infonya bagus banget PakDe, dadi kelingan karo jogja. maturnuwun, mugi - mugi saget wangsul dateng Jogja trus melu wisata kuliner PakDe Butet. Salam kenal.
JAJAN
ini versi awal tulisanku yang kukirim ke kompas belum lama ini. belum bisa dimuat, konon karena kepanjangan. sekarang sudah kuedit. lebih pendek. tapi ada beberapa suasana yang terpaksa dihilangkan. yah,…moga-moga aja lolos dan bisa dinikmati khalayak pembaca yang lebih luas)
Di Yogya, Lidah Wajib Bertamasya
Butet Kartaredjasa
Yang membikin Daerah Istimewa Yogyakarta berpredikat “istmewa” rupanya bukan hanya disebabkan kesediaan Sri Sultan Hamengkubawana IX menggabungkan diri dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Tapi agaknya, juga lantaran ada “penderitaan istimewa” yang harus dibayar para pejalan budaya yang gemar memburu makanan enak. Bayangkan saja. Untuk menyantap semangkuk soto Bu Cip di Tamansari atau menikmati legitnya nasi goreng kambing olahan Mbak Sopiah di Warung Sate “Pak Dakir” di Jalan HOS Cokroaminoto, mereka – para pemburu makanan unik dan uuuenak itu — harus menyiapkan stamina dan waktu istimewa karena musti antri tunggu giliran. Dan harus rela berpanas-panas kegerahan di warung sempit.
Bahkan, jika menyantap tongseng kambingnya Pak No di desa Menayu Kulon, Ring Road Selatan, orang harus dihajar secara istimewa melalui sengatan cabe super pedas yang menjadi kekhasan kedai ini. “Habis lari marathon ya,” ledek Pak No saat melihat konsumennya bercucuran keringat dan terengah-engah kepedasan.
Itulah Yogya. Melengkapi statusnya sebagai kota budaya, ia menyimpan begitu banyak keunikan budaya, teristimewa yang berurusan dengan kemanjaan lidah. Dikategorikan unik, karena berbagai olahan makanan (tradisional) itu jarang ditemui di daftar menu klas restoran. Misalnya baceman kepala kambing di belakang Pasar Colombo, Jalan Kaliurang; baceman bebek di Pasar Ngino Godean; atau baceman burung puyuh dan burung dara di depan gerbang ndalem Notoprajan. Atau yang dikategorikan lauk pauk unik seperti gorengan cethul goreng di Tamansari, rantengan (baceman empal, babat, iso, rambak, petis) Bu Warno di lantai dua Pasar Beringharjo bagian timur, berdekatan dengan gado-gado legendaris Bu Hadi.
Di Yogya masih banyak warung legendaris yang tetap bertahan hingga kini, bahkan dikelola generasi ketiga. Warung yang telah menjadi mitos kelezatan ini, sampai sekarang tetap menjadi sasaran kunjungan mereka yang ingin bernostalgia dengan Yogya. Yang pernah kuliah di UGM dan berguru di kampus-kampus sekitar Bulaksumur, dipastikan pernah menikmati pecel, sop dan es sari tomat di SGPC Bu Wiryo. Biasanya mereka ingin mengenang kembali SGPC yang dulu kondang dengan kejenakaan pelayannya, yang selalu mengistilahkan menu makanan dengan ungkapan yang lucu: sop tanpa kawat (maksudnya tanpa mihun), pecel banjir (dengan bumbu kacang yang banyak) atau sop tanpa colt kampus (maksudnya tanpa kol, kubis). Sementara yang menggemari makanan berkuah tentu akan mengenang masa lalunya di Soto Kadipiro yang terletak di jalan Wates, yang saking melegendanya sejak sepuluh tahun ini di sekitar lokasinya banyak muncul Warung Soto sejenis.
Masih soal soto. Ada genre masakan soto lain dengan racikan bumbu dan daging berbeda. Jika soto Kadipiro– juga Soto Sawah di desa Soragan dan Soto Pak Slamet di Mejing, Gamping — disertai suwiran ayam goreng, orang akan ketemu soto dalam nuansa lain berbasis daging sapi: Soto Pak Marto, Soto Bu Cip, Soto Sumuk Gondolayu, Sutu Pithes Pasar Beringharjo, atau Soto Pak Sholeh di Tegalrejo. Di sektor sate dan tongseng kambing, orang tentu tak bisa melupakan Sate Kambing Pak Amat di Alun Alun Utara, Tongseng Wiyoro, Tongseng Ngasem, Tongseng Babadan Sleman , Sate/Tongseng Mbah Godril, Sate Samirono, Lelung alias Gule Balung di desa Gesikan Bantul, SGTK alias Satu Gule Tongseng Kambing Pak Anshor di Notoprajan, Sate Klathak Pak Bari dan Jono di dalam Pasar Jejeran, dan tentu saja deretan warung sate dan tongseng kambing di sepanjang jalan menuju Imogiri yang jumlahnya puluhan. Sementara yang mengidap darah tinggi bisa mengalihkan konsumsinya ke sate sapi alias sate kocor Pak Tjipto di Jalan Kemasan dan beberapa kedai sejenis di pinggiran lapangan Karang, yang juga berada di wilayah Kotagede.
Keunikan-keunikan itu disempurnakan dengan tempatnya yang tergolong “abnormal”. Jika umumnya rumah makan, café, atau resto memilih lokasi yang mudah diakses, ini justru nyempil di tengah kampung. Atau malah jauh di pelosok dusun yang denahnya tak termuat di peta wisata. Warung-warung legendaris semacam ini bisa bernama warung lesehan, kedai, angkringan, depot, atau sekadar dapur. Dapur yang memang benar-benar tempat memasak dan cuci piring. Umumnya orang tak sabaran menunggu, dan langsung menyantap di dapur sebagaimana selalu berlangsung saban malam di Gudeg Pawon Bu Prapto, Janturan, Semaki, Yogya, yang baru start setelah pukul 23.30 WIB.
Soal keragaman setiap produk makanan rupanya menjadi daya tarik tersendiri. Selalu saja mudah ditemui menu bernama gudeg, tongseng, sate, soto, lotek, tahu guling, gado-gado, bakmi, brongkos, nasi goreng, pecel, dan lain-lain. Meski sama produknya, rasanya dijamin berlainan. Gudeg misalnya. Kita bisa menemukan berbagai varian yang sangat beraneka, sehingga tak mengherankan apabila di setiap kampung di Yogya, di sepanjang waktu – pagi, siang, sore dan malam – bisa ditemui gudeg yang masing-masing memiliki keunikannya tersendiri. Selalu ada ciri yang membedakan. Ada gudeg kering ala gudeg Wijilan, Gudeg Juminten dan Gudeg mBarek. Ada gudeg basah dengan santan cair atau setengah kental seperti Gudeg Bu Citro, Gudeg Bu Sri di selatan Pasar Klithikan Kuncen; Gudeg Permata, Gudeg Klentheng, Gudeg Mbak Ginuk di Jetis, atau Gudeg Bu Joyo yang selalu menggelar dagangannya pukul 23.00 di sebelah utara Pasar Beringharjo. Juga ada gudeg manggar yang tidak lagi menggunakan buah nangka muda (gori) di Srandakan Bantul.
Jika didramatitisir, ibaratnya, di setiap jengkal jalanan Yogya orang bisa menemukan keunikan dan kelezatan baru. Bahkan bisa menjumpai sensasi anyar yang barangkali tidak ditemui kota lain. Terbitnya sensasi itu bukan saja dilihat dari bahan bakunya yang nyleneh seperti misalnya Sate Kuda (di Gondolayu), Sate Bulus alias Sate Kura-kura (di kawasan Jetis). Juga bukan dikarenakan produk-produk makanannya yang unik macam Oseng-Oseng Mercon (di Jalan KHA Dahlan dan Suryowijayan), Sate Klathak (di Pasar Jejeran, Pleret, Bantul), atau Sega Kucing (di warung-warung angkringan di berbagai pojok kota).
Tetapi, sensasi itu bisa jadi karena memang penjualnya yang over confiden alias kelewat percaya diri terhadap produk jualannya, sehingga kurang peduli pada aspek pelayanan. Itu tercermin dari tempatnya yang terkesan rada jorok, tidak menyediakan toilet yang pantas, penyajiannya sangat sederhana untuk tak menyebut seadanya, dan pelayanannya pun terkadang semau gue. Bayangkan saja, sementara kita ngebet ingin menikmati gurihnya mangut lele Yu Kini di desa Ganjuran, Bantul, kurang lebih 15 kilometer selatan Yogya — yang untuk datang ke situ membutuhkan 35 menit dari pusat kota – sesampai di sana kita belum tentu bisa langsung makan. “Kalau mau, ya nunggu. Aku durung ngliwet (saya belum menanak nasi),” ujar Yu Kini tanpa merasa bersalah. Dan biasanya, pelanggan hanya bisa mengumpat dalam hati meski tetap rela menunggu sampai nasi matang. Malah oleh para pelanggannya, warung Yu Kini terkadang dijadikan indikator kemujuran nasib.. Kalau nasib baik, setiba di sana nasi telah tersedia. Kalau belum ada, ya anggaplah untuk berlatih menguji kesabaran.
Kesabaran dan kesederhanaan adalah dua sifat yang selalu melekat pada warung-warung legendaris Yogya. Kalau toh mau diimbuh: murah! Kenyataan ini seperti mengejek berbagai teori pemasaran. Jika kaidah marketing mengajarkan pentingnya kecekatan pelayanan dan kenyamanan ruang interaksi, jurus ini bakal gugur menghadapi bandelnya Yu Kini yang menanak nasi sesuka hatinya.
Umumnya, penjual makanan khas itu – bakmi Jawa, lotek, tongseng, dan sebangsanya — tidak berorientasi pada kuantitas yang mehalalkan proses reproduksi demi mengejar omset. Bagi mereka, menyajikan olahan makanan yang terbaik, adalah menggarapnya satu per satu. Lotek ya ramuan bumbunya diuleg (digilas) sesuai order. Bakmi ya digoreng atau direbus dengan satu tungku dan satu wajan yang sama, seperti kita temui di Warung Bakmi Pak Rebo di depan SD Kintelan, Jl Brigjen Katamso. Kalau toh dari beberapa warung bakmi Jawa lainnya, — seperti Bakmi Kadin di Jalan Sultan Agung, Mbah Mo di Bantul, Bakmi Pele di Alun Alun Utara, Bakmi Doring di Tamansari, Suryowijayan – mulai menambah tungku dan wajannya, semuanya itu tetap ditangani oleh seorang juru masak.
Sudah disiasati dengan cara begitu, terkadang antrian pemesanan masih panjang. Hal yang sama juga bakal ditemui di sejumlah warung tongseng. Tongseng kambing maupun Tongseng Jamu yang menggunakan bahan baku daging Rin Tin Tin yang bisa menggonggong huk, huk,huk. Ada semacam kepercayaan, mereka pantang mencuci bersih wajan penggorengan. Paling banter hanya dibilas air. Soalnya, konon kelezatan tongseng dan bakmi itu, antara lain karena kerak-kerak bumbu yang bertimbun di permukaan wajan itu.
Yang menggemaskan, harga makanan di Yogya selalu dipersepsikan serba murah. Dan ini sering bikin konsumen terjingkat kaget, lantaran tak bisa dipahami oleh logika kapitalis. Para ahli marketing yang berorientasi melipatgandakan keuntungan akan ternganga-nganga mendapati kenyataan, betapa mereka menjual jasa boga dengan ambisi sederhana, ”Sekadar saya bisa nunut makan”.
Cobalah datang ke rumah yang sekaligus warung Mangut Lele Mbah Marto di desa Nggeneng, Sewon, Bantul. Di sana tersedia sambel goreng krecek, lele asap dimasak dengan santan (mangut), opor, dan sejumlah gorengan. Kita bisa makan sepuas-puasnya. Nasi boleh nambah berkali-kali. Namun jangan kaget, begitu anda membayar, uang sepuluh ribu pun masih ada kembaliannya. Suatu kali serombongan seniman makan siang di situ. Ada dua belas orang menuntaskan laparnya, eh dibayar Rp. 100.000,- masih ada kembaliannya Rp. 30.000,-. Gila!
Karena itulah, andaikan Anda memang berkeinginan menyerap atmosfer budaya kota tua ini, janganlah ragu-ragu menyusup ke sudut-sudut pedesaan sekitar Yogya untuk menemukan puncak-puncak budaya kreasi tata boga ini. Sederhana soalnya. Peristiwa makan sebenarnya bukan sekadar ritual bikin perut kenyang. Tidak hanya memenuhi kewajiban badaniah untuk mendapatkan energi. Tetapi, melalui lidah dan aneka macam menu makanan, orang berkesempatan ketemu dengan produk kultural.
Sambil menyantap makanan, sebenarnya kita memasuki ruang budaya (lokal) tempat dimana makanan itu lahir dan teruji riwayatnya. Kita mencicipi cita rasa. Kita mengenali sejarah masyarakatnya melalui kecenderungan penggunaan bahan baku makanan itu. Kita menjajal selera dominan lidah masyarakat melalui kebiasaan penggunaan aneka bumbu-bumbunya. Dan kita pun, akhirnya, mendapatkan pengalaman baru bertemu dengan berbagai sensasi yang dimunculkan oleh keunikan komposisi bumbu dan bahan baku, serta kelezatannya.
Jadi, ajaklah sang lidah bertamasya menguji kecerdasannya di Yogya.
Butet Kartaredjasa, aktor dan pemangsa makanan enak
Responses -
By: Limpat Argo on Mei 5, 2008
at 5:37 pm
wah infonya lengkap sekali tapi mbok ya sekalian diksaih alamat komplitnya to, biar yang sudah pada ngiler mbaca ceritanya PakDe bisa langsung menuju ke tempat - tempat yang memang benar - benar nylempit, sekalian menjadi pelestari wisata kuliner nya Jogja gitu lo PakDe Butet.
By: s3no on Mei 8, 2008
at 12:31 pm
Jogja memang tempat banyak masakan erotis , hehehe maksudnya eksotis gitu.
jangan lupa rujak es krim di sekitaran pakualaman, dan yg paling saya gak lupa adalah rasa sate kendal yg juga tepat di depan istana pakualaman.
dan anda akan sedikit melupakan hidup di alam kapitalisme jika pernah makan nasi soun pak roso ( bener gak yah nulisnya) di jalur ke arah parang tritis, bayangkan dengan segumpal nasi dengan topping seonngok tempe goreng di tambah soun pedas plus sambal andalan sudah terasa nikmat dengan harga yg super murah tidak mewah.
jadi kangen ke jogja
By: badrquest on Mei 12, 2008
at 8:07 pm
Kalau alamat komplit dimuat serta, ntar artikel ini disangka katalogus promosi. Kan gak enak jadinya. Tapi umumnya tempat2 ini gampang di cari, apalagi di situ termuat nama kampungnya.
Nanti lain waktu akan kutulis obyek-obyek lain yang unik dan belum terekspose.
Siiip Mas Butet…
Ditunggu tulisan lanjutannya…
Biar lengkap kalo nanti kuliner ke Jogjanya…
By: Nugroho on Mei 22, 2008
at 11:58 am
mas butet,
kalau ke jogja saya sebisa mungkin membaca ulang bukunya pak kayam “serial” mangan ora mangan kumpul. beberapa bulan lalu, kami sekeluarga (saya, istri, dan dua anak saya) sengaja ke bakmi (masih sepuluh) yang di jalan bayangkara. ketika bergegas mau masuk warungnya, tiba-tiba seorang tukang parkir menetap heran dan langsung menegur istri saya yang berjilbab, mba bakmi ini kan ada b***-nya, ya kecewalah saya. makanya mas tolong kasih unjuk makanan2 yang juga ada panduan halal atau tidaknya ya…. tks
By: amir mahmud on Mei 25, 2008
at 8:49 am
Hehehe… dadi eling buku sing ga dadi digarap…
Akeh sing request kae mas…
Kalau sekarang diwujudkan, udah kalah beken dengan mas bondan winarno. Gak jadi leader. Dan di yogya banyak sekali orang bikin buku spt itu. Sebentar lagi, ada teman, Udin, mantan wartawan KABARE, bikin buku panduan kuliner di Yogya. Aku nulis pengantar untuk buku itu. Ya tulisan TAMASYA LIDAH itu yang akan dimuat. Penerbitnya Gramedia.
wah komen terakhir pakdhe butet terakhir tanggal 2 juni, kira kira udah terbit buku yang tamasya lidah? cuba nanti aku tanya kak jeger…
cen akeh pakdhe yang bikin bukuh seperti ituh yang paling terakhir saia baca itu judulnya 100 warung makan enak di jogja, lah buku tamasya lidah dibikin lengkap ya pakdhe dari tempat, harga ampe keistimewaane ituh..
emm tapi apapun ituh berguna banget lho pakde klo bawa cewek sendiri atau gebetan kemana mana urusane mangan, madang, menthang
By: [D2R3D2] on Juni 16, 2008
at 1:40 am
dab, dulu pas aku masih sma 1 di yogya tahun 79 s/d 82 di ujung mentok selatan jalan tamansiswa kalau dari utara sebelah kanan jalan ada es yang buahnya digodog dulu, embuh sekarang misih ada apa ndak. kalau yang saat ini pasti ada di jalan taman siswa ada wedangan 88 minuman khasnya wedang secang, yang punya sobat saya namanya evan, boleh sampeyan coba segelasnya cuman Rp 3000, mangsuk angin pasti bablas….
By: jarot on Juni 18, 2008
at 2:01 pm
huaaaa…abis baca ini jadi kangen yogya en segala macam pernak perniknya..termasuk makanan2nya..
hiks..hiks…
*…suasana yogya..* - Yogyakarta-Kla Project
By: saesa on Juli 9, 2008
at 9:47 am
jadi pingin ditraktir om butet.
kalau bersedia, pusat informasi segala macam menu berbahan dasar “ratuku” siap menerima segala ajakan di 031-91033810
24 Jam!!
matur thank you…
By: farial on Agustus 2, 2008
at 5:13 pm
Dadi kangen Jogja…
abis baca bikin laper n pengin balik ke yk lagi…
Kangen….
By: agung on Agustus 10, 2008
at 11:38 pm
salam kenal mas.. aku wong mbantul ning aku golek pangan neng jkt… aku seneng banget njenengan ngelengke aku karo warung2 ing yogya dskt.. aku eling karo mangut mbok kini soale omahku cerak warung kuwi mas. mas njenengan arep nggone mbok kini mampiro neng warung tahu goling karo lotek daerah palbapang ngidul sithik sekitar 1km takono warunge bu pur. warunge elek mas ning tahu golinge karo lotek ehmmm uenak tenan. sugeng nyobi yo mas matur nuwun….
By: kus on September 9, 2008
at 11:55 am
Wah Kangmas Butet, deskripsinya ngena buanget. Bacanya pas puasa-puasa gini pula…
Yogya emang tetep kota nyentrik seperti yang nulis blog ini… ga hanya kulinere tok. sosial budaya masyarakatnya juga unik dan bersahaja
By: naufalaziz on September 19, 2008
at 8:13 am
mantap om….
kalo masalah makan emang jogja tempatnya…
By: Jimi_aja on Oktober 22, 2008
at 9:46 am
Sy tau pethuk sampeyan di Mangut Lele Mbah Marto…hehehe…
By: akiat on Oktober 24, 2008
at 1:14 am
Kapan2 nek aku mampir neng Yogya digowo mlaku2, ya pakde… nggole’i sing muanteb…. hehehe…
By: mpoetri on Nopember 1, 2008
at 6:22 pm
halah, ngiler aku…
By: Arie on Nopember 14, 2008
at 4:42 am
Panjenengan kesupen tidak menyebutkan makanan kesukaan nya di perempatan gondomanan. saya ingat sekitar tahun 1999 ketika itu saya menjadi staff nya Romo bagong, pagi2 Mas butet bawa bungkusan untuk ngungsi menyatap makanan dari Per1/4 Gondomanan karena tidak enak ati sama mbak ruly kalau menyantapnya di rumah. Kesupen nggih.
By: tiwi on Nopember 15, 2008
at 12:24 pm
Mas Butet , makasih ya info kulinernya nanti kalo sowan ke Yogya aku pasti cari tempat makan yang Mas Butet kasih tahu …..
By: eri on Nopember 19, 2008
at 5:45 pm
Pak Bondan memang ‘bagus’… ya jelas lebih informatif, lha wong di-tivi. Istri saya tak pernah melewatkan acara pak Bondan. Anak saya yang masih 7 tahun melu-melu. But if it is about Jogja.. no one like you mas Butet, and I believe not only Jogja, wherever you are you’re gonna be ‘pemangsa makanan enak’.
By: Paulus Yudananto on Nopember 22, 2008
at 7:36 am
lha kambing bakar yang di tebet utara kapan mau diceritakan…. pan uenak juga tuh bang …!!!
By: wiwien muchlis on Desember 1, 2008
at 11:28 pm
saya suka banget nasgorkam di sate pak dakir jogja.
kalo ke sana, selalu pengen menyempatkan diri ke sana. sayang, sekarang udah jarang ke jogja. padahal rumah keluarga saya ga jauh dari sana (di jl. wates). apalagi kl hidangan si mbek begitu kan ga baik buat orang tua yg kolesterolnya mudah naik, kasian bapak-ibu saya. jadi kl ke jogja saya dan keluarga lebih mewajibkan diri untuk mampir ke soto pak sholeh. huumm, enak
By: nik.e on Desember 9, 2008
at 1:55 pm
Mas Butet, pisan-pisan mampir neng gunung kidul kec. wonosari desa Ponjong, simbahku buka warung makan ikan bakar….rasane muanteeep tenaaaan….mak nyuuuuuuuuuuus poko’e
tempate ndeso banget…..sawah view
By: SimpleX on Desember 27, 2008
at 11:05 am
permisi mas but, aku juga wong jogya sing seneng makan makanan khas yogya klo pas mudik, tapi ngopo makanan sing olahan seko pitik alias ayam kok dianak tirikan gak disrempet sama sekali ato gak diulas padah banyak lho yang uweenaak lan murah seperti ayam bu tini permata, mbok berek jalan gading ato neng endi meneh aku pengin ngerti. matur suwun mas but.
By: enakulo on Januari 21, 2009
at 12:29 pm
pak butet, mangan terus tambah lemu mengkok. lak nang trenggalek saget nyicipi sego thiwul sayur bung (preng muda), kenyal2 kyak iwak pitek, plus tempe kripek. kryuk-kryuk ruenyahhh…
By: faiz on Maret 12, 2009
at 5:37 am