<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Pengecer Cangkem</title>
	<atom:link href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com</link>
	<description>gunakan cangkem secara baik dan benar, jangan cipokan sembarangan</description>
	<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 19:10:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>LIMA ALASAN KENAPA MESTI NONTON “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/04/11/lima-alasan-kenapa-mesti-nonton-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/04/11/lima-alasan-kenapa-mesti-nonton-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 19:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[LIMA ALASAN KENAPA MESTI NONTON “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK


 
Teater Gandrik akan mementaskan lakon komedi Keluarga Tot di Jakarta (TIM, 17-20 April 2009) dan Yogyakarta (Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 April 2009). Inilah wawancara dengan Butet Kartaredjasa seputar lakon dan pementasan itu, dan lima alasan kenapa kita harus menonton pertunjukan ini.
 
- Gandrik sepertinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="text-decoration: underline"><span style="color: #ff0000"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot&#038;quot">LIMA ALASAN KENAPA MESTI NONTON “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK</span></strong></span></span></h1>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"><span style="color: #ff0000"><br />
</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Teater Gandrik akan mementaskan lakon komedi <em>Keluarga Tot</em> di Jakarta (TIM, 17-20 April 2009) dan Yogyakarta (Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 April 2009). Inilah wawancara dengan Butet Kartaredjasa seputar lakon dan pementasan itu, dan lima alasan kenapa kita harus menonton pertunjukan ini.<span id="more-268"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">- <em>Gandrik sepertinya memang &#8220;hidup lagi&#8221;, maksudnya ada energi yang membuat Gandrik jadi produktif setelah pementasan Sidang Susila kemarin. Ini bila dibandingkan periode sebelumnya, dimana setelah pentas Gandrik butuh jeda yang panjang untuk pentas kembali. Kira-kira apa yang menyebabkan?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Saya selalu mengharapkan pementasan Gandrik harus diawali adanya dorongan &#8220;kebutuhan bersama&#8221;. Bukan kebutuhan orang per orang. Bahwa nyatanya, teman-teman Gandrik &#8212; yang tua dan yg muda &#8212; menunjukkan gairah untuk berproduksi <em>after</em> &#8220;Sidang Susila&#8221;, harus saya yakini bahwa semuanya itu disebabkan adanya &#8220;kebutuhan bersama&#8221; itu. Entah apa itu. Mungkin macem-macem motifnya. Mungkin ada yang motifnya menemukan kembali kegembiraan kreatif ala Gandrik, ada yg memaknai sebagai terapi kesehatan, ada yang meyakini teater sebagai ikhtiar mengartikulasikan pikiran, ada yg bermaksud melakukan pengembaraan artistik, ada yg berniat mengenal dan mempelajari estetika Gandrik, ada yang ingin menguji kemampuan keaktoran, juga barangkali ada yang ingin berbagi pengalaman untuk sebuah proses regenerasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Yang pasti, kesemuanya itu bisa diartikan sebagai &#8220;kebutuhan bersama&#8221;, sehingga semua bisa memberikan dedikasi secara iklhas terhadap proses penciptaan. Penciptaan kolektif dimana semuanya berlomba untuk memberikan kontribusi kreativitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">- <em>Bisa diceritakan sedikit tentang lakon &#8220;Keluarga Tot&#8221; ini? Setidaknya kenapa Gandrik merasa tertarik untuk mementaskannya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Salah satu kritik yang kerap dilontarkan kepada Gandrik adalah dominasi pada guyonan verbalnya, sehingga terkadang cenderung mengabaikan sastra lakon.  Padahal ada kekuatan dalam sastra lakon yang juga menarik untuk dieksplorasi secara serius, dan itu ditemui dalam <em>Keluarga Tot</em>. Setidaknya, dengan mementaskan lakon ini, akan menjadi semacam tantangan bagi Gandrik, untuk mendapatkan pengalaman baru dalam penjelajahan penciptaan tontonan komedi sebagaimana selama ini digumuli. Pasti akan unik jika Gandrik menjajal berjenaka-ria dengan disiplin yang berbeda. Menurut saya, pertemuan antara tradisi teater realis yang musti cermat dengan sastra lakon yg juga kuat, dengan tradisi gojekan Gandrik yang selalu ber-&#8221;guyon parikeno&#8221; &#8212; akan menghasilkan sesuatu yang menarik. Baik bagi penontonnya, dan terutama bagi para pelakonnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">- Mengingat ini adalah lakon &#8220;asing&#8221;, lakon yang ditulis oleh orang di luar komunitas Gandrik, apa yang menarik dari proses ini. Setidaknya apakah proses itu kemudian juga memperkaya dramaturgi Gandrik?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Bener banget. Dengan bahan baku (naskah) yang tak lazim dalam tradisi Gandrik, dan komitmen untuk &#8220;bersetia&#8221; pada sastra lakonnya, &#8212; pastilah akan memperkaya pengalaman Gandrik. Minimalnya, para aktornya akan mencicipi model guyonan yang lain. Dan semakin menyadari bahwa pertunjukan teater bukan sekadar bentuk pemanggungan kritik verbal, bukan hanya untuk memanen tawa, bukan cuma pameran keindahan seni peran &#8212; tapi juga penghormatan terhadap teks sastra dan pencermatan kepada karakter yang dilakonkan. Kalau pun ada tawa atau kelucuan, itu adalah karena situasi dan karakter-karakternya. Mudah-mudahan ini juga menjadi kesadaran atas &#8220;kebutuhan bersama&#8221; untuk terus membuat Gandrik dinamis itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">- Anda menyebut soal adanya &#8220;kebutuhan bersama&#8221; setiap Gandrik manggung, tapi pada sisi lain juga ada penghayatan yang berda dalam prosesnya. Ini memperlihatkan bahwa Gandrik sesungguhnya tidak homogen, tapi ada banyak personil dengan orientasi yang tak sama. Mungkin ini yang menarik untuk diketahui publik; bagaimana gandrik mengelola heterogenitas di dalamnya, terutama saat proses&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Perbedaan orientasi dan motivasi dari para personelnya bukannya tak disadari. Justru karena disadari, maka berproses di Gandrik akhirnya bukan semata-mata belajar hal-hal yang bersifat artistik, tetapi juga belajar kesabaran&#8230;hua ha ha&#8230; Kerennya, belajar berdemokrasi, meskipun itu terkadang melelahkan dan menjadi tidak efisien. Kesadaran menghilangkan otoritas &#8220;sutradara&#8221; atau “penguasa tunggal”, dan menggantinya dengan partisipasi banyak orang serta memperkuat fungsi <em>trafick</em>, mungkin merupakan salah upaya untuk menjaga heterogenitas itu. Ini dalam konteks proses kreatif. Hal lain, di sektor organisasi, barangkali adanya kesadaran berkesenian secara lebih rileks, tidak <em>mbentoyong</em>, transparansi dalam semua hal, dan tetap menjadikan guyonan sebagai semangat pergaulan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Mungkin yang perlu diketahui, sekarang ini pimpinan Gandrik bukan saya lagi. Tapi Heru Kesawa Murti. Ini keputusan rapat awal tahun 2009. Jadi kekuasaan diupayakan beredar. Meskipun ganti pimpinan, harapannya, hal ini tidak mengganggu proses kreatif. Karena kepemimpinan itu lebih disebabkan kebutuhkan sebuah organisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">- Mumpung sekarang lagi anget soal Pemilu yang katanya adalah proses demokrasi. Mungkinkah, apa yang terjadi dalam Gandrik itu bisa dijadikan semacam model pembelajaran bagi proses demokrasi?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Jelas, sangat mungkin diadopsi. Terutama kesadaran untuk selalu menertawakan setiap kecenderungan megalomania. Jika dalam Pemilu kita melihat banyak caleg yg <em>ge-er</em> merasa dirinya penting, megaloman abis, dalam tradisi Gandrik yang begituan pasti akan jadi obyek guyonan. Berdemokrasi bukanlah ngotot dan ambisi untuk jadi penguasa, melainkan kesediaan untuk bersabar, belajar mendengar, dan bekerja keras dalam kolektivitas secara ikhlas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">- Lumayan sedikit kelompok teater yang berumur panjang. bagaimana kemampuan Gandrik dalam mengupayakan memperpanjang umurnya?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Merawat atmosfer kreatif dalam semangat kejenakaan, dan melakukan kegiatan secara produktif. Dan itu tak harus berupa pementasan. Heru Kesawa, misalnya, mulai menggagas bikin kelas pelatihan seni peran untuk publik, semacam jual jasa pelatihan. Melihat perkembangan terakhir interaksi Gandrik-tua dengan Gandrik-muda, saya optimis transformasi &#8220;roh&#8221; Gandrik bisa berlangsung dengan baik. Soalnya, berteater di Gandrik bukan sekadar akting dan pencapaian artistik, tetapi juga dihidupi oleh &#8220;roh&#8221; itu. Aku nggak tahu apa rumusan tentang &#8220;roh&#8221; itu. Mungkin semacam spirit teater rakyat: penuh spontanitas dan harus tangkas dalam situasi apa pun. Baik untuk perkara panggung maupun organisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">- Nah, sekarang langsung ke pementasan Keluarga Tot. Tolong sebutkan, minimal 3 saja alasan, kenapa pementasan ini menarik untuk ditonton?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Pertama</span></em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">, ini lakon realis yang kuat dan kocak, dimainkan oleh Gandrik yang juga rombongan orang-orang kocak. Ini sebuah model guyonan baru bagi Gandrik. <em>Kedua</em>, penonton bakal melihat keunikan bagaimana Gandrik mencoba membenturkan dua kultur: Jawa dan Hongaria. Ketiga, ini penting untuk penonton, supaya mereka tetap waspada terhadap ancaman pemaksaan hegemoni dari kekuatan-kekuatan tertentu yang selalu berulang. Kalau boleh menambahkan, <em>keempat</em>: pertunjukan ini bisa menjadi terapi yang menyehatkan pikiran bagi para caleg yang gagal, agar tidak menjadi penghuni permanen Rumas Sakit Jiwa. <em>Kelima</em>, bagi caleg yang yakin kepilih, menonton pertunjukan ini akan memberikan keseimbangan jiwa pula, agar tetap bisa menjaga akal sehat ketika mengemban amanah rakyat. Nah, cukup lima saja, biar klop kayak Pancasila.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/04/11/lima-alasan-kenapa-mesti-nonton-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TEATER GANDRIK PENTASKAN “KELUARGA TOT”</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/04/06/teater-gandrik-pentaskan-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/04/06/teater-gandrik-pentaskan-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 16:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[TEATER GANDRIK PENTASKAN “KELUARGA TOT”
Judul  : Keluarga Tot Naskah : István Örkény, Penyutradaraan : Butet K, Jujuk Prabowo, Agus Noor, Heru KM, Djaduk Ferianto, Penata Musik  : Djaduk Ferianto,Pemain : Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Heru Kesawa Murti, Whani Darmawan, Sepnu Heryanto, Dyah Arum dll
 
 
 
 
Teater Gandrik Yogyakarta akan mementaskan lakon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="color: #ff0000"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot&amp;quot&#038;quot">TEATER GANDRIK PENTASKAN “KELUARGA TOT”</span></strong></span><strong></strong></h1>
<h1 class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Judul  : Keluarga Tot Naskah :</span></strong><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot" lang="IN"> István Örkény</span></strong><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">, Penyutradaraan : Butet K, Jujuk Prabowo, Agus Noor, Heru KM, Djaduk Ferianto, </span></strong><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Penata Musik  : Djaduk Ferianto,</span></strong><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Pemain : Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Heru Kesawa Murti, Whani Darmawan, Sepnu Heryanto, Dyah Arum dll</span></strong></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Teater Gandrik Yogyakarta akan mementaskan lakon <em>Keluarga Tot</em>, 17-20 April 2009, ukul20.00 WIB di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lakon ini kemudian akan dipentaskan lagi di Yogyakarta, 29-30 April 2009, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.<span id="more-264"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">“Saya ingatkan dan tegaskan, ya,” ujar Butet Kartaredjasa, “Judul lakon ini Keluarga Tot, bukan Keluarga To. Soalnya Kalau Kelaurga To nanti dikira nyindir yang sudah almarhum.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet Kartaredjasa mengatakan, proses persiapan sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu. “Saya sempat sakit kena deman berdarah saat itu, tetapi proses latihan terus berjalan. Karena pas saya sakit, kebetulan bukan saat penggarapan adegan di mana ada peran saya,” jelas Butet. Pada pementasan kali ini, Butet berperan sebagai Profesor Yohanes Cipriani, seorang yang ilmuwan yang eksentrik. Aktor lain yang ikut mendukung adalah Susilo Nugroho (berperan sebagai Lajos Tot), Dyah Arum (Mariska Tot), Heru Kesawa Murti (Mayor), Whani Darmawan (Tukang Pos), Sepnu Heryanto (Tomaji) juga Djaduk Ferianto (Mayor Elegan) yang sekaligus bertindak sebagai penata musiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Lakon <em>Keleuarga Tot</em> adalah lakon dari Hongaria. Lakon ini ditulis oleh </span><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot" lang="IN">István Örkény</span><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">, pengarang yang boleh dibilang sangat penting di Hongaria. Ini adalah lakon satir yang komikal tentang sebuah masyarakat yang dipaksa menerima sebuah kebenaran atau kenyataan hidup, meski ia tak menyukainya. Oleh banyak kritikus, lakon ini disebut sebagai alegori politik yang cerdas. Lakon ini merupakan “lakon wajib”, yang nyaris dipentaskan setiap tahun di Hongaria, dengan berbagai variasi pementasannya. Di pentaskan di gedung-gedung teater standar hingga taman dan jalanan. Bahkan, naskah ini sudah banyak dipentaskan di panggung-panggung teater penting di Eropa dan Amerika, antara lain di Perancis, Belanda, Jerman, Rusia hingga New York. Lakon ini juga telah melanglang hingga ke dataran Asia, seperti Mongolia dan Jepang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot" lang="IN">István Örkény</span><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> (lahir dan meninggal di Budapest, 1912-1979). <em>Keluarga Tot</em> boleh dibilang merupakan salah satu karya agung (<em>masterpeace</em>) yang pernah dihasilkannya. Ia dikenal sebagai penulis yang bergaya satir dalam melihat situasi masyarakat. Beberapa karyanya, antara lain novel dan lakon, seperti, <em>Ocean Dance</em> (1941),</span><em><span style="font-size: 12pt"> </span></em><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">One Minute Stories, </span></em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">yang merupakan buku kumpulan cerita paling populer yang dihasilkannya dengan gaya absurd dan </span><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">grotesque</span></em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> yang khas dirinya. Ia sempat tinggal di Moskow, di lingkungan buruh, dan menuliskan lakon <em>Voronesh</em>, sebelum kemudian ia kembali menetap di Hungaria tahun 1946. Ia kemudian menjadi penulis lakon terpenting Hungaria, ini didibuktikan ketika pada tahun 2004 namanya diabadikan menjadi nama gedung teater di Budapest: Örkeny Theater.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Kenapa Gandrik tertarik mementaskan lakon ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">“Ini adalah naskah realis dengan standar dramaturgi Eropa. Tetapi kami melihat ada kejenakaan dan semangat komikal yang sama sebagaimana lakon-lakon yang biasa dimainkan Gandrik, itulah yang membuat kami tertarik mementaskan lakon ini,” kata Butet. “Pilihan naskah itu juga memperlihatkan, bahwa kawan-kawan Gandrik ternyata masih memiliki semangat untuk mencari tantangan baru untuk terus mengembangkan diri. Dalam proses ini kami menjadi seperti berhadapan dengan tantangan baru. Menurut saya ini penting bagi Gandrik, agar ia terus punya semangat untuk berkembang. Dengan lakon realis seperti ini, temen-temen Gandrik punya pengalaman yang berguna bagi proses Gandrik ke depan. Di sisi lain, lakon ini sekaligus juga barangkali akan menyenangkan bagi penonton Gandrik, karena pementasan Gandrik tidak berhenti menjadi sesuatu yang rutin. Dalam proses latihan, kami mencoba mengolah kekuatan naskah realis itu dengan gaya sampakan. Nah, mungkin ini akan bisa dilihat sebagai realisme ala Gandrik”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Sinopsis ‘Keluarga Tot’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Kisah <em>Keluarga Tot</em> ini berlatar belakang suasana perang yang muram, dengan <em>setting </em>historis Perang Dunia II. Dalam suasana seperti itu, keluarga Lajos Tot kedatangan seorang Mayor, yang ingin menginap di rumahnya. Sang Mayor memerlukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Mau tak mau, Lajos menerima mayor itu, karena Sang Mayor adalah atasan anaknya, yang jadi prajurit dan sedang bertempur. Mariska Tot, sang ibu, berharap agar Mayor itu terkesan dan betah selama masa beristirahat, hingga bisa mempermulus karier anaknya di kemiliteran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Para tetangga pun diberitahu, dan diminta untuk ikut menerima kedatangan Sang Mayor. Karena Sang mayor memang menginginkan ketenangan: tak boleh ada suara, tak boleh ada keributan sekecil apapun, tak boleh tercium bau-bauan yang tidak menyenangkannya, tak boleh ada warna yang akan membuat sang Mayor gelisah dan marah. Pendeknya, semua orang, harus menyesuaikan kebiasaan sang Mayor. Mereka harus merubah “rutinitas hidup mereka”, dan menyesuaikannya dengan kebiasaan Sang Mayor. Kebiasaan jam tidur harus menyesuaikan jam tidur Mayor. Cara mereka menguap, menggeliat, cara mereka makan. Semua harus menyenangkan dan menyesuaikan dengan kebiasaan Mayor. Lajos Tot dan keluarga menjadi asing di rumahnya sendiri, tetapi mereka harus menerima keasingan itu sebagai kenyataan yang harus mereka terima.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">“Relevansi tema itu juga menjadi pertimbangan lain, kenapa lakon ini terasa cocok bila dipentaskan Gandrik,” jelas Heru Kesawa Murti, “Karna kita hari ini pn sering kali mesti menerima hal-hal yang tidak kita sukai, hidup dalam kondisi yang tidak kita maui, tetapi mau tidak mau kita harus menerimanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Nasib <em>Keluarga Tot</em> boleh jadi adalh nasib kita hari ini: yang dipaksa menerima keadaan yang sesungguhnya tidak kita sukai. Poster caleg yang menyebalkan yang setiap hari mesti kita lihat. Para pemimpin yang sibuk minta kita perhatikan sementara tak seupil pun mereka pernah memerhatikan kita. Kita terpaksa mendengarkan apa yang tidak ingin kita dengarkan. Kita menerima keadaan yang rasanya kita tak kuasa menolaknya. Begitulah, lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan. Kita ini sesungguhnya bagian dari anggota Keluarga Tot itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="width: 100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr style="height: 22.5pt">
<td style="padding: 0in;height: 22.5pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Di   Jakarta, lakon itu ditiketkan dengan harga VVIP: Rp.150.000, VIP: Rp.   100.000, Festival: Rp. 50.000. Reservasi tiket bisa dipesan di Tiketbox:   Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya No. 71 Jakarta Pusat, Telp. (021) 315   4087, 319 37325. Atau di Jalan Garut No. 10 Menteng Jakarta Pusat, Telp.   (021) 314 9425, 391 5012.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Untuk   pementasan di Yogyakarta, tiket bervariasi dari VVIP: Rp. 100.000, VIP:   Rp.50.000, Lesehan: Rp.50.000, Festival: Rp.30.000. Di Yogyakarta, tiket bisa   di di pesan di tiketbox Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedari No. 1 Telp.   (0274) 561 914, Sonora FM (0274) 450 365, 450 364, Yayasan Bagong Kusudiardjo   Telp. (0274) 376 394 atau 0813 2817 1688 (dengan Dian atau Ninin), Customer   Service Centro di Ambarukmo Plaza Lt. I Telp. (0274) 433 1100, dan Harian <em>Kedaulatan Rakyat</em>, Telp. (0274) 565   685.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/04/06/teater-gandrik-pentaskan-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KOLOM CELATHU: GEROMBOLAN HWENG</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/03/29/kolom-celathu-gerombolan-hweng/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/03/29/kolom-celathu-gerombolan-hweng/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 03:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[ Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 29 Maret 2009, hal 1 
Gerombolan ‘Hweng’
Butet Kartaredjasa
 
Rupanya makna setiap kata sedang mengalami distorsi. Inilah yang bikin Mas Celathu rada bingung. Dia nggak bisa lagi secara lugu mengartikan setiap kata secara sederhana. Yang paling mutakhir, misalnya dia diminta untuk memberikan ‘doa restu’ sebagaimana permintaan  poster-poster para caleg  – itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <em>Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 29 Maret 2009, hal 1 </em></p>
<h1 class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong><span style="font-size: 20pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"><span style="color: #ff0000">Gerombolan ‘Hweng’</span></span></strong></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><em><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Butet Kartaredjasa</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Rupanya makna setiap kata sedang mengalami distorsi. Inilah yang bikin Mas Celathu rada bingung. Dia nggak bisa lagi secara lugu mengartikan setiap kata secara sederhana. Yang paling mutakhir, misalnya dia diminta untuk memberikan ‘doa restu’ sebagaimana permintaan  poster-poster para caleg  – itu bukan berarti Mas Celathu harus menjumpai sang caleg lalu <em>umak-umik</em> memberikan doa dan kasih restu.  Permohonan ‘doa restu’ dalam wacana politik Indonesia kontemporer berarti contrenglah aku!<span id="more-260"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Begitu pun makna visual gambar pundi-pundi. Dulu mungkin ikon itu bermakna tabungan, karena pada masanya orang memang menabung dengan menyelipkan koin atau lembaran uang di celah sebuah pundi gerabah. Tapi sekarang? Di era digital,  kultur menabung tak lagi menyetor uang tunai. Tak ada koin dicemplungkan ke dalam celengan. Semua berlangsung secara maya. Karena itulah, jika dijumpai ikon pundi-pundi dalam sebuah undangan pernikahan, jelas bukan himbauan supaya anda rajin menabung. Melainkan, datanglah ke hajatan dan jangan beri kado berupa barang. Kasih uang aja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Inilah beberapa contoh kecil perubahan kebudayaan. Ada perlawanan terhadap tabu. Yang dulu dianggap tak pantas, sekarang jadi wajar-wajar saja. Ukuran kesopanan jadi longgar. Sangat permisif. Karena itulah siapa pun, termasuk Mas Celathu, tak bisa mengelak dari keniscayaan perubahan itu. Jika pada awalnya orang bingung dan tergagap-gagap menghadapi semuanya, akhirnya harus ikhlas menerimanya. Bahkan, mau tak mau musti ikut dalam gelombang perubahan, supaya tak ketinggalan zaman. Mungkin karena itulah, Mas Celathu jadi lebih rileks menerima setiap perubahan, termasuk seumpama menemui ungkapan atau kata-kata baru. Apalagi jika idiom itu dirasakan lebih gaul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Menyunggi Beban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Misalnya  ungkapan: ‘hweng’. Ini kosa kata baru. Cuma satu suku kata. Enak diucapkan, gampang diingat. “E” diucapkan seperti bilang ‘pecel’: huueng! Artinya kurang lebih setara dengan <em>kenthir, gendheng, edan, njeglek, setrip, tak waras, miring</em>, dan sebangsanya. Tak jelas sejak kapan istilah ini populer sebagai padanan kata untuk menyebut seseorang yang digoyang gangguan kejiwaan. Tiba-tiba saja ‘hweng’ hadir di tengah lautan kata, dan mewarnai medan pergaulannya. “Hweng” terasa akrab di bibir dan telinga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">“Wuaaahh, wah, wah… kecerdasan masyarakat itu selalu tak terduga. Ahli bahasa mungkin kerepotan mencari dan bikin  istilah baru, eh tiba-tiba <em>njedhul </em>ungkapan yang pas,” puji  Mas Celathu yang mengaku sangat terpesona dengan kata itu. Ringkas. Cespleng. Langsung menggambarkan situasi kejiwaan yang limbung, tak terkendali. Mungkin, inilah kreativitas masyarakat yang jenius. Tanpa ada yang mengomando mereka membangun kesepakatan bikin bahasa sandi. “Hweng” terasa lebih santun, katimbang menyebut gila atau edan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">“Sampeyan tempo hari juga hampir ‘hweng’ lho.  Lha wong sudah <em>ngomyang</em>, omongannya meracau tak bisa terkendali. Perawat yang sopan, malah sampeyan maki-maki,” ujar Mbakyu Celathu mengingatkan suaminya. Konon, cerita Mbakyu, pas demam suaminya membumbung sampai 40 derajat Celcius, tukang tonil yang ambruk lantaran demam berdarah ini, berceloteh ngawur. Omongannya <em>ngalor-ngidul</em> tanpa ada sangkut pautnya. Malah terkadang mengulang-ulang kalimat yang sama dengan nada sok serius. Dokter bilang, ini gejala normal tatkala suhu badan melejit. Antara yang dipikirkan dan tindakan sering tidak klop. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Untungnya tidak kebablasan. Mas Celathu segera pulih ke situasi normal. Kembali ke tabiat cengengesan. Berada dalam posisi waras, di mana salah satu cirinya adalah bisa menertawakan kekonyolan dirinya sendiri. Semakin ia bisa mengarikaturkan perilakunya yang jumawa alias sok merasa jagoan, justru semakin menunjukkan betapa dirinya tergolong belum ‘hweng’. Alias masih sehat jiwanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Yang terjadi sekarang, Mas Celathu malah diliputi kekhawatiran. Dia melihat betapa potensi ‘hweng’ yang masih serumpun dengan skizofrenia, &#8212; di mana orang hidup dalam halusinasi &#8212; sedang terjadi secara gegap gempita. Disebut sebagai potensi, karena memang belum terjadi. Tapi, dimungkinkan akan terjadi. Betapa tidak? Ada berapa ratus ribu orang yang kini sedang bertaruh untuk naik tahta sebagai wakil rakyat, &#8212; di tingkat Pusat, propinsi dan daerah tingkat II – dan nantinya hanya berapa gelintir yang berkemungkinan nangkring di kursi kekuasaan? Yang gagal akan jauh lebih banyak. Dan itu berarti, betapa mereka yang gagal itu akan menyunggi beban yang luar biasa beratnya. Beban materi dan beban psikis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Penyebar Sinisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Beban materi itu mungkin berupa hutang yang tiba-tiba menggunung. Atau hilangnya kekayaan, karena terlanjur digunakan untuk mengongkosi cetak baliho dan kampanye yang menyedot rupiah dalam jumlah berjibun. Bagi kaum berpunya, mungkin itu bukan persoalan. Tapi beban psikis? Siapa yang bisa menghindar dari sindiran atau cemooh lawan politik? Siapa yang bisa menjamin anggota keluarganya, anak-isteri-suami-keponakan-mertua, tidak ikutan terbebani posisinya sebagai pecundang? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Betapa mereka yang gagal itu akan sibuk menyembunyikan rasa malu. Atau sibuk mencari pembenaran atas kekalahannya dengan memproduksi kambing hitam sebanyak-banyaknya. Mereka akan terus-terusan menyebar kilah, sampai akhirnya kelelahan menyangga kegagalannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot">Pada saat itulah perilaku ‘hweng’ akan mewarnai perilaku para caleg gagal. Mereka yang sebelumnya gagah berdasi dengan senyum mengembang di papan baliho, mungkin akan dijumpai berlenggang pakai cawat di alun-alun seperti nasib calon bupati yang gagal <span style="color: black">memenangkan Pilkada. Ngoceh berpidato di trotoar jalan. Main gitar bertelanjang dada di teras rumah dari waktu ke waktu. Atau terdaftar dalam antrian panjang RSJ yang tiba-tiba panen pasien. Penyebab utama mendadak ‘hweng’ ini, bisa diduga lantaran uang yang semakin cekak tak bisa menutup ongkos <em>njago </em>yang lebih besar pasak daripada tiang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;color: black">Mas Celathu menyadari, kekhawatiran yang berlebihan ini bisa membuatnya  dituduh penyebar sinisme dan sarkasme. “Yah, moga-moga aja saya yang hweng. Hidup dalam halusinasi,” ujarnya dengan sok serius sambil meneruskan,”Selagi masih waras ada baiknya antisipasi dilakukan sebaik-baiknya. Pesan kamar atau ambil nomer urut periksa ke psikiater. Atau segera bikin asosiasinya biar kelak mudah koordinasinya: Gerombolan Para Hweng!”***</span><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&amp;quot"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/03/29/kolom-celathu-gerombolan-hweng/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KOLOM CELATHU: BUTUH BONCENGAN</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/02/08/kolom-celathu-butuh-boncengan/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/02/08/kolom-celathu-butuh-boncengan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 06:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 8 Februari 2009, hal 1
Butuh Boncengan
Butet Kartaredjasa
 
Bagi petualang yang karena suatu sebab terpaksa menyusuri jalanan sepi, apalagi jika langkahnya terseok-seok karena kecapekan, harapan yang diimpikan sangatlah sederhana. Dia hanya menginginkan ada kendaraan yang melintas. Lalu diijinkan nunut. Sekadar menumpang biar lekas mencapai tujuan. Kalau ada mobil ya syukur. Sepeda motor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 8 Februari 2009, hal 1</em></p>
<h1 class="MsoNormal"><span style="color: #ff0000"><strong><span style="font-size: 16pt">Butuh Boncengan</span></strong></span></h1>
<p class="MsoNormal"><em>Butet Kartaredjasa</em></p>
<p class="MsoNormal"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal">Bagi petualang yang karena suatu sebab terpaksa menyusuri jalanan sepi, apalagi jika langkahnya terseok-seok karena kecapekan, harapan yang diimpikan sangatlah sederhana. Dia hanya menginginkan ada kendaraan yang melintas. Lalu diijinkan <em>nunut</em>. Sekadar menumpang biar lekas mencapai tujuan. Kalau ada mobil ya syukur. Sepeda motor ya oke. Bahkan andaikan yang melintas hanya kereta angin yang power-nya tergantung genjotan kaki, juga tetap disyukuri. Mendapat boncengan sepeda onthel, meski jauh dari kenyamanan dan terkadang bikin bokong terasa <em>njarem</em>, sudah merupakan berkah tersendiri.<span id="more-255"></span></p>
<p class="MsoNormal">Karena itulah jangan sekali-kali menyepelekan boncengan. Tempat duduk sederhana di belakang pengemudi, sepeda motor atau sepeda kayuh, itu, &#8212; agaknya memang didesain untuk mewujudkan solidaritas antarsesama. Bisa untuk mengekspresikan semangat gotong royong, menolong saat orang cari <em>nunutan</em>. Selain itu juga bisa berfungsi menambah jumlah muatan. Kalau yang mengemudikan pedagang sayur, bisa jadi “bagasi” tempat <em>kronjot </em>berisi barang dagangan bercokol. Jika yang menyetir tukang ojek, bisa untuk mewadahi bokong <em>costumer</em> yang butuh dihantar ke tujuan secara kilat. Dan seumpama yang pegang stang kemudi lelaki yang sedang kasmaran, boncengan jelas bermanfaat untuk merekatkan hubungan dada dan punggung.</p>
<p class="MsoNormal">“Dulu, kalau sudah berhasil memboncengkan ibumu, wuah punggungku serasa <em>dekok</em>. Mendadak cekung. Kena tekanan benda menyembul dari dada yang membonceng…hua ha ha,” kenang Mas Celathu, mengisahkan masa romantisnya saat berpacaran kepada Jeng Genit.</p>
<p class="MsoNormal">“Gituan kok diceritakan. Saru….,” cegah Mbakyu Celathu.</p>
<p class="MsoNormal">“Eh..ini fakta sejarah je. Jangan dimanipulasi. Baik dan buruk boleh juga diceritakan. Biar nantinya orang memilah sendiri, mana yang pantas ditauladani dan mana yang sebaiknya nggak ditiru. Lagian, dulu kan kamu juga seneng kalau aku nge-rem mendadak. Ya ta?”</p>
<p class="MsoNormal">“Husss,..mbok jangan <em>mbukak wadi. Ngisin-isini</em>.”</p>
<p class="MsoNormal">“Setiap di-rem, rasanya bener-bener <em>mak-nyuuuusss</em>. Waktu itu kupikir, dari seluruh organ tubuh yang nasibnya paling baik ya cuma punggung,..hua ha ha.”</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Terkesan Egoistis</strong></p>
<p class="MsoNormal">Mengingat pentingnya boncengan bagi kehidupan, Mas Celathu merasa kurang sreg dengan sepeda sport. Ketika sejumlah seniman menjadikan <em>nggenjot</em> sepeda-gunung sebagai sarana membakar kalori sekaligus mengekspresikan gaya hidup, Mas Celathu tidak terseret arus. Kurang minat. Soalnya, terkesan egoistis. Hanya untuk memanjakan diri sendiri. Kenapa demikian, tentu ini tak lepas dari pengalaman masa lalu Mas Celathu tatkala masih duduk di bangku SMTA. Dia kerap ditolong oleh kaum bersepeda yang penuh keikhlasan memberikan <em>nunutan</em> di boncengan.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika itu, jalan menuju rumahnya belum dijangkau kendaraan umum. Meski cuma lima kilometer dari pusat kota, desa tempat tinggalnya terasa jauuuuuh sekali. Sepi lagi. Hanya satu-dua kendaraan yang melintas. Sementara Mas Celathu saat itu tidak <em>gableg</em> sepeda motor. Untuk mencapai jalan raya yang dilewati kendaraan umum, musti <em>hiking </em>beberapa kilometer. Begitu pun saat pulang, yang biasanya setelah hari gelap. Bayangkan, tengah malam berjalan sendirian di jalanan sepi tanpa listrik? Wuiiiih, horor banget. Jika sudah begitu, doa Mas Celathu cuma sederhana,”Tuhan, sesatkanlah pengendara sepeda motor ke jalanan gelap ini, biar saya bisa dapat <em>nunutan</em> boncengan.”</p>
<p class="MsoNormal">Tapi, jika sekarang ini banyak orang butuh “boncengan” untuk mempercepat mencapai tujuan, perkaranya sangatlah beda dengan yang selalu diharapkan Mas Celathu.</p>
<p class="MsoNormal">“Ya jelas beda. Sekarang kan gampang mengajukan kredit sepeda motor. Tanpa agunan pun bisa. Lagian pelayanan transportasi sudah mulai membaik. Sampai jauh di pelosok pun banyak kendaraan umum,” kilah Mbakyu Celathu.</p>
<p class="MsoNormal">“Ini bukan soal transportasi kok. Tapi soal boncengan. Lihat aja tuh. Mau jadi wakil rakyat kok nggak percaya diri. Masih butuh boncengan untuk mengatrol namanya.”</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Hiburan Demokrasi</strong></p>
<p class="MsoNormal">Mas Celathu yang selalu berupaya menemukan aneka kelucuan di Pesta Pemilu, lalu memperlihatkan selebaran promosi para caleg. Terutama yang memuat kata-kata dan slogan jenaka. Ada selebaran caleg Gorontalo yang demi memperoleh boncengan popularitas, terpaksa pamer diri dengan teks begini: “Papanya Cynthia Lamusu”. Batin Mas Celathu, kenapa nggak sekalian ditulis,”Mertuanya Surya Saputra”. Siapa tahu dengan membonceng popularitas nama selebriti beken itu, bisa segera mengorbit dimangsa liputan infotaimen.</p>
<p class="MsoNormal">Lalu ada selebaran lain yang tak kalah konyolnya. Begini tagline-nya: “Cucunya Jendral Sudirman”. <em>Wualah piye tak iki</em>? Lha wong sekadar menantu cucunya Jendral Besar, kok merasa seakan-akan ada genetika yang terwariskan. Dikiranya sebagai menantu cucu tokoh besar, secara otomatis akan kecipratan wibawa dan kharisma pahlawan bangsa itu. Jika kemudian orang mempercayai slogan yang beginian, dan membikin orang benar-benar terpengaruh untuk mencontreng namanya, mungkin inilah hiburan demokrasi yang full-ironi.</p>
<p class="MsoNormal">Yang terbayangkan kemudian, adalah kekhawatiran seumpama kebiasaan cari boncengan untuk mengerek popularitas ini jadi trend. Para caleg akan sibuk jadi Tarzan yang membutuhkan tali gandulan. Pasti akan lucu-lucu. Misalnya: “Si Polan, suaminya tetangga keluarga Bung Hatta” atau “Si Badu, pernah salaman sama Kiai Mustofa Bisri” atau “Si Waru – temannya keponakan Bung Karno”. Pendeknya, aneka klaim dengan nebeng nama beken dan nama besar itu, justru akan semakin membuktikan betapa sebenarnya para caleg itu kehilangan kepercayaan diri.</p>
<p class="MsoNormal">“Lha wong kepada dirinya sendiri aja nggak percaya, kok minta rakyat mempercayai. <em>Piye jal</em>?” kata Mas Celathu yang mengaku akan bangga jika ada caleg yang ingin membonceng dirinya. Bahkan dia sudah menyiapkan slogannya: “Aku Pemuja Mas Celathu, Dijamin Saru dan Tak Bermutu.”</p>
<p class="MsoNormal">Bisa diduga, pasti hanya caleg gegar otak yang bakal menerima tawaran Mas Celathu.***</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/02/08/kolom-celathu-butuh-boncengan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>URIP MUNG MAMPIR NGGUYU</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/19/urip-mung-mampir-ngguyu/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/19/urip-mung-mampir-ngguyu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 07:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<category><![CDATA[BUTET]]></category>

		<category><![CDATA[djaduk]]></category>

		<category><![CDATA[presdien guyonan]]></category>

		<category><![CDATA[whani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/19/urip-mung-mampir-ngguyu/</guid>
		<description><![CDATA[URIP MUNG MAMPIR NGGUYU
Selasa, 27 Januari 2009, 20.00 WIB, Concert Hall - Taman Budaya Yogyakarta, Jl Sriwedani (barat toko Progo)

Sekarang giliran Yogya disuguhi guyonan dalam kemasan pertunjukan &#8220;Urip Mung Mampir Ngguyu&#8221;. November tahun lalu, pertunjukan serupa diselenggarakan di Jakarta untuk menandai launching buku saya &#8220;Presiden Guyonan&#8221;.
Pembaca yang bakal tampi Whani Darmawan dan Happy Salma. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><font color="#ff0000"><strong>URIP MUNG MAMPIR NGGUYU</strong></font></h1>
<p><font color="#0000ff"><strong>Selasa, 27 Januari 2009, 20.00 WIB, Concert Hall - Taman Budaya Yogyakarta, Jl Sriwedani (barat toko Progo)</strong></font></p>
<p><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2009/01/pres-guyonan-launching.jpg" title="pres-guyonan-launching.jpg"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2009/01/pres-guyonan-launching.jpg" alt="pres-guyonan-launching.jpg" /></a></p>
<p>Sekarang giliran Yogya disuguhi guyonan dalam kemasan pertunjukan <strong>&#8220;Urip Mung Mampir Ngguyu&#8221;</strong>. November tahun lalu, pertunjukan serupa diselenggarakan di Jakarta untuk menandai launching buku saya <strong>&#8220;Presiden Guyonan&#8221;</strong>.</p>
<p>Pembaca yang bakal tampi Whani Darmawan dan Happy Salma. Saya akan membacakan fragmen monolog tokoh &#8220;Mas Celathu&#8221;. Trio GAM (Gareng Rakasiwi, Joned dan Wisben) mengocok perut dengan kisah-kisah jenakanya. Orkes Sinten Remen dan Djaduk Ferianto bikin ger-geran secara musikal. Dan Kill the DJ alias Mohamad Marzuki jadi MC bersama Dibyo Primus.</p>
<p><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2009/01/djaduk-dan-iik.jpg" title="djaduk-dan-iik.jpg"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2009/01/djaduk-dan-iik.jpg" alt="djaduk-dan-iik.jpg" /></a></p>
<p>Jika anda memang anggota atau calon anggota Front Pemuja Guyonan, jangan ragu untuk berkunjung dan menyaksikan daripada pertunjukan ini. Jika berminat silakan pesan tiket, hubungi: <strong>Bagian Iklan Kedaulatan Rakyat 0274-565685, Pak Dibyo 0274-6542000, Taman Budaya Yogyakarta 0274-561914.</strong></p>
<p>Harga tiket: Rp. 30.000,-/ Rp. 50.000,-/ VVIP Rp. 150.000,- (bonus buku Presiden Guyonan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/19/urip-mung-mampir-ngguyu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;SIDANG SUSILA&#8221; TEATER GANDRIK MANGGUNG LAGI !!!</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/05/sidang-susila-teater-gandrik-manggung-lagi-2/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/05/sidang-susila-teater-gandrik-manggung-lagi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 17:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<category><![CDATA[BUTET]]></category>

		<category><![CDATA[salihara]]></category>

		<category><![CDATA[sidang susila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/05/sidang-susila-teater-gandrik-manggung-lagi-2/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;SIDANG SUSILA&#8221; TEATER GANDRIK MANGGUNG LAGI !!! 
 
Lakon &#8220;SIDANG SUSILA&#8221; karya Ayu Utami dan Agus Noor akan dimainkan lagi  Teater Gandrik Yogyakarta. Di Salihara, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta, 15 sd 17 januari 2009, jam 20.00 WIB. PESAN TIKET hub: Nike 081807304036, Laly 02173458960, Sitok 08129945994. Silakan nonton rame-rame !!!
 
Produksi: Teater Gandrik, Penata Musik: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong><font color="#ff0000">&#8220;SIDANG SUSILA&#8221; TEATER GANDRIK MANGGUNG LAGI !!! </font></strong></h1>
<p><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/wp-content/blogs.dir/3789/files/pentas-gandrik/sidang-susila-2.jpg" rel="lightbox[]" title="sidang-susila-2.jpg"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/wp-content/blogs.dir/3789/files/pentas-gandrik/sidang-susila-2.jpg" alt="sidang-susila-2.jpg" /></a><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/wp-content/blogs.dir/3789/files/pentas-gandrik/sidang-susila-2.jpg" rel="lightbox[]" title="sidang-susila-2.jpg"> </a></p>
<p>Lakon <strong>&#8220;SIDANG SUSILA&#8221;</strong> karya Ayu Utami dan Agus Noor akan dimainkan lagi  Teater Gandrik Yogyakarta. Di Salihara, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta, 15 sd 17 januari 2009, jam 20.00 WIB. PESAN TIKET hub: <strong>Nike 081807304036, Laly 02173458960, Sitok 08129945994</strong>. Silakan nonton rame-rame !!!</p>
<p><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/wp-content/blogs.dir/3789/files/pentas-gandrik/sidang-susila-4.jpg" rel="lightbox[]" title="sidang-susila-4.jpg"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/wp-content/blogs.dir/3789/files/pentas-gandrik/sidang-susila-4.jpg" alt="sidang-susila-4.jpg" /></a><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/wp-content/blogs.dir/3789/files/pentas-gandrik/sidang-susila-4.jpg" rel="lightbox[]" title="sidang-susila-4.jpg"> </a></p>
<p><strong>Produksi: </strong>Teater Gandrik, <strong>Penata Musik:</strong> Djaduk Ferianto. <strong>Para Pemain:</strong> Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Whani Darmawan, Heru Kesawa Murti, Sepnu Heryanto dll.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2009/01/05/sidang-susila-teater-gandrik-manggung-lagi-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>VEVEN MERESENSI &#8220;PRESIDEN GUYONAN&#8221;</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/28/veven-meresensi-presiden-guyonan/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/28/veven-meresensi-presiden-guyonan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 03:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<category><![CDATA[presdien guyonan]]></category>

		<category><![CDATA[umar kayam]]></category>

		<category><![CDATA[veven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/28/veven-meresensi-presiden-guyonan/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Resensi buku &#8220;PRESIDEN GUYONAN&#8221; oleh Veven sp Wardhana ini telah dimuat di koran Media Indonesia 6 Desember 2008. Ini adalah versi aslinya sebelum diedit redaksi. Silakan baca!
  
Mas Celathu, Enak di Pojok dan Seru!
 Veven Sp. Wardhana
 Judul buku: Presiden Guyonan; Penulis: Butet Kartaredjasa; Penyunting: Agus Noor; Pengantar: Mohamad Sobary; Catatan akhir: Goenawan Mohamad; Gambar: Dwi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/11/cover-presiden-guyonan-blog.JPG" title="cover-presiden-guyonan-blog.JPG"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/11/cover-presiden-guyonan-blog.JPG" alt="cover-presiden-guyonan-blog.JPG" /></a></p>
<p>Resensi buku &#8220;PRESIDEN GUYONAN&#8221; oleh Veven sp Wardhana ini telah dimuat di koran Media Indonesia 6 Desember 2008. Ini adalah versi aslinya sebelum diedit redaksi. Silakan baca!</p>
<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                         MicrosoftInternetExplorer4                                                   &amp;lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&amp;gt;                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      &amp;lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1 135135232 16 0 262144 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Gravur-Condensed; 	mso-font-alt:"Franklin Gothic Medium Cond"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 1342185544 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1 135135232 16 0 262144 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:SimSun; 	mso-fareast-language:ZH-CN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:SimSun; 	mso-fareast-language:ZH-CN; 	mso-no-proof:yes;} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	mso-fareast-language:ZH-CN; 	mso-no-proof:yes;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-fareast-font-family:SimSun;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1466775588; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-411679316 67698693 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:1.0in; 	text-indent:-.25in; 	font-family:Wingdings;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --> <!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";}  &amp;lt;![endif]--></p>
<h1 align="center"><strong><font color="#ff0000">Mas Celathu, Enak di Pojok dan Seru!</font></strong></h1>
<p align="center"><strong> Veven Sp. Wardhana</strong></p>
<p align="center"><strong> Judul</strong> <strong>buku</strong>: Presiden Guyonan; <strong>Penulis</strong>: Butet Kartaredjasa;<strong> Penyunting</strong>: Agus Noor; <strong>Pengantar</strong>: Mohamad Sobary; <strong>Catatan</strong> <strong>akhir</strong>: Goenawan Mohamad; <strong>Gambar</strong>: Dwi Koen; <strong>Penerbit</strong>: Kitab Sarimin, Yogya, November 2008; <strong>Tebal</strong>: xxiv + 286 halaman</p>
<p>TAK ada yang mengharamkan warganegara (Indonesia) untuk dicalonkan atau mencalonkan dirinya sendiri sebagai politisi; sebagai anggota legislatif, atau berposisi sebagai petinggi eksekutif negeri. Termasuk yang punya hak adalah juga selebritas alias pesohor yang kerap merujukkan diri pada bintang Hollywood Ronald Reagan yang menjadi Presiden Amerika Serikat, atau Arnold Schwarzenegger yang menjadi Gubernur California. <span id="more-247"></span></p>
<p>Sebuah kilah yang cenderung klise karena mereka melupakan bahwa <em>sense of politic </em>selebritas negeri manca tidaklah ahistoris, sehingga mereka enteng saja melempar pernyataan politik dalam acara penganugerahan festival film atau dalam iklan layanan masyarakat yang benar-benar demi rakyat, sementara selebritas Indonesia-raya cenderung penuh kicau beo pada penguasa bahkan dalam beragam kesempatan. Karena kilah – yang serba-justifikal – munculnya lebih mudah, jadi terasa istimewa saat ada seseorang yang menolak pencalonan atas dirinya sebagai petinggi politik negeri ini. Termasuk dalam sosok langka itu adalah Mas Celathu, yang menolak ditawari menjadi petinggi negeri. Alasannya, kira-kira: Mas Celathu gagap untuk menjadi petinggi yang keputusan dan kebijaksanaannya seperti main-main, selain perilakunya juga mirip drama-dramaan. Karena itu, Mas Celathu lebih memilih “secara resmi mengangkat diri sendiri menjadi Presiden Guyonan. Biar menghibur. Syukur-syukur bisa kasih pencerahan.”</p>
<p>Memang, Mas Celathu semata sosok fiktif dalam kolom-seri yang muncul saban Minggu dalam suratkabar <em>Suara Merdeka </em>(Semarang), yang dimuat sejak September 2007, dan kini dibukukan dalam tajuk <em>Presiden Guyonan. </em>Penulisnya: Butet Kartaredjasa, pemeran presiden sebuah negeri (fiktif) yang lokasinya tak jauh dari republik (faktual) Indonesia dalam tayangan televisi komersial Indonesia.</p>
<p>Saya katakan Mas Celathu merupakan sosok benar-benar fiktif lantaran seseorang dengan nama tersebut tak akan tertemukan dalam buku register di kantor pencatatan sipil, juga di kantor kecamatan atau dinas kependudukan yang menerbitkan KTP; namun pelbagai peristiwa yang digambarkan dalam berderet kolom itu gamblang bukanlah kisah fiktif alias faktual jua adanya, antara lain: puluhan nyawa amblas karena berdesakan dalam antrean pembagian sedekah di Pasuruan; Roy Marten yang (lagi-lagi) ketangkap aparat karena menggembol narkoba; wafatnya bekas presiden yang berkuasa puluhan tahun; Jusuf Kalla yang berujar “kesejahteraan dan kebahagiaan adalah tujuan, yang untuk mencapainya sah saja dengan bermacam cara”; dan berderet lainnya, termasuk bekas Gubernur DKI Sutiyoso yang membangun citra diri demi pencalonan diri sebagai kandidat presiden yang bakal bertarung dalam pemilu 2009.</p>
<p>Sesungguhnya, yang terpenting bukan perkara sosok dan peristiwa dalam kolom-kolom tersebut fiktif ataukah faktual, melainkan apa persepsi Mas Celathu dan bagaimana Mas Celathu mempersepsi pelbagai peristiwa konkret itu. Kalaulah diperbandingkan, cara mempersepsi banyak hal itu mirip-mirip dengan komentar-celetukan rubrik “pojok” di suratkabar-suratkabar – yang lebih ringan sekaligus lebih melecut dibandingkan tulisan editorial atau model-model tajuk rencana.</p>
<p>Saat menghadiri anak sulungnya diwisuda usai sukses menamatkan kuliahnya, selain rasa bungah hati Mas Celathu sebagai orangtua, pikirannya pun menerawang bahwa keberadaan berderet mantan wisudawan sama artinya dengan berderet kandidat pengangguran, yang sesungguhnya sudah berderet jumlahnya. Atau saat seorang tiran sakit dan kemudian meninggal dunia, tiga kolom lahir dalam tiga perspektif pula. Salah satunya: Mas Celathu terteror batinnya oleh siaran televisi dan radio yang saban waktu memutar penuh khidmat lagu “Gugur Satu Tumbuh Seribu”. Dalam persepsi Mas Celathu: media telah memelintir dengan menyatakan bahwa tiran yang meninggal itu adalah seorang pahlawan, padahal status hukumnya masih diambangkan.</p>
<p>Mbakyu Celathu, istrinya, yang mencoba mengingatkan bahwa suaminya sesungguh teruntungkan karena dapat rezeki gara-gara memparodikan suara tokoh yang meninggal itu, Mas Celathu balik berujar, bahwa dirinya bersedia membayar royalti pada sosok yang diparodikan. “Akan saya bayar royaltinya, setelah tokoh itu membayar royalti kepada keluarga jutaan korban yang telah disengsarakannya.”</p>
<p>Sengak. Khas celetukan dalam rubrik “pojok” atau yang semacamnya.</p>
<p>Tak sebatas itu; Mas Celathu masih melanjutkan: jika yang satu itu dianggap gugur bak pahlawan, kini memang benar-benar sudah tumbuh seribu pseudo-pahlawan lainnya yang senada dan seirama. Getir dan menggetarkan. Nyelekit tapi jauh dari niat bikin sakit (hati), jenaka, juga sekali-sekala tak terduga.</p>
<p>Berkait peristiwa jatuhnya korban akibat antre pembagian sedekah tadi, muncul wacana bahwa pembagi sedekah itu bisa didakwa pidana melalui pasal hukum yang  menyatakan telah jatuh korban nyawa akibat kelalaian pembagi sedekah. Mas Celathu nyeletuk: pemilik rumah berpagar bisa dijerat “pasal lalai” yang sama lantaran ada truk yang menerjang orang-orang yang kongko minum kopi di sebuah warung. Dasar pijaknya: kalau tak ada pagar, truk itu akana langsung melanggar rumah dan tak membelok ke warung.</p>
<p>Mas Celathu tak sebatas memberi catatan kaki pada pasal lentur dalam KUHP itu, melainkan lebih menitikberatkan kritiknya pada hamba hukum yang begitu lihai memain-mainkan bahasa hukum justru untuk menangguk keuntungan dari warga yang awam hukum.</p>
<p>Terkadang Mas Celathu juga mengeksplorasi ke”tirani”an dirinya sendiri, dengan cara: menganggap rumahnya sebagai sebuah negeri, rumahtangganya sebagai sebuah manajemen pemerintahan, dan dirinya memaklumatkan diri sebagai presiden, bahkan presiden seumur hidup. “Tahu-tahu menduduki tahta tertinggi. Tak ada kampanye alias jual kecap, tak ada pelantikan, juga tanpa <em>fit and proper test</em>. Kekuasaan langsung dipangku. Apa pun yang disabdakan seperti fatwa yang musti didengar dan dilaksanakan. Tak akan tersentuh hukum andaikan suatu kali melakukan kesalahan.” (h. 75-76). Disambun: “Jadi pemimpin rumahtangga murah ongkosnya, karena tak perlu kampanye. Tanpa intrik, tanpa fitnah, tanpa dusta.” (h. 79). Artinya, Mas Celathu hendak menegaskan: dunia politik itu penuh fitnah, kecap, akal-akalan, siasat, juga dusta.</p>
<p align="center">***</p>
<p>SELAIN Mas Celathu, nama Mbakyu Celathu (istrinya), benar-benar tak ada dalam buku register dan data kantor dinas kependudukan. Namun, tak semata peristiwa yang terjadi di sekeliling Mas Celathu yang benar-benar faktual; bahkan peristiwa dalam keluarga Mas Celathu sendiri saya ragukan itu sebagai semata fiktif. Mas Celathu yang aktor dan pemeran presiden guyonan adalah identifikasi Butet Kartaredjasa yang dijuluki Raja Monolog, yang juga pemeran Presiden SBY (Si Butet Yogya) dalam tayangan pusparagam parodi di layar televisi. Lalu, Mbakyu Celathu yang digambarkan sebagai seorang hajjah, sejauh yang saya kenal, istri Butet adalah pula seorang hajjah – yang dalam salah satu kolomnya dijadikan bukti konkret betapa pluralisme dan multikulturalisme itu benar-benar dipraktikkan keluarga Mas Celathu; tak sebatas dalam kecap orasi para pesohor politik.</p>
<p>Kemudian, anak-anak Mas-Mbakyu Celathu yang terdiri tiga orang, urut-urutannya pun persis-<em>pleg </em>dengan realitas faktual keluarga Butet: Mas Ndut (sulung-lelaki), Mbak Tomboy (perempuan), dan Jeng Genit (bungsu-perempuan). Saat ada gambaran bahwa muka Mbak Tomboy bengap-babak-belur ditonjok seorang lelaki gara-gara Mbak Tomboy hendak membebaskan sahabatnya yang disekap lelaki yang tak lain kekasih sahabatnya, kian nyatalah bahwa ini merupakan peristiwa nyata dalam keluarga Butet Kartaredjasa.</p>
<p>Maknanya, Mas Celathu adalah alter-ego Butet. Keberadaan sosok utama dalam kolom sebagai semacam alter-ego penulisnya, memang mengingatkan pada kolom-kolom almarhum Umar Kayam dengan alter-ego Pak Ageng – juga dimuat suratkabat setempat, Yogya, yang lantas dibukukan dalam <em>Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, Satrio Piningit ing Pingit</em>, dan lainnya. Dalam hal ini, Jennifer Lindsay, pemerhati budaya dan penulis buku antara lain <em>Javanese Gamelan</em>, tidak salah. Namun, begitu saja menyama-nyamakan kolom-kolom Mas Celathu dengan kolom-kolom Pak Ageng – sebagaimana dikesankan dalam pengantar Mohamad Sobary, catatan akhir Goenawan Mohamad, dan catatan lipatan sampul Ayu Utami – saya rasa itu sebagai semacam simplifikasi. Dalam kolom-kolom Kayam, simpulan mengejutkan atau perenungan muncul dalam paragraf-paragraf pamungkas kolom – yang bisa berupa dialog, bisa pula narasi – sementara perenungan dalam kolom-kolom Butet bahkan sudah dimulai pada sepertiga awal kolom, atau celetukan itu bisa muncul dalam banyak paragraf dalam satu kolom.</p>
<p>Memang, ada beberapa hal yang mengganggu pembacaan saya. Mudahnya menemukan ejaan yang meleset: mbayu (harusnya: <em>mbakyu</em>), Maduksimo (mestinya: <em>Madukismo</em>), Triyanto Tiwikromo (kudunya: Triyanto Triwikromo), dan lain-lain. Juga salah satu di antara 30 gambar lucu bikinan Dwi Koen di halaman 71, yang menggambarkan Bos Mburi, yang sedang mencuci lembaran uang di papan penggilasan, sebagai sosok perempuan, sementara yang saya tahu adalah berjenis kelamin lelaki.</p>
<p>Saya juga agak mengernyitkan jidat saat Butet menulis patung berpikir sebagai patung Lenin, sementara yang lebih dikenal dalam pustaka senirupa dunia sebagai patung berpikir adalah hasil tatahan François-Augusté Rodin (12 November 1840–17 November 1917), yang dikenal dalam judul <em>The Thinker </em>atawa (dalam aslinya:) <em>Le Pensiur. </em>Bisa jadi Butet memiliki koleksi sendiri yang berbeda dari yang dikenal banyak khalayak.</p>
<p>Untuk yang kurang paham bahasa Jawa, buku ini menyediakan kamus mini di halaman belakang. Kalaulah masih terganggu pembacaannya – karena harus membolak-balik halaman mencocok-cocokkan kata-kata bahasa lokal – ada baiknya kolom-kolom ini dilisankan, tak sebatas dibaca, melainkan dibacakan. Pasti seru…. ***</p>
<p align="right"><!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]--><strong>Veven Sp. Wardhana</strong>,</p>
<p align="right"><em>Calon anggota FPG: Front Pemuja Guyonan</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/28/veven-meresensi-presiden-guyonan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;PRESIDEN GUYONAN&#8217; di tangan PRESIDEN BENERAN</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/25/presiden-guyonan-di-tangan-presiden-beneran/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/25/presiden-guyonan-di-tangan-presiden-beneran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 05:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/25/presiden-guyonan-di-tangan-presiden-beneran/</guid>
		<description><![CDATA[ 
 &#8221;PRESIDEN GUYONAN&#8217; di tangan PRESIDEN BENERAN
Di masa lalu mana mungkin bisa terjadi&#8230; Seorang presiden menerima dengan penuh persahabatan seorang tukang kritik yang sering memarodikan dirinya. Dan itulah yang terjadi Rabu, 17 Desember 2008, di Gedung Agung Yogyakarta. Presiden beneran dengan lapang dada menyambut &#8220;presiden bodongan&#8221; yang pagi itu menyerahkan buku &#8220;Presiden Guyonan&#8221;. Moga-moga aja buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/12/sby-butet-2.JPG" title="sby-butet-2.JPG"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/12/sby-butet-2.JPG" alt="sby-butet-2.JPG" /></a></p>
<h1><font color="#ff0000"><strong> &#8221;PRESIDEN GUYONAN&#8217; di tangan PRESIDEN BENERAN</strong></font></h1>
<p>Di masa lalu mana mungkin bisa terjadi&#8230; Seorang presiden menerima dengan penuh persahabatan seorang tukang kritik yang sering memarodikan dirinya. Dan itulah yang terjadi Rabu, 17 Desember 2008, di Gedung Agung Yogyakarta. Presiden beneran dengan lapang dada menyambut &#8220;presiden bodongan&#8221; yang pagi itu menyerahkan buku &#8220;Presiden Guyonan&#8221;. Moga-moga aja buku itu suatu kali dibaca&#8230;.biar Indonesia lebih suegeeeerrr&#8230;he he he</p>
<p><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/12/presiden-guyonan-sby.JPG" title="presiden-guyonan-sby.JPG"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/12/presiden-guyonan-sby.JPG" alt="presiden-guyonan-sby.JPG" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/25/presiden-guyonan-di-tangan-presiden-beneran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KOLOM CELATHU: PENYELEWENGAN SEPATU</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/21/241/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/21/241/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 17:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<category><![CDATA[penyelewengan]]></category>

		<category><![CDATA[sepatu george bush]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/21/241/</guid>
		<description><![CDATA[Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 21 Desember 2008, hal 1, NASIONAL

  
Penyelewengan Sepatu
Butet Kartaredjasa
“Hayoooo…sampeyan mulai nyeleweng ya?”
Jika betul-betul terdengar hardikan seperti ini, bisa jadi Mas Celathu akan langsung mengkeret. Tidak cengengesan lagi. Apalagi jika yang membunyikan kalimat  itu Mbakyu Celathu, dengan oktaf rada melengking ditambah pandangan penuh selidik. Tak terbayang bagaimana wagu-nya ekspresi raut wajah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 21 Desember 2008, hal 1, NASIONAL</em></p>
<p><a href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/12/sepatu-bush.jpg" title="sepatu-bush.jpg"><img src="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/12/sepatu-bush.jpg" alt="sepatu-bush.jpg" /></a></p>
<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                     MicrosoftInternetExplorer4                                                   &amp;lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&amp;gt;                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                &amp;lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}  &amp;lt;![endif]--></p>
<h1><strong><font color="#ff0000">Penyelewengan Sepatu</font></strong></h1>
<p><em>Butet Kartaredjasa</em></p>
<p>“Hayoooo…sampeyan mulai nyeleweng ya?”</p>
<p>Jika betul-betul terdengar hardikan seperti ini, bisa jadi Mas Celathu akan langsung mengkeret. Tidak cengengesan lagi. Apalagi jika yang membunyikan kalimat  itu Mbakyu Celathu, dengan oktaf rada melengking ditambah pandangan penuh selidik. Tak terbayang bagaimana <em>wagu</em>-nya ekspresi raut wajah Mas Celathu. Mungkin mimik-nya akan <em>lungset</em> kayak handuk yang sudah <em>nglumbruk</em> jadi gombal.  <span id="more-241"></span></p>
<p>Tapi, untungnya, hardikan seperti itu tidak pernah terdengar. Atau belum. Amit-amit, janganlah sampai terjadi.  Soalnya sebagai lelaki yang bercita-cita menjadi seorang “suami setia” , Mas Celathu paling tidak siap dicurigai seperti itu. Kalau toh prasangka itu muncul, pertama-tama pasti Mas Celathu akan menyelidiki dulu. Jangan-jangan ini sekadar  <em>gojekan</em> kawan-kawannya yang sengaja membakar emosi Mbakyu Celathu. Guyonan nyerempet bahaya sudah jadi kebiasaan dalam pertemanan komunitasnya. Ada yang hobinya iseng menabur isu penyelewengan, sekadar untuk bisa ngakak kolektif jika yang dijadikan obyek betul-betul <em>kobongan</em> terbakar api cemburu.</p>
<p>“<em>Ora kodal</em>,..nggak bakal mempan deh. Kamu ini <em>wadul </em>kok skenario-nya nggak meyakinkan. Sana belajar <em>ndobos</em> dulu, biar kalau ngerjain tidak <em>konangan</em>. <em>Mbel, mbel,…rasah cerigis</em>!” begitu selalu sergah Mbakyu Celathu seumpama ada teman suaminya sengaja mau bikin <em>obong-obongan</em>. Bisa dibilang dia sudah imun. Kebal gosip. Maklum saja, di antara anggota  “dharma wanita”  komunitasnya, Mbakyu Celathu bisa dikategorikan klas <em>pathak warak</em> alias senior. Sudah 27 tahun berumahtangga. Sudah hafal banget bagaimana mereka membudidayakan model canda begituan. Bayangkan saja. Sementara yang lain masih pening soal harga susu bayi yang semangkin mahal,  Mas dan Mbakyu Celathu sudah ancang-ancang mau hajatan mantu.</p>
<p>Pengalaman berumahtangga sekian lama dengan prestasi “aman-aman saja” terkadang membuat Mas dan Mas Celathu dijadikan <em>jujugan</em> jika terjadi <em>gonjang-ganjing</em> soal <em>bebrayan</em>. Mereka akan pada curhat, menumpahkan uneg-uneg atau minta nasehat. Dari soal belitan ekonomi, mengatasi anak-anak yang bandel, perselingkuhan, karier yang ngadat, jamu pembangkit syahwat, sampai urusan senam pinggul sebagai ikhtiar menjinakkan suami di atas ranjang. Seolah-olah keluarga Celathu adalah keluarga teladan yang layak diidolakan. Padahal, aslinya ya tidak. Tetap ada remuk-remuknya dikit. Sebagai masyarakat normal di dunia ketiga dengan pola hidup full spekulatif, keluarga Celathu juga kerap mengalami sandungan-sandungan kecil.</p>
<p><strong>Siasat Kreatif</strong></p>
<p>“Tapi, keluarga sampeyan itu kelihatannya rukun-rukun aja. Kayaknya nggak pernah bertengkar. Yang saya lihat cuma <em>guyon thok</em>. Anak-anak ya pada <em>nggenah gitu lho</em>..,” puji temannya suatu kali.</p>
<p>“Wualah…rumangsamu keluarga kami ini siapa? Tak bilangi ya, <em>urip kuwi wang-sinawang.</em> Kebun tetangga akan selalu terlihat lebih indah. Padahal yang terjadi sebenarnya,… ya tidak seindah yang dibayangkan,” elak Mas Celathu menanggapi pujian yang over estimate.</p>
<p>“Di keluarga sampeyan, apa juga sering terjadi penyelewengan?”</p>
<p>“Sering!” tiba-tiba Mbakyu Celathu menyambar cepat, membuat Mas Celathu <em>njenggirat </em>kaget. “Wuaduh, apa lagi ini?” batin Mas Celathu. Begitu pun temannya, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.</p>
<p>“Maksudnya?”</p>
<p>“Ya kayak Mas Celathu itu. Sekolahnya seni rupa, kok malah nyeleweng jadi tukang tonil. Tuh lihat, lesung yang seharusnya untuk menumbuk padi diselewengkan jadi pigura untuk cermin. Lumpang kayu dipaksa menyeleweng fungsinya, dijadikan anak tangga?” jawab Mbakyu Celathu sambil mengulum senyum. Sungguh jawaban yang terduga.</p>
<p>Mendengar jawaban ini Mas Celathu menarik nafas lega. Ternyata bininya sedang memamerkan kecerdasannya memainkan retorika. Ternyata, bagi keluarga Celathu wacana penyelewengan tak harus bertalian dengan perkara pengkhianatan seorang kekasih. Tapi dipahami sebagai siasat kreatif melakukan daur ulang. Dalam keterbatasan dan keterpepetan yang kerap menghajar hidupnya, sering memunculkan akal cerdik menyelewengkan benda-benda. Yang semula sudah apkir sebagai sampah, bisa menjelma sebagai sesuatu yang anyar dengan fungsi yang barangkali mengingkari kodrat awalnya.</p>
<p>Misalnya, keranjang anyaman bambu yang biasanya bertugas di dapur, malah jadi wadah cucian pakaian kotor di kamar. Bak cuci dari bongkaran pabrik tekstil, menjadi pot panjang yang anggun. Tikar pandan yang seharusnya untuk sarana <em>klesotan</em>, malah mentereng sebagai kap lampu.</p>
<p>Siasat menyelewengkan fungsi benda-benda itu mungkin dinilai sebagai ulah kreatif. Tapi bisa jadi juga dikarenakan kejengkelan lantaran  kemana-mana ketemunya hanya jalan buntu. Tak sanggup beli yang indah dan mahal, ya cari akal bikin kejutan. Sama persis yang dilakukan para demonstran. Karena jengkel tak didengar aspirasinya, mereka menyelewengkan fungsi buah tomat. Bukan untuk pelengkap sedapnya masakan, tapi justru untuk menimpuk koruptor yang sudah ketangkap masih juga cengengesan. Sementara polisi di Makasar cukup menyelewengkan fungsi helm. Bukan melindungi kepala, tapi justru jadi alat pemukul kepala mahasiswa yang perilakunya kelewat anarkis.</p>
<p>“Di sini yang belum menyeleweng cuma sepatu. Nanti kalau Mas Celathu benar-benar nyeleweng, saat itulah sepatu akan menyeleweng dari fungsinya. Bukan untuk melindungi telapak kaki. Tapi untuk dilemparkan ke wajah Mas Celathu. Biar mampus kayak George Bush,” ujar Mbakyu Celathu sambil melirik suaminya. Wuuuaduhhh…!!!***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/21/241/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KOLOM CELATHU: PERTARUHAN BAWAHAN</title>
		<link>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/14/kolom-celathu-pertaruhan-bawahan/</link>
		<comments>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/14/kolom-celathu-pertaruhan-bawahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 03:29:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>butet</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[1]]></category>

		<category><![CDATA[bawahan]]></category>

		<category><![CDATA[feodal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/14/kolom-celathu-pertaruhan-bawahan/</guid>
		<description><![CDATA[
Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 14 Desember 2008, hal 1, nasional
  
Pertaruhan Bawahan
Butet Kartaredjasa
 
Meskipun punya pikiran mlethik, seorang bawahan “yang baik dan benar” harus tetap bisa menyembunyikan kecerdasannya.  Juga daya kritisnya. Syukurlah seumpama bisa berpura-pura bego dan miskin inisiatif. Pasti aman. Tidak mengganggu stabilitas kedudukan atasannya. Dengan menjaga performance  yang  “tak lebih pinter” dari pemilik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;--></p>
<p>Dimuat SUARA MERDEKA, Minggu 14 Desember 2008, hal 1, nasional</p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;     Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                     MicrosoftInternetExplorer4                                                   &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                &lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}  &lt;![endif]--></p>
<h1><strong><font color="#ff0000">Pertaruhan Bawahan</font></strong></h1>
<p><em>Butet Kartaredjasa</em></p>
<p> </p>
<p>Meskipun punya pikiran <em>mlethik</em>, seorang bawahan “yang baik dan benar” harus tetap bisa menyembunyikan kecerdasannya.  Juga daya kritisnya. Syukurlah seumpama bisa berpura-pura bego dan miskin inisiatif. Pasti aman. Tidak mengganggu stabilitas kedudukan atasannya. Dengan menjaga performance  yang  “tak lebih pinter” dari pemilik jabatan di atasnya, ia akan terbebas dari tudingan: sok tahu, cari muka, <em>minteri</em>, menggurui, ambisius, dan sebangsanya. Agaknya, inilah sisa-sisa feodalisme yang masih terawat dengan baik. Dalam kepemimpinan yang feodal, yang berada di atas harus selalu benar. Dan bawahan adalah keranjang sampah kesalahan. <span id="more-239"></span></p>
<p>            “Yah, itulah repotnya jadi pegawai rendahan. Biarpun sudah merampungkan S3 dan bergelar doktor, <em>kudu gelem</em> <em>ngalah</em> sama pemimpin yang juga merampungkan S3, maksudnya SD-SMP-SMA,…he he he,” seloroh Dimas Soponyono, seorang pegawai negeri <em>anyaran </em>di sebuah propinsi di Indonesia, bernada sambat. Dia lalu berkisah, lebih baik membunuh daya kritis dan inisiatif, katimbang kariernya kelak menghunjam bumi. </p>
<p>            “Gara-gara menyetop pidato Pak Pemimpin saya kena sanksi administratif. Tuduhannya gawat. Dianggap melakukan pembangkangan dan mempermalukan pimpinan,” gerutunya.</p>
<p>            “Kamu ini kok ya berani-beraninya nyetop pidato pemimpinmu. Memangnya beliau ngoceh apa?”</p>
<p>            “Bukan isi pidatonya. Tapi karena pidatonya  kelamaan, dan beliau tidak menyadari jadi bahan tertawaan. Saya kan nggak tega melihat atasan dibegitukan. Terpaksalah saya nekad kasih peringatan. Eh,…malah saya yang celaka.”</p>
<p>            Kisahnya, di sebuah siang yang terik dalam sebuah perhelatan peresmian stadion olah raga. Stadion itu sejak pagi telah dipadati ribuan orang, entah dikerahkan dari mana mereka. Seperti lazim acara pemerintah,  seremonialnya bertele-tele dan membosankan. Ketika matahari semakin meninggi, datanglah giliran Pak Pemimpin berpidato. Dia mengawali pidatonya dengan penuh simpati. </p>
<p>”Saudara-saudara, saya tidak akan pidato berlama-lama. Singkat saja. Karena terus terang saya tidak tega melihat saudara-saudara kepanasan dibakar matahari,”  kata Pak Pemimpin sambil menunjuk ribuan manusia di tribun terbuka, dan langsung menerima aplaus tepuk tangan. Kesan pertama yang  mempesona. Seakan-akan ia bisa membaca aspirasi rakyatnya.</p>
<p>Sepuluh menit terlewati, pidato belum berhenti. Semua masih sabar. Dengan sound sistem yang bagus dan juru <em>keplok</em> rajin menghamburkan tepuk tangan, membikin Pak Pemimpin semangkin enjoy. Dia terus ngoceh. Teks resmi sudah dilipat dan masuk kantung. Tamu undangan siap bertepuk tangan, menyangka pidato telah rampung. Eh,…tetap saja beliau meneruskan pidatonya. Malah semakin berapi-api.  Bicara apa saja. Seperti tak kehabisan tema. Perkara ranjang semasa pacaran, pengalaman masa kecil, kebiasaan makan, hobby belanja istrinya, bahkan soal peliharaan burung di rumah juga diomongkan. Pendeknya hal-hal yang tidak selayaknya dipidatokan pun berhamburan dari mulutnya.</p>
<p>Ketika para undangan lega mendengar ucapan,”Akhir kata saya ingin mengatakan…” sebuah pertanda bakal berakhirnya pidato,…eh tetap saja meneruskan ocehannya. Malah semakin panjang.  Bener-bener gila.</p>
<p>Empat puluh menit telah terlewati. Ribuan penonton mulai belingsatan. Secara naluriah ribuan manusia di tribun terbuka mulai menepi. Cari tempat teduh, takut dehidrasi. Bahkan sampai tribun itu melompong hanya berisi beberapa gelintir manusia, tetap saja tak menghentikan pidato yang semangkin ngelantur kemana-mana itu. </p>
<p>Nah saat itulah, sebagai bawahan yang baik dan benar Dimas Soponyono memberanikan diri menyetop pidato atasannya. Sama sekali dia tak menyangka, momentum yang memperlihatkan keberanian seorang bawahan itu, berani mengingatkan seorang pemimpin yang <em>ndlewer</em> kebablasan, justru bikin nasibnya tersandung-sandung di kemudian hari.</p>
<p> </p>
<p><strong>Kebijakan Full Pemborosan</strong></p>
<p>Mas Celathu mendengar keluhan ini dengan seksama. Hanya itu yang bisa dilakukan. Habis mau gimana lagi? Lha wong dia cuma orang swasta yang bisanya hanya <em>bengak-bengok</em> sebagai orang tonil. Kalau toh ada tindakan, paling banter sekadar mengelus dada membayangkan betapa <em>ngenes</em>-nya nasib kawan yang bergelar “Phd” itu.</p>
<p>            Bukan sekali ini Mas Celathu menampung keluhan serupa. Kayaknya hal beginian telah menjadi identitas sebuah perkantoran yang pemimpinnya drop-dropan dari partai anu lantaran konsesi politik.  Bukan rahasia lagi, sekarang ini banyak kantor-kantor resmi, misalnya BUMN atau BUMD ditongkrongi para alumni tim sukses yang memenangi sebuah pesta demokrasi, tingkat lokal maupun nasional. Siapa mereka, tak jelas juntrungannya. Seperti turun dari langit. Tiba-tiba jabatan tertinggi terisi priyayi dari Pusat. Memang, tidak semua pimpinan drop-dropan itu buruk kinerjanya. Ada juga yang klop sesuai bidangnya, kendati tak sedikit yang jauh dari kemampuan dan kualitas. Bisanya betul-betul hanya duduk, ngantuk, ngamuk dan <em>njaluk</em>. Maksudnya <em>njaluk</em>  jatah setoran dengan mengabaikan prinsip akuntabilitas yang baik dan benar. </p>
<p>            “Kamu juga betah hidup dalam kepalsuan begituan? Nggak protes?” tanya Mas Celathu.</p>
<p>            “Wuaaalah,…memangnya pengin dimutasi jadi sopir atau pesuruh kantor.”</p>
<p>            Memang tragis jika kekhawatiran Dimas Soponyono benar-benar terjadi. Atau jangan-jangan memang tengah terjadi? Di kantor gubernuran atau bisa jadi di kantor kabupaten? </p>
<p>Manusia-manusia ala Soponyono harus selalu mengalah dan tersungkur nasibnya. Tidak memperoleh kesempatan berkompetisi dan mengamalkan ilmu yang dikuasai. Dalam iklim demokrasi yang menghalalkan kompetisi dan persaingan, seharusnya menjadi medan pertarungan bagi siapa saja. Di sana kemampuan orang per orang diuji dan dinilai. Yang memenangi persaingan semestinya mereka yang berhasil memecahkan persoalan secara tepat, cepat dan cerdas. Bukannya mereka yang lidahnya lecet karena terlalu rajin menjilat atasan dan mempraktekkan kebijakan full pemborosan.</p>
<p>Bahkan untuk sekadar punya nyali mengingatkan atasan, seorang bawahan harus mempertaruhkan nasibnya. Entah sampai kapan.***</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/12/14/kolom-celathu-pertaruhan-bawahan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
