. Jadi, kesimpulannya, dirinya harus waspada. Dalam hati ia berjanji akan bicara yang lurus-lurus saja. Tidak mau pakai kata kiasan. Salah-salah bisa membuat dirinya jadi tertawaan orang. Atau malah kena pasal penghinaan.

Bayangkan saja, kalau Bos Mburi tiba-tiba sok intelektualistik dan menghamburkan kiasan begini: “Sebelum cuci piring, sebaiknya Bapak cuci pikiran dan cuci tangan. Setelah itu Bapak tinggal cuci uang, terus memborong barang-barang cuci gudang sambil sekaligus cuci mata.”

Lha rak tenan. Untungnya kalimat ngawur itu hanya diucapkan dalam hati. Gawat kalau sampai ada yang mendengarkannya.***

———————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 2 Desember 2007 NASIONAL

PRESIDEN SEMU
Butet Kartaredjasa

Rumah kediaman Mas Celathu selalu dibayangkannya sebagai sebuah negara dan dirinya menjadi semacam presidennya. Ini memang fantasi berlebihan. Mana mungkin, rumah kok dipersamakan dengan negara. Jelas mengada-ada, lha wong infra strukturnya berbeda. Beban dan kompleksitas permasalahannya pun sangat lain. Tapi Mas Celathu tetap ngotot untuk berfantasi macam itu. Barangkali untuk nggembosi dirinya sendiri supaya tidak neka-neka ngimpi jadi presiden beneran.

Dengan menyangka dirinya adalah “presiden”, setidaknya dia cukup puas dengan ge-er memiliki jabatan tinggi tersebut. Berhubung cuma fantasi, imajinasinya pun nggak tanggung-tanggung: presiden seumur hidup. Karena nyatanya memang di situ tak pernah ada pemilu. Tahu-tahu aja dia terdhapuk jadi pemimpin alias kepala keluarga, menduduki tahta tertinggi. Tak ada kampanye alias jual kecap, tak ada pelantikan, juga tanpa fit and proper test. Seperti sulapan. Terjadi begitu saja. Kekuasaannya pun langsung dipangku dan seperti idu geni.

Apa pun yang disabdakan seperti fatwa yang musti didengar dan dilaksanakan. Itulah enaknya punya jabatan “seumur hidup”. Ia tak akan tersentuh hukum andaikan suatu kali melakukan kesalahan. Begitupun anak bini dan para PRT yang menghuni rumahnya, tiba-tiba saja tercasting menjadi warga negaranya. Dan semua harus tunduk sepatuh-patuhnya.

Sebagai “presiden seumur hidup” Mas Celathu hanya ingin konsisten berjuang memuliakan kehidupan keluarga dan lingkungannya. Apa pun yang dilakukan adalah gerak menuju cita-cita itu: kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin. Dia tidak ingin terganggu. Atau diganggu. Sehingga jabatan sampai usia mampus itu, mutlak sangat diperlukan.

Mas Celathu bukannya tak menyadari, bahwa dengan adanya fasilitas dan previlege yang berlebihan itu akan menjerumuskan dirinya jadi semena-mena. Sejarah sudah membuktikan, kultus dengan model “seumur hidup” hanya akan melahirkan diktator. Pemimpin yang keras kepala dan maunya menang sendiri, lalu serba mutlak-mutlakan. Dengan sikap yang otoriter, bisa dipastikan nantinya pemimpin begituan akan memonopoli kebenaran. Tentu ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan nilai-nilai demokrasi yang selama ini dikembangkan oleh keluarga Celathu itu.

Tapi ia selalu dengan sigap menepis kekhawatiran itu. Baginya yang terpenting adalah goal-nya. Dalam hal ini ia sengaja menggunakan “Jurus Sufkala-kala”. Ini ilmu baru yang dinyatakan seorang pemimin beberapa hari lalu, bahwa orang bisa menghalalkan aneka cara demi mencapai tujuan. Bunyi jurus itu, yang penting berhasil mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, dan demokrasi hanyalah alat untuk mencapai tujuan itu.

“Lha kalau tidak “seumur hidup” memangnya nanti akan ada yang menggantikan aku sebagai suami ibumu,” kilah Mas Celathu tatkala anak sulungnya memprotes soal usia jabatan. “Ini kan Republik Celathu, jadi sistem dan aturannya bisa dibuat sesuka kita. Yah, minimal dimirip-miripkan dengan negara.”

“Lho bukan begitu, Pak. Rumah dan negara itu dua perkara berbeda. Nggak bisa dipersamakan. Bapak ini ya aneh. Mbok ya nggak usah neka-neka jadi “presiden” segala. Jadilah seorang ayah yang bertanggungjawab saja,” sergah anaknya lagi, kali ini dengan nada rada mengancam,”Kalau main mutlak-mutlakan gitu, nanti saya dan adik-adik bisa kabur cari suaka ke rumah tetangga lho!”

“Welhadalah,…ja jangan ta le. Biarpun jabatanku seumur hidup, kujamin aku tidak akan bikin kebijaksanaan ngawur. Demokrasi kujamin tetap berjalan. Perbedaan pendapat justru dianjurkan. Kontrol tetap dilaksanakan. Dan kesejahteraan pasti akan kalian dapatkan. Yang penting adalah hasil akhirnya, sejahtera dan bahagia lahir batin,” Mas Celathu ngobral janji.

Demi mendengar janji dihamburkan, anaknya yang bulan ini bakal diwisuda jadi sarjana strata satu, menjawab pendek,”Prek!”. Kalau saja ia tidak menjunjung sopan santun, mungkin dia bakal hoek-hoek-hoek memuntahkan kemuakan yang tiba-tiba membetot perutnya. Kayaknya dia sudah nggak mau percaya lagi pada janji-janji politik begituan.

Esuk dele, sore tempe. Janji politik pasti mencla-mencle. Saya sudah hafal. Udah deh pak, kayak kemarin-kemarin aja. Saya dan adik-adik terlanjur bangga punya ayah dengan pikiran dan ambisi sederhana. Tidak macem-macem,” rayu anaknya lagi, dalam nada setengah memohon.

Entah kenapa, hari ini Mas Celathu tidak seperti biasanya. Kupingnya seperti tersumbat granit, tak bisa mendengar nasehat. Padahal biasanya dia cukup sensitif terhadap himbauan dan bisikan, bahkan dari anaknya sekalipun. Tapi hari ini, Mas Celathu selalu saja berhasil menemukan kalimat-kalimat yang akan membenarkan keinginannya. Dia bangga karena ternyata masih lincah main akrobat kata-kata. Tapi tidak bagi anak biniya. Mereka justru prihatin. Kenapa suaminya jadi begitu? Orang-orang jadi merasa pangling. Celathu yang ini, bukan Celathu yang kemarin. Dimanakah kebersahajaan dan kearifannya yang selama ini selalu menyertainya?

“Sudah ta Mas. Jangan lagi pakai ilmu gothak-gathuk itu. Urusan jadi presiden atau tidak, itu urusan politik negara. Bukan rumah tangga. Sampeyan itu, biar bagaimana pun ya cuma seorang ayah, bapaknya anak-anak. Seorang suami. Kami sudah cukup bangga sampeyan jadi pemimpin rumah tangga,” dengan lembut Mbakyu Celathu mulai melancarkan bujukan.

Demi mendengar suara isterinya yang selalu dirasakan menabur kesejukan, hati dan pikiran Mas Celathu lalu adhem. Fantasinya soal “presiden seumur hidup” langsung ambyar. Mas Celathu terdiam. Lalu diambilnya sebatang kretek filter. Ia seperti baru terjaga dari mimpi buruk. Sambil menghembuskan asap kretek filternya, dia masih bengong tak tahu mau berbuat apa. Anak isterinya juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semua saling menduga.

Jangan-jangan Mas Celathu memang sudah menyadari kekhilafannya hari ini. Ternyata untuk beprestasi dan membuat hidup bisa bermakna, tidak harus berkiprah di tengah hingar bingar jagat politik yang penuh ranjau itu. Dimana pun bisa. Bahkan pada tingkat yang paling sederhana. Rasanya ia ingin segera bicara kepada pensiunan jendral atau siapa pun yang ngebet jadi nahkoda negara. Katimbang jadi presiden beneran yang penuh siasat dan muslihat, sebenarnya seseorang bisa juga menjadi pemimpin yang layak dibanggakan. Yaitu menjadi pemimpin rumah tangga.

Ya, jadi pemimpin rumah tangga murah ongkosnya, karena tak perlu kampanye. Tanpa intrik, tanpa fitnah, tanpa dusta.***

———————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 9 Desember 2007 NASIONAL

Bablas Nyawane
Butet Kartaredjasa

Karena tak ingin dikategorikan ndesit, Mas Celathu menyatakan ingin menjadi bagian manusia modern. Maka tiba-tiba penampilannya jadi gaul banget. Sok metroseksual. Sebenarnya rada ganjil, jika Mas Celathu yang dikenal sering nglomprot, berpenampilan sesukanya dengan sepatu sandal dan baju katun gombor, - belakangan ini menjadi necis. Wangi. Rapi. Sibuk cari baju dan celana branded. Sangat peduli pada kebersihan dan keindahan tubuhnya. Rajin ke salon untuk keramas, creambath, facial, atau sekadar manicure alias potong kuku. Rambut yang biasanya jothakan dengan sisir, kali ini terlihat klimis. Memang perubahan rambutnya belum ekstrim. Masih hitam warnanya. Belum dicat belang-bonteng atau disemprot jadi blonde kayak boneka Barbie. Dengan begitu, tentu saja Mas Celathu belum layak menyandang predikat sinis “LKMD”, Londo Kok Mung nDase.

Sungguh, perubahan yang sontak itu membikin keluarga Celathu jadi senam leher alias geleng-geleng kepala. Bayangkan aja, Mas Celathu yang dikenal ekonomis dan selalu kritis dalam menyikapi lifestyle, mendadak terseret arus. Bukankah selama ini, kepada anak bininya dia selalu mengajarkan prinsip-prinsip kesederhanaan? Mosok sekarang hanya untuk sekadar memotong kuku saja, harus keluar ongkos? Ajaib ta? Jangan-jangan Mas Celathu sedang puber kedua? Entahlah.

Bahkan, Mas Celathu yang biasanya berolahraga murah meriah, yaitu jogging keliling kampung atau senam olah tubuh di pelataran belakang rumahnya, kini untuk membakar kalori tubuhnya Mas Celathu merasa perlu bermain futsal. Maka dia pun merasa perlu memperlengkapi dirinya dengan segala tetek bengek perlengkapan futsal alias mini soccer yang sedang trend itu. Sepatu, kaos, celana, handuk — semuanya penuh simbol yang mencerminkan budaya futsal sebagaimana dilihatnya di film-film manca. Artinya, semua itu harus diperoleh dengan harga yang berbunyi.

Awalnya Mbakyu Celathu, isteri gemati yang jagoan bikin sambal dan bikin baceman kambing itu, memang mengurut dada melihat perubahan itu. Tapi lama-lama ia ikhlas saja. Batin Mbakyu Celathu, itu lebih baik katimbang suaminya kecemplung ke gaya hidup sesat: hura-hura, memelihara gundik, menyantap narkoba dan berjudi.

Karenanya, ketika ketiga anaknya berniat mengajukan gugatan, Mbakyu Celathu bergegas mencegah dengan penuh kelembutan,”Ssssttttt, sudahlah. Biarkan ayahmu begitu. Mungkin bapakmu sedang menghayati peran, latihan main sandiwara. Bisa jadi dia sedang persiapan main film, kedaphuk memainkan karater seorang suami metroseksual.”

“Iya, tapi kalau dikit-dikit ke salon kan bahaya tuh. Apalagi sekarang kan banyak salon plus. Tidak hanya mengurus rambut yang terlihat,” si sulung yang pernah jadi pengurus masjid mengingatkan. Memang di kota tempat tinggalnya yang dulu dipredikati kota budaya dan kota pelajar, belakangan ini kerap dihebohkan oleh menjamurnya salon-salon yang ber-“dwifungsi”. Mungkin para pemilik salon dan mbak-mbak kapster itu sedang khilaf atau malah kelewat kreatif memaknai arti kebudayaan. Yaitu, membudidayakan pelayanan terhadap organ-organ tubuh yang ditumbuhi rambut dan wilayah sekitarnya.

“Ho oh, lagian bapak tuh selalu marah kalau aku rajin dandan. Aku pengin ganti sepatu ber-merek aja langsung disantlap. Kok sekarang malah gayanya melebihi aku,” Jeng Genit yang fashionable seperti dapat kesempatan untuk melancarkan serangan. Memang, selama ini Mas Celathu selalu cerewet mengkritik gaya anak gadisnya yang sangat peduli pada wajah dan tubuhnya, hoby berdandan serta obsesinya ingin jadi cover girl.

Dengan segala jurus keibuannya, Mbakyu Celathu memang sukses meredam protes. Semuanya mencoba mengerti dan memaklumi. Rencana demo ketiga anaknya sudah dibatalkan. Tapi, bagi Jeng Genit ternyata masalahnya bukan sekadar pada gaya hidup boros yang sekarang sedang dilakoni ayahnya itu. Untuk perkara menghamburkan duit, dia nggak mau ambil using. Toh juga sang ayah yang mencari fulus. Sanalah kalau mau dihamburkan. Yang jadi persoalan, kata Jeng Genit dengan menghiba,”Mbok ya bapak tuh jangan bermain futsal. Kan masih banyak olahraga yang lain, yang tidak berbahaya.”

“Lho, bahayanya dimana? Lha wong cuma main bal-balan di lapangan sempit kok. Risikonya paling hanya lecet, karena lapangannya nggak berumput,” jawab Mas Celathu.

“Main futsal bisa bablas nyawane. Tuh, pelawak Basuki meninggal selagi dia main futsal. Kan berbahaya ta?” sahut Jeng Genit sok yakin, seraya bikin kesimpulan, ”Pokoknya kalau mau umur panjang, jangan main futsal.”

Demi mendengar kesimpulan ngawur itu, Mas dan Mbakyu Celathu tak bisa menahan tawanya. “Wualah-walah nduk, kamu ini kok ya belum tambah cerdas ta? Pak Basuki itu wafat karena serangan jantung. Bukan karena futsal-nya.”

Lakon “Basuki Gugur” itu memang bukan cerita lawakan. Tapi, sebuah keniscayaan yang bisa terjadi pada siapa pun. Tak ada yang lucu, meskipun kisah itu menimpa orang yang jagoan memancing tawa dan sangat kondang dengan tagline hasil kreasinya,”Whes hewes-hewes, bablas angine”. Dari warning puteri bungsunya itu, Mas Celathu justru bisa memungut pesan, betapa kedatangan sang maut sulit dijadwalkan. Kapan saja kehadirannya bisa menghentak siapa pun, kapan pun, dimana pun.

Pesan lain? Tentang kesederhanaan dan happy ending seorang pelawak. Jika dulu kita sering mendengar kisah kehidupan miris dan tragis para bintang lawak, kali ini ceritanya lain. Basuki wafat dengan menyisakan ketauladanan tentang perencanaan dan pengelolaan ekonomi seorang komedian yang peduli gaya hidup sehat, peduli keluarga, dan tidak terseret pada gaya hidup salah kaprah. Di tengah gempuran berita yang memojokkan artis, termasuk komedian, yang digebyah-uyah seakan-akan selalu berdekatan dengan narkoba dan dunia miring lainnya, almarhum Basuki memperlihatkan citra kesenimanan yang bersahaja, bukan sebuah kehidupan yang semaunya dan bebas nilai.

Basuki tahu persis, bahwa gemerlapnya dunia panggung, periklanan, televisi dan film, hanyalah dunia semu yang harus membuat kita musti selalu terjaga untuk mengambil jarak. Di dunia palsu, komedian bisa dan harus jenaka lantaran tuntutan kerja. Sementara di dunia nyata, tak mungkin ia begitu saja mengobral tawa dan kejenakaan. Kemampuan mengenal batas dunianya itulah, mungkin sebuah nilai yang pantas kita renungkan. Janganlah mentang-mentang pelawak lalu cengengesan sepanjang masa di setiap kehadiran. Janganlah mentang punya pangkat dan kedudukan, lalu main gertak dan pamer kuasa di sembarang tempat.

“Jadi, bapak tetap mau main futsal dan jadi ayah metroseksual?” tanya Jeng Genit. Mas Celathu tidak menjawab. Sepertinya masih ada yang dirahasiakan. Dia hanya memoncongkan bibirnya yang segede iwak empal.***

——————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 16 Desember 2007 NASIONAL

CERMIN DIBELAH
Butet Kartaredjasa

Mas Celathu sedang tersengat bunyi pepatah lama, “buruk muka cermin dibelah”. Rupanya dia belum bisa membedakan antara yang tersurat dan tersirat. Apalagi makna tersirat dari sebuah pepatah. Disangkanya pepatah itu kalimat perintah. Karena itulah, begitu melihat (citra) dirinya remuk, makanya dia jadi benci sama cermin. Berjalan kemana-mana, Mas Celathu menenteng kapak. Ingin membelah cermin. Sudah dua cermin yang ambyar dikapaknya. Pyaaarr !!! Satu cermin di kamar mandi. Satunya lagi di kamar tidur. Dua-duanya kini bukan hanya terbelah, tapi hancur berkeping-keping.

Semua orang di rumah keluarga Celathu heran. Entah setan mana yang sedang ngangslupi-nya. Ini bukan adat sabannya. Bukan murni tabiatnya. Bukankah selama ini Mas Celathu dikenal sebagai orang yang dawa ususe alias penyabar yang cerdik mengelola emosinya? Atau jangan-jangan dia sedang kangslupan kepala polisi dari wilayah timur, yang pekan lalu “ngamuk” dan bahkan mau “mencekal” tukang main sandiwara karena pak polisi itu melihat pantulan “buruk muka” dari “cermin” yang dimainkan tukang sandiwara itu?

Mas Celathu memang mendengar kisah itu. Dari koran. Konon, lakon monolog “Sarimin” yang dimainkan tukang sandiwara itu, memotret carut marut hukum negeri ini. Dengan telanjang, lakon jenaka yang bikin penonton cekakakan itu, memperlihatkan bagaimana moralitas aparat hukum yang amburadul. Polisi dan pengacara digambarkan gemar ngerjain wong cilik yang lugu dan jujur. Dalam kisah itu diceritakan, bukan hanya kejahatan yang bisa menyebabkan seseorang nyemplung penjara. Tetapi sebuah kejujuran pun, bisa membikin orang macam Sarimin terpeleset masuk bui. Agaknya, sebagai pejabat publik Pak Polisi belum siap dikontrol publik. Tidak siap melihat “buruk muka” yang terpantul tanpa basa basi. Dan karena itulah, Pak Polisi jadi ingin “membelah” cermin yang telah mempermalukan diri dan korpsnya itu.

“Tolong, jauhkan cermin dari rumah ini. Jangan sampai aku melihat wajahku lagi,” pinta Mas Celathu dalam nada tinggi, masih sambil memegang kapak. Ketiga anak Mas Celathu buru-buru menyingkir. Takut jadi korban salah sasaran. Hanya Mbakyu Celathu yang dengan cool dan penuh kelembutan, mengingatkannya.

“Sampeyan itu ya aneh. Cermin kok disalahkan. Kalau memang tidak suka melihat kejelekan penampilan diri sendiri, ya sampeyan itu harus mawas diri. Makanya harus banyak olah raga dan kalau makan jangan sembarangan.”

“Tapi cermin itu seperti mengejek diriku. Aslinya aku ini kan nggantheng. Dan karena itulah kamu mau jadi istriku. Mosok sekarang setiap aku bercermin, yang terlihat sosok monster. Ini kan pelecehan. Berarti cermin-cermin itu telah menghinaku,” sergah Mas Celathu.

Demi mendengar alasan suaminya yang cukup ngawur, Mbakyu Celathu tak kuasa menahan gelinya. Dua alasan yang dilontarkan belahan jiwanya itu, tidak mencerminkan kualitas kearifan yang selama ini dikenalinya. Sama sekali tak masuk akal. Pertama, dirinya mau dikawini Mas Celathu dua puluh tujuh tahun lalu, bukan lantaran nggantheng tidaknya lelaki itu. Melainkan ya karena ada komitmen sehidup semati dalam kepahitan maupun kebahagiaan. Yang kedua, bahwa sekarang suaminya seperti monster, wajahnya bengkak mlethat-mlethot dengan perut buncit pating plenhung dan rambutnya pada rontok, itu ya lantaran gaya hidupnya yang cuek pada kesehatan.

“Saya kan sudah ingatkan berulang kali, eling diabetes dan kolesterol Mas. Kalau makan seafood jangan sembarangan. Diperingatkan bola-bali tetep ngeyel. Sokuuur… kalau sekarang kena alergi. Masok apapun yang dihidangkan, kok diuntal tanpa kendali. Itulah akibatnya kalau bandel,” jawab Mbakyu Celathu sambil ngedumel,”Lha wong yang salah dirinya, kok cermin yang disalahkan.”

Sekarang Mas Celathu meletakkan kapak. Tapi, dia tetap belum ingin dipersalahkan. Kerakusan dalam urusan memanjakan lidah dan ketidakpeduliannya menjaga kesehatan tubuh, baginya tetap bukanlah penyebab utama terjadi “buruk muka” itu. Karena itulah sebagai kepala keluarga yang memiliki kuasa full power, sekarang Mas Celathu memerintahkan,”Karena saya pemimpin keluarga, maka seluruh interior di dalam rumah ini akan saya evaluasi keberadaannya. Untuk sementara, semua cermin di rumah ini dan apapun yang diperkirakan bisa memantulkan diriku, harus ditutup kain. Ini perintah dan harus dilaksanakan!”

Bukannya melaksanakan perintah, Mbakyu Celathu justru melengos balik kanan. Menghadapi kebijakan yang ngawur macam itu, sebenarnya Mbakyu Celathu penginnya menyantlap suaminya. Dalam istilah demonstran,”Lawan!” Tapi berhubung naluri keibuannya masih menyertainya, ia lebih baik pergi menghindar. Dia tak ingin terlibat terjadinya “peperangan” hanya karena masalah remeh temeh. Bagaimana pun, Mbakyu Celathu tetap menduga, apa yang sedang terjadi bukan maunya sang suami. Mungkin ia sedang kerasukan, sedang teler, atau sedang latihan sandiwara menirukan karakter-karakter manusia yang bertebaran di sekelilingnya.

“Lho, lho, lho…diajak omong kok malah kabur,” cegah Mas Celathu ketika menyadari istrinya ngeloyor hendak meninggalkan dirinya.

“Sampeyan itu tidak sedang ngomong. Tapi ngelindur. Dibiarkan ngoceh, malah ngelantur. Mending kalau ngelanturnya bermutu….”

Yah, itulah sepotong drama absurd yang suatu hari terjadi di rumah keluarga Celathu. Kita belum tahu akhir kisahnya. Apakah Mas Celathu akan menuruti nasehat isterinya, menghalau kebiasaan buruknya secara drastis, sehingga dirinya tidak “buruk muka” lagi. Atau justru tetap ngotot memaksakan kehendak mencekal cermin-cermin dengan membungkusnya pakai kain, supaya sang cermin tidak bisa lagi memantulkan kenyataan kehidupan.

Kita sama-sama belum tahu lanjutannya. Yang terdengar cuma suara Mbakyu Celathu yang lagi-lagi ngedumel,”Kalau memang buruk muka, cermin janganlah dibelah. Eman-eman. Dijual aja. Bisa nambah penghasilan.”***

————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 23 Desember 2007 NASIONAL

NASIB WISUDAWAN
Butet Kartaredjasa

Keluarga Celathu sedang diliputi kebahagiaan. Untuk ukuran normal memang seharusnya begitu. Coba, keluarga mana yang tidak bungah, jika salah seorang anggota keluarganya, dinyatakan lulus menjadi sarjana dengan predikat cumlaude, dengan indeks prestasi 3,62? Sarjana lho, sarjana lho….. Ing atase Mbakyu Celathu statusnya hanya lulusan setingkat SMA, dan Mas Celathu cuma berpredikat “DO” alias drop out, lha kok bisa menghasilkan “dokterandes”. Bukankah itu pertanda si orang tua telah berhasil memenuhi kewajibannya, memfasilitasi pendidikan anaknya? Memang, Mas Ndut, anak mbarep Mas Celathu, yang dari hari ke hari perutnya tambah buncit, kemarin termasuk salah seorang wisudawan dalam acara penobatan di sebuah sekolah tinggi. Dia sudah boleh menyandang gelar kesarjanaannya, berhasil nangkring di level diploma empat yang setara dengan S1.

Prestisius kan? Paling tidak, sekarang keluarga Celathu boleh mbagusi, misalnya, memajang rambu-rambu bergengsi di ruang tamunya: foto Mas Ndut berjubah hitam dengan toga bertengger di kepala. Dengan begitu, kelak setiap tamu yang singgah di rumahnya jadi tahu,”Awas, di sini ada sarjana lho.”

Normalnya memang begitu. Persis yang kita jumpai di rumah-rumah keluarga normal pada umumnya. Malah terkadang, selain foto sang anak bertoga, dinding-dinding mereka kerap diimbuh hiasan tambahan berupa piala-piala kejuaran olah raga atau piagam-piagam penataran apa gitu. Tapi, berhubung keluarga Celathu bisa dikategorikan keluarga “ab-normal”, maka yang terjadi justru kebalikannya. Boro-boro memajang foto wisudawan bertoga di ruang tamu. Mas Celathu justru tampak sedih.

“Sampeyan itu ya aneh. Anaknya lulus kok malah mrengut? Mbok ya sedikit menghargai jerih payah anak yang sudah berjuang keras. Tidak gampang lho jadi sarjana itu,” kata Mbakyu Celathu sambil mencolek suaminya yang masih njegadul. Dia meneruskan dengan agak merajuk,”Sampeyan rak ya bangga ta punya anak sarjana?”

Sambil masih tetap bermuka kecut, Mas Celathu menjawab sekenanya, ”Yaaaahhh,….. kalau mengaku bangga, bisa membuatmu bahagia, ya wis…. bolehlah disebut aku sedang bangga. Lagian, aku kan sudah menyalami anakku. Sudah berterimakasih karena dia sudah memenuhi kewajibannya, menyelesaikan sekolah. Tapi, yang jadi pikiran bukan itu.”

“Lalu apa?”

“Ya peristiwa di kampus anak kita tadi pagi itu. Setiap melihat acara seperti itu, ati saya selalu mak gregel. Trenyuh. Seperti mau nangis, tapi seperti ada yang ngganjel di telak,” kata Mas Celathu lirih dengan nada rada bergetar.

Mas Celathu lalu mengudari pikiran yang bergelayut di benaknya. Rupanya dia mengidap syndrome ganjil. Saban dilihatnya foto-foto penobatan wisudawan di koran, apalagi menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri, Mas Celathu bukannya melihatnya wajah ratusan anak muda dan keluarganya yang gembira berseri-seri.

Tapi yang tampak dimatanya, adalah antrian pengangguran anyar yang mengular tambah panjaaaaang. Hari ini mereka tampak bersuka cita, saling berfoto dengan bibir tersungging melengkung ke atas. Tapi, lusa atau bulan depan, siapa yang bisa menjamin garis bibir mereka tidak melengkung ke bawah? Apakah Depnaker, Depdiknas, Depdagri dan Kementerian Pemuda, bisa memberikan kepastian atas ketersediaan lowongan kerja, sehingga arus gelombang sarjana-sarjana baru berusia muda itu, benar-benar bisa menjemput masa depannya dengan aman dan penuh kepastian?

Rupanya, keperihatinan itulah yang membuat dadanya seseg. Lebih terasa menyesakkan lagi, karena di antara ribuan, juga mungkin jutaan sarjana baru itu, adalah anak sulungnya. Arus calon pengangguran yang menggelombang itu, seperti berbaris slow motion sambil tangan kirinya mengempit ijazah, dan satu tangannya lagi menadah minta jatah pekerjaan.

Rombongan itu seperti gerak eksodus besar-besaran. Gerakannya serempak. Seperti wayang rampogan. Suaranya menggeremang. Pelan, tapi menakutkan. Karena yang tergambar kemudian, adalah ancaman setelah mereka gagal menembus lowongan kerja. Mungkin ketergelinciran menuju penyalahgunaan narkoba atau kriminal lainnya. Mas Celathu membatin,”Oalaaah pemerintah-pemerintah, sampeyan kok tega-teganya membudidayakan pengangguran? Terus, apa guna pendidikan jika setelah berani memalak bayaran tinggi, ternyata pendidikan tidak bisa menjadikan orang siap bertarung ke dunia kerja?”

“Tapi lulusan macam anak kita, gampang cari kerja Mas. Dia kan sekolah multi media. Zaman mendatang kan zaman digital. Pasti laku. Lowongan kerja tersedia dimana-mana,” kata Mbakyu Celathu menggembosi kegusaran suaminya.

“Memang iya. Tapi ribuan, bahkan jutaan teman-temannya, lalu bagaimana? Kalau pabrik-pabrik pada gulung tikar karena kapok dipalak preman berseragam, kalau setiap usaha ditakuti-takuti gerakan anarki berkedok agama, kalau masyarakat masih juga berpikiran rasialiss dan selalu curiga terhadap kesuksesan ekonomi etnis tertentu, - apakah masih mungkin tersedia lapangan kerja?” sergah Mas Celathu dengan nada tinggi.

Mbakyu Celathu mengulurkan sebatang kretek filter kepada suaminya. Maksudnya, biar emosi Mas Celathu kendor. Sambil menyulutkan api, Mbakyu Celathu bilang,”Kalau toh pabrik-pabrik tutup, sarjana-sarjana itu kan selalu punya akal untuk bersiasat. Lha wong sebentar lagi bakal rame menyongsong 2009. Pasti akan banyak peluang kerja. Mau jadi apa saja bisa.”

Mbakyu Celathu lalu nyerocos menyebut sejumlah mata pencaharian yang datangnya cuma lima tahun sekali: penggembira kampanye, sablon kaos, demonstran bayaran, calo politik, satgas partai, desainer logo partai baru, bikin slogan.

“Dan anak kita, dengan ilmu multi medianya bisa bikin iklan partai politik. Jelas tidak bakal nganggur dia,” kata Mbakyu Celathu gembira. Memang, ilmu multi media di era digital, selalu memberikan kemudahan kerja yang serba cepat. Bisa meringkas informasi, sekaligus bisa memoles dan membuat trik manipulasi. Yang busuk bisa dibuat segar. Yang kasar bisa ditampilkan lembut. Yang jahat bisa dicitrakan alim. Yang koruptor bisa dihadirkan suci. Yang pembunuh mahasiswa bisa disugestikan sebagai pengentas kemiskinan. Yang kriminal bisa dibesut jadi dermawan nan agamis.

“Wuuahhh,…. ilmu multi media memang jos tenan. Anak kita nggak salah milih sekolahan,” ujar Mbakyu Celathu girang. Demi mendengar kegembiraan itu, Mas Celathu hanya membatin,”Kalau setiap ilmu dan kepintaran hanya digunakan untuk membodohi masyarakat, lebih baik anak saya ndak usah jadi sarjana. Saya nggak rela anak saya jadi wisudawan. Biar pun yang dipoles untuk tahun 2009 itu pensiunan jendral sekalipun.”

Mas Celathu hanya berani membatin. Kalau sampai diucapkan, ia khawatir membuyarkan kebahagiaan istrinya yang sedang happy punya sarjana baru.***

—————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 30 Desember 2007 NASIONAL

Isteri Bernyali
Butet Kartaredjasa

Batas antara kreativitas dan keterpepetan rupanya sangat tipis. Jika di tengah genangan banjir Bengawan Solo orang terpaksa naik rakit dari drum yang dibelah, pastilah itu disebabkan orang sedang kepepet. Tiada pilihan lain. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada rakit, apa pun yang mengapung pasti digunakan untuk tunggangan. Bahkan batang pisang, amben, meja, bisa menjadi perahu darurat yang menyelamatkan proses evakuasi korban banjir. Selalu saja, muncul akal dan siasat dalam keterhimpitan.

Mungkin ini yang dinamakan berkah terselubung. Kreativitas terkadang justru mbrojol dari situasi yang menekan. Dalam ketertindasan dan penderitaan, gagasan gemilang dengan mudah akan berlalu-lalang. Karena itulah, meski sedih menyaksikan bencana demi bencana menghantam saudara sebangsanya, Mas Celathu masih mencoba memetik syukur. Dilihatnya ada saja akal kreatif untuk cari selamat dan menciptakan fungsi ganda dari benda-benda itu. Mungkin ini yang dinamakan kecerdikan.

Namun begitu, kalau di tengah bencana longsor, tiba-tiba ada yang mengaku-aku kehilangan uang ratusan juta terbenam di dalam timbunan longsor, boleh dicurigai ini sebagai kecerdikan negatif. Sebuah spekulasi. Dengan ndobos begitu, siapa tahu nanti dapat ganti rugi dari pemerintah. Kan lumayan hanya dengan modal bacot bisa dapat rejeki durian runtuh. Persis sebagaimana korban gempa dua tahun lalu. Demi keinginan mendapatkan dana renovasi dan rekonstruksi yang dijanjikan puluhan juta rupiah, rumah yang cuma retak malah diambrukkan sekalian. Konyolnya, terlanjur rumah rata tanah, eh iming-iming yang dijanjikan pemerintah enol rupiahnya pada menggelinding hilang. Hanya dapat beberapa juta rupiah saja, itu pun musti menunggu lamaaaaa dan berkelok-kelok prosedurnya.

Makanya, janganlah sekali-kali memanfaatkan kepintaran dan kecerdikan untuk hal-hal yang tidak senonoh. Mas Celathu menjadikan premis ini sebagai pedoman hidupnya. Jangan minteri orang yang tidak pinter. Misalnya kita jagoan soal hukum, janganlah malah memperdagangkan pasal-pasal hukuman atau membiarkan orang yang buta hukum terperosok ke lubang hukum. Jika kita ditugasi menjaga ketertiban, janganlah justru menyelenggarakan ketidaktertiban dengan bertengkar antarkesatuan.

“Makanya, sebaiknya batalkan saja niat sampeyan jualan kasur di lokasi bencana. Nggak etis itu. Mosok cari untung kok di tengah orang yang lagi susah,” cegah Mbakyu Celathu, menanggapi ide suaminya yang berniat jadi saudagar kasur.

“We lha, niat saya itu menolong. Kan kasihan ta korban-korban banjir itu, kasur-kasur mereka basah. Nggak layak dipakai,” kilah Mas Celathu yang rupanya lagi gandrung baca buku teknik pemasaran.

“Kalau mau nolong ya datang ke sana. Bawa kasur, terus disumbangkan. Kalau perlu sekalian bawa makanan yang siap disantap. Nggak usah berdagang. Sampeyan itu kayak kurang kerjaan aja. Lagian sampeyan kan bilang, jangan suka memanfaatkan penderitaan orang. Piye ta sampeyan ini? Sekarang malah mau golek bathi dari korban banjir,” Mbakyu Celathu mulai naik tensinya, nada suaranya naik beberapa oktaf.

Disantlap begitu, Mas Celathu langsung mengkeret. Bukan lantaran takut, tapi karena pukulan balik itu menggunakan premis Mas Celathu sendiri. Apa yang selalu diucapkannya, kini berbalik menghantamnya. Ia merasa malu. Lidah bininya ternyata kayak jagoan pencak silat.

Apa boleh buat. Mas Celathu cuma bisa memamerkan wajah kecutnya sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Buku “ilmu pemasaran” yang beberapa hari ini dibacanya segera ditutup, dan dilemparkan di kolong meja. Memang, sebenarnya, Mas Celathu cuma ingin mempraktekkan jurus-jurus marketing yang sedang dipelajarinya. Konon, menurut buku itu, orang harus peka membaca peluang. Setiap ada peluang, harus diolah jadi kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan. Nah, bencana banjir itu, dalam logika Mas Celathu, adalah sawah subur yang bisa diolah sebagai peluang untuk memanen keuntungan. Dari situlah, mendadak muncul ide berdagang kasur.

Mbok ya sudah ta. Nggak usah neka-neka berdagang. Lha wong sudah dikaruniai keahlian jual abab, kok ya nggragas. Masih mau berdagang segala. Sampeyan sendiri yang selalu bilang, kalau keahliannya orang itu sudah dikapling-kapling. Nggak bisa memborong semua keahlian,” isterinya nyerocos, seperti membuka kembali file-file lama suaminya. Modar. Mas Celathu tak berkutik lagi. Dia kena serangan telak, lagi-lagi menggunakan pukulan dari omongannya sendiri.

Tapi dasar Mas Celathu. Biarpun dipukul KO, tidak membuat dirinya terjerembab. Dia malah nyengeges memamerkan gigi kuningnya yang full nikotin sambil men-ciweli lengan isterinya. “Wuuuahh, untung lho aku aku punya istri cerdas kayak kamu. Kalau tidak diingatkan, pasti saya bisa kebablasan,” candanya mengalihkan perhatian, semata-mata untuk menutupi rasa malunya yang nggak ketulungan.

Padahal, aslinya, dia ya benar-benar bangga. Bangga karena isterinya tergolong perempuan yang punya nyali. Berani mengingatkan ketika suami mau nyempal menyesatkan diri di tikungan. Niat mem-proyek-kan bencana dan pederitaan khalayak, bisa dicegah isterinya. Bagi Mbakyu Celathu, mengeksploitir musibah untuk dijadikan berkah, tidak bisa dikategorikan sebagai kecerdikan dan kreativitas. Tapi, itu adalah siasat jahat.

Mas Celathu membatin, mungkin inilah salah satu peran isteri terpenting di zaman pembangunan. Punya keberanian untuk mengingatkan pasangannya, terutama saat sang pasangan diketahui akan keliru membuat kebijakan. Bukan malah merongrong terselenggaranya penyimpangan.

Mas Celathu tidak tahu, apakah para isteri lainnya, terutama isteri-isteri para pejabat publik di sepanjang aliran Bengawan Solo yang wilayahnya sedang ditenggelamkan air bah, juga isteri bernyali seperti Mbakyu Celathu. Isteri yang berani mengingatkan, supaya para suaminya tidak serta merta mem-proyek-kan bencana dan penderitaan rakyatnya. Kekhawatiran Mas Celathu mungkin bukanlah kekhawatiran yang belebihan. Soalnya, biasanya sih memang begitu.***

———————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 6 Januari 2008 NASIONAL

Menunggu Mati
Butet Kartaredjasa

Semenjak kenal kredo yang dinyatakan kelirumolog sekaligus budayawan Semarang, Jaya Suprana, bahwa “hidup itu adalah menunggu mati” – Mas Celathu jadi lebih rileks memaknai kematian. Kematian bukanlah hal yang menakutkan. Ketika masih kanak-kanak, peristiwa kematian dikonstruksikan sebagai hal yang menakutkan. Seakan-akan hanya orang sial yang bisa mati. Dan setelah mati pun, orang itu akan menemui rentetan kesengsaraan, termasuk kemungkinan dibakar api neraka. Mas Celathu yang imut, waktu itu, selalu jengah jika mendengar ada tetangganya meninggal. Takut di-primpeni, dibayang-bayangi kehadiran arwah jenazah. Dia selalu membayangkan, arwah itu gentayangan di pohon-pohon besar, di rumah kosong, di gang sempit, atau sedang berkelejotan dibakar api neraka. Semua serba horor. Hiiiiiii….sereeeemmmm!!!

Tapi sekarang, bayang-bayang masa lalu itu sudah sirna. Baginya, kematian adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang pasti akan terjadi pada siapapun. Tidak ada diskriminasi. Yang kaya maupun yang miskin, yang jendral maupun yang kopral, yang direktur maupun yang office boy, yang professor maupun yang guru SD, — semua akan mati. Yang membedakan paling banter cuma istilahnya. Ada yang disebut meninggal dunia, wafat, mangkat, gugur, sumare, modar, koit, mbangke, mampus maupun tewas. Apa pun sebutannya, intinya ya sama saja: nyawa terpegat dari raga.

Pada titik kesadaran inilah, Mas Celathu yang rajin berdoa tapi jarang beribadah formal seremonial – dan karenanya sering dikira atheis – merasakan getaran keagungan Tuhan. Betapa dalam kuasaNYA, semua mahluk tak ada artinya apa-apa. Mas Celathu seolah-olah bisa mengintip rahasia Tuhan. Kalau DIA punya mau, apa pun niscaya akan terjadi. Termasuk seumpama kang murbeng dumadi itu menginginkan mahluknya pulang ke rumahNYA. Sekarang pulang, kun fayakuuuuunn…. Maka segeralah seseorang modar.

lmu pengetahuan dan semua kecanggihan peralatan kesehatan dan kedokteran, ventilator misalnya, hanyalah alat yang berikhtiar untuk memaksakan tugas-tugas organ tubuh bekerja secara mekanik. Tapi, tidak membuat jiwa hidup kembali. Dengan semua pencapaian teknologi, nafas memang bisa diperpanjang, jantung dibuat tetap berdetak, dan darah direkayasa untuk terus mengalir. Tapi semua itu akan menjadi sia-sia, bahkan menjelma siksa, jika memang DIA tak berniat lagi mengulur ijin hidup seseorang. Karena itulah, hampir semua agama selalu mengajarkan tentang keikhlasan. Memberi pandu supaya orang tetap legawa, dan good bye kepada orang lain yang telah “selesai menunggu” alias mati.

“Kelak kalau aku sakit gawat dan sudah sekarat, jangan kalian paksa aku tetap hidup. Ikhlaskan saja. Kalau Tuhan menghendaki aku hidup, nggak usah dipacu dengan ventilator, aku tetap akan hidup. Wong urip kuwi tergantung kersane Gusti Allah,” kata Mas Celathu kepada bininya.

“Mbok jangan nggege mangsa. Omongan sampeyan ini kok ngelantur. Ora ilok,” sergah Mbakyu Celathu.

“Lho, bicara soal mati kok ora ilok? Kamu itu gimana ta bu? Kematian itu termasuk kegiatan manusia yang kelak pasti terjadi, Jadi ya boleh diantisipasi, Apalagi cuma diomongkan. Kan lebih enak kalau yang bakal terjadi itu, ditata lebih awal. Kalau nggak ada persiapan, nanti malah bikin repot banyak orang lho,” jawab Mas Celathu entheng. Ya memang begitulah Mas Celathu. Dia bicara soal kematian serileks mendiskusikan persoalan yang remeh temeh. Tak ubahnya ngomongin ban mobil yang kempes atau ngrasani infotaiment yang didominasi artis kawin cerai.

“Pak Jaya Suprana sudah ngunandika, hidup itu kan cuma menunggu mati. Sambil menunggu datangnya kematian itu, kita harus punya kesibukan. Karena itulah, kita saling bekerja yang membawa kemanfaatan untuk alam dan kehidupan. Jadi, ya jangan sampai kita ini bengong melulu,” kata Mas Celathu lagi.

“Iya iya,…. tapi kalau hare gene ngomongin mati, rasa gimana gitu… Takut kualat. Nanti kalau mati beneran terus gimana?” Mbakyu Celathu mengingatkan.

“Paling banter kamu jadi janda.”

“Jangan ngawur. Hayo, kalau mati beneran gimana?”

“Lha ya dikubur,” jawab Mas Celathu singkat, tanpa beban. “Mau dikubur dengan cara apa, yang terserah kalian yang pada masih hidup. Mau di-doa-kan dengan ritual agama apa pun, ya silakan aja. Toh saya juga sudah nggak tahu, lha wong sudah mati. Bahkan mau diterlantarkan di lapangan, dan dicucuki burung bangkai, ya mangga saja,” celoteh Mas Celathu sekenanya, mengisyaratkan bahwa kematian bukanlah peristiwa yang luar biasa.

Mbakyu Celathu benar-benar gemas dengan jawab waton njeplak itu. Tangannya rasanya sudah gatal untuk menapuk mulut suaminya yang lancang itu. Tapi ia segera sadar, di rumah tangga Celathu berbagai bentuk kekerasan fisik dipantangkan. Jadi dia segera mengumpetkan tangan di balik dasternya.

Tapi dasar Mas Celathu suka iseng. Demi melihat kejengkelan isterinya, dia malah ndadi ngomyang-nya. Omongannya semakin ngelantur tidak menentu. Imajinasinya tambah liar. Dia malah berpesan,”Nanti kalau aku mati jangan ditangisi ya. Orang mati jangan dihantar dengan kesedihan. Tapi justru dihantar dengan kegembiraan. Jadi, pas jenazahku mau diberangkat ke kubur,kalian musti cekikikan. Syukur jika bisa cekakakan, tertawa terbahak-bahak. Seru tuh. Teater banget.”

“Edan, edaaaaan. Sampeyan ki edan tenan,” jerit isterinya sambil membungkam mulut suaminya.

Mas Celathu gelagapan. Karena dibekap mulutnya, nafasnya megap-megap. Dia terbatuk-batuk. Batuknya semakin terpingkal-pingkal, bahkan diwarnai hoek-hoek-hoek disertai keluarnya cairan kental dari kerongkongannya. Mas celathu mengkis-mengkis, dan dengan suara putus-putus, dia bilang,”Bu,…nafasku, nafasku,….tolong obat batuknya. Wuaduuhhh… dadaku seseg. Obat gosok, obat gosok,…sini gosokkan di dada.”

Mbakyu Celathu kaget. Tidak menduga akan sedemikian dahsyat kejadiannya. Segera diambilnya minyak kayu putih, dan diusapkan ke dada suaminya. Dibiarkan suaminya bersandar di kursi. Lalu katanya, “Awas kalau minta ventilator. Gini aja kan lama-lama sembuh. Kalau Tuhan memang menghendaki, nanti rak ya sehat.” Dia lalu ngeloyor pergi, membiarkan suaminya menikmati sesak nafasnya.

Mulut Mas Celathu mangap kayak ikan koi menyedot udara. Dia membatin, ”Hidup memang menunggu mati. Sambil menunggu mati, kita memang harus bekerja untuk memuliakan kehidupan. Tapi adakalanya, sambil menunggu mati, kita juga harus mencicipi pahitnya kesengsaraan kehidupan. Nafas mengkis-mengkis salah satunya….”***

———————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 13 Januari 2008 NASIONAL

Ingin Dikenang
Butet Kartaredjasa

Di hadapan sejumlah temannya yang rata-rata gaya hidupnya rada ngawur, urip sak enak wudele dewe, Mas Celathu bertanya, “Kalau kelak kalian mati, pengin dikenang sebagai apa?”

“Orang jujur.”

“Sebagai ksatria, pembela kebenaran.”

“Selalu diingat jadi pendidik yang ikhlas.”

“Dikenang seperti Arjuna. Lelaki nggantheng, pujaan perempuan.”

“Sebagai dermawan yang sholeh.”

“Jadi wong nrima, wong sing sumeleh.”

Demi mendengar jawaban yang semuanya optimistik macam itu, Mas Celathu lega. Dari riset kecil ini, dia berkesimpulan, tidak ada orang yang ingin mati dengan meninggalkan citra buruk. Maunya yang serba oke.

Memang, after modar, yang tersisa dari setiap orang hanyalah kenangan. Kenangan tentang sebuah kemuliaan. Itulah keabadian yang akan selalu menempel menjadi bagian sejarah orang per orang. Mungkin orang makmur – makmur harta dan makmur jabatan — bisa mewariskan istana mewah, deposito dan saham-saham bluechip, mobil import mutakhir, intan permata atau pun setumpuk emas batangan.

Tapi semua itu bakal segera ludes, lantaran semua yang bersifat duniawi itu memang lebih praktis dilego. Tapi siapakah yang bisa menjual sebuah “kenangan tentang kemuliaan”? Kenangan hanya sebuah nilai yang abstrak, citra yang dipersepsikan. Tak bisa digenggam atau dilempit seperti lembaran duit. Emang, ada tukang gadai yang bersedia membeli sebuah kenangan? Terus gimana dong menentukan harganya?

Karena itulah, — sebrengsek-brengseknya orang, seamburadulnya gaya hidup seseorang, sehancur-hancurnya tabiat orang — tetap saja orang tak ikhlas jika dikenang sebagai preman, kecu, maling, bromocorah, rampok dan sebangsanya. Hanya hal positif yang hendaknya tetap membekas di benak orang yang ditinggalkannya. Makanya, siapa pun yang di masa lalunya pernah khilaf tergelincir dalam tindakan kriminal atau tersandung oleh sifat-sifat buruk – rakus, koruptif, sombong, gemar menipu, megalomania, temperamental, hobi nggebuk dll — segera saja di sisa umurnya orang itu mendandani perilakunya. Biar kebaikan demi kebaikan yang ditanam hari ini, bisa membungkus kekelaman masa lalunya.

Paling tidak, orang tidak ingin meninggalkan kehidupan yang fana dengan status tidak normal. Tidak dengan embel-embel predikat memalukan, misalnya berstatus tersangka atau terpidana. Mati dengan status hukum seperti itu, tentu akan membikin anak cucu orang itu akan mempunyai kemaluan yang sangaaaaatt panjang. Eh, maksudnya rasa malu yang berketerusan.

Makanya, jika hari ini khalayak masih menggunjingkan soal kematian, Mas Celathu pun ikutan terseret mempercakapkannya. Minimal, lelaki yang terkesan suka leda-lede itu, jadi semakin berhati-hati menjalani hidupnya. Menakar kembali tabiatnya yang suka sembrono. Dan mengkalkulasi kembali baik-buruknya perilakunya. Agak ganjil juga sebenarnya hal beginian jadi urusannya. Lha wong selama ini, Mas Celathu seperti orang yang tak mau ambil pusing dengan perkara akhirat.

“Lho ini bukan urusan akhirat kok. Ini urusan duniawi,” kilah Mas Celathu sambil meneruskan,”Yang jadi pikiranku itu, bagaimana menciptakan citra bagi mereka yang masih hidup kok. Duniawi ta?”

“Duniawi ya duniawi. Tapi, tumben sampeyan mikir gituan. Kok kadingaren banget. Ing atase cah kenthir kok keblasuk mikir urusannya Begawan. Soal beginian kan biasanya diurus ulama, rohaniawan, atau orang-orang wicaksana dan waskita. Bukan porsi sampeyan,” jawab Bung Antorium, sahabatnya yang tak lama lagi punya status duda.

“Wuah, situ ngelihat aku cuma dari kulitnya. Kelihatannya aja nggak pernah ibadah, tapi aku ini aslinya ya religiuuuuus. Saban hari yang kupikir yah hal-hal begituan,” jawabnya setengah berseloroh,”Mungkin religiositasku nggak kalah sama rohaniawan….he he he.”

Mas Celathu ngomong begitu bukan bermaksud sombong. Tidak juga jumawa. Terkadang justru bermakna sebaliknya. Makanya, dalam perkara Gusti Allah, dia lebih suka memakai istilah religiositas, katimbang agama. Rasanya lebih netral, meski sama-sama menegaskan hubungan vertikal antara mahluk dan Tuhannya. Soalnya, kalau sampai agama yang digunakan sebagai terminologinya, dia pasti akan tersandung-sandung. Jangankan memahami ayat-ayat suci, ibadah yang rutin seremonial pun sering lupa dilakukan. Lupa tapi permanen. Boleh dibilang, dalam hal agama, Mas Celathu termasuk klas bego nomer wahid.

“Lha sampeyan sendiri, kalau mati pengin dicitrakan sebagai apa?”

Mas Celathu gelagapan, nggak menduga bakal dapat umpan balik macam ini. ‘Wuah,…apa ya?” Tiba-tiba dia seperti orong-orong kepidak. Cep klakep. Spontanitasnya yang suka ber-celathu sekenanya, hilang mendadak. Kompensasi salah tingkahnya, dia hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Tapi otak terus putar akal cari jawaban, lalu berkatalah dia,”Pengin dicitrakan orang yang selalu rileks. Rileks dalam hal apa pun.”

Lalu Mas Celathu menerangkan panjang lebar, apa arti keinginannya yang sederhana ini. Yaitu, sikap mengubah beban seberat apa pun menjadi serba ringan. Memperlakukan tantangan sebagai peluang untuk menghadirkan kegembiraan. Dia bilang, hidup sudah berat, tak perlu dibikin susah. Kalau bisa dibikin gampang, kenapa harus dipersulit? Kalau ketemu masalah, janganlah mempermasalahkan sebuah masalah. Tetapi mengurai masalah dengan hati yang bungah. Jadi apa pun situasinya, semua disikapi dengan rileks-rileks aja. Hidup jadi sumeleh. Tidak stress.

“Itu sih cermin kemalasan. Kalau semua diperlakukan serba rileks, ya nggak ada penyelesaian.”

“Tuh kan? Cuma soal gitu aja kamu permasalahkan. Berarti kamu nggak cocok menjalani filsafat rileks,” jawab Mas Celathu dengan rileks. Baginya, dipersepsikan sebagai tukang rileks, sudah jauh lebih terhormat, katimbang mati dalam keterhinaan. Lebih nggak enak lagi, kata Mas Celathu, jika sebuah kematian dijadikan main-mainan. Untuk tebak-tebakan perjudian. Bayangkan saja, jika jam kematian seorang tokoh besar, sekarang ini sedang diperlakukan sebagai lotere ala rolet. Orang bisa membeli angka pada jam berapa kematian itu terjadi, persis orang memilih angka-angka togel.

Oooohh, betapa hina dan ngenesnya akhir sebuah kerakusan.***

————————————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 20 Januari 2008 NASIONAL

Kukuku Kedelaiku
Butet Kartaredjasa

Mas Celathu berjanji tidak akan lagi menyepelekan kuku. Dia bersumpah bakal lebih peduli merawat dan memotong kuku. Lho, memangnya kenapa kok tiba-tiba kuku jadi persoalan serius, seakan-akan tidak ada soal lain yang lebih gawat untuk dibicarakan? Bukankah perkara kedelai dan tempe hari ini lebih urgen untuk diomongkan? Atau soal rontoknya harga-harga saham yang mengancam lahirnya resesi global, dan bisa dipastikan bakal membikin perekonomian Indonesia njengkelit nggak karuan?

We lha, jangan menyepelekan kuku. Saya sudah kena akibatnya,” sergah Mas Celathu. Awal perkaranya memang cuma sepele. Gara-gara lupa memotongi dan alpa mengurus, pertumbuhan kuku kaki Mas Celathu menyodok sudut kulit jempolnya. Semula biasa saja, tapi lama-lama membengkak, dan baru jadi perkara setelah langkah Mas Celathu jadi terpincang-pincang lantaran sang jempol menggelembung dengan nanah di dalamnya. Mas Celathu hanya bisa mengerang kesakitan. Dia cuma bisa lenger-lenger. Pendeknya, dari secuil kuku, tubuh perkasa bisa rontok. Produktivitas mandeg. Aktivitas macet. Semua jadwal bubrah.

“Makanya jangan hanya memikirkan perkara-perkara besar. Sok ngomong politik. Pilkada. Korupsi. Ngrasani jendral besar. Sampeyan ini ora sembada. Cuma dikerjaian sama kuku aja langsung ambruk,” ejek Mbakyu Celathu, sambil mengompres jempol yang kini segede bakpao.

“Iya, iya….saya sudah insyaf. Jangan diomeli terus ta. Semangkin diomelin, semangkin sakit. Wuaduh,….duh, duh,” jawab Mas Celathu sengit, sambil tetap meringis kesakitan. Dari ujung bawah kakinya, Mas Celathu merasakan bagimana rasa sakit itu merayap sampai ke otak. Selangkangannya juga terasa njarem. Suhu badannya meninggi. Kepala cekot-cekot seperti ada seratus jari menjitaki. Pandangan terasa kabur, dan semua pemandangan yang dilihatnya jadi out focus.

Dalam hajaran derita itu, Mas Celathu akhirnya menyadari bahwa dirinya tak boleh melakukan diskriminasi terhadap setiap bagian organ tubuhnya. Semua penting perannya. Jika salah satu bagian diabaikan, maka akibatnya bisa ke mana-mana. Bisa mengacaukan sistem dan mekanisme. Biar pun hanya sepotong kuku, jika tak diurus dengan baik nyatanya bisa bikin kehidupan macet.

Rasa sakit, juga sakitnya kehidupan masyarakat, acapkali memang tidak selalu disebabkan oleh hal-hal besar. Yang membuat tubuh ambruk, seringkali bukan hanya karena serangan jantung, hepatitis, darah tinggi, diabetes, stroke, gagal ginjal dan sebangsanya. Kuku di jempol kaki pun bisa pula jadi penyebab. Kata lain, ambruknya ekonomi dan rontoknya kehidupan sosial terkadang bukan hanya berkaitan dengan kebijakan makro ekonomi atau perang politik tingkat tinggi. Kedelai pun bisa jadi penyebab.

Mas Celathu tak habis pikir, bagaimana mungkin negara yang mayoritas warganya doyan makan tahu dan tempe, ternyata masih mengandalkan kedelai import? Ironisnya, menurut sebuah sumber yang layak dipercaya, konon kedelai improt itu di sononya hanya layak sebagai pakan ternak karena kontaminasi kandungan racun dari pupuk pestisidanya melampaui ambang batas. Kebenaran tentang hal ini, wallauhualambisawab. Eh sudah begitu pun, pemerintah masih juga gagal melakukan antisipasi, sehingga kekurangan persediaan itu menyebabkan harga kedelai melambung, dan biasanya selalu diikuti lahirnya para penimbun yang selalu cari untung di tengah kesempitan. Edan ta?

Yang membuat Mas Celathu tambah mengernyitkan kening, “Bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi di sebuah negara agraris, yang cuaca dan musimnya memungkinkan akan tumbuh suburnya kedelai? Mas Celathu melenguh dan bergumam pelan,” Walah, walah…terus Menteri Pertanian, juga sarjana-sarjana yang konon ciamik mengolah tanah dan tetumbuhan, selama ini kerjanya ngapain aja?”

“Sampeyan ya jangan lantas menyalahkan Pak Menteri. Yang beliau urus itu tidak hanya kedelai. Pertanian itu luas banget persoalannya. Ya nasib petani, soal pupuk, ketersediaan bibit, rekayasa genetika, perubahan musim, bencana banjir, teknologi pertanian. Dan masih banyak lagi,” Mbakyu Celathu mengingatkan.

“Lho, apa susahnya melakukan mobilisasi secara nasional tanam kedelai. Pemerintah nyiapkan bibit dan rabuk, petani yang bercocoktanam, dan hasil panennya pasti dibeli rakyat. Lha wong kebanyakan rakyat Indonesia masih mengkonsumsi tahu tempe. Kan begitu ta, mata rantai hukum dagangnya. Jadi, tanpa improt, devisa kita nggak kemana-mana,” kata Mas Celathu meyakinkan, menirukan lagak wakil rakyat yang sedang ngoceh, seperti pernah dilihatnya di layar televisi.

Jika dirasakan, Omongan Mas Celathu yang menaburkan idiom-idiom ekonomi itu terasa asing meluncur dari mulutnya. Nggak match-lah. Terlebih ketika kemudian dia melanjutkan,”Saya curiga, jangan-jangan ini memang ulah politisi yang ngobyek jadi calo import kedelai.”

“Huss, sampeyan ini mbok jangan waton njeplak. Jangan sembarangan bicara,” sergah Mbakyu Celathu.

“Abiiiis, gemes aku.”

Dalam fantasi Mas Celathu, kealpaan memikirkan dan mengurus penyelenggaraan kedelai secara nasional itu, sama serupa dengan dirinya yang alpa mengurus kuku sehingga membuat dirinya kesakitan. Ketika kedelai disepelekan, diabaikan dan didiskriminasi kebijakannya, kesakitan demi kesakitan akan menghajar masyarakat. Bayangkan jika sampai setahun ini, ketersediaan kedelai — import maupun ikhtiar swasembada — tidak segera terwujudkan, rasanya cukup ngeri membayangkan terjadinya badai sosial.

Tanpa kedelai, kita tak hanya bakal menyaksikan gelombang pengangguran anyar para perajin tahu, tempe dan kecap, — tapi juga merosotnya kualitas manusia yang tumbuh tanpa gizi dari tahu dan tempe. Mungkin inilah kesamaan nasib kuku kaki Mas Celathu yang hari ini membuat dirinya nyengir kesakitan. Rasa sakit itu bisa merayap kemana-mana. Hanya bermula dari kuku, eh kedelai.

Tapi kita belum tahu, apakah pemerintah juga bisa merasakan sakit itu?***

—————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 27 Januari 2008 NASIONAL

Gugur Seribu
Butet Kartaredjasa

Untuk perkara menyanyi, melantunkan lagu dengan melodi indah, Mas Celathu angkat tangan. Dijamin sumbang. Itu sebabnya, setiap ada kesempatan hura-hura dimana orang musti menyanyi, misalnya pesta di kamar karaoke, Mas Celathu biasanya segera ngumpet. Biar tidak ketiban sampur, menerima giliran, untuk berdendang. Jangankan nyanyi beneran dengan iringan organ tunggal, lha wong rengeng-rengeng di kamar mandi pun, yang terdengar pasti suara blero.

Kelemahan yang melekat pada dirinya itu, bukan hanya selalu meleset mengambil nada, tapi juga menentukan saat kapan harus mulai mangap. Seringnya telat, sehingga syair dan melodi saling berkejaran. Jadinya ya pasti ambyar. Makanya, setiap didesak untuk menyanyi, Mas Celathu dengan tangkas berkilah,”Maaf ya, saya belum siap untuk bunuh diri. Bagi saya, menyanyi adalah membuka borok dan mempermalukan diri, he he he.”

Baginya, mengakui kekurangan dan kelemahan seperti ini jauh lebih baik, katimbang memaksakan diri. Daripada jelas-jelas jagoan blero, tapi tetap ngotot ingin pamer nyanyi. Itu anarkhis namanya. Pasti akan menyiksa pendengarnya. Memang kerap terjadi, di berbagai pesta internal atau di cafe, bapak atawa ibu yang berstatus atasan – mungkin pejabat atau pemimpin perusahaan — nekad tarik suara. Penampilan dan gayanya meyakinkan. Mungkin sejak dari rumah sudah ancang-ancang bakal jadi bintang. Tapi begitu njeplak, astagafirullah…..suaranya tak lebih merdu dari kambing mengembek. Dan hebatnya lagi, biasanya para anak buah pada bertempiksorak memberi aplaus, seakan-akan sedang menikmati latunan indahnya suara Kris Dayanti.

Mas Celathu sadar sesadar-sadarnya, tak ingin jadi kambing yang mengembek. Biarpun didaulat dengan paksa, dia akan tetap menggeleng. Agaknya dia tergolong manusia “yang tahu bahwa dirinya tidak tahu”. Bukan sejenis manusia “yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, tapi sok tahu”.

Menurut catatan sejarah yang belum pernah ditulis, Mas Celathu hanya bersedia menyanyi tatkala melakonkan watak yang diperankannya di panggung tonil. Biar suaranya sember, apa boleh buat, dia jalankan kewajiban itu sebagai totalitas profesionalnya. Itupun dia cukup rewel. Sering mengubah nada seenaknya. Minimalnya para pemusik harus tunduk berkompromi dengannya. Bukannya penyanyi menyuarakan aransemen sang komponis, melainkan aransemen yang harus menyesuaikan keterbatasan penyanyinya. “Ha ha ha, supaya aku bisa tercitrakan bisa nyanyi beneran,” kata Mas Celathu membocorkan siasatnya. Untungnya, para piñata musik yang selama ini bekerjasama dengannya, adalah kreator-kreator yang baik hati. Bersedia dijajah oleh bocah kenthir ini.

Tapi pekan lalu, Mas Celathu gantian yang terjajah. Setiap ia menyetel televisi atau radio, kupingnya disergap lantunan lagu “Gugur Satu Tumbuh Seribu”. Lagu itu bergema di mana-mana. Menjadi teror yang mengepung dirinya. Sepertinya ia tak bisa beringsut meloloskan diri dari isakan lagu yang mendayu-dayu itu. Lagu yang menyampaikan pesan, bahwa hari ini telah gugur seorang pahlawan, dan hendaklah segera lahir seribu pahlawan baru.

Sebenarnya, Mas Celathu tak berkeberatan terhadap lagu itu. Juga terhadap penyajian fakta itu. Media massa seperti koran, televisi dan radio, tugasnya memang memberitakan kenyataan, terlebih jika kenyataan itu punya nilai berita tinggi. Tetapi jika media massa kehilangan daya kritis, atau malah secara sengaja mempersembahkan fakta yang telah dipelintir, seolah-olah hari ini telah gugur seorang pahlawan, Mas Celathu jadi bingung. Dia tidak mudheng. “Emang yang gugur seorang pahlawan?” tanyanya dalam hati. Bukankah pemerintah masih mengambangkan status hukumnya sebagai terpidana, dan menuntut secara perdata atas orang yang kita sangka sebagai pahlawan itu?

“Gitu aja sampeyan gusar. Mbok ya sudah nggak usah dipersoalkan. Lha wong orangnya ya sudah mati. Kalau perlu sampeyan kasih maaf sama tokoh itu,” kata mbakyu Celathu.

“Ngasih maaf? Memangnya saya Tuhan? Urusan dosa manusia, yang berhak ngasih maaf itu ya Tuhan. Saya sama sekali tidak punya hak untuk memberi maaf kepada siapa pun, kecuali seseorang itu secara langsung pernah mencelakai saya,” jawab Mas Celathu sambil meneruskan,”Lha kalau persoalannya hukum, biarlah itu diselesaikan secara hukum. Kan sudah ada tatanan yang mengaturnya.”

“Tapi sampeyan kan diuntungkan ta. Sampeyan kan sering menirukan suara tokoh itu. Emang sudah bayar royaltinya?”

Mas Celathu yang memang kerap memparodikan tokoh itu dengan mengimitasi suaranya, tergeragap juga. Lalu dengan tangkas dia menyergah,”Akan saya bayar royaltinya, setelah tokoh itu membayar royalti kepada keluarga jutaan korban yang telah disengsarakannya.”

Mas Celathu lalu menjejer berbagai kasus pembantaian manusia di masa lalu, yang telah dijadikan ancik-ancik tahta kekuasaannya. Jutaan keluarga dipunahkan masa depannya karena dikelompokkan sebagai anggota partai terlarang. Yang lainnya lagi ditenggelamkan nasibnya dalam waduk raksasa, ditumpas karena berbeda pendapat, disirnakan karena mempertahankan tanahnya, dan lain-lain.

Mengingat rangkaian kekejaman terhadap kemanusiaan itulah, Mas Celathu jadi semakin gemas dengan lagu “Gugur Satu Tumbuh Seribu” yang mengiringi berbagai pemberitaan. Sepertinya ia ingin mengubah syair lagu itu menjadi, “Gugur Seribu Satu pun Jangan Tumbuh”. Betapa berbahayanya jika sampai syair itu bertuah. Bayangkan, satu orang saja berhasil membinasakan jutaan manusia, apalagi jika lahir lagi seribu manusia sejenis itu. Peradaban bisa ambyar berantakan.

Dan ketika Mas Celathu, melalui pesan pendek, menanyakan hal ini kepada seorang kiai di Rembang yang diidolainya, dia memperoleh jawaban yang mengejutkan,”Sekarang sudah lahir yang seribu” itu.

Mas Celathu termangu memandang SMS yang baru diterimanya. Benar juga jawaban pak kiai ini. Yang gugur memang cuma satu, namun diam-diam telah terwariskan keganasan, ketegaan dan kekejaman dalam ribuan wajah. Dan kini, rupanaya kita sedang hidup dalam kepungan keganasan baru.***

—————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 3 Februari 2008 NASIONAL

Belajar Mendengar
Butet Kartaredjasa

Jika disuruh memilih, menjadi bawahan atau atasan, Mas Celathu mengaku lebih suka jadi bawahan. Kenapa? Sambil nyengenges memamerkan deretan giginya yang full nikotin, dia bilang,”Ya aku jelas milih jadi bawahan dong. Jadi bawahan itu enak. Banyak temannya. Jadi selalu punya kawan untuk ngrasani atasan. Kalau jadi atasan kan sendirian. Kalau ada gonjang-ganjing pemberantasan kenakalan, atasan akan kena duluan.”

“Tapi, jadi atasan kan rejekinya lebih tinggi, hayooo.”

“Rejeki memang tinggi, tapi banyak godaannya. Salah-salah tergiur korupsi.”

“Kalau iman kuat, ya tetap pantang korupsi. Lagian, jika jadi atasan, kan bisa mengatur dan menentukan arah haluan. Punya kuasa mengatur kebijakan.”

“Ya memang. Tapi saya lebih suka diatur kok. Kalau disuruh memilih, yang paling pas untuk saya, ya jadi bawahan.”

Percakapan gombal-gombalan antara Mas Celathu dengan teman barunya ini, terjadi suatu malam di kedai angkringan, tempat di mana Mas Celathu sering menghabiskan waktu larutnya. Di tempat yang memungkinkan ilmu pengetahuan bisa saling dipertukarkan ini, dialog model apa pun kerap terjadi tanpa halangan. Tidak ada sekat. Semua yang ngoceh merasa setara. Tidak ada kendala atasan-bawahan. Tiada hambatan psikis kaya-miskin. Dan biasanya berlangsung begitu saja, dari omongan bermutu laiknya cendekiawan, sampai yang sekadar tong kosong ditabuh wong edan . Dan uniknya, jawaban sekenanya atau ocehan yang sarat kemunafikan, akan menjadi bumbu sedap yang sangat mengasyikkan jika didengarkan.

Misalnya, ya seperti jawaban Mas Celathu di atas. Dia mengaku “lebih suka diatur” – padahal, kita tahu, aslinya dia adalah orang yang paling sulit diatur. Setiap aturan selalu ditawar, terlebih jika aturan itu diperkirakan akan membelenggu gaya hidupnya yang leda-lede seenak wudele dhewe.

Begitu pun pengakuannya bahwa dia nggak ingin jadi atasan. Pastilah gampang dicurigai, itu sekadar pernyataan lamis. Bilang tidak, padahal maksudnya iya. Ini memang pernyataan khas dari seseorang yang jauh dari peluang dan kemungkinan. Akan lain ceritanya jika peluang kedudukan tersaji di depan mata.. Pasti langsung disambar. Biasanya sih, jenis orang beginian akan langsung menikmati kekuasaan itu tanpa mempedulikan konsistensi omongannya di masa lalu.

Karena hanya sekadar omongan klas warungan, hendaklah dimaklumkan. Janganlah sekali-kali menuntut setiap pernyataan musti presisi dan berlandaskan kebenaran. Omongan di warung memang bukan dialog di sebuah mimbar akademik yang ribet dengan aneka teori. Juga bukan omongan ala anggota dewan yang selalu bersumber dari akurasi data dan riset penelitian. Di warung tak ada rambu-rambu yang mengatur lalu lintas pembicaraan. Sangat permisif dan longgar aturan. Bahkan, andaikan omongan hanya berisi rentetan bualan, siapa pun tak bisa mencegah. Apalagi melarang. Karena itulah kabar angin, info gothak-gathuk atawa gossip, akan tumbuh subur di tempat beginian.

Mas Celathu bukannya tak menyadari hal ini. Justru karena empan papan, tahu dimana tempat semestinya, maka dia seperti menemukan kanal untuk melepaskan omongannya yang super ngawur di warung angkringan itu. Kadang malah ngelantur. Di sini ia bagai menemukan ruang kebebasan untuk bicara. Yang sangat menyenangkan, dia bisa memanjakan kebiasaannya mengacaukan fakta dan fiksi. Dan jika Mas Celathu berhasil meyakinkan bualannya kepada para pejajan, dia akan terkekeh-kekeh. Terlebih apabila nantinya fiksi itu berkembang menjadi kisah yang menjelma seakan-akan sebuah fakta. “Kena lu!” begitu Mas Celathu membatin jika dobosannya diyakini sebagai kebenaran.

Keusilan seperti ini, bagi Mas Celathu yang bukan pejabat publik, memang tidak membawa risiko apa pun. Kalau toh kelak ketahuan hanya bualan kosong, paling banter hanya dicemooh dengan guyonan pula. Inilah yang membuat komunikasi ala warung terasa mengasyikkan.

Lain perkara jika itu terjadi di ruang-ruang terhormat dan dinyatakan orang yang berpangkat. Seumpama orang penting, misalnya wakil rakyat atau pengurus partai, terlalu sembrono bikin pernyataan yang bersumber dari gosip klas warung, buntut kisahnya pasti akan berbeda. Misalnya priyayi berpangkat itu menyiarkan kabar angin soal kejahatan kelamin seorang pemimpin, yang bersangkutan bisa kena imbas omongannya sendiri. Salah-salah bisa diterkam pasal penghinaan, dan terjerumus ke sel penjara. Itu sebabnya, Mas Celathu selalu mengingatkan agar waspada dan hati-hati berbicara. Lihat tempatnya, lihat status ruangnya, dan lihat pula siapa yang diajak bicara.

“Lha kalau sampeyan dipaksa menjadi atasan, kira-kira apa yang akan pertama kali sampeyan lakukan,” teman nongkrongnya bertanya lagi. Rupanya simpang siur dialog warungan belum berakhir. Topik omongan masih soal atasan dan bawahan.

“Weeehh, mosok jadi atasan kok dipaksa?

“Lho, ini kan cuma umpama.”

Karena belum bercita-cita menjadi atasan, tentu saja Mas Celathu tidak siap jawaban. Tapi, berhubungan ini hanya dialog warung yang mengijinkan orang bicara tanpa argumen, maka Mas Celathu menjawab sekenanya.

“Saya akan minta dokter mengoperasi kuping saya. Supaya daun telinga lebih lebar dari yang sekarang,” kata Mas Celathu sambil menjumput juadah bakar,dan langsung mengunyahnya.

“Maksudnya?”

“Ya biar pendengaran lebih peka. Kalau perlu, sebelumnya saya akan mengikuti kursus, belajar menjadi seorang pendengar yang baik.”

Ngomong begitu, bukan lantaran Mas Celathu ingin menyindir. Tapi semata-mata karena gemas, sering ketemu sejumlah orang berstatus atasan, tapi begonya nggak ketulungan. Pastilah ini jenis atasan yang tidak berkenan mendengar, tapi terlalu rajin bicara. Padahal kita tahu, status dan jabatan tidak membuat orang menjadi superman. Kedudukan tidak membuat semua persoalan dikuasai seorang atasan. Karena itulah, adakalanya diperlukan kesediaan untuk mendengar – termasuk kesediaan mendengarkan kritik bawahan. Jika belum terlatih untuk mendengar, ya segeralah belajar untuk bisa mendengar.

“Welhadalah…daleeem banget nih. Tumben ngomongnya serius.”

“He he he….kalau boleh terus terang, saya kan juga pengin jadi atasan,” kata Mas Celathu tanpa kemunafikan, sambil membuka earphone yang sedari menyumbat kupingnya. Rupanya Mas Celathu juga menyadari, dirinya pun juga harus belajar mendengar.***

——————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 10 Februari 2008 NASIONAL

Keberanian Menjajal
Butet Kartaredjasa

Bergabung di kelompok tonil alias grup sandiwara itu semacam “sekolah”. Inilah kesimpulan yang mengkristal dalam benak Mas Celathu. Dia benar-benar merasakan manfaat itu. Dan berhasil membuktikan, betapa ilmu urip-nya antara lain ditimbanya dari sana. Rasanya ingin sekali ia membisikkan ke kuping-kuping para orang tua, mengabarkan supaya mereka jangan ragu jika anak-anaknya memilih kegiatan sandiwara atau teater sebagai media pengembangan diri. Keyakinan tentang hal ini mengusik Mas Celathu, setelah dia membaca berita heboh: “Makin Tinggi Pendidikan Makin Gampang Menganggur”.

Ternyata, pikir Mas Celathu yang gelar sarjananya adalah “DO” (baca: drop out), sistem pendidikan kita tidak menjamin seseorang akan punya pekerjaan. Dua hal itu – pendidikan dan lapangan kerja — rupanya tidak saling berhubungan. Bekerja atau menganggur ternyata tidak ditentukan oleh gelar-gelar kesarjanaan, atau oleh lama pendeknya seseorang sinau di sekolah formal.

“Sampeyan punya pikiran gitu, kan hanya untuk membenarkan kegagalan sampeyan sebagai sarjana. Yang lebih oke, ya jadi sarjana tapi sukses di masyarakat,” kata Mbakyu Celathu mengingatkan supaya suaminya tidak terlalu jumawa.

Kali ini Mas Celathu tidak ngeyel. Tumben banget, dia mengiyakan sentilan isterinya. Mas Celathu mengakui, betapa pentingnya sekolah formal. Sangatlah membanggakan jika orang punya titel dan pangkat, apalagi jika gelar kesarjanaan sampai berderet-deret. Kartu nama pasti lebih mentereng karena memajang sejumlah huruf yang berjubelan. Ini akan menegaskan status dan barangkali bakal mempertinggi nilai jual.

“Mbok ya jangan sinis. Jangan sirik. Kalau ada sarjana belum dapat kerja, itu bukan karena pendidikannya yang salah. Tapi dia memang belum bernasib baik,” lagi-lagi isterinya mengingatkan.

“Iya, iya. Saya akui, kegagalan saya itu memang saya sendiri penyebabnya,” ujarnya mengaku. Bahwa dia gagal menyelesaikan sekolah formal, pertama-tama – kalau mau jujur – ya lantaran dirinya adalah pemalas nomer wahid. Maksudnya malas memburu nilai hanya bermodal hafalan kayak burung beo, atau malas jadi bebek yang bersedia digiring kesana kemari. Semasa sekolah, bisa dibilang dia bukan jenis mahasiswa yang baik dan benar. Tidak asal patuh biar lulus. Maunya ngeyel melulu, dan hanya nuruti kata hati. Jadinya ya pantaslah jika predikat “DO” disandangnya

“Katimbang sekolah tinggi-tinggi tapi bingung cari kerja, ya mendingan drop out tapi dapat kerjaan, syukur-syukur malah bisa menciptakan lapangan kerja,” jawab Mas Celathu. Oleh isterinya mungkin jawaban ini dianggap sekadar mencari pembenaran atas kemalasannya dimasa lalu. Padahal, bagi Mas Celathu, itu sebuah prinsip yang diyakini sejak dulu kala. Bahwa yang namanya dunia kerja tidaklah harus menjadi orang kantoran, dan untuk mendapatkan pekerjaan tidak harus selalu diawali dengan tersaruk-saruk mengempit ijazah dan mengetuk pintu lowongan kerja.

Mas Celathu mempercayai, yang namanya nasib baik dan rejeki tidak akan begitu saja tiba, hanya lantaran kita melambainya dengan selembar ijazah. Melainkan, peluang kerja akan tiba karena adanya trust alias kepercayaan. Dan sebuah kepercayaan dibentuk oleh tindakan-tindakan yang telah dipraktekkan dan teruji. Bukan oleh hafalan teori-teori. Menurut pengalamannya, mengikuti kegiatan ekstra di ranah kesenian, olah raga atau bergabung di organisasi lainnya semasa sekolah, merupakan latihan membangun kepercayaan itu. Karena lewat kegiatan-kegiatan itulah orang sebenarnya sedang menguji integritas, kejujuran, disiplin dan tanggungjawab.

Karena itulah, Mas Celathu sering gemas jika masih ada orang tua yang tidak mengikhlaskan putera-puterinya aktif di berbagai kegiatan ekstra. Di dalam maupun di luar kampus. Apalagi jika anak-anak muda itu hanya dipacu berprestasi secara akademik. Dikiranya angka indeks prestasi yang melejit akan menjamin hari depan yang lebih baik.

“Karena hidup itu spekulatif, ya kita harus punya keberanian mempraktekkan teori jadi tindakan. Kalau tidak diuji cobakan, teori hanya hidup dalam angan-angan,” ujar Mas Celathu sok menggurui.

“Kalau dijajal ternyata gagal.”

“Ya dicoba lagi. Dari satu kali kegagalan, seratus ilmu-baru akan kita dapatkan. Semakin sering diuji oleh kegagalan, semakin dekat menuju kemenangan.”

“Weleh, weleh, weleh,…sampeyan kok kadingaren banget, sok serius. Sok bijaksana.”

“He he he,….. saya cuma mengutip kiat orang-orang sukses kok,” ujar Mas Celathu ketika menyadari omongannya ngelantur bak motivator mengobral dobosan. Sambil malu-malu anjing, dia menggongong lagi,”Kalau mencermati sejarah orang-orang sukses, modal dasar setiap perjuangan hidup adalah keuletan, ketekunan, keberanian dan kesediaan belajar dari kegagalan.”

Mas Celathu yakin seyakin-yakinnya, ditengah hiruk pikuk anak muda yang doyan dugem dan memanjakan gaya hidup hedon, masih banyak di antara mereka yang sudah memulai pertempuran menguji keberanian di medan kehidupan. Mereka mulai bekerja mengolah kemandirian. Bahkan mampu menciptakan lapangan kerja. Hanya bermodal semangat uji coba dengan kapital duit pinjaman, lahir ratusan enterpreuner yang cerdik membaca peluang. Menjual jasa tulis menulis, bikin penerbitan, jualan air mineral, meracik jamu, mengolah singkong dalam kemasan modern, mengkreasi film dan musik dalam semangat indie, memburu rejeki di jagad cyber, sablon kaos, dan sebangsanya.

Semua kemungkinan itu bisa terwujud, salah satunya lantaran adanya keberanian menjajal. Sebuah keberanian yang dipupuk semasa berkegiatan ekstra di masa lalunya. Keberanian seperti ini bisa dilakukan siapa pun tanpa harus sekolah yang kelewat tinggi. Di “sekolah” yang bernama ekstrakurikuler itulah orang tidak dicekoki teori-teori dan tidak dijadikan beo untuk sekadar menghafal difinisi-difinisi, atau terampil mengutip pendapat orang lain. Tidak ada perlombaan rajin masuk ruang kelas untuk mengisi absensi atau kompetisi meraih indeks prestasi yang terkadang hanya bisa dibanggakan untuk mengelabuhi orang tua saja.

Di “sekolah” abnormal itu, orang dibenturkan dengan kenyataan kehidupan. Mengenali detail dari setiap persoalan. Dan selalu dituntut untuk senantiasa mampu mengatasi serta memecahkan persoalan. Jika nyatanya pendidikan formal belum juga memberikan jaminan kerja, masihkah orang tua tidak ikhlas membiarkan putera puterinya menguji kemampuan di kegiatan-kegiatan ekstra?***

——————————————————————————————————

SUARA MERDEKA, Minggu, 17 Februari 2008 NASIONAL

Butuh Sedulur
Butet Kartaredjasa

MENGINFORMASIKAN nomor handphone (ponsel), sekarang ini bisa dikategorikan sebagai ”kejahatan”. Minimal bisa menjadi pemicu lahirnya permusuhan yang menyebabkan seseorang mengalami gegar persahabatan. Itu sebabnya, orang lugu yang dengan ringan menyebutkan angka-angka yang bisa dihubungi, tiba-tiba bisa dicurigai bermaksud jahat.

Lho, apa sih salahnya meginformasikan nomor handphone? Bukankah alat komunikasi itu diciptakan untuk berkomunikasi? Dan berkomunikasi itu musti terselenggara untuk memperluas persahabatan? Dan persahabatan itu sangatlah penting dan bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan? Tapi fakta kontemporer ternyata mengisyaratkan yang sebaliknya.

”Memangnya, apa hak kamu memberitahu nomor kontakku ke orang lain?” seorang pengusaha suatu hari menghardik Mas Celathu dengan nada tinggi.

”Ya, karena saya merasa sebagai sahabatmu, saya merasa punya hak untuk membuka kemungkinan komunikasi siapa pun dengan kamu. Soalnya saya yakin, semakin banyak teman kan semakin banyak rezeki,” jawab Mas Celathu tanpa merasa bersalah.

Nyatanya dia memang tidak bersalah. Tidak ada pasal-pasal hukum dalam KUHP yang menyatakan bahwa ngasih info nomor telepon seseorang adalah sebuah kejahatan. ”Kamu tahu nggak? Tidak semua orang bisa punya akses langsung ke aku. Harus lewat sekretaris.

Atau lewat anak buahku sesuai dengan urusan masing-masing. Kalau semua harus kulayani, aku kan bisa repot,” pengusaha itu menjelaskan alasannya.

Mas Celathu mencoba mengerti. Seorang bos memang orang yang super-repot. Kedudukan tinggi dengan tanggung jawab besar, mengharuskan dirinya membatasi kemungkinan diterobos urusan remeh-temeh. Bayangkan saja, jika yang menelepon hanya mau minta sokongan bikin tong sampah atau mengundang peresmian gardu ronda? Jika semua urusan begituan membebani otaknya, pastilah sang bos jadi mudah terserang stroke.

Namun, meski mencoba untuk memahami, dia belum bisa juga paham, kenapa dirinya dipersalahkan, bahkan diancam: ”Kalau kamu gitu caranya, mendingan kita nggak usah saling kenal deh. Syukur jika kita bisa putus hubungan.”

Welhadallah. Kok gampang ngambek? Kok begitu mudahnya orang memutus tali silaturahmi? Sungguh menganggetkan.

Mas Celathu yang selalu menjunjung tinggi pertemanan dan menghargai nilai-nilai sebuah persahabatan, tentu saja sangat terkejut. Dia tak ingin hal itu terjadi. Baginya, kehilangan satu teman seperti kehilangan satu bagian tubuhnya. Ada yang terasa bolong. Tidak utuh lagi.

Sudah lama Mas Celathu memegang teguh prinsip itu. Dari situlah sejak dulu dia mengembangkan dan memperluas pergaulan, dengan siapa pun, dari lapis sosial apa pun.

Hanya dengan begitulah dia merasa selalu bertambah sedulur. Sedulur-sedulur yang bertebaran di setiap arah itu, bagi Mas Celathu adalah aset yang lebih berharga ketimbang segunung emas berlian, lebih bernilai daripada berlembar-lembar sertifkat deposito. Mereka itulah orang-orang yang dibayangkan akan siap dan ikhlas memberikan pertolongan seandainya dirinya terserimpung kesulitan.

Celakanya, dia membayangkan semua orang seperti dirinya. Akan selalu bergembira jika temannya bertambah. Karena itu, tatkala tempo hari seseorang mencari informasi, nomor berapa yang bisa dihubungi, dengan senang hati Mas Celathu kasih tahu nomor ponsel pengusaha itu. Namun ternyata apa yang diyakini sebagai kebenaran, belum tentu merupakan kebenaran bagi orang lain.

Mungkin saja orang itu memang merasa tak butuh teman baru atau sedang hidup dalam bayang-bayang ancaman. Semacam pengidap paranoid yang selalu ketakutan. Entah takut diuber penagih utang atau takut dimintai sumbangan ”sukarela tapi harus”. Atau jangan-jangan pengusaha itu dihantui kisah-kisah kriminal. Bukankah sering terjadi, awal sebuah kejahatan adakalanya bermula dari didapatnya nomor telpon itu?

Mas Celathu termenung, mencari akal supaya persahabatan itu tidak pecah kongsi. Mungkin dia akan menjadi kstaria yang berani minta maaf dan mengaku salah atas kelancangannya, meskipun sebenarnya ia meyakini hal itu sebagai kebenaran.

Yang jelas, dia semakin menyadari kalau pikiran dan nilai-nilai kehidupan itu sifatnya sangat relatif. Tak ada yang seragam atau bisa diseragamkan. Yang baik di sini, belum tentu baik di sono. Yang benar di sini, bisa berubah menjadi kesalahan di sana.

Jadi? Ya jangan dengan gampang merasa paling benar.***

——————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 2 Maret 2008 NASIONAL

Susu Kretek
Butet Kartaredjasa

Mas Celathu merasa beruntung kawin muda. Kalau saja pernikahannya telat, tentu hari ini ia masih direpotkan urusan susu bayi. Pastilah ia terseret panik, sebagaimana pekan ini melanda ibu-ibu. Semua pada khawatir melakukan “pembunuhan” tanpa sengaja kepada bayi-bayinya dengan memberikan oplosan susu formula bercampur bakteri Entrobacter Sakazakii.

Memang, penelitian yang dilakukan para ahli IPB, Institut Pertanian Bogor, itu, bikin gonjang-ganjing. Hasilnya cukup mengejutkan. Jika temuan itu benar adanya, niscaya para orang tua akan selalu merasa bersalah karena diam-diam telah “meracuni” bayinya. Maunya memanjakan dan menyiapkan kebahagiaan bagi putera atau puterinya, eh malah menuai petaka.

Seharusnya, tanpa menunggu protes para ibu yang rame-rame membuang susu formula di Bundaran HI, Jakarta, pemerintah harus cepat tanggap. Segeralah beri pernyataan susu mana yang membahayakan. Biar rakyat tenang. Hidup sudah susah dan penuh ketidakpastian, jangan lagi wong cilik dibiarkan hidup dalam keterombang-ambingan.

“Bersyukurlah kita. Andaikan waktu itu kamu tidak segera kukawini, mungkin hari ini kita ikut kebingungan. Kita bisa berdosa meracuni anak kita,” ujar Mas Celathu kepada bininya. Usia perkawinannya yang bulan ini genap 27 tahun, membuat keluarga Celathu tidak lagi direpoti urusan elementer berumahtangga, termasuk soal susu bayi itu. Mereka sudah seneng melihat ketiga anaknya tumbuh sebagai manusia. Tingkat kerepotannya sudah meningkat. Bukan lagi perkara susu formula atau melatih anak-anak baca tulis, melainkan soal mengawal dan menjaga pergaulan anak-anaknya yang menuju dewasa. Di zaman edan ini, ruang pergaulan yang penuh ranjau dan jebakan seperti narkoba dan free sex, mungkin setara berbahayanya dengan bakteri yang sembunyi dalam kemasan susu formula. Apalagi, dalam soal pergaulan, Mas Celathu cenderung memberikan kebebasan anak-anaknya memilih ruang gaulnya nyaris tanpa batasan.

“Kalau kita sih nggak masalah. Biarpun heboh susu formula ini terjadi sewaktu kita muda, saya juga nggak khawatir kok,” kata Mbakyu Celathu seraya melanjutkan,”Kan anak-anak kita minum ASI. Tidak bergantung pada susu formula”

Mendengar pengakuan bininya, Mas Celathu mengulum senyum teringat masa lalunya. Ingatannya kembali melayang ke tahun 80an, saat mana ia sebagai mahasiswa sekaligus seorang ayah harus berjuang keras meloloskan diri dari belitan problem ekonomi. Uang yang terbatas dan hanya cukup untuk mempertahankan hidup dalam hitungan hari, menyebabkan keluarga ini harus kreatif melakukan siasat. Termasuk dalam urusan penyelenggaraan susu di rumahnya. Jika duit terlalu cekak untuk dibelanjakan susu merk kondang yang konon dilengkapi vitamin ini-itu, mereka tak segan bikin variasi dengan susu kedelai, air tajin atau susu sapi from Boyolali. Waton bukan oplosan air dan kapur gamping, pasti aman.

Kemiskinan yang menindihnya melahirkan sebuah kiat. Pokoknya asalkan air minum sudah berwarna putih pekat, anggaplah itu air susu yang menyehatkan. Mas Celathu yang saat itu sudah doyan berteater selalu mengajari isterinya untuk senantiasa mengembangkan imajinasi.

“Coba, sekarang mata dipejamkan. Pegang gelas ini. Yakinlah, segelas air berwarna putih pekat ini adalah susu formula, lalu minumkan ke bayi kita,” saran Mas Celathu membimbing isterinya berfantasi. Lalu, masih dengan mata terpejam, air warna putih pekat yang senyatanya air tajin itu digelontorkan ke kerongkongan si sulung. Cleguk, cleguk, cleguk…dan bayi di pangkuannya akan sumringah kembali. Begitulah, dengan cerdik keluarga ini menyiasati getirnya kehidupan dengan tetap berjenaka. Toh nyatanya bisa aman. Anak-anaknya bisa tetap tumbuh sehat. Dan yang teristimewa, sampai sulungnya umur dua tahun, mBakyu Celathu tak berhenti membiarkan si sulung mengenyut ASI-nya.

“Gantian dengan bapaknya dong. Joint,” seloroh Mas Celathu mengenang masa lalunya, sambil meneruskan,”Lucu juga ya kalau diingat-ingat. Eling nggak, dulu anak kita pernah nggak doyan netek lagi? Pas mau mengenyut langsung gebres-gebres, karena ASI-nya beraroma rokok kretek…ha,ha,ha.”

Mempercayai ASI sebagai susu terbaik bagi bayinya, bagi keluarga Celathu sudah merupakan pilihan mutlak. Hal-hal yang bersifat alamiah dan kodrati, diyakini sebagai sebuah kebenaran yang musti diikuti. Lha wong dulu kala, zaman simbah gantung siwur hidup di zaman Diponegoro, — mereka juga nggak kenal susu formula. Adanya ya cuma susu murni yang menggelantung di dada sang ibu. Buktinya mereka ya bisa hidup. Banyak juga terlahirkan sebagai jagoan dan orang pintar. Kalau sakit, penyembuhannya ya cukup dengan jamu-jamu alamiah. Makanannya langsung petik tumbuh-tumbuhan dari kebon belakang rumah.

“Menyusui bayi dengan ASI tidak menurunkan gengsi, kok. Nggak ada yang perlu dicemaskan,” mbakyu Celathu menjelaskan, sambil cengenges cekikikan,”Dan ngirit, Nggak usah keluar ongkos.”

Dia bilang, memang ada trend di kalangan ibu-ibu muda, memberikan susu formula kepada bayinya terkadang lebih disebabkan adanya pertarungan gengsi. Semakin sering meminumkan susu formula merk mahal kepada bayinya, semakin tinggi pula citra yang diperoleh. Apalagi disertai sebuah mitos, jika seorang ibu tidak menyusui bayinya, maka bentuk payudara akan terjaga keindahannya. Tak mengherankan jika kemudian banyak ibu-ibu yang terjebak pada sihir promosi itu lebih mementingkan indahnya bentuk payudara, katimbang menjaga kesehatan bayinya.

“Wualah, walah….. biarpun nggak menyusui, kalau sudah sepuh ya tetep akan melorot. Tetep “Hamlet” alias seperti lidah melet,” sergah Mas Celathu. Dia benar-benar prihatin melihat betapa orang-orang telah kehilangan kearifan tradisional yang ditularkan turun-temurun. Untuk sekadar meneruskan dan menjaga kehidupan, sebenarnya agama dan nilai-nilai tradisi sudah menyediakan ilmunya. Mungkin terasa kuno. Tapi, bagi keluarga Celathu, yang kuno itu lebih otentik dan sarat khasiat karena telah teruji oleh waktu.

Mas Celathu sadar sesadar-sadarnya, mengkonsumsi apa saja yang sesungguhnya tidak diperlukan dalam kehidupan ini, adalah siasat industri yang ingin memeras masyarakat. Setiap detik kekuatan industri akan selalu membujuk kita lewat iklan dan promosi aneka macam. Bujuk rayu itu mungkin berupa impian menjadi manusia modern, keindahan badaniah, kepraktisan dan kemudahan serba instan. Dan mengantungkan susu bayi pada susu formula, agaknya merupakan siasat menjauhkan kepercayaan orang pada kekuatan dan kesehatan yang alamiah.

Karena itulah, mbakyu Celathu menyarankan,”Ayo ibu-ibu kembali saja memberikan ASI kepada bayi-bayi kita. Biarpun terkadang ada aroma rokok kretek, ASI lebih menyehatkan lho.”***

————————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 9 Maret 2008 NASIONAL

Tangis Independen
Butet Kartaredjasa

Ketika menyaksikan Jaksa Agung Hendarman Supandji berurai air mata lantaran gemas dikhianati anak buahnya yang doyan sogokan, Mas Celathu merasa lega. Dia berharap, itu hanyalah tangis tulus dari seorang pemimpin yang kebingungan mau ngapain. Bukan tangis dengan air mata buaya. Juga bukan tangis putus asa. Mungkin Pak Jaksa Agung hanya sedang bingung, tak jelas mau bagaimana lagi. Justru orang-orang terpilih dan terpercaya yang didapat lewat seleksi ketat, yang antara lain ditugasi menjaga benteng hukum, yang kini show of force memamerkan pengkhianatan terhadap hukum dengan cara paling menjijikkan.

Pagar makan tanaman, kata pepatah. Pagar yang semestinya melindungi tanaman justru memangsa tanaman itu. Orang yang dipercaya menjadi penjaga, malah membiarkan pihak lain merongrong dan memporakporandakan apa yang semestinya dijaga itu. Ini tak beda dengan penjaga gawang yang mempersilakan bola lawan menjebol gawangnya sendiri. Kalau sekadar terjadi di lapangan hijau sih, paling banter cuma berurusan dengan sorakan huuuuuu dari para penonton, — dan setelah itu paling yang bersangkutan cuma kena timpukan batu dan botol air mineral.

Tentu hal itu tak bisa dibenarkan. Sekecil apa pun pengkhianatan, niscaya akan terasa menyakitkan. Terlebih jika “penjaga gawang” itu adalah penjaga utama tegaknya hukum dan keadilan sebuah bangsa.

“Itulah tangis yang sangat mengharukan. Saya juga ikut sedih. Orang kalau sudah terjebak di jalan buntu, akhirnya yang hanya bisa menangis. Mau gimana lagi coba,” kata Mas Celathu dengan nada bergetar dan suaranya tercekat di tenggorokan, kepada bininya suatu pagi.

Demi melihat mata sang suami sudah mbrambangi, seperti akan menangis, Mbayu Celathu mengingatkan, “Sedih ya sedih. Tapi sampeyan nggak usah ikutan nangis. Kayak sinetron aja.”

“We lha, aku ini sedih beneran. Bukan akting. Asem ki.”

Yah, barangkali itulah risiko tukang main sandiwara. Orang sering susah membedakan antara beneran dan pura-pura. Apa pun yang dilakukan atau terjadi dengan dirinya, selalu dicurigai. Disangka sekadar main-main, padahal pagi itu Mas Celathu benar-benar turut merasakan sakitnya akibat pengkhianatan yang dilakukan seorang “penjual permata” berpredikat jaksa melakukan transaksi sogokan sebesar 660.000 $-US.

“Kalau saya sampai mengeluarkan air mata, ini tangisan yang tulus. Tidak dibuat-buat. Saya berharap tangisnya Pak Jaksa Agung juga tangis yang tulus,” kata Mas Celathu, kali ini dengan rada sesenggukan.

“Tumben sampeyan serius. Kalau mau nangis, ya nangis aja. Nggak usah repot cari pembenaran. Gitu aja kok repot,” jawab Mbakyu Celathu begaya Gus Dur. Lalu lanjutnya,”Saya ini sudah imun dengan politik tangis. Rakyat sodah bosen diapusi dengan air mata.”

Sinisme Mbakyu Celathu bisa dipahami. Mungkin lantaran ia pernah menjadi korban dari politisasi air mata. Dulu dia pernah punya pemimpin yang setiap dibelit persoalan selalu mencucurkan air mata. Dikit-dikit menangis. Dikit-dikit sesenggukan. Dikiranya air mata adalah jurus pamungkas yang mampu mengatasi semua persoalan. Nyatanya, meski sudah diguyur air mata, kehidupan rakyat kecil belum berubah menjadi lebih baik. Nasib mereka masih terombang-ambing, dipermainkan harga kebutuhan pokok yang gampang melejit. Dan masih kerap dikerjain oleh ketidakpastian memperoleh jaminan sosial: sandang, pangan, kesehatan, pendidikan dan papan. Kalau toh rakyat itu diperhatikan dan diakui eksistensinya, itu hanya terjadi saat menjelang Pemilu saja. Keberadaan rakyat selalu dihitung, dikalkulasi, dirayu dan disembah, — dan setelah coblosan berlalu sang rakyat (kecil) akan kembali dilupakan.

Pendek kata, kendati pun Mas Celathu meyakini tangis Jaksa Agung adalah tangis serius yang (hendaknya) kelak bisa menyelamatkan sistem hukum kita, Mbakyu Celathu nggak mau percaya lagi. Dia sudah terlanjur krisis kepercayaan pada tangis pejabat publik. Baginya semua itu adalah cipoa. Bohong-bohongan. Hanya air mata buaya. Karena tahu rakyatnya gemar sinetron, lalu pejabatnya mengambil hati dengan gaya sinetron pula. Mbelgedheeessss…. Mbakyu Celathu mengobral celoteh itu sambil berkacak pinggang dan memelototkan matanya lebar-lebar, bagai tokoh ibu tiri di sinetron televisi.

“Lho, kok jadi ngamuknya sama aku. Kita kan sama-sama korban politik air mata,” sungut Mas Celathu, menyabarkan bininya. Sambil memintanya isterinya duduk kembali, dia berkata lagi,”Saya sih hanya berharap, dari tangis Pak Jaksa Agung akan lahir kekuatan baru yang mampu membongkar semua kebusukan dan kejahatan yang dilakukan sema aparat hukum. Ya polisi, pengacara, panitera, jaksa, hakim dan juga hakim agung.”

“Kalau saya sih tetap nggak percaya. Tangis itu nggak ada nilainya. Nggak ada harganya. Memangnya air mata bisa dijadikan agunan untuk kredit di bank,” sergah Mbakyu Celathu lagi dengan mulut mencibir.

“Mbok ya jangan pesimistik gitu. Kita harus selalu berpikir positif. Para pejabat itu kan juga manusia. Bisa sakit dan sedih. Bisa nangis juga. Nangis itu kan manusiawi,” kata Mas Celathu mencoba meng-adem-kan emosi isterinya.

“Prek! Saya tetap nggak percaya.”

“Terus gimana caranya supaya kamu bisa percaya lagi?”

“Pemerintah harus segera membuat, KAMI, Komite Air Mata Indipendent.” Mbakyu Celathu lalu menerangkan konsepnya. Komite ini beranggotakan para ilmuwan lintas disiplin ilmu, keberadaannya diongkosi APBN dan berkedudukan di tingkat nasional. Tugas komite, mendeteksi setiap air mata pejabat publik yang bercucuran saat menyampaikan pidato atau bikin pernyataan publik. Komite akan bekerjasama dengan para ajudan pejabat-pejabat itu. Begitu air mata ndlewer, sang ajudan harus segera mengambil sample-nya, dan harus secepat kilat mengirimkan contoh air mata itu ke laboratorium KAMI. Jika setelah diteliti ternyata air mata itu mengucur dari tangisan palsu, maka si pejabat harus rela mengundurkan diri dari kursinya. Dan apabila terbukti, itu adalah air mata suci yang keluar dari nurani terdalam, maka si pejabat akan memperoleh bonus 10 kali lipat gaji bulanannya.

Pipi Mas Celathu mencucu menahan tawa. Ditahannya kuat-kuat karena tak ingin melecehakan gagasan binya. Jadinya ia hanya mengulum senyum demi mendengar usulan ngawur itu. Dengan sok serius, dia bertanya dengan halus,”Saya boleh nggak melamar jadi anggota KAMI.”

“Nggak boleh. Sampeyan masih cengeng. Syarat utama anggota KAMI harus tidak lagi mempunyai stok air mata. Harus ada rekomendasi dari DEPKES, bahwa yang bersakutan nggak bisa menangis lagi,” kata Mbakyu Celathu tegas.

Mendengar penjelasan ini, Mas Celathu berketetapan hati tidak ingin menjadi anggota KAMI. Soalnya, dia sadar bahwa dia masih manusia. Demi membesarkan hati istri yang dicintainya itu, Mas Celathu bilang,”Gagasanmu baguuuuus banget. Nanti kalau ada acara dengar pendapat di DPR, usulkan saja. Siapa tahu bisa diterima.” Mas Celathu lalu ngeloyor pergi, sambil membatin dalam hati,”Kalau sampai diterima, ya berarti edan kabeh.”***

———————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 16 Maret 2008 NASIONAL

Kesaktian Nama
Butet Kartaredjasa

Setelah era Pak Harto maka datanglah zaman Pak Susilo. Dan kita pun tahu, dulu semasa Pak Harto berkuasa, ekonomi dijadikan panglima. Hampir semua kebijakan diukur dari kesuksesan ekonomi, sehingga orang rame-rame memburu harta. Sekarang, di zaman Pak Susilo berkuasa, urusan kesusilaan jadi marak. Para pemimpin di eksektutif dan legistlatif akan mengatur kesusilaan masyarakat melalui RUU Anti Pornografi, — tapi untungnya masih ngadat di tengah jalan. Namun bisa diduga, karena urusan susila tetap merupakan dagangan politik yang menarik, maka hingga Pemilu mendatang naga-naganya orang masih akan rame-rame menggunjingkan soal susila.

“Wualaaaahh, piye iki. Di zaman Pak Harto saya nggak kebagian harta, lha kok sekarang di zaman Pak Susilo saya malah kesandung susila. Piye ta iki?” gerutu Susila Parna, tokoh rekaan dalam lakon “Sidang Susila” yang belum lama ini dimainkan Teater Gandrik. Lelaki bernama Susila Parna, dalam lakon itu, memang terpaksa menghuni penjara hanya karena badannya terlalu tambun sehingga berpayudara. Dan lantaran dia membuka baju karena kegerahan sehingga tanpa sengaja memamerkan “payudara”nya, demi Undang Undang Susila maka Susila Parna harus rela jadi pesakitan.

Mas Celathu tersenyum geli mendengar gerutuan tokoh fiktif itu. Bukan absurditas dan keganjilan dari undang-undang yang sarat kontroversi itu, yang menyebabkannya. Tapi, soal gothak-gathuk nama kedua pemimpin bangsa yang secara kebetulan mengekspresikan kenyataan zamannya. Pak Harto selalu berurusan dengan harta, bahkan lantaran rakus ciak harta, diktator ini pun terjungkal. Eh, lha kok kepemimpinan Pak Susilo sekarang ini, selalu berurusan dengan masalah susila. Ajaib ya? Atau, jangan-jangan setiap nama memang selalu membawa tuahnya masing-masing?

Mas Celathu pun jadi paham, kenapa orang selalu memberi nama anak-anaknya yang penuh harapan. Nama memang mengandung kesaktian. Maknanya selalu optimistik. Misalnya: Slamet, Begjo, Untung, Endah, Suci, Rahayu, Sholeh, Timbul dan sebangsanya. Jarang kita temui nama-nama yang pesimistik. Masak sih ada orang tua yang tega menamai anaknya Modar, Celaka, Seret, Neraka atau Tenggelam? Mungkin hanya wong edan yang punya nyali menamai anaknya begituan.

Karena itulah ketika suatu kali seseorang menamai anak lelakinya Urip Tri Gunawan, jelaslah kepada bayi itu tertanam harapan. Supaya kelak orang ini senantiasa hidup berdaya guna. Hidup yang membawa kemanfaatkan bagi banyak orang. Dan nyatanya, pemilik nama Urip itu menunjukkan tuah dan kesaktian namanya. Dia pun menjadi jaksa yang dengan tegas membasmi keangkaramurkaan di muka bumi ini. Kepada teroris yang mengatasnamakan agama membantai manusia, dia berani memutuskan hukuman mati. Sungguh terpuji. Namun, ketika awal bulan ini terbongkar, ternyata Si Urip punya samben berdagang permata dengan teman dekat orang yang sedang berperkara, namanya Artalyta Suryani, — maka terjadilah pertemuan ganjil dari nama-nama yang bertuah itu. Persis sebagaimana bertemunya Soeharto dan Susilo. Urip bertemu Arta. Artinya “Hidup” bertemu “Duit”.

Mungkin ini adalah pertemuan yang serasi. Klop. Urip bakal mulya kanthi arta. Hidup akan mulia jika ada uang. Sebaliknya, dengan uang seseorang akan dengan mudah melaksanakan kehidupan. Arta alias money alias doku alias muthik alias dollar adalah nafas yang bisa memperpanjang urip. Karena itulah demi mengulur hidup dan barangkali didorong keinginan mengubah nasib, Kangmas Urip membutuhkan pasangan Mbakyu Arta. Keduanya melakukan ijab dalam kegelapan rimba hukum. Dan kita pun akhirnya tahu, berdagang permata telah dijadikan kedok untuk menyembunyikan kisah buruk perdagangan pasal-pasal hukuman.

Demi melihat kenyataan ini, Mas Celathu yang namanya berarti “nyeletuk” ingin suatu saat nanti bertemu dengan pasangan yang ideal. Tentu bertemu di ruang yang benderang, dimana nantinya pertemuan itu bisa mengabarkan berita yang membahagiakan. Misalnya, ketemu dengan yang namanya Jitu, Bener atau Sri Rejeki. Kalau bertemu Bener, maka celetukannya akan selalu berupa sahutan tentang kebenaran. Ketemu Jitu, tentulah Mas Celathu akan dengan jitu melontarkan sahutan. Dalam kesempatan lain, mungkin dia bisa berjodoh bertemu Sri Rejeki. Maka akan terkabarkan betapa Mas Celathu akan selalu nyeletuk tentang kiat-kiat memetik rejeki. Setiap celetukannya akan membuat orang panen rejeki. Mungkin setiap igauannya akan dengan mudah ditafsir menjadi angka-angka jitu para pandhemen togel. Ah, betapa asyiknya hidup yang bermanfaat macam itu. Kapan ya bisa ketemu Mbakyu Sri Rejeki?

“Ada temanmu bernama Sri Rejeki nggak? Saya pengin kenal,” tiba-tiba Mas Celathu bertanya kepada isterinya.

“Apaaaaa?”

“E,e ee…ee..anu…,anu kok” Mas Celathu tergeragap. Rupanya dia baru tersadar dari lamunannya. Tidak menduga jika pertanyaannya itu akan membuat bininya sewot.

“Jangan edan ya. Kok tiba-tiba nanyain cewek lain. Mau selingkuh ya?” Mbakyu Celathu langsung naik tensinya.

Mas Celathu bingung. Kesulitan menjelaskan. Pastilah sang bini tak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya. Kalau toh dijelaskan, biasanya juga sia-sia karena setiap argumen hanya akan dianggap sebagai kilah. Dalam gerah karena amarah, isterinya pasti akan susah mempercayai.

Demi keselamatan dan menjaga harmoni keluarganya, dengan sok bego Mas Celathu cuma bilang,”Anu…anu…yang kumaksudkan itu, sebaiknya kita cari tanaman bernama Sri Rejeki. Aku dapat wisik. Barusan mimpi, supaya rejeki kita tambah membaik, di depan pintu rumah harus ditanami tanduran Sri Rejeki.”

Mbakyu Celathu melongo. Heran mendengar celathu suaminya yang tidak nyambung. Dia lalu ngeloyor pergi dan tiba-tiba terdengar: braaaakkkkk !!!! Pintu kamar dibanting. Wuaduh, perang dunia segera dimulai. Ooalah urip, urip, urip…***

————————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 16 Maret 2008 NASIONAL

KAPOK LIBUR
Butet Kartaredjasa

Di kala senggang Mas Celathu gemar bikin itung-itungan, mengkalkulasi mana yang naik dan mana yang turun. Tentu bukan naik-turunnya harga indeks saham yang bikin jantungan kaum berduit, sebagaimana belakangan ini menghantam lantai bursa. Juga bukan naik turunnya bokong penyanyi ndangdut yang doyan bergoyang. Tapi, naik turunnya suhu politik dan kebijakan pemerintah setelah Orde Baru tumbang. Tersungkurnya rezim otoriter tahun 1998 yang kemudian melahirkan harapan baru bernama Orde Reformasi, memang menjanjikan banyak perubahan.

Mas Celathu yang merasa beruntung bisa menyaksikan gumregah-nya perubahan politik itu, terus mencatat dan bersyukur. Betapa tidak? Banyak hal telah berubah sekarang. Dalam upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi misalnya. Bolehlah kita berlega hati. Meskipun belum seratus persen memenuhi harapan publik, lumayanlah sekarang ini orang bisa melihat bupati, walikota, gubernur, jaksa, mantan Kapolri, hakim, mantan menteri, dirjen, anggota DPR dan DPRD, direktur bank BUMN dll, pada meringkuk di dalam bui. Doeloe, mana mungkin tragedi begituan bisa terwujud? Setiap penyimpangan pastilah akan mendapat perlindungan dari sang big bos, karena mereka hidup dalam doktrin yang sama: “sesama maling harus saling melindungi”.

Begitu pun dalam hal partisipasi publik mengontrol kekuasaan. Catatan kemajuan tentang hal ini sungguh menggembirakan. Sekarang ini, lurah dan camat – juga kepala sekolah dan pejabat departemen – tidak bisa se-enakwudel-nya menyunat anggaran dengan kedok apa pun. Daya kritis masyarakat sudah sangat runcing. Menyenggol ketajamannya, pastilah akan melahirkan demo besar-besaran yang bukan tak mungkin akan menjungkalkan seseorang dari kursi kekuasaannya. Jangan main-main dengan daulat rakyat. Meski masih dalam tahap sinau berdemokrasi dengan dikit-dikit demo, bagi Mas Celathu, hal ini pantas disyukuri. Ini adalah sebuah investasi menuju tradisi berdemokrasi yang relatif lebih baik, tidak seperti di zaman Orba yang sama sekali tidak memberi ruang bagi tumbuhnya daya kritis masyarakat.

“Yang lebih menggembirakan, kita bisa punya presiden yang dipilih langsung. Dan sekarang, semua pemimpin di daerah pun juga harus dipilih langsung. Tidak model drop-dropan lagi. Dan tidak harus tentara. Kalau memang jeblok dan bisanya cuma membentak-bentak bawahan, ya minggir saja,” ujar Mas Celathu bangga.

Memang masih banyak persoalan yang belum terselesaikan. Dalam soal mengatasi kemiskinan umpamanya, kayaknya pemerintah masih konsisten mempertahankannya, bahkan meningkatkan kualitas kemiskinan itu dengan menyelenggarakan busung lapar di mana-mana. Benar-benar ganjil dan memprihatinkan, di negeri yang makmur orang kok bisa mati lantaran gizi buruk. Huhh, edan tenan! Setali tiga uang untuk perkara peningkatan mutu pendidikan. Pengalokasian 20 persen anggaran untuk pendidikan, masih belum juga bisa diwujudkan. Anggota parlemen rupanya masih sibuk berpolitik dagang sapi, seakan-akan tak percaya bahwa berubahnya kualitas manusia Indonesia harus dimulai dengan penataan sistem pendidikan yang baik. Yang tentu saja membutuhkan ongkos dan porsi anggaran yang besar pula.

Mas Celathu percaya, sehebat apa pun presiden terpilih, dia tetap butuh waktu panjang. Tak semudah membalik telapak tangan. Tak segampang membuang ingus. Namun, ini bukanlah pembenaran untuk lahirnya kebijakan yang lucu menggemaskan. Kebijakan cuti bersama yang memberikan kesempatan masyarakat berlibur panjang seperti terjadi pecan ini, bisa diartikan kontraproduktif karena tak ubahnya mempersilakan khalayak ongkang-ongkang atau menghamburkan tabungannya. Tidak selaras dengan semangat reformasi yang membutuhkan modal besar dan kerja keras yang dinamis. Bukankah mau ambil cuti atau tidak, itu sebenarnya hak prerogratif seorang pegawai? Tentu sangatlah tidak senonoh jika pemerintah ikut-ikutan lagi mengatur hak-hak privat seseorang. Jika yang beginian tidak segera diingatkan, nanti undang-undang kesusilaan yang mengatur perkara personal seseorang juga bisa dianggap angin lalu.

Mas Celathu yang bukan orang kantoran, yang jam kerjanya sesukanya tergantung kebutuhan, sama sekali tidak bisa menikmati apa yang disbut cuti bersama itu. Dia terkadang malah merasa dirugikan. Misalnya, dalam hal keinginan mendapatkan informasi yang memang merupakan hak dasar setiap orang.

“Aneh, lha kok media massa terkadang ikut libur saat ada cuti bersama. Bahkan semestinya, saat ada libur resmi pun, koran ya tetap terbit. Bukankah peristiwa yang harus dikabarkan, tidak bisa ditunda kehadirannya?” keluh Mas Celathu sambil memuji tayangan berita di televisi dan jagat maya yang memang tak kenal hari libur. Setiap saat, media elektronik selalu menayangkan berita mutakhir.

“Wartawan kan juga manusia. Mereka kan butuh istirahat dan liburan,” sergah Mbakyu Celathu.

“Lho itu risiko profesi. Kalau nggak mau risikonya, ya nggak usah jadi jurnalis. Industri media kan bisa mengatur karyawannya, siapa yang musti liburan dan siapa yang musti jaga gawang. Kalau pas liburan ternyata terjadi peristiwa besar yang harus segera diketahui masyarakat, terus gimana? Apa kita disuruh menunggu sampai besok korannya terbit? Atau kita disuruh percaya sama kabar angin?” cetusnya dengan nada tinggi.

Dalam benak Mas Celathu, menyuguhkan fakta sebagai sajian berita di koran, tidak ada kaitannya dengan liburan. Pada saat liburan, tetaplah ada peristiwa yang perlu dikabarkan. Jika koran bermanja-manja dengan kebiasaan liburan, kelak kepercayaan publik bakal luntur. Apalagi, nyatanya media massa seperti tivi, radio dan cyber, tetap saja melaksanakan tugas-tugas jurnalistiknya. Jika krisis terhadap koran melanda kehidupan, Mas Celathu khawatir, kelak fungsi koran hanya tinggal sebagai pembungkus kacang. Lalu dia berkata ketus,”Apalagi saya sudah bayar langganan bulanan. Bayar untuk 31 hari terbit. Kalau dikurangi satu hari nggak terbit, mestinya perusahaan koran memberi kompensasi keringanan pembayaran kepada pembacanya. Kalau itu nggak dilakukan, itu ngibuli rakyat. Bisa dilaporkan ke KPK tuh.”

Sikap kritis Mas Celathu ini sesungguhnya sekadar melengkapi indahnya reformasi. Selama ini orang memang seperti maklum jika koran tak terbit di hari libur. Tapi mengingat sekarang ini orang semakin mempercayai pers sebagai pilar demokrasi, bahkan telah menunjukkan perannya yang luar biasa dalam menjaga dan mengawal perubahan politik, - Mas Celathu ingin menambah harapannya. Setelah berjuang keras mendapatkan kembali kebebasannya, sesudah capek hanya sebagai alat propaganda, seharusnya pers menjadi tauladan pelaksanaan sebuah profesionalisme. Jurnalis yang reformis mestinya tak kenal hari libur. Jurnalisme memang dunia yang keras, dan hanya membutuhkan pekerja keras. Bukan mereka yang doyan liburan dan bermanja-manja.

Sambil menyulut kretek filternya yang ketiga, Mas Celathu membayangkan para jurnalis mengepalkan tinju dan menjeritkan ikrar,”Kami kapok libur!”***

—————————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 23 Maret 2008 NASIONAL

Patung Memedi
Butet Kartaredjasa

Umumnya bocah di Jawa sangat familier dengan tokoh Kancil. Soalnya, binatang cerdik ini selalu menyusup ke benak anak-anak lewat dongeng klasik yang dituturkan turun temurun. Bukan hanya diceritakan menjelang bobok sambil dikeloni ibu. Tapi juga oleh para guru di sekolah. Jika anda tak ingin berdusta, pastilah anda sudah hafal kisah Kancil Nyolong Timun. Tentu anda pun pasti ingat episode kancil dikerjain Pak Tani dengan memedi sawah. Kancil tertangkap karena lengket kena lem yang nempel di tubuh sosok patung Pak Tani. Sosok yang ternyata ilalang yang dibentuk menyerupai orang mengenakan caping itu, sebagaimana sering kita jumpai di sawah-sawah, berhasil mengecoh sang kancil.

Dongeng itu menyampaikan sejumlah pesan. Antara lain soal budi pekerti bahwa orang janganlah punya hobi mencuri. Jangan dengan gampang mengambil dan menguasai yang bukan haknya. Jika itu dilakukan, resikonya bisa terperangkap dan dipenjara. Dalam dongeng itu si kancil cuma dihukum kurungan. Tidak digebuki massa seperti umumnya maling di dunia nyata. Rupanya leluhur kita memang tidak doyan kekerasan. Kalau sekarang ini nyatanya tak sedikit “kancil-kancil” berpangkat dan berdasi pada nyemplung bui, tentu bukannya mereka tak pernah mendengar fabel Kancil ini. Bisa jadi karena mereka tuli, atau sengaja budeg, tak mau mendengarkan kearifan tradisional yang sarat kebijaksanaan.

Mas Celathu pun juga lengket dengan memori itu. Yang melekat dalam ingatannya adalah kebodohan si kancil. Betapa begonya binatang itu. Mosok tidak bisa membedakan mana orang beneran dan mana orang-orangan. Tapi akhirnya Mas Celathu pun mahfum. Yah, namanya juga binatang. Mereka punya hak prerogratif untuk menyempurnakan kedunguannya.

Kecerdikan dan kepintaran memang milik manusia. Sedangkan kebodohan dan ketololan hanya dimonopoli mahluk yang derajatnya rendah. Hanya hewan yang boleh melakukan dan mengulang ketololannya. Karena itulah setiap tindakan yang mengekspresikan kedunguan sering diumpamakan ke personifikasi binatang: keledai, burung onta, kancil, kerbau, bunglon, burung beo, sapi, cecak, segawon, dan sejenisnya. Namun, jika di dunia nyata tidak sedikit manusia mengulang-ulang kebodohan – misalnya selalu membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat atau kembali dipenjara dengan kasus yang sama – kita khawatir jangan-jangan para manusia itu sedang berikhtiar merendahkan derajat kemahlukannya.

“Saya ingin marah, tapi nggak tahu musti dialamatkan kemana. Sebagai manusia saya benar-benar tersinggung dengan kebijaksanaan itu. Mosok kita dibinatangkan?” tiba-tiba Mas Celathu nyerocos menumpahkan gregetannya.

“Lho, lho…kok tiba-tiba ngamuk. Emangnya kenapa? Kebijaksanaannya siapa itu yang bikin sampeyan sewot?” sahut Mbakyu Celathu lembut sambil megulurkan segelas air,”Ayo diminum dulu. Marah ya marah, tapi hati harus tetap dingin.”

“Itu lho, patung-patung polisi di jalanan. Setiap melihat patung itu saya betul-betul terhina. Memangnya kita ini dianggap kancil yang gampang dikibuli. Katanya polisi itu sahabat rakyat, tapi kok malah mencitrakan diri jadi memedi,” Mas Celathu masih meneruskan omelannya.

Kegeraman Mas Celathu mungkin mewakili kegeraman banyak orang. Sebagai orang yang ingin menghormati polisi, sulit baginya menerima dasar pikiran atas terselenggaranya patung memedi itu. Dia menduga, kebijakan itu didasari asumsi bahwa masyarakat takut sama polisi. Dan karena itulah masyarakat perlu ditakut-takuti dengan penempatan patung yang menyerupai polisi di jalanan. Dikiranya, dengan cara begitu disiplin berlalulintas bisa ditegakkan. Jika memang ini yang dimaksudkan, artinya masyarakat benar-benar sedang dihina karena dianggap tak beda dengan seekor kancil. Dianggap seolah-olah masyarakat tak bisa membedakan mana polisi beneran dan mana patung polisi.

“Dulu, kita memang hidup di zaman yang menakutkan. Orang selalu dibikin takut. Semua pejabat publik, apalagi polisi dan tentara, harus mencitrakan diri sebagai orang yang menakutkan. Sekarang zaman kan sudah berubah. Sudah reformasi. Lha kok kesan menakutkan masih dipelihara. Gimana ta ini?” gugat Mas Celathu.

Sekarang ini, menurut Mas Celathu, yang dibutuhkan adalah polisi yang punya integritas dan berwibawa, sehingga keseganan dan rasa hormat akan muncul lantaran aura kewibawaan itu. Rasanya memang bukan zamannya lagi masyarakat harus takut kepada polisi. Juga tentara. Aparat negara itu adalah sahabat-sahabat kita. Kita setara. Sederajat. Karena itulah, segala hal yang menakutkan, tidak perlu lagi dirawat dan pertahankan. Jika yang beginian malah terus dipertahankan, jangan salahkan masyarakat jika mereka malah mengunjungi patung-patung “memedi” polisi itu sambil menaburkan bunga dan kemenyan. Patung-patung itu akan diberhalakan sebagai protes. Atau dilempari uang recehan sebagai penghinaan,”Nih jatah kamu cuma recehan!”

Jangan, janganlah sampai itu terjadi. Mas Celathu yang mencintai polisi tak rela polisi dihinakan macam itu. Dia justru akan sangat rela, jika di hari-hari mendatang polisi segera mengekspresikan kredonya sebagai “sahabat masyarakat” dengan menyirnakan para “polisi memedi” itu. Hayo, silakan Polda mana yang akan memulai? Mas Celathu menunggu.***

———————————————————————————————-

SUARA MERDEKA, Minggu, 23 Maret 2008 NASIONAL

Risiko Pemimpin
Butet Kartaredjasa

Ditengah keprihatinan bangsanya yang tengah memanen “prestasi”, yaitu berasil meningkatkan jumlah orang mati karena kelaparan dan meningginya jumlah orang bunuh diri lantaran tekanan ekonomi, para pemimpin berbondong-bondong nonton film nasional. Nonton rame-rame dan diliput media massa. Semua orang jadi tahu, di gedung bioskop para pemimpin sedang cari hiburan. Mas Celathu tidak tahu musti bagaimana. Apakah ikut gembira karena para pemimpin mulai peduli dan apresiatif atas kerja kebudayaan? Atau malah bersedih, kok ya tega-teganya para pemimpin pada tebar pesona pamer air mata, sementara untuk keterpurukan nasib rakyatnya mereka pelit mencucurkan air mata?

“Mbok ya jangan sinis begitu. Sameyan kan pernah bilang, pemimpin kan juga manusia. Apa salahnya mereka nonton film. Toh mereka saban hari sudah bekerja keras. Boleh dong istirahat, buang penat cari hiburan?” ujar Mbakyu Celathu ketika mendengar celoteh sinis suaminya.

“Memang nggak ada yang salah, kalau peristiwa nonton film itu juga diperlakukan sebagai peristiwa biasa. Nggak usah diliput media massa. Nggak usah diikuti protokol kenegaraan. Begitu diliput dan protokoler, jadinya sangart politis. Gampang dicurigai sedang tebar pesona,” sergah Mas Celathu sengit.

Menonton film memang bukan tindakan yang keliru. Mas Celathu yang sesekali mengecerkan seni aktingnya dengan ikutan main film, diam-diam merasa korps-nya mendapat kehormatan. Bayangkan, di-priksani Pak Presiden lho. Nggak main-main itu. Film sebagai ekspresi kesenian sanggup merebut waktu dan perhatian orang nomer satu yang super sibuk. Apa nggak dahsyat? Presiden lho, presiden lho….

Dalam hati Mas Celathu memuji, betapa para pemimpin benar-benar sedang memperhatikan nasib kebudayaan, induk dari ekspresi para sineas pembuat film itu. Artinya, dengan begitu hasil-hasil kerja kebudayaan seperti kesenian, filsafat dan pendidikan akan memperoleh kedudukan yang layak dan pantas dibanggakan.

Dan betapa membahagiakan jika nantinya perspektif kebudayaan akan dijadikan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Bukan hanya didasarkan pertimbangan politik dan ekonomi semata-mata. Wuah, pastilah nanti fasilitas untuk berkembangannya kebudayaan akan lebih diperhatikan dengan anggaran yang lebih longgar. Komitmen dan kesadaran akan pentingnya kebudayaan dalam membangun kehidupan, bukannya tidak disadari oleh para pemimpin. Bukankah di masa kampanye Pak SBY menjanjikan akan ada Menteri Kebudayaan? Dahsyat ta? Bahwa nyatanya sekarang janji itu tidak kunjung diwujudkan, kita pun maklum. Karena janji kampanye memang seperti perut kembung yang bisa menghasilkan bunyi nyaring: duuuutttt!!!!

Yah, begitulah risikonya jadi pejabat publik. Hanya nonton film saja jadi perkara. Begini salah, begitu keliru. Setiap langkah selalu dipandang dengan kecurigaan. Terutama jika tindakan itu tidak tergolong dalam domain tugas seorang pemimpin. Selama ini, sebagaimana dicitrakan protokol kenegaraan, tugas pemimpin itu ya sidang kabinet, rapat, pidato, menerima tamu negara, memimpin upacara, memarahi dan memecat bawahan yang bego, dan – ini yang utama — kesana kemari dikawal nguing-nguing dan bikin macet jalanan. Rakyat belum terlatih melihat keniscayaan bahwa pemimpin juga manusia biasa, dan tentunya mempunyai kewajiban sosial yang tidak beda dengan umumnya rakyat kecil.

Semua ini bisa terjadi, mungkin salah satunya karena kecenderungan petugas protokol yang selalu menghadirkan citra angker bagi para pemimpin bangsa. Para pejabat daerah atau pengurus organisasi yang bakal menerima kunjungan presiden atau wakilnya, pastilah sudah mencicipi betapa over aktingnya petugas-petugas itu. Aturan dan tatanan protokoler seperti didesain untuk menjauhkan para pemimpin dari rakyatnya.

Belum lagi urusan pembiayaan untuk kepentingan ini dan itu. Ada yang wajar, ada yang kelewatan. Para petugas protokoler tinggal perintah dan musti dilaksanakan oleh tuan rumah. Dan ujung-ujungnya sang tuan rumah tinggal garuk-garuk kepala karena harus menanggung tagihan pembelanjaan yang melejit. Pikir Mas Celathu, supaya rakyat lebih rileks melihat pemimpinnya, ada baiknya tatanan dan prosedur protokoler perlu dikoreksi. Disesuaikan dengan situasinya, diselaraskan dengan motif kunjungannya. Sehingga ketika nantinya mereka hadir di ruang publik sebagai seorang ayah atau kepala rumah tangga, — termasuk menonton film — bisa dilihat tanpa embel-embel curiga dan prasangka.

“Makanya, kalau sudah jadi pemimpin jangan salin sarengat. Jangan mengubah kebiasaan. Nggak usah sok feodal. Rileks sajalah, supaya tetap jadi manusia biasa. Dan bisa nonton film tanpa bikin perkara,” kata Mas Celathu, masih sinis.

“Ya nggak bisa. Aturan protokoler itu kewajiban yang harus diterima. Nggak boleh seenaknya,” tukas Mbakyu Celathu.

Mbelgedhes. Lha wong nyatanya Gus Dur bisa. Sewaktu jadi presiden, aturan protokoler yang feodalistik dia babat. Saya merasakan dialah pemimpin yang bukan setengah dewa. Tapi benar-benar manusia.”

“Iya. Tapi kan jadi nggak berwibawa. Mosok masuk istana boleh pakai sandal jepit. Jadinya malah ambruk di tengah jalan.”

“Kalau nanti saya jadi pemimpin, saya nggak sudi diatur-atur yang nggak sesuai hati nurani.”

“Lha memangnya sampeyan itu siapa? Siapa yang meminta sampeyan jadi pemimpin? Mbok ya ngaca?”

Wuah, wuah….suami isteri ini pun memasuki perdebatan seru. Benar-benar perdebatan yang sia-sia. Mbayu Celathu ngotot, ingin mempertahankan kesakralan seorang pemimpin, sehingga feodalisme bisa dibenarkan. Sedang Mas Celathu malah ngoceh panjang lebar, soal strategi berkampanye. Dia bilang, kampanye adalah saatnya menebar impian. Janji boleh diteriakkan, tapi tak ada jaminan harus dilaksanakan, persis sebagaimana Pak SBY dulu menjanjikan adanya Menteri Kebudayaan. Pokoknya, janji, janji, janji…..

Lho, lho…kok malah nggladrah. Memangnya Mas dan Mbakyu Celathu ikut njago Pilkada Gubernur Jawa Tengah?***

————————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 30 Maret 2008 NASIONAL

Tolak Ngantuk
Butet Kartaredjasa

Sementara orang lain masih ngebet pengin jadi bupati, walikota, gubernur atau ngincer jabatan publik lainnya, Mas Celathu justru semakin bulat tekadnya untuk tidak berambisi ke sana. Amit-amit, kalau bisa, bermimpi pun jangan terjadi. Dia tambah yakin bahwa dirinya tidak berbakat dan tidak memenuhi syarat untuk jabatan itu. Selain karena memang tidak gablek modal untuk bikin kendaraan politik, Mas Celathu menyadari adanya sejumlah kelemahan dalam dirinya.

Yaitu, pertama, dia paling risih mencitrakan diri sebagai orang yang agamis – karena sebagai orang religius dia berkeyakinan urusan dengan Tuhan itu perkara personal yang pantang dipamer-pamerkan. Dia tidak siap untuk berpura-pura sholeh padahal perilakunya full amburadul. Yang kedua, Mas Celathu yang kerap nyambi kesana kemari, belum rela jika isi dompetnya dikontrol publik. Dia merasa malu jika kekayaan yang tidak seberapa, yang dalam adat tradisinya musti disembunyikan sebagai rahasia pribadi, atas nama demokrasi harus diperlihatkan kepada publik. Bukankah, salah satu syarat jadi pejabat harus mau mengumumkan kekayaannya?

Dan yang ketiga, ini yang rada gawat, dia ngantukan. Sebagai pengidap diabetes melitus yang terbilang rada akut, Mas Celathu tergolong “bangsawan” alias bangsane wong tangi awan. Jika sudah ketemu bantal maunya bobok melulu. Dia tidak bisa mencegah datangnya kantuk, apalagi jika pas diabetes-nya kumat.

“Bayangkan, kalau sampai saya jadi bupati atau walikota. Pasti bisa disemprot amarah Pak Presiden hanya karena saya tinggal tidur saat beliau pidato,” kata Mas Celathu yang sependapat dengan kriteria “pejabat jangan ngantukan”. Pejabat yang baik dan benar memang harus senantiasa melek. Bukan hanya matanya. Tapi juga kupingnya. Jangan sampai lengah mendengar jeritan dan melihat penderitaan rakyat. Kekuasaan yang dititipkan rakyat kepadanya, memang mengharuskan seorang pemimpin selalu terjaga. Lha kalau mendengar wejangan atasannya saja ogah-ogahan, nggak kebayang kelak kayak apa prakteknya di lapangan.

Itu sebabnya Mas Celathu mencoba tahu diri. Baginya, menyadari punya kelemahan jauh lebih baik. Dia tahu persis, penderita diabetes macam dirinya, dalam situasi apa pun gampang terlelap. Terapi yang diyakininya, jangan melawan datangnya kantuk. Dan karenanya, selama ini Mas Celathu punya kemewahan yang bikin iri teman-temannya . Yaitu gampang tidur. Prosesnya cepet banget. Begitu berbaring langsung mendengkur.

Mendengar lagu mengalun lembut,langsung mak leeessss. Dielus-elus githok-nya, apalagi jika Mbakyu Celathu yang mengelus, langsung merem sampai ngiler. Nonton film atau sandiwara yang buruk, langsung theklak-thekluk lehernya terkulai. Apalagi, jika dia dipaksa mendengar celoteh pidato membosankan yang isinya cuma itu-itu melulu , pastilah Mas Celathu langsung angop, menguap, dan terus klipuk. Ngorok.

Tapi, bukan Mas Celathu jika tak bisa menyulap musibah menjadi berkah., Ada saja peluang yang dilihatnya. Peristiwa presiden marah di-cuek-in ngantuknya bupati, justru melahirkan gagasan cemerlang. Kalau Pak Irwan Hidayat sukses bikin jamu Tolak Angin, kenapa sekarang tidak segera dibuat jamu Tolak Ngantuk? Bukankah “penyakit” ngantukan itu milik siapa saja sebagaimana masuk angin?

Ditilik dari ilmu marketing, segmen pasar jamu Tolak Ngantuk sangatlah luas. Pasarnya masih kosong, karena memang belum ada yang membidiknya. Paling tidak, calon bupati dan walikota, atau mereka yang ngebet jadi pejabat publik, yang tidak ingin disemprot presidennya, harus terbiasa minum jamu ini. Belum lagi anggota Dewan, di daerah maupun di Pusat yang kerap terlihat ngorok saat persidangan. Juga pegawai-pegawai rendahan yang rajin ikut Siskamling, para guru yang doyan begadang, mahasiswa yang rajin nge-net cari gambar dan video amis, mbak-mbak yang kerap dinas malam, dan siapa pun mereka yang mengidap insomnia alias penyakit susah tidur.

Mas Celathu membayangkan, jamu Tolak Ngantuk bakal jadi trend. Bisa ditampilkan secara modern. Ramuannya ada yang dikulum ala permen. Atau dibikin cair seperti soft drink. Sekali teguk langsung njenggelek. Kios-kios jamu Tolak Ngantuk ini nanttinya akan menghias sudut-sudut kota dengan counter berupa replika mata yang membelalak. Tentu tak ketinggalan di loby gedung wakil rakyat Senayan, orang akan dengan mudah menjumpai counter Tolak Ngantuk, supaya anggota Dewan punya stamina untuk selalu melek.

Apalagi jika nantinya Mas Celathu berhasil melakukan loby politik tingkat tinggi, mempengaruhi lahirnya persyaratan, misalnya, syarat menjadi pejabat publik harus siap melek alias tidak boleh ngantuk. Wuah, wah wah…sungguh peluang yang luar biasa. Kalau sampai nanti PT Sidamuncul terilhami dan bener-bener bikin jamu Tolak Ngantuk, Mas Celathu tidak segan untuk minta royalty atas ide brilian ini.

“Kalau jamu itu khasiatnya jos beneran, apa sampeyan akan berubah pikiran? Terus mau njago jadi bupati atau walikota. Kan sampeyan akan terbebas dari ngantukan?” Mbakyu Celathu bertanya penasaran.

Dengan tangkas Mas Celathu menyahut,”Saya kan masih dikarunia-i kesehatan jiwa. Mana mungkin saya keblasuk ke sana. Sudah enak jadi orang merdeka, kok malah pengin terpenjara. Selain ngantukan, saya kan masih punya banyak kelemahan….”

Mbakyu Celathu tampak lega. Sambil mengelus dada, dia bergumam dalam hati,”Untunglah, suamiku masih konsisten warasnya.”***

——————————————————————————————————————-

GETIH KERE
Butet Kartaredjasa

Mas Celathu sekarang tampil beda. Sejak minggu lalu, di “teras” kolomnya tertera alamat email:  kartaredjasa at yahoo.co.id. Bukan untuk sok-sokan. Berkomunikasi lewat surel, surat elektronik, bukan lagi kemewahan seperti sepuluh tahun lalu. Sekarang sudah jamak. Semua lapis masyarakat sudah menggunakannya tanpa pandang bulu. Semua orang sudah familier dengan dunia maya, sebuah jagat yang memungkinkan orang bekirim surat super kilat tanpa perangko. Warnet ada dimana-mana. Seperti halnya orang menggunakan handphone. Dari wong cilik sampai wong licik, dari wong bodho sampai wong pinter, dari maling sampai polisi, dari penyuap sampai jaksa, dari sekda sampai wakil rakyat, semuanya pada ber-tulalit. Hal beginian sudah merupakan keniscayaan perubahan kebudayaan. Tak bisa terelakkan.

Mungkin, sepuluh tahun lalu perangkat teknologi komunikasi seperti handphone dan email itu, bisa dijadikan perangkat gagah-gagahan. Bisa mengimbuh gengsi. Minimalnya bisa dijadikan pelengkap glelengan-nya seorang lelaki, atau modal tambahan para mbakyu yang pengin kemayu. Pada masa itu, calon mertua mungkin tambah mantep punya calon menantu yang bisa berceloteh dengan handphone segede pisang ambon.

“Bukan hanya handphone. Dulu kala, kulkas dan tivi pun pun bisa membuat seseorang meningkat status sosialnya. Bahkan, kehormatan bisa datang dari simbol-simbol begituan,” kenang Mas Celathu yang di masa kecil bersedia mundhuk-mundhuk menghormati teman sepermainnya, hanya lantaran kebutuhan numpang nonton televisi di rumahnya. Maklumlah, di kampungnya, hanya ayah kawan sepermainnya yang juragan batik itulah, pemilik tunggal televisi. Saban sore setelah maghrib, bisa dipastikan Mas Celathu berada di antara ratusan orang yang berbondong-bondong sowan ke ndalem Pak Juragan Batik, dan bersedia duduk ngglengsor di depan layar kaca. Sambil sebentar-sebentar tertawa geli, Mas Celathu merekonstruksi kisah-kisah jadul, jaman dulu, kepada anak-anaknya.

“Segala hal yang dari sono selalu dianggap bentuk ke-moderen-an. Waktu itu minum sebotol coca-cola saja, sudah berani mbagusi. Sudah seperti londo. Apalagi jika bisa sarapan roti tawar dengan lelehan susu kental manis,” kenang Mas Celathu lagi, seraya meneruskan kisah konyol yang terjadi di awal tahun 70-an. Yaitu cerita kulkas “multi fungsi”.

Konon, gara-gara sukses panen tembakau, petani di sebuah desa di Jawa Tengah yang tiba-tiba mengantungi puluhan juta rupiah, membeli kulkas. Ukurannya gede, warnanya mencolok. Tak mau kalah dengan kaum the have di kota, lemari es yang saat itu dipuja sebagai simbol kesuksesan, di pajang di ruang tamu. Uniknya, meski pun sudah punya kulkas, rumah-rumah di desa itu belum dialiri listrik. Jadinya bukan es yang menghuni kulkas, melainkan lipatan kemeja dan celana. Kulkas diperlakukan tak ubahnya lemari pakaian.

Wuah, wah…naluri inlander memang selalu begitu. Dasar getih kere. Kita yang anak cucu para petani, yang terbiasa hidup akrab dengan lumpur sawah, selalu silau dengan segala pencapaian teknologi tinggi. Dan selalu menyangka bahwa “modernitas” dan “kemajuan” hanya monopolinya masyarakat industri. Kita seperti malu berbangga sebagai petani yang jagoan mengolah tanah dan membaca gejala alam. Sampai-sampai di masa lalu, biar disangka sebagai bangsa yang maju, negeri ini pernah memaksakan diri punya pabrik pesawat terbang. Meskipun nyatanya montor mabur bikinan lokal itu hanya layak dibarter beras ketan.

Sekarang, mestinya kita tambah sadar. Bahwa majunya sebuah masyarakat bukan hanya ditandai keberhasilan mencapai teknologi tinggi. Tanpa harus menjadi masyarakat dan negara industri pun, sebuah bangsa bisa juga terhormat dan bermartabat. Terlebih jika bangsa itu bisa memberdayakan manusia yang senantiasa menjunjung nilai kemanusian, berkeadilan, berkebudayaan, dan peduli pada keselarasan alam raya.

Jika nyatanya kita memang masyarakat agraris dan maritim, tutur Mas Celathu, “Ya kita musti memperlakukan alam secara bijak. Nggak usah malu jadi petani dan nelayan. Kita kembangkan budaya dan teknologi pertanian, kita olah potensi kelautan.”

Weleh, weleh….kelakuan Mas Celathu jadi sok bijak. Sok serius.

“Mbok ya berkaca mas. Emangnya, sampeyan itu siapa? Kok mendadak omongannya kayak kampanye saja. Mau njago gubernur pa piye? Sok nasionalis,” sergah bininya mengejek.

“We lha, biarpun getih saya getih kere, aslinya saya ini orang serius. Serius atau tidak, itu ndak ada hubungannya sedang njago gubernur atau tidak. Ini omongan penting lho,” sahut kere Celathu sambil ngoceh lagi,”Sebuah bangsa boleh, — bahkan wajib — malu, jika kehidupan berbangsanya masih subur korupsinya. Masih membudidayakan anarki dalam berdemokrasi, masih bercuriga dalam kehidupan beragama, masih mengutamakan otot dalam menyelesaikan persoalan.”

Jika tak dicegah ocehan kere ini pasti bisa ngelantur kemana-mana. Padahal, sebenarnya Mas Celathu yang bangga dengan ke-kere-annya cuma ingin bilang, mencantumkan alamat email bukanlah sesuatu yang istimewa. Bukan untuk gagah-gagahan. Ini sebuah keniscayaan dalam berkomunikasi, sehingga bisa tercipta interaksi.

Dengan begitu, nantinya Mas Celathu tak hanya ber-monolog lewat kolomnya. Tapi bisa berdialog. Bahkan bisa mewadahi tanggapan, kritik, saran dan usulan. Dan nyatanya, semenjak alamat itu nongol, puluhan surel sudah membanjiri inbox-nya. Mas Celathu bergembira, dan merasa berbahagia karena bertambah jumlah sedulur-nya.

Jadi, hari ini dan selanjutnya, Mas Celathu selalu menunggu berdialog dengan pembacanya.***

———————————————————————————————————————–

SUARA MERDEKA, Minggu, 27 April 2008 NASIONAL

Nguntal Negara
Butet Kartaredjasa

Di teras rumah Mas Celathu tergantung lukisan kaca made in Muntilan. Gambarnya punakawan lagi bercengkerama. Petruk mengenakan busana Adipati, beskap warna hitam berornamen bordir emas, komplit dengan kuluk yang juga hitam seperti sering dipakai temanten pria Jawa. Dia duduk di tanganan kursi berwarna merah. Tangannya mendekap bola dunia bergambar peta Indonesia. Mulut Petruk menganga laksana akan nguntal jagat. Sementara di kiri kanannya tampak Semar, Gareng dan Bagong yang berusaha mencegah. Sepertinya, mereka ingin bilang,”Eeeee jangan dimakan. Nanti kualat.”

Setiap tamu yang datang ke rumah Mas Celathu pasti dicegat gambar itu. Biasanya mereka hanya mengulum senyum, lalu manggut-manggut. Apalagi setelah membaca teks yang menyertai gambar itu,”Aja Nguntal Negara”.

Ini ungkapan baru. Lazimnya lukisan-lukisan tradisional Gareng-Petruk yang digores di sebalik kaca bening itu, berisi petuah-petuah standart. Misalnya: Sapa Durung Sholat, Rukun Agawe Sentosa, Aja Dumeh, Melik Nggendong Lali, Sugeng Rawuh dan sebangsanya. Lha kok ini bunyinya,”Aja Nguntal Negara”? Dipasang diteras lagi. Kan lebih cocok memajang “Sugeng Rawuh” dengan gambar punakawan ngapu rancang mempersilakan tamu datang?

“Lho ini peringatan dini. Kalau yang bertamu ke rumahku koruptor, pasti nggak tahan duduk. Mau cepet pergi karena sindiran punakawan itu. Tapi kalau yang datang kandidat koruptor alias priyayi berpangkat yang bercita-cita makan duit rakyat, begitu lihat gambar itu pasti akan malu. Dan, insyaallah, membatalkan niatnya,” tutur Mas Celathu sambil nyengenges memamerkan giginya yang dibalut kuningnya nikotin.

Rupanya, lukisan kaca itu memang pesanan khusus. Dia sendiri yang meminta Maryono, pelukis from Muntilan itu, memvisualkan teks yang dipersiapkannya. Konon, ini lantaran saking gregetan-nya melihat ulah para petinggi negeri yang doyan banget korupsi. Yang unik adalah bagaimana sang pelukis menafsirkan “negara” secara harafiah berupa bola dunia. Negara seakan-akan hanya seged bola voli dengan sebentang peta. Padahal yang dimaksudkan, negara adalah sebuah kesatuan tempat sebuah bangsa mengatur dan mengelola seluruh kekayaanya. Kekayaan untuk bersama, janganlah dimangsa dewekan.

“Supaya orang tidak nguntal kekayaan negara, makanya tamu saya musti mencermati lukisan yang ini,” lanjut Mas Celathu sambil menuding lukisan kaca yang tergantung di bawah “Aja Nguntal Negara”. Sepertinya dua lukisan itu sengaja ditata berpasangan. Gambarnya Gareng memakai baju safari, sedang pidato di atas panggung dengan latar belakang garuda Pancasila. Sementara di sisi kiri tampak Semar, Bagong, Petruk, Togog dan Mbilung, sedang takzim mendengarkan ocehan Gareng.

Tafsirnya bisa macam-macam. Mungkin Gareng sedang memberi wejangan kepada sedulur-sedulurnya. Atau sedang berkampanye demi memburu kursi bagi dirinya. Apapun tafsirannya, yang jelas tulisan di gambar ini sangatlah telak: Ajining Diri Seka Lathi. Artinya kehormatan itu bermula dari lidah. Yang dibutuhkan masyarakat adalah konsistensi pernyataan sang lidah. Tidak mencla-mencle, esuk dele sore tempe. Kalau lidah hanya menyuarakan dusta yang “tong kosong berbunyi nyaring”, bisa diduga si pemilik lidah akan segera nguntal negara alias secara sengaja mengalihfungsikan duit negara.

“Jadi kalau bertamu di rumah saya jangan suka ndobos. Jangan berbohong. Di teras sini omongan harus bener,” kata Mas Celathu.

Memang, lukisan-lukisan kaca berpetuah itu, dengan bijak selalu mengingatkan orang. Pesan-pesan budi pekerti bertaburan. Ungkapan atau kata-kata mutiaranya selalu cespleng. Lugas. Gambarnya naïf. Sangat bersahaja. Tak ubahnya lukisan kontemporer yang sekarang membuat pelukisnya panen dollar lantaran harganya yang melambung. Berbeda dengan pelukis kontemporer, nasib pelukis kaca semakin terpinggirkan. Konsumennya sudah ganti selera.

Jika dulu mayoritas dinding rumah-rumah di Jawa Tengah dihias petuah bergambar, sekarang yang dipajang artis sinetron yang doyan kawin cerai. Wuah, wah wah, zaman memang sudah berganti. Mas Celathu tidak tahu, apakah berubahnya perilaku masyarakat juga dipengaruhi hal ini. Yang dia tahu, terhadap nasehat dan petuah bijak – diucapkan atau yang dtuliskan – generasi baru cenderung menjawab singkat,”Prek! Emang gua pikirin?”

Memajang lukisan kaca tradisional dengan petuah begituan, bagi Mas Celathu, merupakan ikhtiar mengingatkan masyarakat. Dia ingin mempopulerkan lagi kebiasaan ini. Selain bermanfaat menolong para perajinnya yang rejekinya kembang-kempis, paling tidak bisa menjadi warning para pejabat yang tabiatnya (ingin) slebor. Jika diguyur rejeki, Mas Celathu ingin sekali memesan ratusan lukisan kaca “Aja Nguntal Negara”, lalu disumbangkan untuk menghias dinding-dinding kamar kerja para wakil rakyat di Senayan.

“Biar mereka tidak membarter RUU dengan perempuan plus milyaran rupiah,” ujarnya sinis.

“La, yang tulisan Ajining Diri Seka Lathi, juga dipesan nggak, Mas? Apa juga untuk wakil rakyat?”

“Ooo iya. Saya akan pesan 10 lukisan. Tapi bukan untuk wakil rakyat.”

“Terus untuk siapa?”

“Akan saya serahkan kepada lima pasang kandidat pemimpin Jawa Tengah”.

Mas Celathu membayangkan lukisan kaca “Ajining Diri Seka Lathi” nantinya menggantung di ruang kerja Bambang-Adnan, Sukawi-Sudharto, Bibit-Rustri, Tamzil-Bozaq dan Agus-Kholiq.

“Biar mereka selalu ingat bahwa kehormatan datangnya dari lidah mereka sendiri. Jika hari ini berjanji, janganlah kelak mengingkari,” ucap Mas Celathu, kali ini tanpa cengengesan. ***

Responses -

Tolong tulisan Mas Celathu di Suara Merdeka disajikan semua dong…..dari awal sampai saat ini…..tks….

Mas, Butet salam kenal dari cirebon. Kayaknya kolom celathu ini sudah pantas untuk dibukukan. Covernya lukisan mas Butet juga boleh….

Tunggu saatnya mas. Nanti kalau sudah genap setahun alias 52 judul, akan saya bukukan. Biar rada pantas sebagai buku. Salam

Celathu ini merupakan tulisan yang sangat merakyat. Lama saya mencoba menulis dengan gaya mas Butet ini, tetapi ternyata kita tetap memiliki style tersendiri dalam menulis.

Bukan menyerah, kemudian saya tetap harus katakan pada diri sendiri,”be yourself”

Bravo Mas Butet

Salam mas Butet.
Saya kagum dgn tulisan2 anda. ceritanya merakyat, penuh kritik sosial dan disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah di cerna…
kapan nih dibukukan…? teruslah berjuang jgn menyerah…
tak tungguin bukunya ya…

Salam
Dari Bumi Lancang Kuning

Mas, lha sekarang itu ajineng RUU soko Bangsaku *Bang Saku* hehehe

kok rasanya kaya baca umar kayam yah…
nuwun sewu

Wuah,…terlalu tinggi mempersamakan saya dengan UK. Saya menyadari belum apa-apanya dibanding UK. Terlalu tinggi itu. Tapi kalau toh gaya penulisan, gaya glenyengan dan cara bertutur seperti UK, ya memang saya pengagum beliau. Karena beliau memang mentor saya. Keterpengaruhan adalah yang wajar aja. Harapan saya, pembaca tetap bisa merasakan bahwa saya dan UK memang berbeda. TErima kasih untuk komentranya. Salam

mohon maaf sblmnya mas…..membaca cerita keluarga mas celathu kok sepertinya saya sdg melihat keluarga panjengan sendiri. beneran ta.

Wuah saya ya nggak tahu persis. Dibilang bener kok nyatanya TIDAK. Dibilang TIDAK kok nyatanya SAMA. Bingung saya….??? He he he….

pundi dab BK postingane mas celathu sik enggal2,ditunggu lho,nuwun

mass coba di chelathu ini diusung juga pemikiran mas tentang kondisi partai diindonesia

menikmati bukan serta merta meniru…mung kadang inspirasi njur lewat begitu saja setelah inspirasi didapat…dari celathu ini…suwun pemikiran2ne Kang

saya baru membaca setengah bukunya. Jujur saja sebelumnya belum pernah baca tulisan mas sama sekali. Tapi bukunya sukses bikin saya senyum-senyum sendiri, kadang senyum krn ceritanya lucu, kadang senyum miris krn sindirannya bener.

Salam buat Mas Butet a.k.a Mas Celathu. Saya senang sekali membaca ceritanya. Memang sedikit mengingatkan dengan cerita Umar Kayam dengan Pak Agengnya :) Tapi Mas Butet adalah Mas Butet dan Umar Kayam tetap Umar Kayam, masing-masing punya warna dan gaya tersendirinya. Mas Butet ceritanya segar, jenaka tak lupa sentilan “tengil”nya menyikapi kehidupan dan situasi sehari-hari. Tetap berkarya dan saya selalu setia untuk menanti tulisan selanjutnya. Kalau sempat kunjungi blog saya juga. Salam

Leave a response -

Your response: